APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ABIKA (ABIMANYU DAN CEMPAKA)

ABIKA (ABIMANYU DAN CEMPAKA)

Akibat perlakuan buruk Abimanyu, Cempaka memilih mengasingkan diri ke Amerika selama dua tahun. Sekembalinya ke tanah air atas permintaan orang tua, sebuah rahasia besar memaksa Cempaka untuk kembali menerima kehadiran pria itu. Namun, rasa kecewa yang berulang membuatnya kembali melarikan diri. Abimanyu pun menyusul ke Amerika demi menjelaskan segalanya. Di sana, misteri masa lalu dan alasan sikap dinginnya selama ini akhirnya terbongkar sepenuhnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Cempaka memegangi cangkir teh hangatnya dan menepiskan tangan kiri Abimanyu seraya menggeser tubuhnya ke samping membebaskan dirinya dari kungkungan Abimanyu, sedangkan Abimanyu membiarkan gadis itu bergeser tetapi kemudian Abimanyu menuju pintu menutup dan menguncinya.

Cempaka duduk di kursi dan meraih lemper di meja seraya mengerutkan dahinya ia menatap pada handle pintu yang terkunci kemudian menatap ke wajah Abimanyu yang susah ditebak.

"Aku menuntut jawaban darimu," sergah Abimanyu begitu menggeser salah satu kursi dan mendudukinya sangat dekat, dengan Cempaka bahkan tangan kanan Abimanyu berada di punggung kursi Cempaka seolah mengurung gadis itu.

Cempaka melirik ke arah Abimanyu dan melanjutkan menyantap lemper yang ia pegang dan sesekali menyesap teh hangatnya. Abimanyu yang tidak mendapatkan jawaban dari Cempaka juga tidak bergeming, ia juga dengan santauli meraih satu lemper dan membuka daun pembungkusnya dan malah menyuapi Cempaka, Cempaka dengan patuh membuka mulutnya untuk menerima suapan Abimanyu. Abimanyu kemudian membawa sisa gigitan Cempaka dan memakannya.

"Apakah kamu tidak sibuk?" tanya Cempaka gugup.

"Tidak, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku hari ini dan aku menunggu kamu bicara," ujar Abimanyu lagi.

Cempaka mendengkus. "Aku tidak perlu menjawab apa pun karena tidak ada pertanyaan juga untukku," elak Cempaka.

"Lupa? Aku tadi bertanya sekarang kamu mengacuhkanku?" tanya Abimanyu ketus.

Cempaka memejamkan matanya sebentar kemudian menatap Abimanyu. "Itu 'kan hanya perasaanmu saja. Kita toh memang tidak pernah dekat bukan," ujar Cempaka. Saat ia mengatakan demikian hatinya terasa seperti di remas-remas sakit dan sesak rasanya. Persetubuhan Abimanyu dengan seorang wanita dulu kembali hadir dalam ingatannya.

Dada Abimanyu terasa seperti terhantam dengan keras. Benar juga apa yang dikatakan gadis ini. Toh selama ini Abimanyu berusaha menghindar lalu mengapa saat gadis ini benar-benar menghindar ia malah menjadi merasa tersinggung dan tidak terima.

"Lagi pula aku tidak akan lama di sini. Aku harus segera kembali ke Amerika pekerjaanku menumpuk," terang Cempaka.

Abimanyu menatap wajah Cempaka lekat-lekat, gadis ini semakin cantik dengan wajah sehalus porselin. Sungguh pintar ia merawat tubuh dan wajahnya, desir kerinduan meresap ke dalam aliran darah Abimanyu, tubuhnya bahkan bergairah mencium aroma greentea samar menguar dari tubuh ramping di depannya ini.

"Kamu tega meninggalkan orang tuamu lama-lama?" tanya Abimanyu yang sebenarnya hanya alasan saja, siapa tahu dengan demikian ia bisa sedikit menahan gadis ini lebih lama di sini.

Cempaka terkekeh dan berkata, "Mami sama Papi selama ini baik-baik saja nggak ada Cempaka, toh masih ada adik-adik di sini. Cempaka baru bekerja dua tahun di sana nggak bisa begitu saja pindah sesuka hati karena kontrak kerjanya masih lama lagi." Cempaka enggan menyebutkan berapa lama kontrak kerjanya berakhir, ia senang bekerja di perusahaan kilang minyak milik Kian Dario sekaligus menjadi pengajar di sebuah sekolah taman kanak-kanak di sana.

Cempaka merasa risih ditatap dengan intens oleh Abimanyu, akhirnya Cempaka bangkit dan berjalan ke arah pintu. Sebelum ia sempat memutar kunci, Abimanyu sudah terlebih dulu membalikkan tubuhnya dan mengurungnya sampai membuatnya bersandar di pintu.

"Kamu mau apa?" tanya Cempaka gugup. Benar-benar gugup dan waspada pastinya.

Mata Abimanyu menyusuri tubuh Cempaka dan berhenti pada dadanya yang tampak penuh, seingat Abimanyu dua tahun yang lalu dada ini belum sebesar sekarang. Tangan Abimanyu terulur dan menangkup kedua gundukan itu yang terasa pas di atas tangannya.

"Ah, sakit! Apa yang kamu lakukan. Jangan sembrono!" seru Cempaka. Ia kemudian mendorong tubuh Abimanyu dan bergegas keluar.

Dengan telapak tangannya yang menekan dadanya yang berdetak tak beraturan, Cempaka berlalu menuju ruang kerja ayahnya.

"Papi ...! Kangen Kakak nggak!?" seru Cempaka dengan wajah ceria.

Abimanyu tampak mengikutinya dari belakang. Jangan salah Abimanyu menangkap banyak perubahan pada fisik gadis itu.

Apakah hidupnya benar-benar bahagia tanpa ada aku. Sial! Kenapa jadi melow begini sih. Namun tubuhnya benar-benar terlihat seperti wanita sekarang, walaupun jelas masih lebih ramping mirip dengan Tante Bunga. Jelas mirip mereka bersaudara, bodoh!

Abimanyu mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, dengan sesekali ia melirik pada Cempaka, hal itu tidak luput dari perhatian Alma yang masih berada di sana.

"Mami karena Cempaka sudah di sini, Cempaka nggak usah ke rumah ya? Masih ada urusan yang belum selesai," ujar Cempaka.

Abimanyu semakin mengerutkan keningnya, tidak biasanya gadis itu seperti ini. Dulu ia senang sekali menghabiskan waktunya berkumpul bersama keluarganya, gadis periang itu tampak sangat berbeda sekarang.

Apakah dia memiliki kekasih di Amerika sehingga menghindariku?

Masih juga pemikiran itu yang mengendap dibenaknya membuat Abimanyu terbakar api cemburu. Ia tidak suka diabaikan, padahal selama ini ia sendiri yang sering mengabaikan keberadaan Cempaka. Ia masih ingat betul saat dahulu Cempaka memergokinya bercinta dengan wanita bayarannya dan kemudian ia menyusul gadis itu yang kembali ke apartemennya. Abimanyu jelas masih mengingat hari itu, hari di mana dirinya telah mengambil keperawanan Cempaka dengan paksaan.

Ώ

Cempaka baru saja tiba di depan apartemennya ia kemudian membuka pintu dan saat ia berbalik dan akan menutup pintu ada telapak tangan kekar menghalanginya. Telapak tangan milik Abimanyu mendorong daun pintu untuk terbuka dan pria itu menerobos masuk kemudian ia membanting pintu sampai tertutup.

Cempaka mengusap air matanya yang menggenang dan mengaburkan pandangannya. Dahinya mengkerut pandangan penuh tanda tanya dan kekagetan tampak jelas menghujam manik mata Abimanyu.

"Kamu ngapain ke sini, bukannya tadi masih sibuk?" ujar Cempaka gugup dan terbata-bata. Ia merasa terancam dan sesak nafas karena berada cukup dekat dengan Abimanyu yang tampak marah dan matanya yang sayu itu memandang menelusuri tubuhnya. Reflek Cempaka menyilangkan kedua lengannya memeluk dirinya sendiri.

"Ya, kesibukanku terganggu karena kedatanganmu," ujar Abimanyu dengan suara parau. Pria itu juga susah payah berusaha menelan salivanya. Bau green tea bercampur keringat yang menguar dari tubuh Cempaka membangkitkan sisi primitifnya lagi.

Cempaka melotot dengan mulut membentuk huruf 'O'. "Aku? Memang apa yang aku lakukan, aku bahkan tidak mengatakan apapun," kilah Cempaka.

"Justru karena kamu tidak mengatakan apa pun," jawab Abimanyu.

Cempaka mendengkus dengan memutar bola matanya. "Jawaban macam apa itu, mas. Ngaco!" ujar Cempaka seraya memberengut, alisnya bertautan menatap jengah ke arah Abimanyu.

Abimanyu geram dengan perkataan Cempaka ia merengsek maju dan merengkuh gadis yang wajahnya penuh dengan jejak air mata itu kemudian melumat bibirnya, memaksa bibir itu untuk membuka dan menyambut lidahnya yang sudah melesak masuk ke dalam mengabsen setiap gigi geligi dan langit mulut Cempaka.

Cempaka melotot menatap Abimanyu yang dengan beringas melumat bibirnya bahkan sudah menggigit bibirnya atas dan bawah secara bergantian. Ini sensasi baru untuknya, ia sama sekali belum pernah bermesraan dengan laki-laki karena teman-temannya tahu ia tergila-gila dengan Abimanyu.

"Emmph ...," protes Cempaka, ia berusaha menggerakkan kepalanya untuk melepaskan pagutan bibir Abimanyu.

Abimanyu melepaskan pagutannya saat ia dan Cempaka butuh asupan udara. Abimanyu menyentuhkan dahinya dengan dahi Cempaka dan menghimpit gadis itu di dinding. Sebelah tangan Abimanyu sudah masuk ke balik rok Cempaka dan melepas simpul samping celana dalam Cempaka.

Cempaka kaget dan tangannya menahan tangan Abimanyu untuk berbuat lebih, kepalanya menggeleng panik dan air matanya kembali berlinang.

"Jangan Mas," pinta Cempaka seraya tersedu.

Abimanyu semakin merapatkan dirinya saat mendapatkan penolakan dari Cempaka, murka. Ya, itu yang dirasakan oleh Abimanyu saat ini dan menangkup sisi wajah Cempaka dengan kedua tangannya.

"Percuma kamu menangis dan menolakku. Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau perbuat tadi," ujar Abimanyu dengan suara parau, pandangan matanya sayu dan ia pun kembali menundukkan kepalanya serta melumat bibir Cempaka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benang yang Tak akan Pernah Putus
9.2
Kaiyo Wrasasana terus berjuang melenyapkan sosok ibu yang seharusnya dicintai dari kehidupannya. Ia bertekad memutus segala ikatan yang menghubungkan mereka, meski harus menggunakan cara yang paling menyakitkan sekalipun. Namun, sekeras apa pun Yoyo mencoba, benang takdir di antara mereka tetap tak tergoyahkan. Tanpa disadari, upaya kerasnya untuk lepas justru melukai sang ibu dan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam bagi dirinya sendiri.
Sampul Novel Billionare and His Secret Wife
8.8
Michelle terbiasa menjual kecantikan fisiknya demi bertahan hidup. Suatu malam, ia terjebak situasi berbahaya saat mengetahui rencana keji para kliennya. Meski dalam pengaruh obat, Michelle berhasil kabur dan menyelinap ke kamar seorang pria asing untuk menuntaskan gairahnya yang tak tertahankan. Pertemuan tak terduga itu ternyata menjadi titik balik yang mengubah garis takdirnya selamanya. Ikuti kisah penuh intrik dan gairah ini dalam balutan romansa yang membara.
Sampul Novel Cinta Yang Suci
8.9
Hinaan kejam Brenden menghancurkan perasaan Corinna hingga tak tersisa. Setelah bertahun-tahun memendam luka emosional, Corinna akhirnya menyerah dan berharap mereka tidak pernah dipertemukan oleh takdir. Keputusan itu memutus hubungan mereka selamanya. Namun, setelah kepergian Corinna, Brenden justru terjebak dalam penyesalan mendalam. Ia menderita insomnia dan terus merindukan kehangatan wanita yang dulu ia remehkan, kini ia baru menyadari arti kehilangan.
Sampul Novel Di Ujung Lelah
9.3
Lima tahun membina rumah tangga justru membawa Mirna ke titik nadir. Farid, sang suami, tak kunjung berubah dan malah terus memberikan tekanan mental yang memicu rasa takut serta kesedihan mendalam. Tiada hari tanpa pertengkaran hebat dan adu mulut yang menguras emosi. Di tengah keputusasaan ini, Mirna merasa telah mencapai batas kemampuannya. Ia pun mulai membulatkan tekad untuk mengakhiri hubungan beracun tersebut demi melepaskan diri dari penderitaan.
Sampul Novel Ijinkan Aku Mencintaimu
7.8
Kontrak pernikahan Sheeree dan Arvid telah usai, namun Sheeree belum menyerah. Ia menawarkan perjanjian baru: waktu satu bulan lagi untuk memenangkan hati suaminya. Jika gagal, ia berjanji pergi tanpa membawa harta apa pun. Di balik kenekatannya, ada rahasia besar yang ia sembunyikan rapat-rapat. Meski penuh risiko, Sheeree rela berkorban demi kesempatan terakhir ini. Mampukah ia meluluhkan Arvid, ataukah alasan tersembunyi itu akan mengubah segalanya?
Sampul Novel Kejahatan Termanis
7.9
Nevilla melakukan kesalahan fatal saat mengejar ambisi jabatan di perusahaan dengan mendekati Adero. Keputusannya berpaling dari Aron justru membangkitkan bayang-bayang kelam dari enam tahun silam. Saat ikatan mereka kian erat, Nevilla terjebak tanpa celah untuk melarikan diri. Kini, ia harus berhadapan dengan sosok pria berbahaya yang mengancam akan menghancurkan seluruh hidupnya, menyeretnya ke dalam konflik masa lalu yang sangat mematikan.