APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel A.M.O.R.E.G.A

A.M.O.R.E.G.A

Waktu membawa kita pada pertemuan yang tak terduga, namun perpisahan sering kali menjadi misteri yang sulit dipahami. Melalui kehilangan, kita dipaksa menyadari betapa berartinya kehadiran seseorang bagi hati kita. Meski rasa sakit bisa disembuhkan, luka yang tertinggal akan tetap membekas selamanya. Apa yang telah patah tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala, meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan emosional yang penuh makna ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari ini kegiatan sekolah masih tentang OSPEK yang mengenalkan sekolah dan kegiatan-kegiatannya.

Untungnya dia tidak terlambat dan berterima kasih kepada senior yang tadi pagi menegurnya dari lamunan yang membuatnya hampir saja lupa kalau dia sudah berada di sekolah. Yang sayangnya dia tidak tahu siapa nama kakak seniornya itu.

Tapi cukuplah dia berterima kasih dalam hati saja. Karena mungkin saja seniornya itu juga belum tentu mau menerima ucapan terima kasihnya.

"Eh," kejutnya dengan tidak sengaja.

"Kamu tidak apa-apa?" Salah satu senior bertanya,

"Tidak, Kak," jawab lalu pergi.

"Eh, tunggu dulu," tahannya, tanpa sengaja memegang lengan Amor yang langsung ditepis begitu saja membuat si empunya terkaget. "Maaf." Kemudian berlalu.

"Eh, i iya. Maaf juga," ujarnya terbata.

"Siapa?" Temannya bertanya.

"Gak tahu. Anak baru kali." Mengedikkan bahu tanda tak tahu.

Rega yang dari tadi terdiam berjalan mendekat lalu mengambil botol minum itu. Tumbler biasa dengan warna abu-abu yang sudah mulai kusam. Diberi nama 'Amor' dengan huruf kapital menggunakan spidol permanen. Terlihat jelas.

"Eh, apa itu, Ga?" tanya temannya.

Rega mengangkat kedua bahunya. "Botol minum," ujarnya singkat. Lalu memasukkann dalam kantong celananya yang besar.

Teman-temannya hanya ber-oh ria tanpa mau memperpanjang lagi dan melanjutkan bermain basket. Karena mereka tahu seperti apa Rega. Tidak akan menjawab walaupun ditanya dengan paksa, justru semakin malas meladeni mereka.

Yang sahabat dekatnya hanya Fadel dan Tian. Fadillah Nur Muhammad dan Christian Orion Anezka. Yang lain hanya teman biasa atau kenal di sekolah. Cukup sampai sana.

Setelah kegiatan selesai, Amor mencoba bersantai menikmati kesendirian yang sudah , tapi ternyata tetap saja tidak bisa tenang ketika melihat ada bola menggelinding ke arahnya dan untung saja dia tidak kena. Dia lebih terkejut ketika seorang kakak senior menyapanya. Dia tidak nyaman apalagi melihat seorang kakak senior di belakangnya yang melihat dengan tatapan tajam. Setajam mata pisau menghunus. Dia pernah mendapatkan tatapan seperti itu. Bahkan, lebih pun pernah. Hanya saja dia tidak suka ada orang asing yang menatapnya lebih tajam, seakan dia sampah.

"Sampah tetaplah sampah!" Kata itu selalu terngiang hingga dia melukai diri sendiri. Selalu seperti itu.

Namun, sepertinya di sekolah ini dia memiliki pengendalian diri yang baik. Semestinya nanti jika ada pelajaran seni peran maka aktingnya adalah yang terbaik.

Dia masih haus. Mengambil botol minum. Tetapi, akhirnya dia ingat bahwa dia lupa membawanya tadi. Astaga, menepuk jidat, "Ketinggalan," gumamnya.

Botol minum itu adalah pemberian ayahnya. Walau sebenarnya itu pemberian karena terpaksa. Dia tidak pernah mendapatkan apa pun dengan instan. Beda dengan saudara tirinya.

Saat itu kakeknya masih hidup. Ya, kakek dari ayahnya. Walau terkesan kejam dan tidak menyukainya tapi kerap kali kakeknya selalu menyuruh ayahnya berlaku adil.

Pernah sekali, ketika mereka sedang berkumpul dan ibu tirinya tidak ada. Hanya kakek, ayahnya dan saudara tirinya. Yaitu Riana, adik tirinya yang berbeda beberapa hari dengannya. Juga kakak tirinya, Vicko, yang sedang berkumpul.

Sebenarnya tidak bisa disebut berkumpul sebab dia hanya mendengarkan karena di suruh menyajikan makanan. Ya, mereka menganggapnya pembantu di rumah. Tidak ada yang benar-benar menganggapnya. Menyedihkan! Tetapi dia tidak ingin orang lain mengasihaninya, sebab itu membuatnya muak.

Riana merengek kepada ayah mereka. Ah, masih bisakah lelaki yang hampir setengah abad itu disebut sebagai ayah? Kala tak pernah sedikit pun tangannya menyentuh dengan lembut juga mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang, sangat berbanding terbalik ketika ayahnya memperlakukan saudara tirinya.

Saat itu, kakeknya pria tua itu melihatnya. Dan mengatakan pada ayahnya dengan sindiran ataupun memang dari hati, bahwa dia harus adil.

Flashback On :

"Papa, teman-temanku sudah memakai tumbler yang bagus. Aku kapan dibelikan?" Pria itu tersenyum melihat anak perempuanya yang sangat manja.

"Nanti, Papa belikan," ujarnya lembut membuat si anak tersenyum.

"Papa, aku juga mau yang besar karena sudah mulai les. Pulangku sore. Dan aku butuh handphone," kata Vicko yang saat itu sudah kelas 6 SD.

"Iya, nanti ya," jawabnya sambil sengaja melirik ke arah seorang anak di sampingnya. Anak itu berharap dia juga ikut ditanya apakah menginginkan sesuatu atau tidak. Namun, dia tahu diri, tidaklah mungkin ayahnya memperlakukannya dengan sama.

"Kamu mau juga?" Tiba-tiba pria tua yang dari tadi memperhatikan tahu keinginan anak itu.

Dia yang ditanya tergagap, menggeleng, hanya itu yang dia bisa.

"Kalau mau membelikan anak, belikan semua biar adil," kata kakeknya lagi.

"Jangan yang satu diberi yang satu tidak. Nanti menimbulkan dendam bagi yang lain." Kakeknya melirik ayahnya lalu kembali kepadanya.

"Iya, Pa," jawab ayahnya sinis, sembari memandangnya tajam dan jauh. Bagai memandang masa lalu.

Kakeknya tersenyum mendengarnya. Memang kakeknya tak pernah menyapanya dengan benar. Hanya saja kakeknyalah yang tak pernah marah dan berteriak padanya.

Ah, memang sejak awal pun dia tak akan pernah bisa menjadi anak yang diakui ayahnya. Diharapkan kelahirannya saja tidak.

Beberapa hari berlalu, ayahnya membelikan semua pesanan saudaranya. Namun, tidak dengannya. Tapi ketika ayahnya melihatnya, dia memberikan botol minum yang ayahnya punya.

"Ini buatmu, pakailah! Itu bekasku," ujarnya kemudian berlalu.

Saking senangnya dia tersenyum seharian. Dia tidak menyangka ayahnya mau memberikan apa yang dia punya. Ketika dia berbalik, kakeknya tersenyum. Pertama kalinya dia melihat lelaki tua itu tersenyum dan mengusap kepalanya penuh kasih sayang.

"Belajarlah dengan rajin. Kalau sudah besar harus lebih baik dari kedua orang tuamu. Dan jangan izinkan orang lain menginjakmu. Kamu harus lebih baik ketika dewasa." Itu kata-kata terakhir kakeknya yang membuatnya sadar bahwa kakek memang tidak menunjukkan rasa sayangnya dengan bebas seperti orang lain. Begitu pun pada saudaranya. Bedanya, karena mereka hidup dari kecil bersama kakek sedangkan dia tidak. Itu mengapa kakek lebih leluasa dengan mereka ketika berbicara.

Tapi lagi-lagi perkataan Riana membuatnya jatuh ke dasar. "Kamu hanya dapat bekas. Bekas papa yang tidak seberapa. Pantas sama saja dengan ibumu yang suka bekas orang lain," ujarnya berlalu.

Kata-kata itu menyayat hatinya. Sementara Vicko hanya melewatinya setelah adiknya membuat anak haram itu terdiam.

Flashback Off;

Tapi tak mengapa, dulu dia senang, sebab dia menerima bekas ayahnya. Sekarang, botol minum itu saja sudah hilang, tetapi masih ada harapan bisa ditemukan, pikirnya.

Terlalu lama dia melamun. Lagi-lagi melamun sampai akhirnya dia beranjak dan melihat ke tempat awal.

Tapi dia tidak menemukannya di bangku belakang sekolah ketika beberapa anak lelaki yang menjadi kakak seniornya bermain bola kaki tadi. Yang dia lihat justru bangku kosong tanpa ada apa pun di sana.

Dia berbalik, hendak kembali. Tapi, ... apa yang dia lihat membuatnya terkejut bukan main.

AMOREGA

@Fatamorgana16,

Senin, 01 Maret 2021.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Buta Gadis Mafia
7.9
Apa jadinya jika takdir memaksa Anda tinggal satu atap dengan wanita yang menghancurkan hari pernikahan Anda sendiri? Kehidupan seorang pria berubah total saat sosok gadis dari dunia mafia hadir dan mengacaukan rencana masa depannya secara brutal. Di tengah dendam dan kebingungan, hubungan rumit mulai terjalin di antara mereka. Akankah benci berubah menjadi cinta, atau justru menjadi awal kehancuran yang lebih dalam bagi keduanya dalam drama romansa mafia ini?
Sampul Novel Cinta Terhalang Ukuran
9.4
Dhipta Wisnu Pratama tampak memiliki segalanya sebagai pewaris kaya raya dengan wajah tampan. Namun, di balik kemewahannya, ia menyimpan kekurangan fisik yang membuatnya ragu akan ketulusan cinta. Tantangan terbesarnya muncul saat ia jatuh hati pada Anandhila Prameswary, seorang aktris dan model papan atas yang mempesona. Mampukah Dhipta memenangkan hati Dhila dan meyakinkannya untuk menikah meski ia tidak sempurna? Inilah perjuangan Dhipta mengejar cinta sejati.
Sampul Novel Di Sudut Memori
8.6
Citra terjebak dalam kepedihan mendalam setelah Dwiyan pergi meninggalkan luka yang membekas di ingatannya. Di tengah duka itu, ia harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Kehadiran Panggih kemudian membawa secercah harapan dan mulai menyembuhkan trauma masa lalunya. Kini, Citra dihadapkan pada pilihan sulit: bangkit demi kebahagiaan baru bersama Panggih atau selamanya terbelenggu oleh bayang-bayang kenangan pahit yang tak kunjung sirna.
Sampul Novel DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO
9.0
Felicia Hera, dokter kesuburan yang dituduh mandul, dikhianati suaminya hingga bercerai. Saat mulai meniti karier kembali, ia terlibat satu malam dengan pasiennya demi membuktikan kesuburan dirinya. Felicia menghilang dan kembali lima tahun kemudian membawa seorang putri. Namun, ia terkejut saat mengetahui direktur rumah sakit barunya adalah ayah sang anak. Kini ia harus bersembunyi dari pria dingin yang telah memburunya selama bertahun-tahun.
Sampul Novel Istri Kontrak Mr Billionaire
8.6
Demi membiayai pengobatan sang ibu, Claudya terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan miliarder ternama asal Eropa. Namun, kehidupan barunya justru penuh penderitaan karena sang suami menjadikannya pelampiasan rasa sakit hati akibat ditinggalkan mantan kekasih. Meski raga dan jiwanya sempat terpikat, Claudya akhirnya memilih menyerah. Ia memutuskan untuk pergi menjauh demi mengakhiri segala kepedihan dalam hubungan yang tidak berlandaskan cinta tersebut.
Sampul Novel Membunuh Masa Lalu
7.9
Dalam asmara, bersiaplah untuk menghadapi kehilangan atau kerinduan yang mendalam. Cinta sering kali datang dan pergi secara misterius, namun luka yang ditinggalkan bisa merenggut separuh jiwa. Jaya terjebak dalam kepedihan saat sosok yang paling ia sayangi menghilang tanpa kepastian yang jelas. Kisah pilu Jaya ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang belum pernah merasakan betapa hancurnya hati ketika ditinggal tanpa sebuah jawaban pasti.