APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Dan CEO Nakal

Aku Dan CEO Nakal

Seorang mahasiswi cantik sedang menempuh masa magang di sebuah perusahaan ternama yang sangat besar. Namun, rutinitas dan ketenangan hidupnya mendadak berubah total sejak ia bersinggungan dengan seorang pria hidung belang yang memiliki kekuasaan di sana. Akankah sang gadis mampu menghadapi segala tantangan dan dinamika yang muncul akibat pertemuan tersebut? Ikuti terus perjalanan hidup penuh warna dari sang asisten magang dalam menghadapi sang CEO nakal.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mendengar lagu yang melantun dan juga bagaimana cara wanita itu bergoyang dan menyentuh dirinya sendiri membuat Alceo merasa terprovokasi hingga gairahnya timbul tanpa ia sadari.

Pikiran nakalnya berlarian membayangkan wanita itu berada di bawahnya malam ini.

"Il have her tonight on my bed," gumam Alceo seraya menegak minumannya dan berdiri hendak mendekati panggung.

Gary menyekal tangan Alceo sebelum laki-laki itu pergi. "Apa yang terjadi dengan 'aku tidak menyukai wanita berambut pirang?" tanya Gary seraya mengernyit.

"Rambutnya tidak ikal," kilah Alceo sambil menunjuk kearah panggung, dimana wanita itu sudah hampir selesai bernyanyi.

"Tapi rambutnya pirang." Gary mengingatkan.

Alceo menoleh kearah Gary dan tersenyum. Ia lalu menepuk pundaknya.

"Jangan terlalu old fashion, Gary. Itu hanya rambut. Yang kau nikmati itu adalah tubuhnya, bukan rambutnya."

Gary mengerjap kebingungan. Kenapa jadi ia yang terkesan buruk mendengar kalimat Alceo barusan? Yang ia lakukan hanya mengingatkan Alceo akan ketidak sukaannya, bukan?

"Watch and learn, Buddy." Alceo menepuk bahu Gary sebelum berlalu lagi kearah panggung.

Wanita itu sudah selesai bernyanyi dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari orang-orang yang menikmatinya. Termasuk Alceo.

Laki-laki itu menunggu di samping panggung dengan senyum lebarnya. Begitu Wanita itu menuruni panggung.

Tanpa peringatan, aba-aba dan izin. Alceo langsung melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan melumat bibirnya yang secara mengejutkan, terasa manis untuknya.

Wanita itu terkejut, matanya terbelalak hingga ia kira kalau matanya akan melompat keluar dari tempatnya.

Dengan segala kesadaran dan kekuatan yang masih tersisa, wanita itu mendorong tubuh Alceo, menatap laki-laki itu tidak percaya.

Ketika Alceo ingin kembali menciumnya, wanita itu dengan cepat meraih lengan Alceo, memutarnya lalu mengunci tangan kekar Alceo di belakang tubuhnya.

"Arghhh! Apa yang kau lakukan?!" pekik Alceo terkejut mendapatkan perlakuan yang berbeda dari yang ia bayangkan.

"HIDUNG BELANG!" pekik wanita itu sambil menendang bokong Alceo hingga laki-laki itu terjungkal ke depan.

***

Megan memijat pelipisnya. Kepalanya masih terasa pening akibat pengaruh alkohol, juga kejadian tidak menyenangkan yang menimpanya kemarin malam. Tidak pernah seumur hidupya ia dilecehkan serendah itu oleh seseorang.

Oh well, mungkin laki-laki yang melecehkannya tampan. Amat tampan, kalau Megan bisa menambahkan. Tetapi perilaku laki-laki itu nol besar. Apa laki-laki itu mengira Megan adalah wanita murahan yang bisa dicium dan di ajak tidur semudah itu?

Laki-laki itu sudah gila kalau benar-benar mengira Megan serendah itu.

Bukan sampai sana saja kesialannya. Ternyata laki-laki yang melecehkannya, dan juga laki-laki yang ia tendang bokongnya adalah tamu penting. Kalau mendengar dari penuturan bartender yang tiba-tiba menengahi keributan mereka semalam.

Kalau bukan karena hari itu adalah hari berbahagia kedua sahabatnya, David dan Tania, Megan tidak akan meminta maaf dan memilih melupakan pelecehan itu.

Laki-laki hidung belang sepertinya harus diberantas. Karena menurutnya, laki-laki hidung belang itu seperti virus. Sangat mudah menyebar dan sangat mengganggu kesejahteraan hidup umat manusia.

Megan bersumpah ia tidak akan kembali ke kelab malam itu, apapun yang terjadi.

Bungkusan roti isi yang tiba-tiba melayang ke mejanya membuyarkan lamunan Megan.

Megan menoleh lalu mendapati Claire sudah duduk di kursi sebelahnya sambil melahap roti yang sama seperti yang tadi di lemparkan ke atas meja.

"Aku sudah dengar dari Tania," ujar Claire.

"Katanya laki-laki itu tampan, ya? Aku jadi menyesal tidak ikut dan melewatkan pertunjukan kemarin."

Megan berdesis menanggapi ejekan Claire. Ia meraih roti di atas meja dan membukanya dengan gerakan kesal.

"Jangan bahas masalah kemarin lagi. Aku benar-benar ingin memandikan laki-laki itu dengan 1 tangki alkohol agar virusnya tidak menyebar kesiapapun."

Claire terbahak hingga nyaris tersedak mendengar gerutuan Megan.

"Laki-laki memang seperti itu, Meg. Kau hanya terlalu sering bergaul dengan David yang hidupnya lurus. Bahkan mungkin saja dibalik itu semua, David juga memiliki sifat hidung belang itu, tidak ada yang tahu."

"Aku akan menyemprot David dengan pestisida kalau sampai ia melecehkan Tania," gerutu Megan dan mengabaikan candaan Claire.

"Kau kira sahabatmu itu sayuran berhama?" tanya Claire lalu kembali terbahak.

Megan memajukan bibirnya sesaat sebelum ia ikut tertawa bersama Claire.

Tawa mereka berhenti ketika karyawan di kantin mendadak ribut dan berlari ke satu arah pintu masuk beserta jendela yang mengarah ke Lobby utama kantor mereka.

"Ada apa? Apa ada artis lewat?" tanya Claire bingung.

Megan menggidikkan bahunya. "Palingan model untuk produk bulan depan," ujar Megan tidak tertarik.

"Boleh aku bergabung?" suara Edward, atau yang sering mereka panggil Ed, terdengar bersamaan dengan bunyi nampan yang diletakkan di atas meja mereka.

Megan tersenyum lebar sambil mengangguk. "Silahkan saja."

"Ed, artis mana yang datang? Kenapa heboh sekali?" tanya Claire yang sepertinya masih penasaran dengan kumpulan fans dadakan itu.

"Artis?" Ed terkekeh lalu menggeleng.

"Itu bukan Artis. Tetapi CEO perusahaan ini."

"CEO? Kenapa mereka heboh seperti itu?" Claire mengernyit.

Dalam bayangan Claire dan Megan, CEO perusahaan sebesar ini pastilah sudah berumur dan bertubuh gempal.

Jadi kalau reaksi yang terlihat seakan menyambut dewa Yunani begitu, tentu saja membuat Claire juga Megan bertanya-tanya.

Ed terkekeh dan menggidikkan bahu. "Sepertinya kau harus melihatnya sendiri, karena kalian pasti akan menertawakan jawabanku," ujarnya.

Setelah mengatakan itu, Ed mulai melahap makan siangnya tanpa meladeni Megan dan juga Claire.

Megan dan Claire saling bertatapan. Mereka seakan berbicara secara telepati untuk melihat sendiri kehebohan itu.

Namun belum sampai kata sepakat, kerumunan itu sudah membubarkan diri dengan helaan nafas kecewa yang ketara.

Alceo bersumpah ia tidak akan kembali lagi ke kelab malam miliknya yang satu itu.

Seumur hidupnya, ia tidak pernah dipermalukan seperti itu oleh seorang wanita kecuali adik kembarnya. Tidak ada satu wanita pun yang berani menginjakkan kaki di atas harga dirinya. Tidak seorang pun.

"Apa kau merasa tidak berlebihan, Marvel?" suara bass Gary menyadarkan Alceo dari lamunannya.

"Kalau kau tidak mau kesana lagi. Kenapa juga kau harus memindah tugaskan aku ke klab ini?"

"Aku butuh teman bicara," sahut Alceo ketus.

"Yakin? Setelah mendapat mangsa. Kau juga akan meninggalkanku. Lebih baik aku kembali ke klab yang dulu saja. Disana lebih banyak pelayan seksi."

Gary bersungut-sungut sambil mengelap meja barnya. Klab ini memang tidak sebesar klab yang kemarin menjadi saksi harga diri Alceo terinjak.

Namun persamaannya adalah kedua klab itu sama-sama milik keluarga besar Tyler.

Jadi Alceo bisa berbuat seenaknya atas pegawai-pegawai bar tersebut. Termasuk memindah tugaskan Gary tanpa pemberitahuan sebelumnya.

"Mulutmu cerewet sekali seperti ibu-ibu rumpi," sindir Alceo.

Alceo meneguk minumannya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling klab yang sebagian besar diisi oleh pejabat-pejabat berumur dan juga pekerja-pekerja kantor yang nampaknya menjadikan klab malam ini sebagai alternatif tempat meeting.

Berbeda dengan klabnya yang kemarin, yang kebanyakan diisi oleh anak-anak muda.

Maka itu, Alceo hampir tersedak ketika ekor matanya tidak sengaja atau memang hari sialnya belum berakhir melihat bayangan wanita berambut pirang yang sama baru saja masuk ke klab itu.

Alceo meletakkan sedikit kasar gelas di tangannya ke atas meja bar. "Kenapa dia ada disini?!"

Gary mengernyit dan mengikuti arah pandangan Alceo. "Dia siapa?"

"Wanita kemarin!" pekik Alceo tidak percaya.

"Aku tidak melihatnya. Mungkin kau berhalusinasi. Klab ini private dan hanya yang memiliki reservasi atau jabatan tinggi saja yang boleh masuk."

"Aku benar-benar melihatnya!" Alceo menatap Gary dengan mata melotot. Tidak terima diragukan.

"Aku akan menghampirinya dan menanyakan maksudnya mengikutiku kemari!" putus Alceo langsung bangkit dari tempatnya, meninggalkan Gary dan menghampiri lokasi wanita itu.

Gary tidak sempat mencegah atasannya itu karena Alceo bergerak dengan sangat cepat. Ditambah, suaranya teredam oleh musik beat yang memekakkan telinga.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti
8.1
Nayara Elvard, desainer ambisius, terjebak pernikahan kontrak dengan Arshen Daveraux, pengusaha dingin dan perfeksionis. Meski Arshen terus menjaga jarak dan menolak perhatian, Nayara yang ceria justru tertantang untuk mencairkan kekakuan suaminya itu. Di tengah konflik kepribadian dan gengsi yang tinggi, Nayara bertekad membuktikan adanya cinta di balik sikap kaku Arshen. Akankah perasaan tulus tumbuh melampaui batasan kontrak yang mengikat mereka?
Sampul Novel Gairah Liar Sang CEO
9.7
Rafael Aditya Syahreza, CEO yang kerap bergonta-ganti pasangan, menjerat Vanessa setelah sebuah ketidaksengajaan di ranjang. Ternyata, Vanessa adalah kekasih Adrian, adik kandungnya sendiri. Rafael memanfaatkan situasi ini demi kepuasan nafsu sekaligus menuntaskan dendam masa lalu. Akankah ia berhasil merebut Vanessa dari adiknya? Bagaimana nasib Vanessa saat menyadari dirinya hanya alat balas dendam, dan mampukah ia menerima kenyataan pahit tersebut?
Sampul Novel Harga Diriku 10 Juta Per Malam
9.4
Yatim piatu dan terlilit utang miliaran, mahasiswi bernama Arabella Alexandro terpaksa menjalani kehidupan ganda sebagai wanita penghibur di diskotek. Di balik senyum palsunya, ia berjuang membiayai kuliah serta bertahan hidup sendirian tanpa bantuan keluarga besar. Suatu malam, ia bertemu Arkan Stevanno Orlando, CEO kaya raya yang memesan jasanya. Akankah pertemuan dengan Arkan menjadi pintu keluar dari kemelaratan atau justru memicu konflik baru yang lebih pelik?
Sampul Novel Kau Tak Pernah Mencintaiku
9.3
Aurora terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Leandro, pengusaha sawit kaya. Meski hidup mewah, ia menderita akibat dominasi ibu mertua dan kekejaman adik iparnya. Leandro tak pernah memihaknya hingga Aurora merasa terasing. Penderitaannya memuncak saat kakak kandungnya, Ravela, hadir dan mulai menggoda suaminya. Pengkhianatan ini menghancurkan jiwa Aurora, terutama ketika ia menyaksikan Ravela keluar dari kamar Leandro pada suatu malam yang kelam.
Sampul Novel My Possessive CEO
8.3
Sinta adalah gadis malang yang berulang kali nyaris menjadi korban pelecehan seksual. Beruntung, Biru yang merupakan seorang CEO muda selalu muncul untuk menyelamatkannya. Meski awalnya hanya kebetulan, Biru ternyata telah jatuh hati sejak pandangan pertama. Namun, Sinta justru merasa sangat takut untuk memulai hubungan asmara karena trauma masa lalu yang menghantuinya. Akankah kegigihan Biru mampu meluluhkan hati Sinta yang penuh luka? Simak kisah romansa dewasa ini.