APKDock Logo
Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh

Air Mata Seorang Pengasuh

8.1 / 10.0
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.

Air Mata Seorang Pengasuh Bab 1

Amara menatap ke luar jendela rumah Mbah Tini untuk terakhir kalinya. Angin sore menerpa rambutnya yang panjang, hitam, dan sedikit kusut akibat kurang tidur semalam. Wajahnya menatap jauh ke arah gang sempit yang biasanya ramai oleh anak-anak tetangga bermain, namun kali ini semuanya tampak hampa. Sebuah kesadaran pahit menyesakkan dada: Mbah Tini, satu-satunya orang tua yang ia kenal sejak kecil, kini telah tiada.

Tangannya gemetar ketika ia menyentuh meja kayu tua tempat Mbah Tini biasa menaruh kacamata dan segelas teh hangat. Bau khas teh melati yang dulu selalu menemani pagi dan sore kini hanya tinggal kenangan. Air mata Amara menitik di pipinya, tak tertahankan lagi. "Mbah... aku nggak tahu harus bagaimana tanpamu," gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin dan daun-daun yang bergesekan.

Malam itu, ia duduk di kasur tipisnya, memeluk bantal yang selalu diberikan Mbah Tini saat Amara menangis karena rindu orang tuanya yang tak pernah ia kenal. Surat-surat, foto-foto lama, dan beberapa benda peninggalan Mbah Tini terserak di lantai, seolah memintanya untuk memilih apa yang akan ia bawa ke masa depan. Di antara semua benda itu, satu amplop cokelat mencuri perhatian Amara. Amplop itu tebal, berisi dokumen-dokumen yang seolah ditulis khusus untuknya.

Dengan hati-hati, Amara membuka amplop itu. Di dalamnya ada beberapa surat, foto seorang pria dengan senyum lembut, dan peta kecil yang menunjuk ke arah Jakarta. "Ini... ayahku?" pikirnya, jantungnya berdetak lebih cepat. Mbah Tini selalu berkata bahwa ia punya ayah kandung yang tinggal di kota besar, dan jika suatu saat ia merasa siap, ia bisa mencarinya. Tapi selama ini, Amara hanya bisa membayangkan wajah pria itu, mencoba menyatukan puzzle masa lalunya sendiri.

Keputusan itu datang begitu saja, seketika. Ia tidak akan tinggal lagi di Solo. Kota kecilnya menyimpan kenangan indah, tapi juga luka yang tak kunjung sembuh. Dengan tekad yang membara, Amara berkemas. Ia hanya membawa beberapa pakaian, amplop berisi dokumen ayahnya, dan dompet tipis berisi uang hasil menabung selama beberapa bulan terakhir. Tidak ada waktu untuk menangis lebih lama. Ia harus melangkah ke depan, ke kota yang penuh dengan janji, mimpi, dan tantangan: Jakarta.

Pagi hari berikutnya, Amara menaiki bus jurusan ke Jakarta. Selama perjalanan yang memakan waktu lebih dari sepuluh jam itu, pikirannya terus dipenuhi bayangan masa lalu: tawa Mbah Tini, aroma masakan khas Solo, dan beberapa kata yang selalu diulang Mbah Tini: "Anakku, jangan takut bermimpi besar. Suatu hari, kau akan menemukan tempatmu di dunia ini."

Jakarta menyambut Amara dengan hiruk-pikuknya yang khas. Bunyi klakson, asap kendaraan, dan gedung-gedung pencakar langit membuat Amara merasa kecil, hampir tersesat di antara keramaian yang tak henti. Namun, matanya berbinar. Ia tahu, setiap langkah kecil di kota ini adalah bagian dari mimpinya-mencari ayah kandungnya, sekaligus membuktikan bahwa ia bukan anak haram sebagaimana rumor yang kerap terdengar di kampung halaman.

Hari pertama di Jakarta, Amara langsung mencari pekerjaan. Ia belum memiliki banyak koneksi, jadi pilihannya terbatas. Ia berjalan dari satu gedung ke gedung lain, mengantarkan lamaran, berharap ada yang mau memberinya kesempatan. Akhirnya, sebuah perusahaan besar menerima lamaran kerjanya untuk posisi cleaning service. Walau pekerjaannya sederhana, Amara bersyukur. Ia tahu ini adalah awal untuk membangun kehidupan baru dan melangkah lebih dekat pada tujuannya.

Beberapa bulan berlalu, Amara terbiasa dengan ritme baru hidupnya. Bangun pagi, membersihkan lantai kantor, mencuci piring di pantry, mengatur dokumen kecil, dan sesekali membantu resepsionis dengan tugas ringan. Meski lelah, ia menikmati setiap pekerjaan yang ia lakukan dengan hati-hati. Pekerjaan ini memberinya rasa mandiri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Suatu hari, ketika sedang mengelap kaca jendela lantai atas, Amara melihat pengumuman di papan informasi. Tertulis dengan jelas: "Dicari pengasuh bayi untuk cucu Tuan Hadi Pratama. Gaji menarik, lokasi apartemen mewah." Mata Amara membesar. Gaji yang ditawarkan jauh lebih tinggi daripada pekerjaannya saat ini. Sebuah kesempatan yang mungkin bisa membantunya lebih leluasa hidup di Jakarta, sekaligus membiayai pencarian ayah kandungnya.

Tanpa ragu, Amara memutuskan untuk melamar. Beberapa hari kemudian, ia dipanggil untuk wawancara langsung dengan Tuan Hadi. Ia berdebar, namun menutupi rasa gugupnya dengan senyum ramah dan sikap sopan. Tuan Hadi, seorang pria paruh baya dengan penampilan rapi dan wajah tegas namun hangat, menatap Amara dengan cermat.

"Jadi, Amara, kau punya pengalaman menjaga anak?" tanya Tuan Hadi dengan suara tegas.

Amara menunduk sebentar, kemudian menjawab dengan yakin. "Belum banyak pengalaman formal, Pak. Tapi saya bisa belajar cepat, dan saya sangat menyukai anak-anak. Saya akan melakukan yang terbaik untuk cucu Bapak."

Tuan Hadi terdiam sejenak, menimbang jawaban Amara. Akhirnya, ia tersenyum tipis. "Baiklah, kau bisa mulai minggu depan. Tinggal di apartemen saya, sehingga bisa fokus menjaga Arya. Istriku terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri, jadi tanggung jawab ini sepenuhnya ada padamu."

Amara hampir tidak percaya. Ia diterima! Kesempatan ini bukan hanya soal gaji, tapi juga soal mendapatkan pengalaman baru dan tempat tinggal yang aman di Jakarta. Ia menunduk, menahan rasa haru. "Terima kasih banyak, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik."

Hari-hari berikutnya di apartemen mewah itu penuh dengan tantangan. Arya, bayi mungil berusia tiga bulan, menangis di tengah malam, membuat Amara harus sigap menggendong, menenangkan, dan menyiapkan susu. Suara tangis bayi yang awalnya membuatnya gugup, kini menjadi panggilan yang ia sambut dengan sabar. Setiap senyuman kecil Arya membuat lelahnya hilang seketika, dan Amara mulai merasakan ikatan emosional yang kuat dengan bayi itu.

Di sisi lain, Tuan Hadi dan Fathir-ayah Arya-menjadi sosok yang semakin akrab dengan Amara. Fathir, yang awalnya sering mabuk dan terpuruk karena ditinggal istrinya, perlahan mulai membuka diri. Kehadiran Amara memberikan ketenangan, bahkan saat Fathir masih diliputi rasa sakit hati dan penyesalan. Mereka sering duduk bersama di ruang tamu, berbincang ringan, meski banyak hal tetap disimpan rapat di dalam hati masing-masing.

Amara pun tidak melupakan misinya sendiri. Setiap malam, setelah Arya tidur, ia meneliti dokumen yang diberikan Mbah Tini. Foto-foto pria yang diyakini ayahnya, alamat lama, dan petunjuk-petunjuk kecil membuatnya terus berharap. Ia tahu perjalanan ini belum berakhir, dan setiap langkahnya di Jakarta hanyalah awal dari pencarian panjang yang penuh teka-teki.

Namun, di tengah kesibukan mengurus Arya dan pekerjaan rumah tangga, Amara mulai merasakan hal yang tak terduga: perasaan hangat, aman, dan nyaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia sadar, meskipun ia datang ke Jakarta hanya dengan tujuan mencari ayah kandungnya, ia juga mulai menemukan tempat di hati orang lain-sebuah keluarga baru yang ia pilih sendiri.

Malam itu, setelah Arya tertidur pulas di pelukannya, Amara menatap langit Jakarta dari balkon apartemen. Lampu-lampu kota berkelap-kelip, suara kendaraan tak henti bergemuruh di bawah. "Aku akan menemukannya, Mbah Tini," bisiknya lirih. "Ayahku... aku akan menemukannya, dan aku akan membuktikan siapa aku sebenarnya."

Di sinilah awal perjalanan Amara: seorang gadis dari Solo, dengan masa lalu yang penuh rahasia, memulai babak baru hidupnya di Jakarta. Sebuah perjalanan yang tak hanya tentang mencari ayah, tapi juga tentang menemukan cinta, keluarga, dan kekuatan dalam diri sendiri-sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam mimpi.

Dan malam itu, di tengah keheningan apartemen mewah, Amara menutup matanya dengan hati yang penuh harapan. Besok adalah hari baru, dengan tantangan baru, dan kemungkinan baru. Ia siap menghadapi semuanya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Air Mata Seorang Pengasuh

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan asmara Raka kini berada di ambang kehancuran akibat kehadiran Nadia. Sebagai kekasih, Raka merasa diabaikan karena Cherry selalu memprioritaskan sahabatnya yang berkacamata tebal itu. Amarahnya meledak saat ia menyadari posisinya hanya menjadi yang kedua bagi Cherry. Namun, kecemburuan buta ini justru membawa Raka menuju sebuah titik balik yang tak terduga dalam hidupnya. Akankah perasaan mereka bertahan saat prioritas Cherry terbagi?
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters berubah menjadi dilema besar saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Di sisi lain, sang suami, Julian Ryder, telah menegaskan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Terjepit di antara cinta pada janinnya dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras ide untuk menggugurkan kandungannya. Kini, ia harus menyusun rencana rahasia demi melindungi sang buah hati dari pengetahuan Julian.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan