APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ALUR CINTA TIAN DAN ARLYN

ALUR CINTA TIAN DAN ARLYN

Bagi mereka yang memiliki hati, cinta sejati adalah sebuah keyakinan. Arlyna Virgolin sangat mencintai Bastian Pisceso, hingga ia berharap bisa terus jatuh cinta pada pria itu di kehidupan mendatang. Namun, romansa yang indah dan membara ini tidaklah sesederhana bayangan mereka. Di balik kesempurnaan perasaan tersebut, Arlyn dan Tian harus bersiap menghadapi berbagai badai besar. Sanggupkah kekuatan cinta mereka bertahan melewati rintangan yang sulit?
Bab
Bagikan

Bab 2

Silvi duduk di belakang Arlyn dengan tenangnya, sepeda motor yang dibawa Arlyn melaju dengan santai.

"Lyn," panggil Silvi dari balik maskernya. "Arlyn! Arlyna Virgolin sayang."

"Apa?" Yang dipanggil melihat ke samping sebentar.

"Kita mampir sebentar ke Toko Roti Daisi," jawab Silvi.

"Ngapain ke Toko Roti?"

"Ke toko roti, tentu saja untuk beli roti, Arlyna. Masa beli material! Bodoh banget sih!" jawab Silvi kesal.

Arlyn bukannya sakit hati dikatain bodoh, malah tersenyum dibalik masker putihnya. "Toko rotinya di mana?"

"Itu! Itu di depan, Toko Roti Daisi!" Tunjuk Silvi ke sebuah bangunan yang terlihat unik, berbeda dari bangunan lainnya.

Arlyn memperlambat sepeda motornya dan berhenti tepat di depan Toko Roti bercat putih. "Yang ini?"

"Iya betul." Silvi langsung turun dan melepas helmnya. "Kamu mau ikut masuk atau tunggu di sini?"

"Tunggu di sini saja, tapi jangan lama! Beliin juga aku roti coklat."

"Ok, Nona Arlyn!" Silvi segera pergi setelah memberikan helmnya pada Arlyn yang tidak turun dari sepeda motornya.

Cuaca panas dari terik matahari membuat Arlyn melepas helm yang dipakainya. "Gerah banget, aku bisa mandi keringat kalau begini," gumamnya sendiri.

Pandangan Arlyn mengedar ke sekeliling, melihat orang-orang yang berlalu lalang, ada juga pedagang asongan sedang sibuk menawarkan dagangannya.

Menit ke menit telah berlalu, tapi Silvi belum ke luar juga. Entah sudah berapa ratus kali Arlyn melihat ke arah pintu Toko Roti Daisi, tapi yang ditunggu tak kunjung nongol.

"Lama banget si Silvi! Apa dia ketiduran di dalam?" gumam Arlyn melihat jam hello Kitty kesayangan yang melingkar di tangannya.

Lama ditunggu Silvi tak kunjung ke luar, Arlyn akhirnya memutuskan untuk menyusul Silvi. Setelah menaruh helm dan memastikan sepeda motornya aman, Arlyn melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko.

"Arlyn," panggil Silvi sedang duduk dengan manisnya di sudut ruangan.

Arlyn langsung datang mendekat. "Malah duduk manis di sini. Aku di luar kering kerontang kayak ikan asin dijemur!"

"He-he. Roti yang aku pesan masih dipanggang," jawab Silvi menarik kursi disebelahnya "Duduk sini."

"What?! Jadi, dari tadi kamu nungguin roti yang masih dipanggang?!" tanya Arlyna dengan suara keras sehingga membuat beberapa pelayan toko melihat ke arah mereka berdua.

"Iya, Arlyna. He-he." Silvi garuk-garuk kepala melihat ekspresi wajah Arlyn kesal. "Sorry Arlyn."

Arlyn menghela napas, mau marah juga percuma, nanti yang ada malah jadi tontonan para pelayan toko.

Pintu toko tiba-tiba dibuka dari luar, masuk seorang pria dengan postur tubuh tinggi bersama wanita yang lebih tua darinya.

Silvi menyenggol lengan Arlyn. "Lihat pria bertopi yang baru masuk itu."

Arlyn sedang menunduk melihat layar ponselnya, ada panggilan masuk dari Mamanya. "Aku mau angkat telepon sebentar." Bergegas Arlyn menjauh dari Silvi yang selalu kepo.

Pria bertopi terlihat mengedarkan pandangannya melihat ke seluruh ruangan yang didesain klasik, sesekali bicara dengan wanita tua yang ada di depannya.

Arlyn selesai menelepon, langsung duduk kembali di sebelah Silvi.

"Siapa yang telepon?" tanya Silvi tanpa mengalihkan pandangannya dari pria bertopi.

"Nyokap," jawab Arlyn melihat Silvi. "Lihat siapa sih?! Matamu sampai tidak berkedip."

"Tuh lihat," bisik Silvi menunjuk dengan matanya. "Menurutmu, pria bertopi itu ganteng atau tidak?"

Arlyn langsung melihat ke depan. "Yang mana? Pria bertopi ada dua, topi hitam atau putih?"

"Kamu ini!" Silvi kesal. "Pria bertopi hitam! Kalau yang satu lagi, itu pelayan toko! Dasar tulalit. Ngapain aku tanya pelayan toko?!"

"Oh, pria tinggi itu." Mendadak seluruh aliran darah Arlyn berdesir ketika iris matanya beradu dengan iris mata yang sedang diperhatikannya.

"Iya, menurutmu dia ganteng atau tidak?" tanya Silvi. Tidak tahu, jika Arlyn sedang membenahi jantungnya yang mendadak berdetak kencang.

Tidak jauh berbeda dengan pria yang sedang diperhatikan Arlyn, jantungnya juga berdetak dengan kencang seakan mau meloncat ke luar. "Ya Tuhan, kenapa dengan jantungku? Apa aku sedang terkena serangan jantung?"

Melihat Arlyn hanya diam membisu, Silvi kembali menyenggol lengannya. "Arlyn! Kenapa sih?!"

"Eh .. I.. iya, iya apa? Kamu tanya apa tadi?" tanya Arlyn gugup membenahi hatinya yang tidak karuan.

"Kamu kenapa?" tanya Silvi heran melihat kegugupan Arlyn. "Kamu sakit?"

"Sa .. sakit? Aku? Tidak ... tidak. Aku baik-baik saja," jawab Arlyn semakin gugup.

Silvi mengernyitkan alisnya. Mau bertanya, tapi seorang pelayan toko datang mendekat dan langsung memberikan semua pesanan roti punya Silvi.

Setelah selesai membayar semua rotinya, Silvi segera menarik tangan Arlyn ke luar dari toko. Jantung Arlyn semakin berdetak kencang ketika melewati pria bertopi hitam yang sedang melihat dirinya.

"Ada apa denganmu?" tanya Silvi setelah mereka sudah berada di atas sepeda motor yang sedang melaju.

"Ada apa, apanya?" tanya Arlyn bingung.

"Kamu menjadi aneh di toko roti tadi," jawab Silvi. "Kayak orang yang kerasukan."

"Hah?! Jangan ngada-ngada!" Bantah Arlyn. Padahal apa yang dikatakan Silvi memang benar, dirinya seperti sedang kerasukan sesuatu yang tidak dipahaminya, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.

Tiba di depan halaman rumahnya, Arlyn langsung masuk membuka pintu pagar. Sementara Silvi melanjutkan perjalanannya yang masih jauh.

"Sudah pulang?" tanya Mama begitu melihat putrinya baru saja masuk lewat pintu utama.

"Iya," jawab Arlyn langsung pergi begitu saja melewati Mama.

"Kenapa dengan anak itu?" gumam Mama heran melihat Arlyn tidak seperti biasanya. "Apa dia sakit?"

Arlyn melempar tasnya ke atas kasur kemudian membuka sepatu sneaker putih yang dari pagi dengan setia menemani kakinya. "Gerah sekali, aku mau mandi."

.....

Di tempat lain, di dalam rumah yang banyak ditumbuhi tanaman hias di dalam pot. Pria bertopi baru saja sampai.

"Bi, bibi!" Panggilnya pada asisten rumah tangganya.

"Iya Tuan." Bibi datang dengan celemek yang masih terpasang.

"Simpan ini Bi."

Semua barang belanjaan yang ada dibeberapa kantung langsung Bibi bawa ke belakang.

"Kamu sudah pulang, Tian?" Oma baru ke luar dari kamarnya.

"Iya Oma."

"Mommy kamu mana?" tanya Oma melihat Tian hanya sendirian.

"Mommy tadi langsung ke salon, jadi aku pulang sendirian. Malas banget harus nungguin Mommy di salon."

"Terus nanti pulangnya bagaimana?" tanya Oma khawatir.

Tian mendekati Oma. "Mommy itu sudah besar Oma, bahkan bukan besar lagi, tapi sudah dewasa banget, masa sampai pulang saja tidak tahu harus bagaimana?"

"Eh, jangan salah. Mommy kamu itu tidak pernah pergi kemana-mana sendirian, dia selalu diantar sopir. Kalau kamu tinggalkan sendirian di salon, nanti dia tidak tahu arah jalan pulang."

Tian percaya tidak percaya dengan apa yang Omanya ucapkan. "Masa sih Mommy tidak tahu arah jalan pulang? Jangan ngarang Oma."

"Apa gunanya Oma ngarang? Mommy kamu itu selalu pergi dengan sopir."

Tian tiba-tiba tersenyum. "Gampang, kita telepon Mommy. Nanti aku jemput kalau sudah selesai. Oma bikin aku jadi tegang saja."

Oma mengambil sesuatu dari saku bajunya. "Ini ponsel Mommy kamu ketinggalan, Bastian Pisceso!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat
8.3
Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya setelah sebuah insiden fatal merenggut kesucian gadis itu. Tiga tahun berlalu tanpa cinta, Rio justru memilih menikahi mantan kekasihnya, Clara. Ia membenci Sintia yang dianggapnya licik karena memanfaatkan hartanya demi biaya medis sang ibu. Rio bahkan menolak mengakui Dika sebagai putra kandungnya. Namun, dinamika rumah tangga mereka mulai bergejolak saat istri keduanya datang membawa sebuah perjanjian rahasia yang tak terduga.
Sampul Novel Is This Love?
8.7
Farrel Aditama Effendi dikenal sebagai pria kaya yang gemar bersenang-senang, berbeda jauh dari Fachmi, kembarannya yang kaku. Karena obsesi memiliki sang kakak, Farrel bertekad menggagalkan pertunangan Fachmi dengan seorang wanita lembut. Namun, rencana sabotase ini berbalik saat Farrel justru jatuh cinta pada wanita tersebut saat menyamar menjadi Fachmi. Kini, ia terjebak dalam dilema besar jika rahasia tentang identitas aslinya terbongkar.
Sampul Novel Istri Rahasia Tuan CEO Dingin
8.0
Hidup Deana hancur setelah orang tuanya wafat. Kini, ia terdesak ancaman preman yang menagih utang besar keluarganya. Demi keselamatan nyawa, Deana nekat menjual kesuciannya kepada pria asing bernama Marvin. Namun, Marvin justru memberikan tawaran tak terduga yang bisa menghapus seluruh beban finansialnya. Deana diminta melahirkan seorang anak untuknya. Meski menjadi solusi instan, kesepakatan dingin ini justru menjadi awal dari masalah baru yang lebih rumit.
Sampul Novel Mengungkap Istriku yang Dijauhi: Dia Menyembunyikan Seribu Identitas
9.4
Yatim piatu akibat pembunuhan, Kathryn kembali demi merebut warisannya. Meski dihina sebagai anak haram yang tak pantas bagi Evan, suaminya justru sangat memuja sosok misterius ini. Di balik kelemahlembutannya, Kathryn adalah peretas ulung, dukun legendaris, hingga pembuat parfum kerajaan. Saat Evan sibuk memanjakannya di depan para direktur, perlahan identitas rahasia Kathryn terkuak. Mereka yang dulu mencibir kini harus tunduk saat topengnya jatuh.
Sampul Novel Ketika Istri Sah Hanya Dijadikan Pengasuh Anakmu
8.4
Dua tahun terpuruk dalam duka, Reno Adiprana mencoba menata hidup melalui mutasi kerja ke Yogyakarta. Di lereng Merapi, ia menetap di rumah Bude Ratna demi mencari ketenangan. Tak disangka, rutinitas pagi membawanya bertemu Mira Pradipta, sarjana gizi yang memilih berjualan bubur demi merawat ayahnya yang demensia. Pertemuan ini menyatukan dua jiwa yang terluka, menumbuhkan benih cinta tak terduga, dan memberi makna baru tentang arti rumah di tengah kesederhanaan.
Sampul Novel Merebut Hati Suamiku
8.4
Kayshilla Chandra dan Aaraf Ibrahim terjebak dalam pernikahan hasil perjodohan orang tua di lingkungan pesantren. Meski sudah sah, Aaraf mengaku belum bisa mencintai istrinya karena hatinya masih tertambat pada perempuan lain. Kayshilla pun harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia harus bersaing dengan masa lalu suaminya. Mampukah kesabaran Kayshilla meluluhkan hati Aaraf yang dingin dan memenangkan cinta sejatinya di tengah ujian rumah tangga ini?