APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anak Haram Milik Suamiku

Anak Haram Milik Suamiku

Kebahagiaanku sebagai istri dan ibu hancur dalam sekejap setelah sebuah pengakuan mengejutkan terucap dari mulut suamiku. Ternyata, anak angkat yang selama ini kami asuh dengan penuh kasih sayang dari panti asuhan adalah darah dagingnya sendiri hasil hubungan gelap dengan wanita lain. Janji tentang surga rumah tangga yang ia tawarkan dulu kini terasa seperti dusta menyakitkan. Aku terjebak dalam kenyataan pahit saat pernikahan kami berada di ambang kehancuran.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kenapa jadi seperti ini?"

Amara masih belum bisa sepenuhnya tenang sejak malam itu. Suara pengakuan Bima terus terngiang-ngiang di kepala, membuat tidur malamnya tidak pernah benar-benar nyenyak. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Raka dan Maria selalu menghantui pikirannya. Bagaimana mungkin ia bisa melanjutkan hidup seperti biasa setelah semua ini?

Pagi itu, Amara duduk di meja makan sendirian. Bima sudah berangkat kerja, meninggalkannya dengan perasaan yang masih kacau. Raka, anak kecil yang selama ini dia pikir adalah miliknya, bermain di ruang tamu sambil sesekali memanggil.

"Amara!" Suara Nisa terdengar dari pintu depan, membawa kabar baik yang tiba-tiba terasa asing bagi Amara.

Amara menoleh dengan cepat, senyum kecil mencoba menghiasi wajahnya yang tampak muram. "Masuk, Nis."

Nisa melangkah masuk dengan canggung, memperhatikan wajah Amara yang jelas-jelas belum sepenuhnya pulih dari kesedihan. "Kamu masih belum tidur nyenyak, ya?"

Amara menghela napas, mencoba menjawab dengan suara yang lebih tenang. "Aku mencoba. Tapi, setiap kali aku memejamkan mata, aku cuma melihat wajah mereka berdua. Bima dan Maria."

Nisa duduk di samping Amara, merangkul sahabatnya dengan lembut. "Aku tahu ini sulit, Amara. Tapi kamu nggak boleh terus-terusan tenggelam dalam rasa sakit ini. Kamu harus kuat untuk dirimu sendiri, dan untuk Raka."

"Raka ..." Amara menatap ke arah ruang tamu, di mana Raka masih asyik bermain dengan mainannya. "Aku mencintai dia, Nis. Tapi setiap kali aku melihat Raka sekarang, yang aku lihat adalah kebohongan. Kebohongan yang Bima ciptakan."

"Raka nggak salah apa-apa, Mara," ujar Nisa pelan. "Dia hanya anak kecil yang butuh cinta dan perhatianmu. Kamu adalah satu-satunya ibu yang dia tahu."

Amara mengangguk, meskipun hatinya masih terasa bimbang. "Aku tahu, Nis. Tapi aku nggak bisa mengabaikan kenyataan bahwa aku selama ini hidup dalam kebohongan. Setiap hari aku merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa."

"Ini bukan salahmu." Nisa menatapnya penuh kasih. "Kamu nggak tahu, dan kamu nggak mungkin bisa tahu kalau Bima nggak pernah jujur. Tapi sekarang kamu tahu. Pertanyaannya adalah, apa yang akan kamu lakukan?"

Amara terdiam, mencoba merenungkan pertanyaan sahabatnya. Apa yang akan dia lakukan? Meninggalkan semuanya? Atau tetap bertahan demi Raka, meskipun hatinya hancur?

"Aku belum tahu, Nis," jawab Amara akhirnya. "Aku belum tahu apa yang harus aku lakukan."

---

Hari itu berjalan lambat. Setiap menit terasa seperti jam bagi Amara, yang hanya bisa termenung di rumah. Raka bermain seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah dalam hidupnya. Namun, bagi Amara, segalanya telah berubah. Setiap senyum Raka mengingatkan pada fakta bahwa anak itu bukan darah dagingnya.

Malam tiba, dan Bima pulang dengan raut wajah yang sama lelahnya seperti hari-hari sebelumnya. Sejak pengakuan itu suasana di rumah menjadi kaku dan tidak nyaman. Amara masih belum bisa bicara dengan Bima seperti dulu, dan Bima mengerti itu.

"Bagaimana harimu?" tanya Bima pelan, mencoba memulai percakapan saat mereka duduk di meja makan.

Amara menatap piringnya sejenak sebelum menjawab. "Sama seperti kemarin. Tidak banyak yang berubah."

Bima mengangguk, memahami apa yang Amara maksud. "Aku berharap kita bisa bicara lebih banyak. Tentang apa yang akan kita lakukan ke depannya."

Amara menatap Bima dengan tajam. "Apa maksudmu 'kita'? Kamu pikir ini bisa diselesaikan begitu saja, Mas? Setelah semua yang kamu sembunyikan dariku?"

Bima menghela napas, mencoba menahan diri agar tidak terlalu defensif. "Aku tidak bilang ini akan mudah, Amara. Tapi aku ingin kita bisa mencari solusi bersama. Demi Raka."

"Demi Raka," ulang Amara, suaranya penuh sarkasme. "Semua ini tentang Raka, kan? Kamu tidak pernah berpikir tentang aku, tentang perasaanku. Bagaimana aku harus menghadapi kenyataan bahwa anak yang aku asuh selama ini adalah hasil hubunganmu dengan wanita lain?"

Bima menggeleng lemah. "Aku tidak bermaksud menyakitimu, Amara. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Waktu itu, ketika Maria meninggalkan Raka, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin Raka hidup tanpa orang tua, jadi aku mencoba membesarkannya bersama denganmu. Tapi aku takut ... takut kamu akan meninggalkan kami jika kamu tahu kebenarannya."

"Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk membuat keputusan," balas Amara tajam. "Kamu mengambil pilihan itu dariku, Mas. Kamu membuatku percaya pada sesuatu yang tidak pernah ada."

Bima terdiam, tahu bahwa Amara benar. Ia telah berbuat salah dengan menyembunyikan kebenaran, dan sekarang ia harus menanggung konsekuensinya.

"Amara," kata Bima, mencoba mendekati istrinya. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku membuatmu kecewa. Tapi aku mohon, jangan biarkan ini menghancurkan kita. Kita bisa melewati ini bersama-sama. Demi Raka, dan demi keluarga kita."

Amara menatap Bima dengan mata yang berkaca-kaca. "Keluarga? Apa kamu masih berani menyebut ini keluarga setelah semua yang kamu lakukan?"

Bima menunduk, merasa hancur. "Aku tahu kata-kataku tidak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi aku ingin mencoba memperbaikinya, Amara. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku tidak ingin kehilangan keluarga kita."

Amara tertawa sinis. "Keluarga? Kamu sudah kehilanganku, Mas. Setiap hari aku merasa seperti orang asing di rumah ini. Kamu membuatku hidup dalam kebohongan, dan sekarang kamu ingin aku melupakan semuanya begitu saja?"

Bima menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang mulai menggelegak. "Aku tidak meminta kamu melupakan semuanya, Amara. Aku hanya meminta kamu untuk memberi kami kesempatan. Setidaknya untuk Raka. Dia butuh kita berdua."

"Aku tidak tahu, Mas," bisik Amara, suaranya melemah. "Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan dengan semua ini."

Bima mendekat, mencoba menggenggam tangan Amara, tetapi istrinya menolak. "Amara, aku mohon. Aku tahu ini sulit, tapi kita bisa melewatinya. Bersama-sama."

Amara menggeleng. "Kamu tidak mengerti, Mas. Ini bukan hanya tentang kita. Ini tentang rasa percaya yang sudah hilang. Bagaimana aku bisa hidup dengan seseorang yang sudah membohongiku selama bertahun-tahun?"

Bima terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata Amara seperti pisau yang menancap dalam di hatinya. Ia ingin memperbaiki semuanya, tetapi semakin ia berusaha, semakin hancur segalanya.

---

Amara kembali termenung di kamar setelah percakapan mereka. Pikirannya semakin kalut, dan hatinya semakin kacau. Di satu sisi, ia tahu Bima menyesal, tetapi di sisi lain, rasa kecewa dan marahnya begitu besar. Setiap kali ia berpikir untuk memaafkan Bima, bayangan Maria selalu menghantui.

Di tengah lamunan, suara ketukan pintu terdengar. Raka berdiri di ambang pintu dengan wajah polosnya, memandangi Amara yang duduk di tepi ranjang.

"Mama ..." panggilnya lembut. "Kenapa Mama sedih?"

Amara menatap Raka, air mata kembali mengalir di pipinya. Anak itu tidak bersalah, dia tahu itu. Tetapi hatinya masih belum bisa menerima semua dengan lapang. Bagaimana mungkin dia bisa tetap bertahan dalam situasi ini?

Amara mencoba tersenyum, meskipun hatinya hancur. "Mama nggak sedih, Sayang. Mama cuma capek."

Raka mendekat, memeluk Amara dengan erat. "Mama jangan sedih. Aku sayang Mama."

Ucapan Raka membuat hati Amara semakin hancur. Anak ini mencintainya, memperlakukan seperti ibu kandungnya, meskipun kenyataan berbeda. Amara membalas pelukan Raka, membiarkan air mata jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

"Mama juga sayang kamu, Raka," bisik Amara pelan, meskipun dalam hatinya masih ada kebingungan yang begitu besar.

Bagaimana mungkin ia bisa melanjutkan semua ini dengan rasa sakit yang begitu mendalam?

---

Keesokan harinya, Amara memutuskan untuk menemui seorang konselor. Ia tahu masalah ini terlalu besar untuk dihadapi sendiri. Ia membutuhkan bantuan untuk menemukan jalan keluar dari kekacauan ini.

Konselor mendengarkan ceritanya dengan seksama, memberikan ruang bagi Amara untuk meluapkan semua perasaan yang ia pendam selama ini.

Bersambung ...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, gadis dari latar belakang sederhana, mendadak jadi pusat perhatian setelah Nyonya Silviana mengangkatnya sebagai ahli waris tunggal. Perubahan status sosial yang drastis ini memicu penolakan keras dari orang-orang di sekitarnya yang meragukan kepantasannya. Di tengah kepalsuan dan intrik keluarga kaya, Lucyana harus berjuang mempertahankan diri. Mampukah ia bertahan menghadapi tekanan tersebut sembari mencari sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel Drive Back To December
8.4
Gayatri Rumi Rahardjo tak menyangka akan dipersunting kembali oleh mantan suaminya, William Alansyah, setelah tiga tahun berpisah. Demi rasa sayangnya pada mantan ibu mertua, ia sepakat membina rumah tangga untuk kedua kalinya. Namun, pernikahan ini dihantam tekanan perihal keturunan. Di tengah kemelut tersebut, Gayatri mencurigai rahasia besar yang disembunyikan William. Akankah kenyataan pahit ini memicu perceraian kedua yang ingin ia hindari?
Sampul Novel GAIRAH TERLARANG KAKAK IPAR
8.4
Renata Adinda terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Adi Sanjaya. Meski berstatus suami istri, Adi bersikap dingin dan mengabaikan kewajibannya, bahkan enggan berbagi ranjang. Di tengah kesepian itu, Ryota Anggara hadir. Kakak kandung Adi tersebut menyadari keretakan rumah tangga adiknya dan mulai mendekati Renata. Ketertarikan Rio memicu hubungan terlarang yang penuh gairah di antara mereka. Akankah cinta rahasia ini bertahan atau berakhir kehancuran?
Sampul Novel HATRED
8.7
Difitnah melukai dua saudaranya sendiri, seorang pemuda terpaksa angkat kaki dari rumah. Ia menyimpan amarah mendalam karena keluarganya lebih memercayai bukti video rekayasa ketimbang kejujurannya. Kini, ia harus memulai hidup baru di luar sana sambil membawa luka hati akibat pengkhianatan orang terdekat. Bagaimana nasib pemuda ini setelah pergi? Akankah penyesalan menghampiri keluarga yang telah membuangnya? Simak perjuangan penuh dendam ini.
Sampul Novel Menyambut Cinta Baru
8.7
Tujuh tahun berlalu, Eileen kembali dengan identitas baru dan fisik yang drastis berbeda. Mantan kekasihnya, Greg, yang butuh donor darah darinya, tidak mengenali Eileen sama sekali. Sebagai ganti bantuan medis, Eileen meminta Greg menjadi ayah bagi putrinya, Lottie, selama sebulan. Namun, Greg justru mengabaikan Lottie demi wanita lain dan menghina status anak itu. Tanpa Greg sadari, Lottie adalah darah dagingnya sendiri. Kecewa, Eileen bersiap pergi selamanya.