APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Sayang Om

Aku Sayang Om

Noelia, siswi SD berusia delapan tahun, tumbuh tanpa orang tua dan hanya diasuh oleh Tante Novi. Kesehariannya yang sepi berubah sejak kehadiran pasangan pengantin baru, Wisnu dan Santi, sebagai tetangga. Kehangatan Wisnu memberikan Noe kasih sayang figur ayah yang selama ini ia dambakan. Seiring berjalannya waktu, kedekatan yang terjalin selama bertahun-tahun menumbuhkan benih cinta di hati Noe, hingga akhirnya ia berani menyatakan perasaan sayangnya pada Wisnu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari ini Novi pulang lebih awal karena kemarin malam ia tak pulang ke rumah. Ia membawa bahan makanan yang lumayan banyak untuk masak hari ini. Ia merasa bersalah pada Noe yang sering kali ia tinggal. Padahal Noe masih kecil dan tentu saja tidak bisa masak sendiri.

Novi melihat rumah sudah rapih seperti biasa, tidak pernah sekalipun rumah nampak berantakan. Noe benar-benar menjaga amanahnya di mana rumah harus selalu rapih. Novi tahu Noe anak yang patuh walau di sekolah ia suka mencari masalah. Tapi Novi tahu kenapa Noe seperti itu, ia butuh perhatian yang tidak ia dapat di rumah.

Novi menaruh bahan belanjaan di dapur lalu ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri sejenak. Setelah itu ia langsung masak untuk makan siang Noe. Novi begitu serius saat memasak dan memang hasil masakannya sangatlah enak. Noe adalah penggemar masakannya yang selalu bilang enak setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya itu.

Novi sudah tidak sabar untuk melihat Noe makan dengan lahapnya. Ia juga menggoreng ayam kesukaan Noe dan sayur sop ceker. Ia juga menumis dan lainnya. Pokoknya hari ini penuh makanan enak kesukaan Noe.

Selesai memasak Novi merasa lelah dan ia pun istirahat di teras rumahnya. Melihat tanaman yang tidak pernah ia rawat dengan tangannya sendiri karena sudah ada Noe yang merawatnya. Sisa-sisa air yang disiram Noe masih terlihat jelas di pot-pot masing-masing.

Saat tenang seperti inilah yang ia ingin rasakan. Bukan melulu dunia malam yang membuatnya kadang lupa diri untuk pulang. Saat menikmati keheningan sebuah suara bantingan terdengar dari rumah sebelah. Novi sampai tersentak kaget dan bangun dari duduknya.

Ia menuju rumah sebelah dan berharap tak terjadi apa-apa. Novi mengetuk pintu rumah Wisnu namun tak ada jawaban, ia ketuk sekali lagi sampai pintu terbuka. Seorang wanita muda dengan wajah cantik nan jutek tengah menatap dirinya dengan sinis.

“Siapa?” tanya Santi ketus.

“Novi tetangga sebelah.”

“Ada perlu apa?”

“Hanya khawatir, tadi aku dengar suara barang jatuh?”

“Bukan urusanmu.”

“Urusanku kalau sampai mengusik ketenanganku.”

“Maaf kalau mengusikmu.”

“Aku tanya ada apa?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Kita tetangga, wajib saling tahu.”

“Itu namanya kepo dan mencampuri urusan orang lain.”

“Angkuh sekali.”

“Siapa yang angkuh, kamu yang tiba-tiba ketuk-ketuk rumah orang.”

“Terserah.” Novi lantas pergi sudah tak ada respeck lagi terhadap istri Wisnu itu. Begitu sombong dan angkuhnya jadi orang. Masih muda tidak tahu tata krama. Mood Novi hancur seketika.

****

Noe yang sudah pulang dari sekolah merasa heran melihat Novi tengah berwajah masam di depan tv. Noe pun menghampiri Novi dan duduk di sebelahnya.

“Tante kenapa?” tanya Noe. Novi melirik Noe sekilas lalu berpaling kembali.

“Kamu bener Noe, tuh orang sebelah cantik doang, tapi nggak punya etika.” Noe berfikir sejenak. Apa yang dimaksud tantenya adalah istri Wisnu?

“Istri Om Wisnu ya?”

“Iya.”

“Emang kenapa, Tan?”

“Udah nggak usah dibahas lagi, males Tante, anggap aja tuh orang nggak ada sekalian.”

“Ih, Tante kenapa deh?”

“Intinya Tante nggak suka, itu aja.”

“Iya deh.”

Noe menghela nafas dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Saat itu Novi baru ingat kalau ia belum memberitahu Noe soal masakannya.

“Noe!!” seru Novi

“Ya?” jawabnya dari dalam kamar.

“Tante masak kesukaanmu, tuh.” Di dalam kamar Noe langsung sumringah dan kembali keluar kamar.

“Beneran Tante?”

“Iya, tuh di meja makan.” Noe langsung mengangguk cepat dan menuju ke ruang makan. Noe langsung ngiler liat makanan kesukaannya. Ia pun dengan cepat mengambil piring dan makan dengan lahap. Saat Noe makan dengan lahap Novi justru menerima telepon yang membuat wajah Novi kesal.

Novi nampak masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu, Noe hanya mengelus dada karena sempat kaget mendengar suara bantingan pintu. Tak lama Novi keluar dengan pakaian rapih beserta tasnya.

“Tante, mau kerja?” tanya Noe yang sudah selesai makan. Novi mengangguk malas.

“Tante nggak pulang 3 hari ya.” Noe kaget mendengar itu. Tapi apa yang bisa Noe lakukan, ia hanya mengangguk saja dan tersenyum seperti biasanya.

“Uang jajan dan makan kamu di tempat biasa ya.”

“Ya, Tan.”

“Tante berangkat dulu.” Noe langsung menghampiri Novi dan mencium punggung tangannya.

“Hati-hati, Tan.” Novi mengangguk dan melangkah pergi. Ia bahkan membawa tas yang lumayan besar yang dipakai untuk menaruh pakaian gantinya.

Noe melihat sang tante yang sudah berjalan semakin jauh dari rumahnya. Ia pun duduk di teras dan merasa kembali sepi. Baru saja ia makan enak besok harus makan seadannya lagi. Ia berfikir makanan sebanyak itu siapa yang akan memakannya?

Saat tengah berfikir begitu ia mendengar suara motor dan ia pun bangun. Terlihat Wisnu baru pulang kerja. Noe langsung punya ide untuk membagikan makanan yang ia punya kepada Wisnu, ia pasti suka.

“Om Wisnu!!” seru Noe. Wisnu yang baru turun dari motor langsung menoleh. Ia nampak senang karena Noe sudah mau menegurnya duluan.

“Ya Noe imut?” goda Wisnu. Noe cuek.

“Om udah makan belum? Aku punya banyak makanan, Tante yang masak, kalau Om mau aku bawain nih ya.” Noe begitu ceria saat mengatakan hal itu. Wisnu pun tak mampu untuk menolak kebaikan Noe. Ia mengangguk tanda setuju dan Noe pun langsung berlari ke dalam dan menyiapkan semuanya untuk dibawa oleh Wisnu.

Wisnu yang melihat Noe kesulitan membawa makanan langsung bergegas membantunya.

“Tolong bawa ini ya, Om.” Noe memberikan nasi dan sayur. Sisanya Noe yang bawa.

“Banyak banget, Noe. Kamu makan apa nanti?” tanya Wisnu heran.

“Masih banyak kok,” jawab Noe.

“Tante mu nanti makan apa?”

“Tante kerja lagi, pulangnya 3 hari kemudian.”

“Ha? Serius?” Noe mengangguk.

“Kamu sendirian dong?”

“Udah biasa kok.”

“Astaga, tapi kamu kan masih anak kecil.”

“Anak kecil yang kuat dan berani.”

“Hufh … Noe, Om nggak tega lihat kamu sendirian di rumah kaya gini. Gimana kalau kamu tidur di rumah Om aja?” Noe langsung menolak mentah-mentah.

“Kenapa?” tanya Wisnu heran.

“Ada istri Om, nggak mau.”

“Dih, justru karena ada istri Om kamu boleh nginep, kalau nggak ada istri Om malah nggak boleh lah.”’

“Emang kenapa?” tanya Noe polos. Saat itulah Wisnu bingung bagaimana menjelaskannya. Lagipula kenapa ia berfikir begitu? Bukankah Noe hanya anak usia 8 tahun yang mungil. Kenapa ia sampai khawatir begitu. Aneh.

“Ya nggak apa-apa sih, kalau ada istri Om kan lebih enak lagi.”

“Enggak, enggak enak.”

“Kenapa enggak enak?”

“Nggak apa-apa.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa, Om.” Noe mencoba mencari cara agar tidak ditanya terus. Ia pun memilih untuk keluar dari rumah dengan membawa makanan ditangannya. Wisnu pun mengikuti Noe.

“Noe, taruh sini dulu aja makanannya, Om panjat dulu, nanti kamu oper satu-satu ya.” Noe mengangguk. Walau sebenarnya ia ingin mengantar ke rumah Wisnu lewat jalan yang seharusnya. Mungkin Wisnu sudah kelaparan jadi tak sabar.

“Sini Noe.” Wisnu meminta Noe untuk memberikan makananya. Ia pun memberikannya dan Wisnu membawanya masuk ke dalam rumah hingga dua kali bolak-balik.

“Udah Om.”

“Iya, makasih ya, bilang makasih juga untuk Tante mu.”

“Siap.”

“Om masuk dulu ya.”

“Iya.”

“Kamu beneran nggak apa-apa di rumah sendiri?”

“Nggak apa-apa kok, udah biasa.”

“Hufh, kalau ada apa-apa kasih tahu ya.”

“Ya, Om.” Wisnu mengusap rambut Noe dan masuk ke dalam rumahnya.

Noe menghela nafas, sekarang ia merasa lebih aman karena ada Wisnu di samping rumahnya. Setidaknya ia tak harus begadang karena merasa takut tidur sendirian. Anggap saja rumah sebelah itu sama seperti kamar sebelah tantenya yang tengah tidur.

Ya, anggap saja seperti itu. Noe pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan lega. Namun, saat hendak menutup pintu ia mendengar suara piring pecah. Noe terkejut bukan main dan kembali lari ke dinding pembatas dan tak lama keluar Wisnu dengan wajah super kesal dan marah.

“Om ….”

Wisnu tak mendengara Noe karena ia langsung pergi dengan motornya. Noe melihat pintu yang terbuka di mana terlhat istri Wisnu tengah duduk di ruang tamu dengan lantai penuh makanan berserakan. Noe langsung sedih, ia paham sekarang. Istri Wisnu pasti tidak mau menerima makanan dari dirinya.

Noe memberikan makanan itu untuk dimakan agar tidak mubazir. Tapi sekarang lebih mubazir karena dibuang begitu saja. Bukan Noe yang masak tapi Noe tau rasa sakitnya bila makanan yang kita berikan tidak dihargai.

Jangan sampai tante tahu tentang hal ini. Noe melangkah gontai dan masuk ke dalam rumahnya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Tak Bersyarat
8.9
Arini terjebak dalam depresi berat akibat luka cinta yang mengganggu hormon kebahagiaannya. Burhan dan Morela, seorang psikiater, bekerja sama secara rahasia untuk menyelamatkan kesehatan mental Arini tanpa membuatnya merasa terhakimi. Meski Arini sempat menolak bantuan medis karena merasa tidak gila, pendekatan perlahan melalui olahraga dan dukungan emosional mulai menunjukkan hasil. Burhan menyadari bahwa mencintai Arini berarti mendukung kesembuhannya tanpa syarat apa pun.
Sampul Novel Harga Seorang Ratu Mafia
9.5
Pernikahan politikku dengan Marco Ricci seharusnya menyatukan dua klan besar Jakarta, namun pengkhianatannya menghancurkan segalanya. Di sebuah klub, aku menyaksikan Marco memeluk Angelia, gadis yatim yang dianggap adik, dengan penuh gairah. Sadar hanya menjadi alat kekuasaan sementara hati Marco milik wanita lain, aku memilih melawan. Aku membatalkan pertunangan kami dan memutuskan menikahi Dante Wiryawan, rival terberat keluarga kami, demi aliansi baru yang tak terduga.
Sampul Novel Istri Cadangan
9.8
Nadia hancur saat memergoki suaminya, Reza, bermesraan dengan Karina di kamar tamu rumah mereka sendiri. Alih-alih menyesal, Karina dengan angkuh mengklaim cinta Reza, sementara Reza justru meminta izin untuk menikahinya. Meski dikhianati secara keji, Nadia menolak untuk hancur dan menyerah. Dengan tekad yang membara, ia bangkit menghadapi penghinaan itu dan bersumpah akan membalas rasa sakit hati serta pengkhianatan mereka dengan tuntas.
Sampul Novel Jangan Rubah Takdirku
9.4
Kebahagiaan pernikahan muda Azalea dan Erik hancur saat Erik bertugas ke perbatasan. Setelah delapan tahun menghilang dan berjuang bangkit dari keterpurukan sebagai yatim piatu, Azalea sukses menjadi dokter berkat bantuan pamannya. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Erik yang kini bersikap dingin meski tatapannya masih penuh cinta. Di tengah luka lama dan rintangan keluarga, mereka berjuang menyatukan kembali asmara yang sempat padam demi kebahagiaan sejati.
Sampul Novel Mengejar Cinta Pak Dosen
8.2
Agatha meyakini cinta sejati akan hadir secara alami, namun takdir justru membawanya ke dalam perjodohan dengan Bintang. Meski pria itu awalnya menolak tradisi ini, Agatha tetap gigih berjuang meluluhkan hatinya. Tantangan besar muncul saat bayang-bayang Aera, cinta pertama Bintang, terus membayangi hubungan mereka. Akankah Agatha berhasil memenangkan kasih sayang tulus Bintang, atau ia selamanya hanya menjadi sosok pengganti yang tak pernah diinginkan?
Sampul Novel Menjadi Istri Kedua Kakak Ipar
8.2
Slavia terpaksa menikahi Rio, kakak iparnya sendiri, demi memenuhi ambisi Shara yang mendambakan keturunan. Perjanjian rahasia pun dibuat; Slavia harus menyerahkan bayinya lalu pergi selamanya setelah melahirkan. Namun, situasi memanas saat Shara mulai terbakar api cemburu melihat kedekatan suami dan adiknya. Ia pun menyusun rencana licik untuk mengusir Slavia tepat setelah persalinan demi menghapus jejak pengorbanan sang adik di rumah tangganya.