APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anak Tersisih

Anak Tersisih

Sarinah melarikan diri dari rumah karena ketidakadilan orang tuanya. Insiden kecelakaan mobil justru membawanya ke kehidupan baru sebagai Rully setelah ia diadopsi. Dari gadis buta huruf, ia bertransformasi menjadi dokter sukses. Namun, konflik besar muncul saat seorang pria melamarnya tanpa mengetahui asal-usul Rully yang sebenarnya dari keluarga miskin. Kini, ia harus memilih antara jujur atau terus bersembunyi demi menjaga cinta dan statusnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku terbangun, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan serba putih. Bau obat-obatan begitu menusuk indera penciumanku. Entah sudah berapa lama aku terbaring di sini.

"Ah, mengapa kepalaku sakit sekali?" ringisku seraya memejamkan mata, berusaha mengingat kejadian yang kualami terakhir kali.

Aku mendesah, sesak rasanya kala mengenang keadaan sebelumnya. Ya Rabb ... mengapa tak kau cabut saja nyawa ini? Kembali kupejamkan mata, buliran bening pun luruh di pipi.

Dari balik pintu samar-samar kudengar orang mengobrol, tak lama setelah itu pintu terbuka.

"Korbannya sudah bangun, Pa," ucap seorang wanita yang kutaksir berusia tiga puluh tahunan. Seorang lelaki berkepala plontos mengikutinya dari arah belakang, mendekati blangkarku juga menanyai keadaanku.

"Kamu gak apa-apa, Sayang?" tanyanya padaku.

Aku merespon dengan sebuah senyuman.

"Nama kamu siapa? Tinggal di mana?" tanyanya lagi.

Aku bergeming, menunduk lalu berpikir. Haruskah aku mengungkap identitasku? Sementara ... aku berusaha untuk pergi dari kehidupan orangtua yang pilih kasih. Pikiranku berkecamuk hebat, tirta netra tak dapat dihentikan lagi. Mengingat wajah mereka saja sudah cukup membuat batinku tertekan.

"Nak?" Aku menyeka air mata, lalu mendongak menatap mereka. Kulihat wajah wanita itu cemas, lelaki di sampingnya pun turut iba memandangku.

"Dok, bagaimana ini?"

"Sepertinya anak ini mengalami amnesia, Bu. Namun, jika dilihat dari kondisinya, nampaknya itu tidak akan lama."

Aku terkejut mendengar penuturan Dokter, mengapa ia bisa menyimpulkan demikian? Padahal ingatanku sangat jelas, tak ada kejadian yang tak kuingat sebelum ini.

"Ya Allah, Sayang. Maafkan kami." Wanita itu terisak, lelaki berkepala plontos memeluk seraya mengusap-usap punggungnya. Raut wajah mereka menggambarkan perasaan bersalah yang amat dalam. hatiku terenyuh. Haruskah aku jujur? Jika aku mengatakan yang sebenarnya, mereka akan berhenti menangis, tetapi selanjutnya aku yang akan menangis karena harus kembali pada orangtua egois.

"Pak, Bu, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Adik ini hanya mengalami benturan ringan, jadi ingatannya akan pulih dengan segera," ujarnya.

Pria itu mengangguk, sedang si wanita masih tersedu-sedu sebab rasa bersalahnya. Selepas dokter mengatakan demikian, ia pamit karena harus menyelesaikan tugasnya yang lain.

Pria itu menuntun si wanita untuk duduk di kursi, lalu mengambil sebotol air mineral dari kantong yang dibawanya.

"Minum dulu, Ma." Si wanita meraih botol itu dan meminumnya secara perlahan, lalu bersandar pada pundak si lelaki yang kutebak pastilah suaminya.

"Pa, aku gak nyangka kalau kita bisa seceroboh itu dalam mengemudi. Bersyukur anak ini hanya amnesia, bagaimana jika dia meninggal? Aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sampai kapanpun."

"Sudah, Ma. Semuanya akan baik-baik saja," sahutnya seraya memandang ke arahku.

"Pa, berhubung anak ini belum mengingat siapa dirinya. Bagaimana kalau kita ajak pulang saja dulu?"

Aku mendongak kala mendengar usulan wanita itu, nampaknya ini bisa jadi kesempatan terbaik untuk mengubah kehidupanku.

"Papa setuju, tapi ... apa adik ini mau ikut sama kita?"

"Coba mama tanya dulu ya, Pa." Wanita itu beringsut dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiriku.

Aku kembali menunduk, mempertimbangkan kembali langkah yang akan kuambil.

"Dik, kamu mau gak tinggal sama Tante?"

Aku masih terdiam, bisikan di hati perang antara memilih kebenaran atau kebohongan. Jika aku berbohong, suatu saat mereka pasti akan kecewa kala mengetahui yang sebenarnya. Jika aku jujur, besar kemungkinan aku akan diantarkan ke rumah orangtuaku. Aku menatap wajah wanita yang tengah berdiri di samping blangkarku, dilihat dari wajah dan bawaannya dia adalah orang yang baik. Aku tak tega jika harus mengecewakannya. Oleh sebab itu, apapun konsekuensinya aku lebih memilih berkata jujur padanya.

"Tante, maafkan saya," ucapku seraya menahan tangis.

Wanita itu kian mendekat dan memelukku.

"Maaf untuk apa? Kamu gak salah, Sayang. Tante yang seharusnya minta maaf."

"Sebenarnya ... sebenarnya saya tidak hilang ingatan." Wanita itu terkejut, pria botak yang sedari tadi duduk di sofa berdiri seketika, lalu bergegas menghampiriku.

"Maafkan saya telah membuat kalian khawatir, maafkan saya." Aku tak kuasa membendung tangis, aku pasrah jika mereka marah dan memulangkanku ke desa.

"Ka-kamu beneran gak amnesia?" tanya lelaki itu meyakinkan.

Aku menggeleng, lantas sebuah senyuman terlukis di wajah wanita itu.

"Alhamdulillah ...." Wajahnya teramat bahagia, berbanding jauh denganku yang harus jatuh kembali ke lubang penderitaan.

"Dik? Sepertinya kamu sangat sedih. Kamu rindu orangtua, ya?"

"Kalau begitu, kita antar pulang saja dengan segera," tukas lelaki itu.

Wanita itu mengangguk, lantas kembali beralih menatapku.

"Kamu sabar, ya. Kalau dokter sudah memperbolehkan pulang, kami pasti bakal antar kamu ke tempat tinggalmu," hiburnya seraya mengusap pucuk kepalaku.

Mereka pikir aku bersedih karena rindu keluarga, nyatanya aku sama sekali tak ingin kembali ke sana. Mereka akan memulangkanku karena tak tahu kondisiku yang sebenarnya, haruskah aku menceritakan semuanya?

"Dik?" panggil wanita itu, "kamu makan, ya? Biar Tante suapi."

"Terimakasih, Tante, tetapi saya tidak lapar."

Aku menghela napas, berusaha menetralkan perasaan yang sangat kacau. Aku tak ingin hidup dalam kedustaaan, lebih baik menelan pahitnya kejujuran daripada harus hidup dengan manisnya kebohongan.

"Tante, bolehkah saya meminta satu permintaan?"

"Apa itu, Dik?"

"Jika dokter sudah memperbolehkan saya pulang, saya minta diantar ke panti asuhan saja."

Sontak pasangan suami istri yang sedang berada di sampingku itu terkesiap, hening beberapa detik, lantaran penasaran akhirnya mereka banyak menanyaiku.

"Orangtua kamu sudah tak ada, Sayang?"

"Tidak, orangtua saya masih hidup."

"Lantas, kenapa kamu mau tinggal di panti asuhan?"

"Saya ingin punya kehidupan baru, ingin mandiri dan tak mau terus berada di bawah perintah mereka."

"Maksud kamu?"

Dengan berat hati, akhirnya aku mengungkapkan semua perlakuan ibu dan bapak selama aku tinggal bersama mereka. Tak ada satu pun yang aku tutup-tutupi kepada sepasang suami istri ini. Aku menceritakan semuanya secara detail, lalu menunjukkan lebam-lebam di beberapa bagian tubuhku.

Aku tidak bermaksud mengumbar aib keluarga, aku hanya ingin terbebas dari mereka dan mendapat kehidupan tanpa penyiksaan.

"Astaghfirullahaladzim ... aku gak nyangka di zaman yang sudah modern seperti ini masih ada kepahaman seperti itu, Pa. Kenapa orangtuanya begitu tega menghajar anaknya sendiri?" ujar wanita itu seraya terisak-isak.

Aku menunduk, hatiku jauh lebih tenang setelah mengatakan semuanya. Mereka juga sudah berjanji tidak akan menceritakan kisah pilu hidupku kepada siapapun. Setidaknya, setelah keluar dari rumah sakit aku bisa tinggal di panti asuhan dan mempunyai banyak teman dan belajar, seperti yang diceritakan oleh BI Inah tetanggaku.

Suami dari wanita itu menarik lengan istrinya menuju sofa, terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius. Ah, apapun yang mereka bicarakan bukan urusanku, tak baik jika aku mengupingnya walau suara mereka samar-samar terdengar.

Aku menatap langit-langit bangsal yang kutempati, melamun membayangkan kehidupan baru yang sebentar lagi akan menyapaku.

"Dik, kami ingin berbicara serius." Pandanganku beralih, duduk menyandar dan menatap ke wajah mereka dengan jantung yang berdebar kencang.

"Dik, apa benar kamu tak mau kembali kepada orangtuamu?" Aku mengangguk.

"Maaf, Dik. Kami tak bisa mengantar kamu ke panti asuhan." Mataku membulat, napasku tercekat. Buliran intan berwarna jernih berlomba-lomba keluar dan berjatuhan.

Apa alasan mereka tak mau mengantarku? Bukankah aku sudah menceritakan semua kepedihan hidupku, tetapi mengapa mereka tetap ingin memulangkanku?

To be continued

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANITA ( Pernikahan atas penukaran jaminan)
9.4
Anita Azaelia terjebak dalam pernikahan instan tanpa cinta demi menebus kerugian akibat perbuatan saudara kandungnya. Hidupnya yang penuh cobaan kian berat saat ia menyadari suaminya tak memiliki perasaan sedikit pun padanya. Setelah dikhianati masa lalu, kini Anita harus berjuang menghadapi kepedihan dan konflik nasib yang melampaui batas. Mampukah ia menemukan kebahagiaan di tengah keresahan rumah tangga yang hanya dianggap sebagai jaminan utang ini?
Sampul Novel Dosa yang Tak Termaafkan
8.9
Dewi menemukan bukti perselingkuhan suaminya melalui tumpukan bon belanja barang wanita dan tiket bioskop yang mencurigakan. Meski ia berusaha berbicara dengan suara lirih, amarah besar terlihat jelas saat ia mengonfrontasi pengkhianatan yang terulang kembali. Dewi menegaskan bahwa batas kesabarannya telah habis; ia tidak akan memberi kesempatan kedua setelah peringatannya diabaikan. Hubungan pernikahan mereka kini berada di ambang kehancuran total.
Sampul Novel Jangan Cintai Bosmu!
9.5
Naura, staf pemasaran di Jakarta, terlibat masalah setelah menumpahkan iced latte ke jas Arga Narendra Wijaya. Ternyata, pria arogan itu adalah CEO barunya. Arga yang tersinggung mulai menekan Naura, bahkan memaksanya mencuci jas tersebut sebagai bentuk dominasi. Namun, Naura tidak tinggal diam. Di balik perseteruan ego ini, tersimpan rahasia masa lalu Arga yang kelam. Kini Naura terjebak antara mempertahankan harga diri atau mengungkap kebenaran di balik sosok bosnya.
Sampul Novel KEHIDUPAN SETELAH MENIKAH
8.9
Demi membahagiakan orang tuanya, Kanaya merelakan diri menikah dengan Bisma meski hatinya masih terpaut pada Hamdan. Namun, rumah tangga mereka diguncang kenyataan pahit saat Bisma diketahui menghamili kekasihnya, Vilia. Kanaya yang tegar justru memfasilitasi pernikahan keduanya. Ironisnya, saat Bisma mulai jatuh hati padanya, Hamdan justru kembali datang melamar. Kanaya kini terjebak dalam pusaran asmara dan dilema emosional yang rumit.
Sampul Novel LEMBAYUNG CINTA
9.2
Rangga terjebak dalam obsesi mendalam terhadap Davina. Pria itu rela melakukan segala cara demi mencuri perhatian sang wanita impian. Setiap tindakan yang Rangga ambil dirancang khusus untuk memikat hati Davina agar mau membalas perasaannya. Di tengah ambisi tersebut, ia terus berjuang memancing simpati Davina demi mendapatkan cinta yang ia dambakan. Inilah kisah perjuangan seorang pria yang tak kenal lelah mengejar wanita pilihannya dalam balutan romansa modern.
Sampul Novel Menaklukan Hati Dokter Cantik
9.3
Khalila Permata Sutama, dokter cerdas pewaris rumah sakit, terpaksa menikahi Zahran Fahad Auzan demi memenuhi wasiat. Zahran yang masih SMA menggantikan posisi mendiang kakaknya dalam perjodohan ini. Meski Khalila bersikap ketus dan malu memiliki suami brondong, Zahran tetap tulus karena Khalila pernah menyelamatkan nyawanya dulu. Pengabdian tanpa pamrih Zahran perlahan mulai menyentuh hati Khalila. Akankah pernikahan beda usia ini berujung pada cinta sejati?