APKDock Logo
Sampul Novel Aku Suka Kamu, Tapi ....

Aku Suka Kamu, Tapi ....

8.6 / 10.0
Sena kini dikenal sebagai aktris populer, meski karier tersebut hanyalah alat untuk membalas dendam masa lalu. Namun, takdir justru membawanya kembali bertemu dengan pria yang pernah menghancurkan hatinya. Terjebak dalam perasaan yang sama, Sena harus bergulat antara cinta yang bersemi kembali dan ketakutan akan luka lama. Di tengah bayang-bayang trauma, ia berusaha menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya oleh orang yang serupa.

Aku Suka Kamu, Tapi .... Bab 1

Sena mengguap, ia pulang pagi lagi tadi. Syuting benar-benar memakan waktunya seharian. Ia bahkan tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri--bahkan untuk gosok gigi seorang asisten menunggu di depan pintu kamar mandi.

"Mbak Sena!"

Sena menghembuskan napas kasar. Baru saja ia berpikir, asisten yang diperkejakan Mama sudah memanggil di luar pintu kamar. Ingin Sena diam saja, berpura-pura tak mendengar. Namun, kasus terakhir kali membuat nyalinya ciut.

"Ya!" serunya. Ia masih ingin menarik selimut dan kembali melanjutkan tidur.

"Mbak, inget jadwal hari ini, kan?" tanya asistennya--Rayna namanya.

Sena memutar kembali ingatannya. Tadi malam saat makan, Rayna sudah membacakan jadwal untuk hari ini. Ia hanya ingat jadwal pemotretan jam tiga sore nanti, selebihnya suara Rayna mengambang tak tentu arah.

Malas, Sena beringsut pelan menuju tepi ranjang. Langkahnya terasa begitu berat saat turun dari ranjang dan mendekati pintu. Ia ingin berteriak, 'biarkan aku sendiri saja hari ini.'

Akan tetapi, entah karena telah terbiasa tersenyum palsu di depan kamera, ia melakukan hal yang sama menghadapi semua orang termasuk Rayna.

"Maaf, Ina, aku lupa. Apa jadwal pagi ini?"

Katakan tidak ada jadwal, kumohon! Biarkan aku tidur di ranjang hari ini!

Rayna--asisten manis yang memakai jilbab lebar itu tersenyum. Tentu ia maklum.

"Hari ini jam sepuluh Mbak Sena harus mengikuti pertemuan alumni SMA. Kan sudah jauh-jauh hari pihak sekolah menghubungi, Mbak."

Mata Sena mengerjap. Otaknya kembali berusaha keras mengingat. Hatinya menyangkal telah menerima undangan pertemuan para alumni SMA. Ia tak mau pergi. Namun, bolehkah ia tak pergi.

Bahkan jika kamu tidak suka dengan yang sedang dilakukan, tersenyum terus Sena. Bukannya ini yang kamu inginkan?

Kalimat Mama yang memarahinya saat mengadu dua tahun lalu tentang pelecehan yang diterima dari Sutradara terngiang di telinga.

Sena tersenyum dan mengangguk, berkata akan bersiap-siap. Sementara hatinya menjerit meminta pertolongan seseorang. Ia benar-benar tak mau melakukan ini.

***

Aditya terpana. Anak-anak mulai lagi, gumamnya dalam hati sambil geleng-geleng kepala.

Walau ia mengeluh dengan kelakuan teman-temannya yang gesreknya minta ampun, tetapi sama sekali tak berniat menolong. Santai, pemuda bekulit hitam manis itu melengang di samping kumpulan murid lelaki dan perempuan yang tengah menjadikan seorang gadis menjadi olok-olokan.

Ia bahkan sempat melakukan high-five sebelum akhirnya masuk ke dalam kelas lalu duduk manis di kursinya. Teriak-teriakan keras dan juga hinaan sampai juga ke telinganya. Sekali lagi, Aditya hanya melirik sedikit dan kemudian memasang headseat untuk menghentikan suara yang sama tertangkap telinganya lagi.

Bruk!

Aditya tersentak kaget. Matanya yang sedari tadi terpejam, kini terbuka lebar. Ia melotot memandang gadis yang tadi menjadi bulan-bulannya di depan kelas. Bukan karena niat membantu, apalagi memberikan sedikit rasa prihatin melalui tatapan mata. Hal tersebut dilakukan karena headseatnya yang tadinya terpasang, kini lepas. Salah satu ujungnya putus.

"Buset, dah! Lo bener-bener, ya?!"

Aditya naik pitam seketika. Langsung saja ia berdiri dan dengan kejam ditendangnya kaki gadis itu. Tak keras memang, tetapi wajah si gadis langsung berubah ketakutan.

"Ma-af," desis gadis tersebut.

Kakinya yang tadi ditendang Aditya ditarik dengan cepat. Wajahnya menunduk, tak ingin memandang pemuda yang kini telah berdiri. Earphone yang sejak tadi di telinga juga telah ditarik dengan kasar.

"Bisa nggak, sih, lo berhenti bikin gue kesal."

Gadis itu semakin menciut. Wajahnya yang sudah putih semakin pasi. Ia hanya berharap segera menghilang dari kelas dan tidak pernah kemari lagi.

"Ma-af." Air mata si gadis jatuh berurai. Ia tak pernah menyangka kehidupan SMA-nya akan sekelam ini.

***

"Mikirin apa Aditya."

Aditya yang tengah fokus menatap siaran televisi layar lebar yang ada di dinding kafe langsung menoleh. Ia tersenyum dan menyisir rambutnya dengan jari-jari.

"Nggak ada."

Pesanan cappucino yang sudah mulai dingin diaduk sebelum disesap pelan. Kini ia lebih memilih memperhatikan layar ponselnya, bukan layar televisi lagi.

Gantian teman Aditya, Reno menatap layar. Seorang gadis cantik yang cukup dikenal tersenyum di sana. Ia sedang beradu akting dengan aktor kawakan dalam sebuah drama. Wajahnya penuh penghayatan, dan gerakannya terlihat begitu alami.

"Kamu ingin bertemu Sena?"

Mata Aditya langsung melirik Reno.

"Tidak," jawabnya cepat.

"Semua orang ingin bertemu dengannya. Hanya saja aku khawatir dia tidak akan datang." Reno menduduki kursi di sebelah Aditya. "Kamu pasti tahu jika dia tidak pernah datang sekalipun ke reuni."

Aditya tahu. Semua orang juga tahu apa alasannya. Ia mendesah, kembali menatap layar ponsel.

"Kita semua berdosa padanya, kan?"

Reno tersenyum kecut. Beberapa orang yang baru datang menyerukan nama Reno di depan pintu masuk. Pria muda pemilik kafe tersebut mengangkat tangan. Ia kembali menepuk bahu Aditya sebelum akhirnya turun dari kursi dan beranjak pergi.

Aditya sendirian lagi kini. Drama yang dibintangi Sena telah berganti dengan iklan produk perawatan rambut. Aditya mengeser layar ponselnya, gambar paling lama yang bisa ditangkap muncul sebagai walpaper. Hari itu dia jatuh cinta, pada Sena yang tertidur di kursi taman setelah puas menangis dengan senja bersinar sangat cantik di belakangnya.

"Mungkin aku sudah tidak punya kesempatan lagi," gumamnya pelan.

Saat teman-temannya mendekati, cepat Aditya memasang pengunci layar.

***

"Kamu yakin proses syuting tidak ada hari ini?" Sena bertanya untuk terakhir kalinya pada Rayna.

Rayna mengangguk cepat. Ia tahu keengganan yang dirasakan gadis cantik berusia 24 tahun tersebut. Bukan tanpa alasan sikap Sena yang biasanya begitu manis terlihat cukip kesal saat ini. Ada sesuatu yang berusaha Sena hindari dan itu pasti hal yang buruk.

"Apa aku benar-benar harus pergi?"

"Jika kamu hanya gadis biasa seperti dahulu, aku pasti akan mengatakan terserah padamu. Namun, saat ini kamu telah menjadi publik figur. Kamu harus menjaga nama baikmu, Sena."

Sena membuang napas kasar. Ia lalu berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya. Ia benar-benar tidak suka, tetapi tak punya pilihan untuk menolak. Semua karena pekerjaan yang dilakoni penuh dengan kepalsuan.

Sena memasuki mobil yang sudah sejak tadi menunggu di depan rumah. Sopir yang bekerja sejak ia menjadi artis mengangguk dan tersenyum saat membukakan pintu. Ia selalu bersyukur Sena menjadinya sopir sejak setahun lalu.

Rayna yang menyebutkan alamat lengkap tempat pertemuan pada Pak Sarmin. Lelaki berusia 35 tahun tersebut langsung memacu mobil cepat keluar dari halaman apartemen. Ia selalu saja tak banyak bicara saat melakukan pekerjaannya. Begitu fokus dan hati-hati, tak mau mencelakakan majikan yang sudah membuat kehidupannya lebih baik.

"Di sini, Mbak?" tanyanya pada Rayna.

Rayna mengangguk dan merapikan kembali dandanan Sena. Setelah semuanya siap, Sena menunggu Rayna turun terlebih dahulu kemudian baru menyusul.

Baru saja dua langkah Sena berjalan, Sena sudah diserbu para pengemarnya. Ia kewalahan meloloskan diri dari kepungan kalau saja beberapa orang alumni dari SMA yang sama tak membantu menghalau.

"Sena? Sena yang artis itu?" tanya mereka tidak percaya setelah para fans berhasil dibubarkan.

Sena memaksakan diri untuk tersenyum manis dan mengangguk pelan seperti biasa. Ia melangkah memasuki kafe yang sudah disewa para alumni.

Mata Sena langsung tertumbuk pada rombongan penghuni kelasnya dahulu. Mereka tampak sangat terkejut dengan kedatangan Sena. Orang-orang yang dulunya menjadikan Sena cemoohan diam saja dan menunduk.

"Kamu datang, Sena! Ya Tuhan, aku nggak nyangka!"

Reno hanya karena pemuda itu saja Sena mau datang. Ia masih ingat dengan Reno yang tak pernah sekali pun ikut dalam aksi membully, walau juga tak pernah punya kebeRaynan melerai. Reno hanya seperti dirinya, takut jika melakukan sesuatu hal yang buruk juga terjadi padanya.

"Tentu." Senyum manis diberikan Sena dengan tulus kali ini. Wajahnya yang putih, merona cantik.

Sepasang mata memperatikan saja Sena dari kejauhan. Ia tahu jika mendekat Sena akan lari. Maka, ia hanya bisa menatap jauh-jauh seperti ini.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Aku Suka Kamu, Tapi ....

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini menyoroti perjalanan emosional antara David dan Arina saat mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah mekarnya bunga musim semi yang sangat berharga, keduanya belajar untuk saling memahami dan mengisi kekosongan hati satu sama lain. Hubungan mereka berkembang dengan indah seiring berjalannya waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam ikatan cinta yang tulus dan sangat mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika dan mentornya, Charli, mengelola ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali. Di sana, Randika jatuh hati pada Andini Wijaya, seorang wanita mandiri pemilik sekolah. Namun, asmara mereka terancam saat Junot, mantan Andini, mendadak kembali. Di sisi lain, adik Andini yang bernama Lily berambisi merebut Randika demi mendapat pengakuan sang ayah, Sigit Wijaya. Terjebak dalam dilema masa lalu dan ambisi keluarga, mampukah cinta Randika dan Andini bertahan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan