APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asa di Ujung Senja

Asa di Ujung Senja

Nada terpaksa menikahi cucu Ndoro Brata demi melunasi utang orang tuanya. Ia menjadi pengantin pengganti setelah calon istri Abian melarikan diri pasca kecelakaan yang membuat pemuda playboy itu buta. Abian yang dulunya urakan kini berubah menjadi sosok pemarah dan dingin kepada Nada. Di tengah sikap kasar sang suami dan tekanan besar dari keluarga konglomerat tersebut, Nada harus berjuang mempertahankan perannya dalam pernikahan yang penuh luka dan air mata ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari-hari selanjutnya, dilalui Nada dengan penuh duka, dan nestapa. Berbagai macam cacian, hinaan, menjadi makanan wanita belia itu sehari-harinya. Tidak ada satu pun dari mereka semua yang tinggal di rumah besar Ndoro Brata, yang peduli pada Nada. Termasuk para pelayan yang jumlahnya belasan.

Nada juga tidak dapat mengadukan nasibnya pada sang ibu. Bagaimana mungkin dia akan mengadu jika keluar dari rumah besar itu saja, Nada tidak diperbolehkan? Kehidupan Nada bahkan lebih buruk dari binatang peliharaan, yang berada di kandang besar milik sang majikan.

Setiap saat, setiap waktu, Nada harus siap melayani keinginan Abian yang terkadang di luar nalar. Belum lagi Nada harus mematuhi perintah anggota keluarga Ndoro Brata yang lain, yang seringkali seperti sengaja mempersulitnya. Dan yang paling membuat Nada kesal meski tak berani dia tunjukkan, sehari-harinya dia harus berhadapan dengan si mesum Aji, kakak dari Abian.

"Ayolah, Manis. Duduk sini dan temani mas sebentar aja. Bian pasti takkan keberatan," pinta Aji ketika Nada menjemput Abian di taman belakang.

Malam ini, keluarga besar Ndoro Brata sedang berkumpul melingkari api unggun dalam rangka malam terakhir kebersamaan mereka. Sebab, keesokan harinya kedua orang tua Abian, beserta Aji akan kembali ke kota. Begitu pula dengan anak-anak Ndoro Brata lainnya, mereka juga akan kembali ke kediaman masing-masing.

"Maaf, saya ke sini karena dipanggil Den Bian yang ingin segera beristirahat. Permisi," pamit Nada. Wanita belia itu senantiasa berusaha menghindar dari Aji.

"Nad, tunggu!" seru Aji.

"Buruan, Nad! Aku lelah, aku udah ngantuk!"

Perintah Abian selanjutnya, menyelamatkan Nada dari pemuda yang memiliki tatapan mesum itu. Nada pun buru-buru mendorong kursi roda yang diduduki Abian untuk masuk ke dalam.

Ya, selama hampir seminggu Nada berada di rumah besar Ndoro Brata, Kakak dari Abian itu terus saja merayunya dengan berbagai cara. Pemuda itu bahkan tak canggung menggoda Nada di depan keluarga lainnya seperti yang Aji lakukan barusan. Anehnya, mereka semua tak ada yang memperingatkan Aji, padahal status Nada adalah adik ipar pemuda tersebut.

"Sadar, Nad. Kamu ini istri dan menantu yang tak diharapkan di rumah ini. Jadi, jangan pernah bermimpi jika mereka akan memikirkan bagaimana perasaanmu," bisik Nada dalam hati sambil mendorong kursi roda yang diduduki Abian.

"Nad, buatkan aku jahe hangat dulu sebelum kembali ke kamar! Perutku tiba-tiba saja mual." Perintah dari Abian, mengurai lamunan Nada. Wanita berhijab itu pun segera menghentikan kursi roda, tepat ketika mereka tiba di meja makan.

"Maaf, Den Bian mau menunggu di sini atau di kamar saja?" tawar Nada dengan suaranya yang selalu lembut.

"Di sini tak mengapa. Dari pada kamu harus bolak-balik ke dapur."

Nada tersenyum senang karena tak biasanya Abian bersikap baik seperti sekarang. "Baik, Den. Tunggu sebentar, nggih. Akan segera saya buatkan."

Sebelum Nada berlalu menuju dapur, terdengar helaan napas panjang dari Abian. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda yang telah sah menjadi suaminya itu, Nada tak dapat menebaknya.

"Jahe hangatnya mau diminum di sini atau di kamar saja, Den?" tawar Nada, setelah beberapa saat.

"Oh, sudah jadi. Sekarang aja, Nad. Sini!"

Nada segera mengangsurkan gelas yang berisi jahe hangat yang telah dicampur dengan madu, pada Abian. Dalam sekejap, isi gelas tersebut telah habis tanpa sisa. Setelah menyimpan gelas tersebut di atas meja makan, Nada kembali mendorong kursi roda itu menuju ke kamar Abian.

Setibanya di kamar, Abian langsung menjatuhkan tubuh di atas pembaringan empuk miliknya. Sementara Nada menggelar sajadah lalu mengambil air wudhu sebelum tadarus Al-qur'an. Kebiasaan yang dilakukan Nada setiap malam, sebelum kemudian tidur di atas sajadah tersebut.

Ya, selama beberapa hari menjadi istri Abian, pemuda itu tidak mengizinkan Nada tidur di ranjang yang sama dengannya. Nada tidak mempermasalahkan hal tersebut. Justru, Nada merasa senang karena Abian tak berminat untuk menyentuhnya. Dari pada, dia harus melayani suami yang menikahinya tanpa ada cinta.

Di kamar Abian memang terdapat sofa panjang nan empuk. Namun, Ndoro Putri Brata pernah membentak Nada ketika wanita belia itu duduk di sana. Karena itulah, Nada lebih memilih untuk tidur di lantai dengan beralaskan sajadah. Toh, Nada tidak pernah benar-benar dapat memejamkan mata karena harus selalu siaga jika sewaktu-waktu Abian membutuhkan bantuannya.

Nada masih melafalkan ayat-ayat suci Al-qur'an ketika rungunya menangkap suara Abian yang meracau tidak jelas, seperti sedang mengigau. Nada buru-buru menutup kitab sucinya lalu beranjak untuk melihat keadaan Abian. Benar saja, pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala seperti gelisah dalam tidurnya.

Nada mendekat. "Cuaca dingin seperti ini, tapi kenapa dia berkeringat?" gumam Nada ketika melihat bulir-bulir keringat di kening Abian.

Tangan Nada pun reflek terulur lalu menyeka keringat tersebut. Di saat yang sama, Abian terbangun lalu menangkap tangan Nada. Tentu saja Nada menjadi takut. Dia khawatir Abian akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

"Apa yang kamu lakukan?"

Benar saja, pertanyaan Abian dengan suara meninggi, menggambarkan jika pemuda itu tidak suka dengan apa yang dilakukan Nada barusan.

"Ma-maaf, Den. Saya hanya mengusap keringat Den Bian. Sepertinya, Den Bian demam. Tadi, tidur Aden gelisah dan keringat dingin bercucuran," terang Nada yang terdengar takut-takut.

Nada memang selalu patuh pada setiap perintah dari keluarga besar Ndoro Brata. Dia juga takut jika melakukan kesalahan. Sebab, sebelumnya Nada telah diancam jika dia melakukan sedikit saja kesalahan atau berani memberikan perlawanan, maka keselamatan sang ibu yang menjadi taruhan.

Abian tak lagi bersuara. Begitu pula dengan Nada. Hingga keheningan pun sejenak tercipta di sana.

"Maaf, Den. Apa Aden mau minum obat?" tawar Nada, mengurai keheningan.

"Aku tidak suka obat." Setelah menjawab demikian, Abian tiba-tiba bangkit.

"Bantu aku ke kamar mandi. Sepertinya, aku mau muntah," pintanya kemudian.

Nada pun dengan sigap membantu Abian menuju kamar mandi. Benar saja, baru saja sampai di ambang pintu kamar mandi, Abian telah mengeluarkan semua isi perutnya. Meski ragu, Nada memberanikan diri untuk memijat dengan pelan tengkuk Abian yang terasa panas di telapak tangannya.

"Sepertinya, Aden masuk angin berat," kata Nada, setelah membantu Abian kembali ke pembaringan. "Jika Aden tidak suka minum obat, lalu Aden membutuhkan apa agar bisa segera enakan?"

Tak ada jawaban dari bibir Abian. Yang terdengar hanyalah helaan napas kasar.

"Kalau anggota keluarga kami ada yang masuk angin, biasanya dikerokin, dan tak lama kemudian segera enakan, Den. Apa ... Aden mau saya kerokin?" Nada menawarkan bantuan dengan ragu-ragu.

"Dikerokin? Seperti apa itu?" tanya Abian dengan dahi berkerut dalam.

Nada lalu menjelaskan bagaimana caranya dan Abian mengangguk, mengiyakan. Wanita belia itu lalu mulai melakukan aktifitasnya. Nada melakukannya dengan perlahan karena takut menyakiti Abian.

Nada lalu meratakan minyak angin sisa kerokan di punggung Abian dengan tangan, sambil memijatnya perlahan. Tidak terdengar protes dari pemuda itu. Bahkan, Abian sepertinya sangat menikmati pijatan lembut tangan Nada.

"Sudah, Den. Sekarang bagian perut."

"Perutnya juga dikerokin?"

"Tidak, Den. Hanya saya baluri minyak angin agar perut Aden lebih enakan."

"Oh, oke." Abian segera berbalik lalu tidur telentang. Baru kali ini Abian menuruti perintah Nada.

Dada bidang dengan bulu-bulu halus itu terpampang nyata di hadapan Nada dan nampak begitu menggoda. Akan tetapi, fokus wanita belia itu tidak di sana. Dia murni ingin mengobati Abian dengan caranya, bukan untuk menggoda atau tergoda.

Telaten, Nada membaluri perut Abian dengan minyak angin, dan meratakan dengan tangan seperti tadi. Di bagian perut, Nada tidak berani memijatnya.

"Sudah, Den."

"Tidak dipijat?" tanya Abian yang terdengar tidak rela Nada menyudahi semuanya.

"Kalau perut, saya tidak berani, Den. Takut salah urut, nanti bisa berbahaya."

"Kalau begitu, pijat kepalaku! Kamu berani, 'kan? Kepalaku pusing."

"I-iya, Den, jika Aden berkenan."

Setelah Abian memakai piyamanya kembali, Nada lalu duduk di tepi pembaringan, dan mulai memijat kepala Abian. Nada terus melakukannya hingga pemuda itu terlelap. Nada bahkan tidak berani melepaskan tangannya karena takut Abian akan terjaga. Wanita belia itu pun ketiduran dengan posisi tangan masih berada di atas kepala Abian.

Entah bagaimana caranya dan siapa yang memulai, ketika Nada terjaga, wanita belia itu sudah berada dalam dekapan hangat Abian. Tentu saja Nada sangat terkejut, sekaligus takut. Reflek, Nada melepaskan tangan Abian yang melingkar di perut rampingnya dengan tergesa hingga membuat pemuda itu terjaga.

"Kenapa, Nad? Apa hari sudah pagi?"

"Be-belum, Den. Maaf, sa-saya tidak tahu kenapa saya bisa tidur di sini."

"Memangnya kenapa, kalau kamu tidur di sini? Bukankah, kita ini pasangan suami istri?"

bersambung ...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
8.6
Anne Mary, gadis jenius berusia 18 tahun, terjebak dalam pusaran maut setelah menyaksikan pembunuhan cinta pertamanya oleh bos mafia, Marcio Lamparska. Dituduh sebagai tersangka, Anne diculik Marcio ke Spanyol untuk dilatih secara fisik. Meski awalnya berniat membalas dendam dengan mendekati Marcio, Anne justru jatuh cinta. Konflik memuncak saat Iosef, musuh Marcio yang posesif, menyelamatkannya. Kini Anne tumbuh menjadi pembunuh tangguh yang harus memilih antara dendam atau komitmen hati.
Sampul Novel Gairah Sang Bodyguard
8.7
Venus Harristian, penyanyi pop ternama, terancam bahaya setelah menyaksikan kejahatan besar. Demi melindunginya hingga hari kesaksian di pengadilan, Dion Elang Juliandra, seorang polisi, direkrut menjadi pengawal pribadinya. Namun, kedekatan intens menumbuhkan perasaan terlarang di antara mereka. Padahal, baik Venus maupun Dion telah memiliki pasangan dan terikat janji pernikahan masing-masing. Di tengah teror, mereka terjebak antara kesetiaan dan gairah cinta yang sulit tertahan.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 2
9.8
Suro Joyo kembali memulai perjalanannya melintasi semesta. Usai menaklukkan Putri Siluman Alas Waru, sang pendekar justru terjebak dalam pergolakan politik di Kerajaan Karangtirta. Selain harus meredam pemberontakan, ia dituntut menghadapi ancaman bajak laut Selat Utara yang ganas. Bebannya kian berat saat harus menolong Ayumanis di Penginapan Melati Jingga, hingga akhirnya ia dihadang Sanggariwut, jawara tangguh pemilik Jurus Ular Api Neraka yang mematikan.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Mafia Berdarah Dingin
8.7
Dominic Toretto tega menjual anaknya demi harta dengan menjanjikan pernikahan kepada keluarga De Luca yang kejam. Alessia Toretto akhirnya memilih maju demi menggantikan posisi adiknya untuk menikahi seorang bos mafia pembunuh berdarah dingin. Tanpa diduga, keputusan nekat ini justru menjerumuskannya ke dalam pusaran konflik hidup dan mati. Kini Alessia harus berjuang menemukan keberanian demi melawan nasib kelam yang telah dipaksakan padanya.
Sampul Novel Re(s)tart
9.7
Kebahagiaannya dirampas hingga tak bersisa, kini nyawa menjadi taruhan terakhir. Sambil terduduk dengan tubuh penuh memar dan luka, anak itu menatap remeh musuhnya meski tenaganya hampir habis. Di tengah ejekan tentang masa lalunya yang dianggap nyaman, ia menyimpan sisa kekuatan demi menyambut hari esok yang penuh misteri. Akankah ia mampu bertahan, atau justru melarikan diri sambil menangis saat maut mulai mendekat dan mengancam masa depannya?