APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Tidak Mau Dimadu

Aku Tidak Mau Dimadu

Kehidupan rumah tangga Tiara Maheswari yang terlihat harmonis ternyata menyimpan rahasia kelam. Reno Sebastian, suami yang selama ini tampak sangat mencintai istrinya, rupanya telah mengkhianati janji suci mereka. Tanpa sepengetahuan Tiara, Reno telah membagi hati dan menikah lagi secara diam-diam dengan wanita lain. Kini, Tiara berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap bertahan demi pernikahan mereka, atau memilih pergi meninggalkan Reno selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Papa mau ke mana? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Tiara kepada Reno

"Papa ada keperluan mendadak. Klien Papa tiba-tiba menghubungi Papa. Sudah ya, Papa harus ke sana." Reno meninggalkan Tiara begitu saja.

"Ini sudah malam. Memangnya tidak bisa besok lagi!" teriak Tiara kepada Reno yang sedang berjalan.

Sementara Reno tetap saja berjalan tanpa peduli ucapan sang istri.

Tiara hanya bisa menghela napas kecewa. "Ini bukan jam kerja dan juga sudah malam. Masa jam segini klien menghubungi." Tiara melihat jam dinding di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. "Awas saja kalau kamu bohong!"

***

"Ma. Papa ke mana? Kok tidak ada?" tanya Maura di sela-sela sarapan.

"Papamu ada perlu, Sayang," jawab Tiara, "sudah habiskan sarapannya."

"Iya, Ma."

***

Tiara sedang membantu karyawannya membungkus pakaian yang akan di kirim ke pembeli. Di rumahnya Tiara menyediakan satu ruangan untuk tempat berjualan pakaian online dan dia mempunyai lima karyawan.

Ponsel Tiara tiba-tiba berdering ketika sedang membungkus pakaian. Dia kemudian mengangkatnya.

"Hallo, Ma. Maaf, ya. Papa tidak langsung pulang. Papa sekalian saja ke kantor. Sekarang Papa mau jemput Maura dulu, baru Papa ke kantor lagi. Mama tidak usah jemput Maura. Biar Papa saja, ya," ucap Reno dan langsung mematikan ponselnya.

"Hallo, Pa!" teriak Tiara, "kenapa langsung ditutup sih? Aku belum bicara juga," gerutu Tiara lalu menyimpan benda pipih di saku bajunya sambil menghela napas kecewa.

***

"Papa!" Maura berlari mendekati sang ayah yang sudah menjemputnya.

"Hai, Sayang." Punggung tangan Reno sedang dicium oleh Maura.

Ayo, kita ke mobil." Reno meraih tangan Maura.

Maura menganggukkan kepalanya sambil berjalan. "Papa kok, tadi pagi tidak ada?" tanya Maura.

"Papa ada perlu. Ada pekerjaan yang tidak bisa Papa tinggalkan," jelas Reno, "oh, iya, Maura. Di dalam mobil ada teman Papa. Eemm, kamu jangan bilang mama ya kalau Papa menjemputmu sama teman Papa." Reno jongkok menghadap Maura tepat di dekat mobilnya.

"Memangnya kenapa, Pa?"

"Tidak apa-apa. Papa cuma tidak mau nanti Mamamu salah paham sama Papa. Oke, Sayang. Kamu jangan bilang, ya!" perintah Reno lalu bangun dari jongkoknya.

"iya, Pa."

"Ya sudah. Ayo, masuk." Reno membuka pintu mobil untuk Maura.

Maura kemudian masuk. Dia duduk di kursi belakang. Sementara wanita yang bernama Vega duduk di depan bersama Reno.

"Hai, cantik. Siapa namamu?" Vega membalikkan badan ke arah Maura.

"Namaku Maura, Tante."

"Nama yang cantik. Sama seperti orangnya," ucap Vega lalu tersenyum dan kembali duduk seperti semula.

Maura kemudian memperhatikan wanita tersebut dari belakang. Dia teringat sang mama dan hatinya seakan tidak terima melihat sang ayah duduk berdua dengan wanita lain. Umur Maura sudah menginjak tujuh tahun.

"Sayang. Kita antar Tante dulu, ya. Baru Papa antar kamu pulang."

"Iya, Pa."

***

Reno sudah mengantar Vega. Maura duduk di depan bersama sang ayah.

"Kamu benar janji, ya. Jangan bilang mama kalau Papa mengantar Tante Vega." Reno menoleh sesaat lalu kembali fokus menyetir.

"Memangnya kenapa Mama tidak boleh tahu? 'Kan Tante cuma teman Papa doang."

"Iya, memang cuma teman Papa doang. Cuma tetap saja nanti Mama marah sama Papa."

"Kata Mama jangan suka bohong. Papa juga pernah bilang jangan suka bohong. Kenapa, Papa malah bohongin Mama?"

"Bukan begitu, Maura. Ini berbohong demi kebaikan. Kamu mau nanti Mama sama Papa berantem gara-gara Mama marah karena Papa antar teman Papa?"

Maura menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan sang ayah yang sedang fokus menyetir.

"Nah, berarti kamu jangan bilang sama Mama. Oke, Sayang," pinta Reno.

"Oke, Pa."

"Anak pintar." Reno mengusap-usap pucuk kepala sang anak menggunakan tangan kiri. "Tapi Papa tidak akan turun. Soalnya Papa masih ada kerjaan."

"Oke deh, Pa."

***

"Assalamualaikum, Ma." Maura menghampiri Tiara lalu meraih tangan Tiara.

"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Tiara, "kamu di jemput Papa, 'kan?"

"Iya, Ma di jemput Papa," jawab Maura lalu memperhatikan wajah sang mama.

"Papanya lansung pergi lagi?" Tiara melihat-lihat ke arah depan.

"Iya, Ma. Kata Papa masih ada pekerjaan."

Tiara menganggukkan kepalanya. "Ya sudah sana kamu ganti baju dulu."

Maura menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan ruangan sang mama.

***

Reno kembali lagi ke tempat di mana Vega di turunkan. Vega kemudian menaiki mobil Reno.

"Aku tidak lama, 'kan?" tanya Reno kepada Vega yang sudah menaiki mobil Reno.

"Ya, lumayanlah," jawab Vega, "Mas. Kamu yakin anakmu tidak akan mengatakan apa pun sama istrimu?" tanya Vega kepada Reno yang sedang fokus menyetir.

"Kamu tenang saja. Anakku tidak akan berkata apa-apa."

"Bagus deh," ucap Vega lalu tersenyum.

***

"Malam, Ma." Reno mencium kening sang istri.

"Jam berapa sekarang?" Tiara bangun dari tidurnya.

"Sudah jam sepuluh."

"Papa lembur lagi? Kenapa akhir-akhir ini, Papa sering lembur?"

"Ya mau bagaimana lagi. Bekerja di lapangan kadang ada sesuatu yang tidak beres. Jadi mau tidak mau Papa harus lembur." Reno menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.

Reno bekerja sebagai manajer kontruksi di perusahaan besar. Dia selalu sibuk di lapangan dan memang harus bertemu dengan tim.

"Ya sudah kalau, Papa memang benar-benar lembur. Mama takut saja Papa bilang lembur, tetapi, Papa malah sama wanita lain!" ketus Tiara.

"Ngaco kamu ini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang Papa."

"Bagaimana tidak berpikiran yang aneh-aneh. Papa akhir-akhir ini sering lembur. Tidak seperti biasanya. Papa selalu pulang tepat waktu, tetapi sekarang ...."

"Sudahlah! Buang jauh-jauh pikiran itu! Ayo, tidur lagi." Reno menarik tangan Tiara.

Tiara pun berbaring kembali.

"Mama tidak kangen sama Papa?" Reno menggeserkan tubuhnya ke arah Tiara.

"Kalau Mama tidak kangen sama, Papa. Tidak mungkin Mama kesal karena Papa pulang lembur. Itu berarti Mama kangen. Papa juga terkadang tidak pulang. Gimana Mama tidak kangen," ujar Tiara lalu memajukan bibirnya.

Reno tertawa mendengar ucapan sang istri. "Sama Papa juga kangen." Reno memeluk tubuh sang istri lalu mencium bibir sang istri.

Tiara membalas ciuman sang suami. Tidak bisa dipungkiri Tiara menantikan hal seperti ini. Sudah tiga minggu sang suami tidak menjamahnya karena alasan lembur dan capek dan terkadang tidak pulang.

Namun, ketika mereka sedang bercumbu. Tiba-tiba ponsel Reno berdering. Mereka berhenti sejenak. Akan tetapi, Reno kembali mencumbui sang istri dan menghiraukan panggilan tersebut.

"Pa! suara ponselmu mengganggu. Kamu angkat saja dulu. Malam-malam begini siapa yang menghubungimu sih, Pa?!" marah Tiara.

Reno bangun dari kasur lalu mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubunginya. Nama samaran Vega muncul dengan nama Pak Tio.

Dia kemudian mengerutkan keningnya dan berbicara dalam hati. "Aku, 'kan sudah bilang. Jangan menghubungiku!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Karena Kesalahan
9.0
Keira Kastari Naryadinata menjalani tujuh belas tahun hidup penuh perjuangan hanya bersama ibunya. Namun, dunianya runtuh saat sang ibu wafat, meninggalkannya sebatang kara. Selama ini, ia dibuang oleh ayahnya yang angkuh, Kastara, hanya karena ia perempuan. Tiba-tiba, Kastara muncul memohon maaf dan mengajaknya kembali pulang ke ibu kota. Benarkah pria egois itu telah berubah? Keira kini terjebak antara rasa benci masa lalu dan harapan akan keluarga yang baru.
Sampul Novel Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong
8.0
Aldric dan Keira terikat pernikahan kontrak demi kepentingan finansial keluarga. Setelah dua tahun penuh kepura-puraan, Aldric memilih bercerai demi mantan kekasihnya, tanpa tahu Keira pergi dalam keadaan mengandung. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali di sebuah kota kecil. Aldric terkejut melihat anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. Kini, ia harus memilih antara menebus kesalahan masa lalu atau kehilangan keluarga kecilnya selamanya.
Sampul Novel Godaan yang Terlalu Memikat
7.8
Demi melindungi dan mendapatkan kembali putranya, seorang janda beranak dua nekat merayu pria baik hati meski harus menanggung risiko besar. Ia sadar tindakan liciknya memperalat cinta pria tersebut sangatlah egois. Baginya, menjadi ibu yang baik jauh lebih penting daripada menjadi wanita berhati emas. Ia pun meminta sang pria untuk membenci dan melupakannya, karena mengakhiri hubungan asing ini adalah jalan terbaik bagi mereka untuk tetap bertahan hidup.
Sampul Novel Hati Lunara
8.4
Hati Lunara mengeksplorasi spektrum kasih sayang antara orang tua, saudara, hingga sahabat. Fokus pada Lunara Ustman, gadis ini terjebak dalam cinta segitiga unik yang penuh pengorbanan tulus. Di tengah kerinduan mendalam pada ayah bundanya dan berbagai rintangan hidup yang menyakitkan, Luna memilih mengalir mengikuti takdir Tuhan. Ia berjuang menemukan kebahagiaan sejati dan ketenangan setelah badai, meyakini bahwa setiap rahasia peristiwa akan berujung indah.
Sampul Novel Hubungan Sebatas Ranjang
8.1
Jonathan Prawira Maulana adalah CEO Maulana Grup yang jenius dalam bisnis namun buta soal asmara. Kesibukannya membuat orang tua Jo khawatir hingga mereka berencana menjodohkannya dengan anak rekan bisnis. Jo menolak keras rencana tersebut, namun ia justru terjebak syarat berat. Ia hanya punya waktu satu bulan untuk memperkenalkan calon istri pilihannya sendiri. Jika gagal, ia harus menerima perjodohan itu tanpa syarat. Mampukah Jo menemukan cinta dalam waktu singkat?
Sampul Novel I'am Sorry, I love You
8.6
Liu mencari Jia, cinta monyetnya yang hilang selama delapan tahun, hingga bertemu Mianhua di Universitas Tsinghua. Mianhua, yang amnesia dan menjadi kekasih Lay, ternyata adalah Jia yang menyamar. Saat ingatan Mianhua pulih lewat hipnotis, konflik batin muncul karena Liu telah bertunangan. Meski Lay berusaha mengikatnya, Mianhua memilih pergi demi kebahagiaan semua orang. Takdir mempertemukan mereka kembali di makam Chen, hingga restu ayah membawa mereka ke pelaminan.