APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Amanda Rhea

Amanda Rhea

Amanda Rhea terlempar kembali ke masa lalunya, di mana ia bertemu lagi dengan sosok pria bernama Hagana. Sebuah ikatan misterius menyatukan Amanda dengan putri Haga secara tidak terduga. Namun, ancaman besar mengintai saat iblis dari alam mimpi mulai menampakkan diri dan mencelakai orang-orang di sekitar Amanda. Di tengah teror yang kian nyata, mampukah benih cinta antara Amanda dan Hagana bersemi kembali seiring takdir yang terus mempertemukan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Rindu adalah perasaan terbesar yang kini kurasakan. Berharap kamu dapat mengenaliku dari kejauhan.

Agar kamu tau, bahwa aku disini menunggumu dalam kesendirian.

Perusahaan ini ada 6 divisi. Di divisi ini, ada sekitar 5 orang termasuk Haga. Saat semua naik ke lantai atas, Haga terus memperhatikan Manda. Setiap gerak gerik Manda selalu diperhatikan oleh Haga.

" Eh, toilet mana yah?" tanya Manda.

"Di ujung, Kak." tunjuk Ridho ke ujung koridor ruangan.

"Oh iya. Makasih ya. Vit. .. Nitip tas. Aku mau pipis."

"Temenin gak? "

"Gak usah! "

Manda berjalan seorang diri ke toilet. Beberapa langkah menjauh dari teman teman nya, dia masih berjalan santai. Namun saat mendekat ke toilet, dia memelankan langkahnya.

Dia menekan tengkuknya sambil tengak tengok ke sana ke mari. Perasaan nya menjadi was was, seperti ada yang sedang mengawasinya namun dia belum tahu apa. Sampai di depan toilet, dia menggenggam handle pintu lalu diam beberapa saat.

Dia melirik ke samping kiri dan kanannya, lalu menatap sepanjang koridor. Hening. Tidak nampak satu pun manusia sepanjang lorong. Entah kenapa hawa di tempat ini berubah menjadi agak panas.

Dug ... Dug ... Dug ...

Terdengar suara dari ruangan di depan toilet. Seperti ada yang menendang atau memukul. Manda beralih menatap ruangan yang dia pikir adalah gudang. Hatinya diliputi perasaan tak karuan namun dia tetap memasang ekspresi tenang. Ini bukan hal aneh baginya jika memasuki tempat baru. Karena di semua tempat pasti ada penghuninya. Hawa sekitarnya makin panas saat dia mendekati gudang itu.

"Ai ..., " sapa Haga yang tiba tiba muncul di belakang nya.

Dan anehnya, hawa panas itu hilang berganti rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Manda menoleh sambil mengernyitkan kening. Pikiran nya berkecamuk. Antara bingung, senang, marah jadi satu.

"Kenapa? " tanya Manda sinis.

Haga salah tingkah di tanya hal seperti itu. Dia sedikit terhenyak melihat reaksi Manda yang seakan tidak menyukai pertemuan mereka.

Melihat Haga yang tidak bereaksi lagi, Manda lalu segera masuk ke toilet. Di dalam toilet, dia sempat merenung.

Kenapa dia bertemu Haga lagi di sini? Ini sungguh di luar dugaan. Dia memang rindu, tapi rasa kecewa dan benci lebih banyak dia rasakan.

Saat hati dan pikiran nya tidak karuan, ada hal ganjil di toilet ini.

Salah satu bilik toilet terbuka dengan derit pintu yang terdengar nyaring. Di sini toilet nya ada empat bilik dengan cermin besar di depannya. Mirip toilet umum yang biasa ada di pom bensin atau mal.

Manda menoleh mengamati tiap bilik toilet ini. Dan tiba tiba ada sebuah pergerakan di bilik paling ujung. Dengan langkah perlahan, dia mendekat. Manda mendorong pintu itu pelan pelan. Merasa was was jika ada pergerakan mendadak dari dalam, dia pun harus bersiap dengan segala kemungkinan terburuk nya.

Derit pintu kembali terdengar nyaring. Manda berpikir, Andre terlalu sibuk mengurusi perusahaan, tapi fasilitas toilet seakan terbengkalai. Dia alan protes pada atasannya itu nanti.

Saat pintu terbuka lebar, Manda terkejut melihat apa yang ada di hadapannya.

Jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa saat. Ada seorang wanita sedang duduk di bak mandi dengan posisi menunduk. Manda menelan ludah berkali kali. Karena berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia berusaha untuk tidak bereaksi berlebihan.

Takut? Sedikit.

Dia sudah cukup terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Walau tetap saja dia akan merasakan hal itu mengerikan dan menakutkan, tapi dia akan menghadapinya dengan berani.

Tak lama wanita itu mendongak dengan gerakan cepat, lalu tersenyum lebar. Selebar lebarnya. Rongga mulutnya sampai terlihat semua. Darah menetes dari mulut itu diikuti bau busuk yang menyengat. Manda lalu segera keluar karena malas menghadapi makhluk seperti ini. Asal mereka tidak mengganggu, maka dia tidak akan bertindak apa apa. Penampakan makhluk seperti tadi bukan salah mereka, karena Manda juga salah. Dia bersalah karena bisa melihat para makhluk tak kasat mata. Walau kemampuan ini Manda anggap sebagai kutukan. Tapi dia tidak bisa membuang semuanya begitu saja. Tentu sulit.

Saat di luar, Haga masih menunggunya. Nafas Manda agak tersengal sengal. Wajahnya sedikit pucat.

"Hei ... Kenapa? Kamu sakit?" tanya Haga cemas sambil berusaha mendekat ke Manda.

Manda malah mundur dan menyuruh Haga menjauh.

"Stop! Aku gak apa apa!" ujarnya.

Manda lalu berjalan kembali ke ruangan, namun sebelumnya dia menoleh ke toilet sambil bergidik ngeri.

Haga menatap Manda bingung dan beralih ke toilet sambil menggaruk kepalanya.

Lalu segera mengejar Manda yang sudah lebih dahulu berjalan menjauhinya.

"Ai ... Ai ... Tunggu sebentar .... "

Manda berhenti lalu menoleh ke Haga dengan tatapan sebal.

"Mau apa lagi?" tanya Manda jengah

Haga terdiam beberapa saat.

"Bisa kita ngobrol sebentar?"

Manda hanya menaikkan sebelah alisnya. "Buat apa? Udah nggak penting!"

Manda kembali berjalan meninggalkan Haga yang diliputi rasa kecewa. Haga paham kenapa Manda semarah itu. Manda belum tau masalah yang sebenarnya kenapa Haga meninggalkan nya dulu. Itulah yang ingin di sampaikan Haga tadi.

Di ruangan, semua sudah berkumpul. Andre akan menyampaikan satu dua hal di depan anak buahnya.

"Maaf ...," kata Manda saat memasuki ruangan.

Diapun segera duduk di kursi samping Kevin. Haga pun tak lama masuk dan duduk di deretan teman teman kantornya.

Selama rapat berlangsung Haga dan Manda sesekali mencuri pandang satu sama lain.

Hingga rapat selesai, semua kembali ke pekerjaan masing masing.

Vita, Kevin dan Manda juga ikut bekerja seperti yang lain. Beberapa kali Haga berusaha mendekat ke Manda, namun Manda terus saja menghindar. Akhirnya Haga pasrah.

Sampai jam istirahat makan siang, semua akan makan bersama di salah satu restoran tak jauh dari kantor mereka. Andre ingin agar semua makin akrab, karena kedatangan Manda dan kawan kawan tidaklah sebentar. Mereka akan sebulan di sini. Jadi mungkin maksud Andre agar semua saling mengenal lebih baik lagi.

Sampai di tempat makan. Andre menjauh sebentar karena ada panggilan masuk dari ponselnya.

Semua duduk di meja yang sudah di reservasi sebelumnya. Satu meja ada 6 orang, sisanya di meja lainnya.

Manda menarik kursi tepat di samping jendela. Di sebelahnya Kevin lalu Vita. Di depan mereka Ridho, Ian, dan Haga.

Tak lama seorang waiters datang membawa buku menu.

"Makan apa, yah?" Gumam Kevin sambil mengelus dagunya.

"Sok sok'an mikir. Doyan semua juga," sahut Vita.

"Beb, elu kan tau, sekarang gue kagak boleh makan sembarangan," timpal Kevin.

"Bebek!" Cibir Vita kesal lalu segera memesan makanannya. Mereka berdua memang kerap bertengkar seperti tadi.

"Eh, Man ... Makan apa Lo? Bengong aja. Kayak ayam galau," sindir Kevin sambil menoleh ke Manda yang sedang menatap ke luar jendela yang sedang gerimis.

"Pilihin deh. Terserah!" ucap Manda lemas.

"Pilihin? Hmm .. Oke deh. Eh, mau ngopi nggak? Kali aja mood Lo balik lagi habis ngopi?" tanya Kevin masih sibuk menatap buku menu.

" Iya deh, boleh." Manda masih terlihat lesu sambil bertopang dagu masih menatap keluar jendela.

"Biasanya makanan sini, yang paling enak apa ya, Bang?" Kevin beralih bertanya pada orang orang di depannya.

"Banyak kok enak Bang, mau yang halal atau yang olahan daging B1 dan B2 juga ada kok Bang," tutur Ridho.

"Hah? B1 , B 2? Kayak vitamin," kekeh Kevin dengan tampang polosnya.

Manda menoleh ke Kevin lalu menoyor kepalanya.

"Daging babi sama anjing, Bego!" Celetuk Manda kesal.

Kevin lalu berohria sambil cengengesan yang membuat Manda geleng geleng kepala. Dan mereka pun tertawa karena ulah Kevin.

"Kalau Kak Manda mau kopi, di sini ada kopi sidikalang. Enak kok" tambah Ian.

Manda tersenyum, " oh gitu yah? Boleh deh. Sama mie aceh aja ya, Mbak," pinta Manda ke waitres yang sudah menunggu sedari tadi.

Haga menatap tajam Manda. Namun manda seolah tidak memperdulikan nya.

"Elu tau makanan sini juga ya, Man ...." tanya Kevin.

"Lah, lupa, Vin? Kan Manda pernah sama orang sini. Siapa tuh Man, namanya kok aku lupa. Kamu nggak mau nyari dia? Mumpung kita lagi di Medan loh Man."

Deg!

Manda menoleh ke Vita lalu melotot agar Vita berhenti membicarakan masa lalunya.

"Oh iya yah. Kok gue lupa sih. Pantesan elu uring uringan," ledek Kevin sambil tertawa garing.

Plak!

Satu pukulan mendarat ke lengan Kevin, "Nggak usah ketawa gitu juga kali. Dasar comel kalian berdua!" umpat Manda kesal.

Ponsel Manda berdering. Dia menatap layar ponselnya sebentar dan terlihat berfikir sejenak. Namun, dia pun mengangkat telepon itu juga pada akhirnya.

"Assalamualaikum, Bib," sapa Manda ramah pada seseorang di ujung telepon.

"..."

"Udah, alhamdulillah."

"...."

"Hmm ... Iya nggak apa apa kok. Kenapa emang?"

"...."

"Iya, Bib. Aku bakal ingat semua. Kalau ada apa apa, nanti aku kabarin kamu langsung ya."

"...."

"Oke. Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh,"

Setelah telepon berakhir, Manda tampak menjadi cemas. Dia berkali kali melihat ke arah jendela lalu kembali ke ponselnya. Manda juga mengigit bibirnya yang menjadi kebiasaannya ketika sedang dalam kondisi takut, dan cemas akan sesuatu.

Tanpa Manda sadari, Haga sejak tadi terus menatap wanita itu. Haga tahu, kalau ada sesuatu yang terjadi pada Manda. Sudah empat tahun berlalu, dan mereka tidak pernah berkomunikasi sama sekali. Haga yakin, banyak hal yang terjadi pada gadis itu. Hanya saja Haga enggan menanyakannya, atau bahkan, Haga merasa itu bukan lagi urusannya. Apalagi saat melihat reaksi Manda yang terkesan muak saat melihatnya. Haga sadar, jika Manda pasti membencinya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Terinspirasi oleh simbol reinkarnasi bunga teratai, tujuh pemuda dengan kekuatan mistik luar biasa disatukan dalam satu tim khusus. Di bawah bimbingan Sagara Widyatama, mereka menjalani latihan keras demi menstabilkan dunia supranatural yang sedang kacau. Namun, misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini bukan sekadar pertarungan fisik. Kehadiran Sagara perlahan membuka tabir rahasia mengenai hubungan mendalam mereka di kehidupan masa lalu yang misterius.
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Sampul Novel Guru Tampan Seorang Yakuza
8.1
Akeno Taoka, anggota Yakuza dari klan Barakujaga, menyamar menjadi guru SMA di Tatsuno demi misi rahasia. Targetnya adalah Reina Akinara, putri pemimpin klan musuh, Tuan Kudesai. Akeno bertekad menjadikan Reina alat balas dendam atas kematian orang tuanya yang dibunuh secara licik. Namun, sebuah fakta mengejutkan mengenai identitas asli Reina terungkap di tengah rencana tersebut. Akankah dendam Akeno tetap membara, atau justru ia akan luluh oleh pesona Reina?
Sampul Novel Immortal and The Beast
9.1
Pasca perang berdarah 100.000 tahun silam, Theodore bangkit melalui mantra kuno. Namun, alih-alih pulih dalam 10.000 tahun, roh sang Immortal justru terbangun di masa depan dalam tubuh pemuda lemah yang sering dirundung. Di dunia yang kini terancam monster, ia bertekad menjadi Hunter, pahlawan pembasmi makhluk buas. Meski raga barunya rapuh, pengalaman tempur dari masa lalu akan membantunya menaklukkan tantangan demi mengubah nasib malang sang pemilik tubuh.
Sampul Novel Intuition
9.4
Hanna dituduh menghabisi nyawa orang tuanya sendiri saat berusia sembilan tahun hingga harus mendekam di penjara anak. Setelah sepuluh tahun berlalu, ia berhasil melarikan diri dan bertahan hidup di jalanan yang keras. Pertemuan tak terduga dengan teman lama membawanya masuk ke dalam sebuah komplotan demi menuntaskan dendam masa lalu. Namun, rencana itu goyah saat Hanna justru jatuh cinta pada putra dari sosok yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
Sampul Novel Kembalinya Sang Penguasa
9.0
Ledakan rumah yang menewaskan sepasang suami istri memicu kepanikan besar di kalangan polisi dan tentara. Hilangnya putri mereka menandai kembalinya sosok legendaris, Red Everlasting Dragon. Sang penguasa yang ditakuti dunia ini turun gunung demi membalas dendam atas kematian orang tuanya dan penculikan adiknya. Tanpa ampun, ia bersumpah akan menghancurkan siapa pun pelakunya. Amarah sang naga kini membara, siap mengguncang tatanan dunia dari timur hingga ke barat.