APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy

49 Hari Bersama Tawanan Sexy

Tamara Levinka, model ternama sekaligus tunangan CEO produsen senjata Roger Jenandra, mendadak hilang tanpa jejak. Meski pencarian besar-besaran telah dilakukan, keberadaannya tetap misterius. Namun, setelah empat puluh sembilan hari, Tamara muncul kembali dengan kabar yang mengguncang semua pihak. Di balik kepulangannya, ada Jeff yang terobsesi memilikinya dan Tamara yang rela mengorbankan segalanya demi pria itu. Cinta mereka tumbuh di tengah konflik yang berbahaya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kaki jenjang beralas heels hitam itu melangkah teratur. Rambut terurainya tertata rapi dan bahkan tak tergoyahkan oleh tiupan angin. Saat hidung mancung yang terpatri indah itu menghirup asap pekat nikotin, tangan lentiknya terangkat guna mengkibas udara.

"Tamara!" panggil sebuah suara.

Perempuan bertubuh semampai itu, Tamara, mengangkat alis singkat, menatap temannya yang sudah kehilangan kesadaran. Dia membawa langkahnya mendekat ke meja bar sambil berusaha menghindar dari tubuh para pria yang berusaha mendekat. Jaket yang hanya tersampir di kedua bahu dia naikkan, menutupi kulit bahu dan leher yang terekspos.

"Baby! Sini-sini, ada racikan baru hahaha," tawa perempuan berambut pirang itu menguar, membuat Tamara menutup hidungnya yang tak sengaja menghirup bau menyengat alkohol.

"Kacau," komentar Tamara.

"Ra! Shakira!" Tamara berteriak di depan wajah Shakira, tapi perempuan itu malah memicingkan mata sambil menggerak-gerakkan kepala.

"Hehehe Mar. Ada Justin Bieber, tuh," ucap Shakira.

Walau yakin ucapan Shakira tak mungkin benar, Tamara tetap menoleh ke mana telunjuk temannya itu mengarah. Saat yang tertangkap matanya adalah seorang pria botak dengan kumis sekering sapu lantai, Tamara langsung berdecak keras.

"Ben, habis berapa nih anak?" tanya Tamara pada bartender pria muda dengan tato memenuhi lengan kiri.

Ben, bartender tampan itu melirik pada tiga botol kaca yang telah tandas isinya. Tamara meringis melihatnya. Dia kembali menatap Shakira yang kini menjatuhkan kepala ke atas meja bar. Kelopak berhias eyeshadow biru itu tertutup rapat, mulutnya yang terbuka mengeluarkan suara dengkur.

"Gila nih anak. Heh babon, gimana gue bisa ngangkat loh?" seru Tamara kesal.

Karena riuhnya suasana dalam club malam itu membuat teriakan Tamara tenggelem begitu saja. Tak ada yang menyadari raut kesal perempuan itu, kecuali sepasang mata yang mengawasi sejak kedatangannya. Pria dengan topi yang menutupi separuh wajahnya itu mengangkat gelas kristal, menegak isinya dalam sekali tegukan.

"Tamara," bisiknya, menatap lurus perempuan berparas cantik itu.

Tamara bergumam panjang menyauti ucapan pria yang sedang berbicara dalam ponsel. Sebuah earphone menempel di telinga kirinya, membuatnya bisa menangkap dengan jelas tawa renyah Roger, tunangannya. Walau asik menelpon, mata Tamara tak beralih sedikitpun dari jalan raya di hadapannya.

"Emang sialan Shakira," ucap Tamara, mengundang tawa Roger lagi. Dia melirik temannya yang sudah terlelap di kursi samping pengemudi.

"Kamu nggak minum kan, by?" tanya Roger dari sebrang sana.

"Enggaklah. Kalau aku minum, bisa-bisa mobil kita melayang nyium sopir truk di depan," gurau Tamara.

"Jangan ngomong gitu, by. Kenapa tadi nggak telpon aku aja? Biar aku jemput."

Tamara melirik spion, saat dirasa tak ada kendaraan dalam jarak dekat di belakangnya, dia segera memutar setir membuat mobil berisi dua kursi itu berubah arah. Jalanan yang dia ambil kini jauh lebih sepi dari sebelumnya, membuatnya bisa leluasa menginjak gas dalam.

"Kamu emangnya udah pulang dari London?"

Dapat Tamara dengar embusan napas berat Roger. "Belum."

Mendengar itu sontak Tamara tertawa. "Kamu mau teleportasi dari London ke sini gitu, kalau aku minta jemput? Ada-ada aja."

"Apa yang nggak buat kamu, sayang?" Di akhir kata Roger sengaja berbisik lambat, menggoda Tamara.

"Halah bullshit! Udah, lanjut kerja sana."

"I swear, by. Semua aku lakuin buat kamu."

Tamara hanya bergumam untuk menanggapi. Namun tak urung bibirnya tertarik tinggi, membentuk segaris senyum indah. Rasanya seperti ada kunang-kunang yang berterbangan di dalam perutnya, mengantarkan perasaan geli juga hangat karena cahaya yang mereka uarkan.

"Gombal mulu bisanya. Mentang-mentang enam bulan nggak ketemu."

"Loh!"

Tamara berdecak, menunggu apalagi ucapan manis yang akan Roger katakan.

"Kok enam bulan? Bukannya kita udah nggak ketemu selama tiga tahun?"

"Nggak sekalian tiga abad?"

Kini giliran Roger yang tertawa. Pria itu bergumam-gumam tak jelas. Tamara juga bisa mendengar suara ketukan meja, kebiasaan Roger saat memikirkan sesuatu.

"Kenapa?" Tamara tak sabar menunggu tunangannya yang sepertinya malah melamun. Dia yakin, pasti ada yang ingin Roger katakan.

"Enggak—"

"Kenapa!" tanya Tamara lagi, lebih tegas. "Jangan kayak cewek, ih."

Roger tergelak, membuat Tamara mengerucutkan bibir. Untung tak ada Roger di sana, atau dia akan diberi 'hadiah' karena dianggap sengaja bertingkah imut. Sebuah kecupan lembut, atau bahkan hadiah yang lebih besar dari itu.

"By, kayaknya aku masih belum bisa pulang bulan ini. Sorry—"

Dengan mata memicing Tamara menginjak rem mendadak. Shakira di sampingnya hingga terdorong ke depan, beruntung Tamara sudah memasangkan sabuk pengaman.

"Maksud kamu?"

Roger menghela napas berat. "Ada problem di perusahaan, lebih besar dari yang kemarin. Mungkin aku baru bisa balik dua bulan lagi."

"Roger, kamu jangan bercanda. Nggak lucu tau nggak?" Tak tagi ada panggilan sayang, Tamara sengaja menekankan nama sang tunangan.

"Mar, sorry. Ini diluar kendali—"

"No! Nggak ada alasan apapun!" Tamara mematikan mesin mobil, tak ingin ada suara lain yang mengganggu keduanya.

"Tamara, serangan ke perusahaan kali ini lebih besar. Pihak dalam pun kayaknya ada yang terlibat. Kebocoran data, pembatalan projek—"

"Aku nggak tanya keadaan perusahaan kamu, Roger. Aku ngga peduli! Yang aku mau cuma kamu pulang tepat waktu!"

Perempuan cantik itu menatap tajam jalanan gelap di depannya, seakan-akan sosok laki-laki berwajah blasteran itu ada di sana.

"Tamara, aku nggak sedang minta izin dari kamu. Aku cuma ngasih tahu kalau aku nggak bisa pulang dan—"

"Pertunangan kita batal?" potong Tamara sekali lagi.

Saat Roger tak menyahut, perempuan itu tertawa sarkas.

"Shit! Terserah kamu!"

Earphone di telinganya Tamara lepas. Dia melemparnya ke depan keras sebagai pelampiasan. Shakira yang terlelap di sampingnya membuat Tamara tak bisa berteriak dengan leluasa. Perempuan itu hanya bisa berdecak, memejamkan mata erat.

Di tengah jalanan gelap itu, mobil Tamara berhenti asal di tengah jalan. Saat ada sebuah mobil hitam dengan kecepatan rendah berhenti di belakang mobilnya, Tamara sama sekali tak menyadari. Pria di balik kemudi tak menekan klakson dan langsung keluar dari mobil.

Dengan satu tangan berada di dalam kantung hoodie, pria bertopi hitam itu mendekati mobil Tamara. Dia mengetuk kaca mobil Tamara, membuat perempuan yang sedang memejam itu membuka mata kaget.

Alis Tamara menyatu menatap wajah yang setengahnya tersembunyi di balik topi. Dia melirik dari kaca spion, mendapati sebuah mobil dengan mesin menyala berada beberapa senti di belakang mobilnya.

"Buka," ucap suara serak pria itu.

Tamara meringis. Dia menarik napas panjang untuk menenangkan emosi dalam dirinya sebelum membuka pintu di sampingnya. Setelah melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, Tamara melangkah turun dari mobil.

"Maaf, Pak. Say—"

Tamara tak bisa menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba, pria itu menghantam tengkuknya keras, membuat Tamara terhuyung dan jatuh ke aspal basah bekas hujan. Kerutan muncul di kening saat pandangannya mulai berbayang.

Pria bertopi itu berjongkok di depan Tamara. Hal terakhir yang bisa Tamara lihat adalah senyum miring di bibir yang ujungnya terluka, sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Dunia gempar melihat deretan gigolo tampan dan berharta yang justru mengejar cinta seorang gadis desa miskin. Meski dianggap lugu, ia sebenarnya pembunuh berdarah dingin yang telah mencelakai para pria tersebut. Keanehan memuncak saat para gigolo ini justru merasa terhormat jika harus meregang nyawa di tangannya. Mengapa mereka tetap memuja sosok yang berbahaya bagi hidup mereka? Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang obsesi yang tidak masuk akal bagi orang awam.
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Kehidupan seorang wanita biasa berubah drastis saat ia masuk ke dunia mafia yang kelam. Terpikat oleh pesona bos kriminal yang sangat berbahaya, ia terjebak dalam pusaran gairah mematikan dan aksi balas dendam yang brutal. Di tengah konflik berdarah ini, ia dipaksa menghadapi dilema batin yang hebat. Kini, ia harus memilih antara mengikuti kata hatinya untuk terus mencintai sang mafia atau tetap memegang teguh prinsip moralitasnya.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!
8.6
Demi melunasi utang sang ayah, Mayzura terpaksa menghadapi pernikahan dengan pria tua. Saat mencoba melarikan diri bersama kekasihnya, ia diselamatkan oleh Sadewa dari ancaman penjahat. Sadewa pun ditugaskan menjadi pengawal pribadinya hingga hari pernikahan tiba. Namun, kedekatan mereka justru memicu perasaan cinta yang tak terduga. Mampukah Sadewa melewati segala rintangan demi Mayzura? Lantas, apa rahasia besar di balik identitas asli sang bodyguard?
Sampul Novel Ibuku dijadikan pengasuh anak anak kakakku
8.9
Alih-alih dirawat dengan penuh kasih, ibu justru dipaksa menjadi pengasuh bagi kedua anak Sarah. Kakakku itu sungguh tega menyiksa ibu di saat aku sedang berjuang jauh di luar negeri. Namun, masa-masa penderitaan ibu akan segera berakhir. Kepulanganku kali ini membawa misi tunggal untuk menuntut keadilan. Aku tidak akan tinggal diam dan siap membalas setiap tetes air mata serta perlakuan buruk yang telah Sarah lakukan kepada ibu tercinta.
Sampul Novel Occidens
9.7
Tumbuh dalam kebencian akibat keserakahan orang tuanya, Edgar yang berdarah campuran harus memikul kutukan berat. Namun, kehadiran Selena, si gadis pencari kayu yang ceria, mulai meluluhkan hatinya yang beku. Saat cinta mulai bersemi, takdir kejam menghalangi. Edgar terpilih menjadi pemimpin kaum immortal dan penguasa klan demon. Sebagai raja, ia dilarang memiliki pendamping atau ratu. Mampukah cinta mereka bertahan melawan hukum dunia immortal yang mutlak?