APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Miskin, tapi Bohong

Aku Miskin, tapi Bohong

Maya adalah pewaris kaya yang memilih menyembunyikan identitas aslinya, namun ia justru mendapat perlakuan kejam dari mertua dan suaminya sendiri. Dirga, sang suami yang dahulu memohon untuk menikahinya, ternyata hanya mengincar harta tabungan Maya dan meremehkannya. Meski menderita, Maya terpaksa bertahan demi melindungi sosok yang ia cintai. Akankah ia mampu melepaskan diri dari belenggu keluarga Dirga, atau selamanya terjebak menjadi budak mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Maya!"

Ku dengar Bang Dirga berteriak memanggil namaku saat aku baru memasuki rumah ini. Pasti dia akan marah lagi. Sudah ku tebak dari intonasi dia memanggilku.

"Ada apa, Bang?" tanyaku mendekatinya.

"Dasar istri gak berguna. Istri gak becus. Bisa-bisanya ya kamu ninggalin aku yang masih tidur sampai aku telat masuk kerja hari ini. Kamu tau gak gara-gara kamu aku sampai gak di bolehin masuk sama satpam tempatku kerja," teriaknya. Terlihat sekali Bang Dirga tengah marah terhadapku.

"Aku sudah membangunkanmu, Bang tapi kamu sendiri yang tidak mau bangun," belaku untuk menghindar dari amukannya.

"Dasar istri sialan. Nyaut aja bisanya. Diem bisa gak. Aku ini lagi marah-marah sama kamu, dasar istri tidak berguna," teriaknya dengan lantang di depan wajahku.

"Iya, Bang. Iya maaf," ucapku lirih seraya menunduk.

"Bikinin aku minum sana! Capek aku teriak-teriak sama kamu," titah Bang Dirga dengan napas ngos-ngosan.

Rasanya jika aku tidak ingat bahwa seorang istri harus melayani suami. Sudah ku tendang Bang Dirga sekarang. Dia fikir aku tidak capek apa. Tidak pegal apa. Baru pulang bukanya di sambut malah di marah-marahin. Masih di suruh-suruh juga. Dia fikir aku kerja untuk siapa. Ya untuk diriku sendiri lah tapi kan aku juga menggaji mereka yang bermain di dramaku.

Aku bergegas ke dapur membuatkannya minum. Teh hangat seperti kesukaannya tapi saat aku membuka toples gula isinya zonk. Lah kemana ini semua gula-gulaku. Rasanya tidak mungkin jika semut membawa semua gulaku mengingat tadi pagi masih ada setengah toples.

"Ini, Bang tehnya" aku menghidangkan teh buatanku ke hadapan suami tercintaku. Ah sosweet pikiranku.

"Hmm, Dek," Bang Dirga memanggilku setelah menyesap tehnya.

"Iya, Bang?" Sahutku halus. Sengaja ku manja-manjakan suaraku.

"Kok tehnya beda yah. Gak seperti yang biasanya," ucap Bang Dirga seperti sedang mencecap sisa rasa teh buatanku.

"Ah sama kok, Bang. Mungkin karena tehnya baru jadi rasanya agak berbeda," aku menahan diri agar tidak tertawa di hadapan Bang Dirga. Bisa kacau nanti kalau aku kelepasan tertawa di depannya.

Aku terkikik dalam hati. Ya jelas beda lah itu teh ku buat tidak dengan gula. Tapi dengan permen yang ada di toples milik Bang Dirga. Tanpa sepengetahuan Bang Dirga aku mengambil tiga biji permennya. Kan tidak apa aku mengambilnya toh untuk dia bukan untuk diriku sendiri. Karena selama ini Bang Dirga begitu pelit dengan isi setiap toplesnya.

"Ya sudah ya, Bang aku mau ganti baju dulu terus masak," ucapku undur diri agar Bang Dirga tidak menanyaiku hal yang lain-lain lagi.

"Kamu masak untuk dirimu saja sendiri, Dek. Itu masih ada mi di dalam almari. Tadi Abang, Ibu sama mbak Sinta sudah makan," serunya saat aku hampir memasuki kamar.

Selalu saja seperti itu. Mereka pasti makan sebelum aku pulang dan sengaja menyimpan sisa makanannya di dalam lemari kamar Ibu. Padahal jika aku tidak makan malam ini pun aku masih kenyang karena sebelum pulang aku sudah makan dengan klien.

Jika kalian ingin tahu. Selama ini kamar yang aku tempati itu berbeda dengan kamar yang Bang Dirga tempati. Mengapa demikian. Aku juga tidak paham yang jelas Bang Dirga melarangku untuk satu kamar dengannya karena baginya aku ya hanya sebatas babu di rumah ini. Pernikahan hanya status yang tidak penting bagi Bang Dirga. Tapi itu memudahkanku untuk menjalankan drama ini.

Dengan malas aku membuka isi almari yang hanya terdapat beberapa bungkus mie instant murahan. Padahal jika di bandingkan dengan gajiku yang mereka nikmati harga satu kardus mie instan ini hanya secuil tapi entah mengapa bagianku hanya satu kardus mie ini untuk satu bulan.

"Eh udah pulang, May?" tiba-tiba mbak Sinta mengagetkanku yang tengah membuka plastik mie instan murahan ini.

"Udah, Mbak. Kenapa?" tnyaku acuh sambil merebus mie instant yang sama seperti sebelum-sebelumnya.

"Uang yang lima ratus ribu dong," ucapnya sambil menengadahkan tangan kepadaku yang ku balas dengan menaikkan satu alisku.

"Kan sudah ku bilang, Mbak. Gajiku semuanya di transfer ke ATM sedangkan ATM ku ada sama Bang Dirga. Aku gak pegang sepeserpun. Hanya untuk naik angkot untuk berangkat kerja saja. Kan tau sendiri pulangnya aku harus jalan kaki," kelasku karena memang setiap pulang ke rumah aku selalu jalan kaki dari ujung gang.

Selama ini Bang Dirga hanya memberiku uang untuk ongkos berangkat bekerja. Sedangkan pulangnya ya untung-untungan. Kadang nebeng temen kadang naik angkot kadang jalan kaki.

"Dasar pelit kamu, May," sinis Mbak Sinta sambil menoyor kepalaku ke belakang hingga aku hampir terjungkal.

Mereka pikir aku mesin ATM apa bisa di mintai duit seenak jidat mereka. Sudah untung mereka aku biarkan menikmati secuil dari gajiku masih aja ngelunjak.

Aku membawa mie buatanku ke depan tv. Berniat memakan mie ini sambil menonton tv. Sejenak melepaskan lelah mumpung sedari aku pulang aku tidak melihat keberadaan ibu sama sekali. Toh TV yang akan ku tonton juga hasil pemberianku.

"Enak banget yah makan sambil nonton tv kayak gitu," sindir ibu saat baru datang dengan membawa tas belanjaan yang cukup banyak di kedua tangannya.

"Istirahat sejenak lah, Bu. Aku capek baru pulang kerja," ucapku sambil nyengir.

"Enak aja katamu istirahat. Gak ada istirahat-istirahatan. Gak liat apa rumah berantakan kayak gini. Masih ongkang-ongkang kaki santai-santai makan," Ibu meletakkan tas belanjaannya dengan keras di atas meja.

"Iya, Bu nanti aku bereskan semuanya," jawabku menunduk pura-pura menurut.

"Ngomong-ngomong ibu habis dari mana, keliatannya abis belanja, Bu?" tanyaku mengalihkan perhatian ibu.

"Ya iyalah abis belanja. Ibu abis dari mall. Memangnya kamu, orang miskin mana pernah ke mall. Paling cuma pernah ke alpa. Itu aja udah seneng banget pasti. Norak," jawab Ibu membanggakan dirinya yang sering ke mall.

Memang jika di gabungkan gajiku dengan gaji Bang Dirga pastilah cukup untuk hidup semua orang di runah ini dengan makanan yang layak. Tapi karena kebiasaan ibu yang sering belanja menjadikan uang yang ada cepat habis tak tersisa.

"Itu baju baru, Bu?" tanyaku saat ku lihat Ibu mengeluarkan satu gamis dari salah satu paper bag yang beliau bawa.

"Ini gamis keluaran terbaru tau. Hanya orang kaya dan modis saja yang cocok pakai gamis seperti ini. Orang kampung dan miskin kayak kamu mana cocok. Cocoknya pakek karung beras," tawa ibu menggelegar mengisi seluruh ruangan.

"Mana, Bu coba Sinta lihat!" sambar Mbak Sinta saat keluar dari kamar.

"Ini coba lihat gamis ibu, Ta. Bagus kan. Ini juga ada satu buat kamu," Ibu memberikan sebuah gamis dengan merek senada kepada Mbak Sinta.

"Wah bagus, Bu. Ini juga bagus gamis yang buat aku. Makasih ya, Bu," ucap Mbak Sinta sambil melihat-lihat gamis yang di belikan Ibu untuknya

"Eh Maya, ngapain kamu lihat-lihat. Kamu iri sama gamis aku dan ibu?" tanya Mbak Sinta dengan membelalakkan matanya.

Iri dengan gamis mereka? Yang benar saja. Uang yang di pakai ibu untuk membeli semua belanjaannya juga pastilah uangku. Hari ini yang gajian itu aku mengingat gajian Bang Dirga masih seminggu lagi. Yang harusnya saat ini belanja karena telah gajian. Uangku yang malang!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy
9.0
Alexandria Serenata Atmadya pindah ke megapolitan demi pekerjaan baru, namun sifatnya yang sulit menolak justru menjebaknya dalam skema Ragnala Firaz Himawan. Ragnala yang manipulatif memaksa Alexandria masuk ke pernikahan berkedok kesepakatan rahasia. Di tengah persaingan kecerdikan mereka, muncul fakta mengejutkan tentang seorang anak berusia empat tahun. Alexandria pun harus menghadapi taktik manis Ragnala demi memperjuangkan cinta di tengah pahitnya masa lalu.
Sampul Novel DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
9.6
Alvino Rakha Satyawidjaya, putra tunggal konglomerat properti Asia, memilih mandiri sebagai guru meski bergelimang harta. Di sisi lain, Rachelia Amora Dirgantara adalah primadona SMA Cakrawala yang menjalin kasih dengan Leonel Grestavio. Hubungan harmonis mereka seketika hancur saat Rachel mengetahui rencana perjodohan dirinya. Tak disangka, sosok calon suaminya adalah gurunya sendiri di sekolah. Konflik pun bermula saat cinta dan kewajiban mulai berbenturan.
Sampul Novel LOVE
8.1
LOVE
Sejak tatapan pertama, hatiku langsung terpikat oleh pesonanya. Pertemuan kedua dengan pemilik mata indah itu semakin meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, meski aku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, ada keraguan besar yang menghimpit dada. Kondisi fisikku yang lumpuh membuatku tak berani menyatakan perasaan pada gadis tersenyum manis itu. Mampukah pria cacat sepertiku memenangkan ketulusan cintanya yang berharga?
Sampul Novel Om Duda and Me
8.0
Azalea, siswi SMA yang menawan, jatuh hati pada sosok duda satu anak yang merupakan paman dari sahabatnya sendiri. Kenzo adalah pria kaya yang menutup rapat pintu hatinya sejak sang istri wafat saat persalinan. Meski terpaut usia yang sangat jauh, Azalea bertekad mengusik ketenangan hidup Kenzo dan mencoba meluluhkan kekakuannya. Akankah kegigihan gadis muda ini mampu menaklukkan hati sang miliarder? Simak perjuangan Azalea mengejar cinta Kenzo.
Sampul Novel PERANGKAP PANAS CEO DINGIN
9.7
Demi membalas budi, Ellshora terpaksa menjerat para CEO kaya atas perintah bibinya meski ia sudah memiliki kekasih. Luke Whiston menjadi target terakhir dalam misi ini. Namun, sang CEO dingin ternyata sudah menyadari niat terselubung Ellshora. Luke justru berencana membalikkan keadaan agar Ellshora yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah persaingan ini, siapakah yang akan benar-benar terjerat dalam perangkap gairah yang membara?
Sampul Novel Sang Ratu Kembali: Dimanjakan oleh Tiga Saudaranya yang Kuat
9.4
Lima tahun Rina berpura-pura demi keluarga angkat, namun ia justru dibuang saat status aslinya terungkap. Dihina dan ditinggalkan tunangannya, ia bangkit untuk menuntut keadilan. Tak disangka, keluarga kandungnya adalah penguasa kota yang sangat kaya. Tiga saudara kandungnya yang hebat seketika meninggalkan karier mereka demi memanjakannya. Saat para pengkhianat menyesal dan memohon kembali, Laksamana Juna Morgan maju melindungi Rina sebagai miliknya sepenuhnya.