APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel AKSARA HUJAN

AKSARA HUJAN

Julie mendedikasikan hidupnya sebagai penari pole dance di klub malam demi masa depan Gemma, adik tercintanya. Namun, segala pengorbanan dan kerja keras Julie seolah tak berarti saat Gemma justru menggoreskan luka mendalam melalui tindakannya. Di tengah perjuangan mencari kebahagiaan, Julie harus menghadapi kenyataan pahit atas pengkhianatan sang adik. Apakah Gemma akan menyadari kesalahannya, atau malah semakin menjerumuskan Julie ke dalam penderitaan?
Bab
Bagikan

Bab 2

BAB 2

Oliver meletakkan segelas kopi di hadapan Julie. Perempuan itu tersenyum sembari menatap ruangan di dalam toko bunga milik Oliver. Aroma bunga melayang ke udara, saat angin pagi menyentuh kelopak – kelopaknya. Sesekali Julie menarik napas panjang, menghirup aroma lavender yang begitu mendominasi, hampir mengalahkan aroma kopi yang kini berada di dalam genggaman tangannya itu.

“Kau tampak lelah, Julie,” kata Oliver, yang kini duduk sambil merangkai bunga pesanan seorang pelanggan.

Julie tersenyum tipis, menyesap kopinya perlahan. Perempuan itu merapatkan kembali cardigannya, lalu menatap Oliver dengan tangannya yang terampil itu, “Aku hanya tidur sebentar. Sepertinya kurang dari dua jam.”

“Aku tahu itu, semalam kita bicara, kan? Aku juga tidak tenang kalau kau belum pulang, Julie.”

“Maafkan aku, Oliver.”

Oliver membersihkan duri dari batang bunga dengan cekatan, tangan terampilnya melebihi tangan seorang wanita, “Kemarin Gemma datang ke sini, ia bicara banyak denganku.”

Julie mengerutkan keningnya, “Gemma? Ada apa?”

“Soal pekerjaanmu itu. Dia tidak menyukainya.” Oliver berkata dengan terus terang.

Julie tersenyum tipis sembari mengangguk, “Aku tahu itu. Dia malu karena pekerjaanku.”

“Gemma ingin aku membantumu, Julie. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Aku hanya memiliki toko bunga ini, dan kau tidak akan menyukainya.” Oliver tersenyum, menatap Julie lekat.

“Ya, kau tahu aku tidak mungkin merangkai bunga, kan?” Kali ini Julie tertawa, perempuan itu membungkuk, mengambil setangkai bunga mawar yang dijatuhkan Oliver.

“Hmm, aku tahu itu. Bagaimana Gemma bisa memaksaku agar menerimamu bekerja di sini? Tapi, aku memang melihat jika gadis itu tampak putus asa.”

Julie menopang dagunya dengan sebelah tangan, “Memangnya apa yang salah dengan pekerjaanku, Oliver?”

“Bukan pekerjaanmu yang salah, Julie. Namun, waktunya yang tidak tepat. Perempuan cantik sepertimu tidak seharusnya bergelut dengan dunia malam,” tukas Oliver.

“Astaga, kau seperti Gemma.” Julie cemberut, dan kembali meneguk kopinya.

“Itu karena aku peduli padamu, Julie. Kau tidak menyadarinya?” Oliver berkata dengan tegas, ia menatap Julie dengan tajam.

Julie beringsut, “Jangan menatapku begitu, aku merasa tidak nyaman. Gemma sudah cukup membuatku tertekan, Oliver. Kau tahu, kan? Aku begini untuk siapa? Apa yang bisa kulakukan selain menari? Aku tidak memiliki sertifikat apapun, itulah kenapa aku bersikeras agar Gemma kuliah. Aku ingin dia memperoleh pendidikan yang baik, masa depan yang baik. Tidak sepertiku,” Julie berkata dengan sedih, dan itu membuat hati Oliver terasa teremas. Panas.

“Kau perempuan berhati emas, Julie. Gemma sudah dewasa sekarang, seharusnya dia mengerti. Kau terlalu banyak berkorban untuknya.”

“Aku adalah ibu bagi Gemma, Oliver. Sejak aku memutuskan untuk hidup berdua dengan anak itu, Gemma sudah menjadi tanggung jawabku.” Julie tersenyum, menatap bunga warna – warni yang berhamburan di atas meja laki – laki itu.

“Hmm, kau masih muda tapi memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Aku salut padamu, Julie. Kenapa kau tidak menyisihkan sebagian uangmu untuk dirimu sendiri? Misalnya dengan mengambil kursus, mungkin?” Oliver mencoba memberikan solusi untuk Julie.

Julie menggeleng, “Tidak. Biaya kuliah Gemma cukup mahal. Dia yang terpenting. Oliver, aku sangat sayang kepada anak itu. Dia satu – satunya yang kumiliki.”

Oliver menatap Julie dengan mata teduh, ia mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Julie pelan, “Kau ibu yang baik, Julie. Tapi kurasa kau juga harus memikirkan masa depanmu sendiri. Tidak selamanya kau akan menari di klub malam itu, kan? Berapa usiamu, hah?”

Julie tertawa kecil, “Aku masih muda, Oliver. Aku baru 25 tahun.”

Oliver berdecak sembari menggelengkan kepalanya, “Tidak terlalu muda jika kau belum memiliki kekasih, Julie.”

“Apa? Kenapa kau membicarakan itu? Kau sendiri bagaimana?” Julie berkata dengan senyum lebar, dan lelaki itu membalasnya dengan sebuah senyuman.

“Jika kau bertanya padaku kenapa aku masih sendiri, itu karena aku sedang menunggu seseorang. Tapi aku tidak pernah berani menyatakan perasaanku padanya.” Oliver berkata dengan murung, ia kembali meraih tangkai bunga itu dan mulai merangkainya.

“Kenapa? Kau tampan juga memiliki pekerjaan sendiri. Siapa gadis itu? Apakah aku mengenalnya?” Julie tampak tertarik, namun Oliver tidak peduli akan ocehan perempuan itu.

“Oliver..ayolah!” desak Julie lagi.

“Aku tidak akan memberitahumu, Julie,” jawab Oliver setelah beberapa saat terdiam.

“Kau kejam, Oliver.” Julie berkata dengan kesal.

Oliver tertawa, “Itu tidak penting. Lagipula dia tidak tahu kalau aku jatuh cinta padanya. Ah, apakah tadi kau mengatakan jika aku tampan?”

Julie mencibir, “Tidak. Aku berdusta.”

Oliver tertawa keras, tubuhnya yang tinggi dan cukup atletis itu tampak terguncang, “Aku senang kau mengakui ketampananku, Julie. Kau tahu, gadis – gadis remaja tergila – gila padaku, mereka datang hanya untuk melihat – lihat bunga tanpa membelinya, semata hanya ingin bertemu denganku.” Oliver berkata dengan penuh percaya diri, dan Julie menatapnya dengan senyum lebar.

“Mereka penggemarmu?”

“Astaga, kenapa kau membahas mereka sekarang?” protes Oliver, “Bagaimana, apakah rangkaian bunga ini cantik, Julie?”

Julie memiringkan kepalanya, mengamati rangkaian itu, “Hmm, seperti biasa kau adalah ahlinya.”

“Dia akan datang sebentar lagi untuk mengambil rangkaian bunganya. Aku harus membersihkan semua sisanya.” Oliver bergegas membersihkan sisa bunga – bunga itu, sementara Julie berjalan – jalan ke depan untuk melihat – lihat bunga yang diletakkan di depan toko itu. Sesekali Julie membungkuk untuk menghirup wangi dari bunga itu. Bunga – bunga itu basah, tampaknya tadi pagi Oliver sudah menyiraminya.

....

“Hai, apakah kau pemilik toko ini?”

Julie menoleh saat suara seorang laki – laki terdengar di belakang tubuhnya. Perempuan itu tersenyum, “Bukan, pemiliknya ada di dalam,” sahut Julie ramah.

“Oh, aku datang untuk mengambil pesananku. Bisakah kau memberitahu pemiliknya?”

“Tentu, tunggu sebentar, oke?” Julie melangkah ke dalam, dan menemukan Oliver sedang menempelkan pita merah di ujung rangkaian bunganya.

“Oliver, sepertinya pemilik bunga itu datang,” kata Julie, sembari melihat ke luar, menatap laki – laki berwajah tampan, dengan kulitnya yang kecokelatan di balik kemeja biru muda yang membuatnya terlihat begitu segar dan menarik.

Oliver menjulurkan kepalanya, mengikuti pandangan Julie, “Oh, kau benar itu orangnya.” Oliver bergegas membawa rangkaian bunga itu, menuruni beberapa anak tangga dengan cepat.

“Aku sudah menyelesaikannya. Bagaimana?” tanya Oliver kepada lelaki itu.

“Ini bagus, terima kasih.” Lelaki itu menatap Julie yang berdiri di muka pintu, mengulaskan senyum yang begitu manis padanya. Ia lalu berbisik kepada Oliver, “Bisakah kau menolongku?”

“Ya? Apa yang kau butuhkan?”

Lelaki itu menyelipkan selembar uang kepada Oliver sambil berkata lirih, “Tolong, berikan beberapa tangkai bunga mawar merah untuk perempuan itu.”

“Apa?” Oliver yang terkejut menatap lelaki itu dengan alis menyatu.

“Ya, dia bukan kekasihmu, kan? Siapa namanya?”

“Julie,” jawab Oliver dengan sedikit kesal.

Lelaki itu tersenyum, sekali lagi menatap Julie sembari melambaikan tangannya ke arah perempuan itu, “Julie, sampai jumpa lagi,” katanya dan melangkah pergi dari sana.

“Hei, dia tahu namaku!” Julie hampir menjerit, dan mengikuti Oliver masuk ke dalam.

“Kenapa? Kau suka padanya? Kau bahkan tidak tahu dia membeli bunga itu untuk siapa, kan? Bisa saja itu untuk kekasihnya!” Oliver terlihat semakin kesal, ia tak akan pernah memberikan bunga itu atas nama lelaki lain.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Jatuh Sakit, Dia Menemani Wanita Lain
9.1
Di Hari Valentine, Betsy divonis menderita kanker lambung dan hanya punya sebulan untuk hidup. Di tengah duka, Sebastian Nash justru mengaku jatuh cinta pada wanita lain meski berjanji tetap setia sebagai suami. Walau hancur, Betsy memilih melepaskan Sebastian tanpa keributan demi sisa usianya yang singkat. Meski Sebastian memohon agar ia tidak pergi, Betsy yang sekarat hanya bisa tersenyum pahit, menyadari bahwa tak ada gunanya lagi menangisi pengkhianatan itu.
Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA
8.6
Rania hancur saat suaminya sendiri memintanya berpura-pura menjadi janda demi uang. Di balik kerudung pastelnya, ia memendam luka mendalam sekaligus berjuang melawan kanker ganas yang menggerogoti raga. Meski tubuhnya kian melemah, Rania bertahan demi kedua buah hatinya. Ini adalah kisah perjuangan seorang ibu yang bangkit dari pengkhianatan dan rasa sakit, mengumpulkan sisa kekuatan demi tetap hidup untuk anak-anak yang mencintainya.
Sampul Novel CLBK(Cinta Lama Biar Kembali)
9.2
Hubungan Ayu dan Irfan hancur karena restu orang tua yang tak kunjung datang. Irfan terpaksa menikahi Desi, sahabat Ayu, sementara Ayu melarikan diri ke kota demi menyembuhkan luka. Saat Ayu mulai membuka hati bagi pria lain, Irfan muncul kembali untuk mengejar cintanya. Meski Irfan berjanji hanya mencintai Ayu selamanya, Ayu menolak keras. Ia tak sudi menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mantan kekasihnya itu meski perasaan lama masih ada.
Sampul Novel Finally, I Love You
9.3
Hidup Hellena berubah drastis layaknya roller coaster akibat penderitaan yang diberikan keluarganya sendiri. Di tengah tekanan orang tua yang memaksanya segera menikah, ia justru menemukan jalan keluar tak terduga. Pertemuan singkat dengan seorang pria asing menjadi awal kebahagiaan baru baginya. Sosok misterius itu hadir bak malaikat penyelamat yang mengubah nasibnya. Hellena pun nekat memutuskan untuk menikah dengan pria yang baru saja ia kenal tersebut.
Sampul Novel GODAAN PAK DOSEN
8.8
Naina Alexandra terjebak dalam dilema besar saat harus menikahi Arhan Bramantio, dosen pembimbing skripsinya yang sangat dingin dan angkuh. Meski membenci sifat kaku sang dosen, Naina tak berdaya menolak wasiat terakhir mendiang ibunya. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan ini pun dipenuhi ketegangan dan tantangan emosional. Mampukah Naina bertahan menjalani rumah tangga bersama pria yang paling ia benci demi sebuah janji masa lalu yang sakral?
Sampul Novel Hukum Sang Pewaris Cacat
8.7
Damon Valenti, Don mafia yang berkuasa, menghadapi krisis saat putra bayinya, Enzo, menolak susu formula pasca kematian sang istri. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Isabella Moreno yang baru saja kehilangan bayinya. Damon menawarkan kontrak bisnis dingin: Isabella harus menjadi ibu susuan Enzo tanpa melibatkan perasaan. Namun, melihat kelembutan Isabella memicu obsesi gelap dalam diri Damon. Sang Don kini terjerat dalam gairah berbahaya pada wanita yang seharusnya hanya menjadi pekerja.