APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar

Balas Dendam Lima Anak Kembar

Isabella Ardhani mengalami nasib tragis setelah terjebak di kamar Rafael Damar, bos mafia penguasa bisnis. Insiden tersebut membuatnya hamil lima anak kembar jenius. Diusir dari rumah, ia kabur ke luar negeri demi membesarkan mereka. Bertahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai wanita berkuasa. Takdir membawanya bertemu Rafael lagi, namun kali ini kelima anaknya telah menyiapkan rencana balas dendam besar terhadap ayah kandung mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Matahari pagi menembus tirai jendela villa Isabella, menciptakan garis-garis cahaya di lantai kayu yang hangat. Anak-anak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing-ada yang menumpuk buku, ada yang menyusun model robot, dan ada yang tengah mempelajari layar tablet yang menampilkan simulasi kompleks. Lima kembar itu tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh rasa ingin tahu yang luar biasa.

Adriel, kakak tertua, menatap layar tablet sambil menggerakkan jari-jarinya di atas skema grafik yang rumit. "Aurora, lihat ini," katanya. "Kalau kita memetakan semua pergerakan dia semalam... ada pola tertentu."

Aurora, yang duduk di sampingnya, mencondongkan tubuh untuk mengamati. "Pola apa maksudmu?" tanyanya, matanya berbinar.

"Dia... Rafael Damar," jawab Adriel, menekankan nama itu. "Kita bisa lihat cara dia bergerak, ke mana dia pergi, dan bahkan... ekspresi wajahnya ketika melihat Mama. Kalau kita mau, kita bisa tahu apa yang dia pikirkan."

Alara, yang selalu paling nakal, menepuk bahu kakaknya. "Jadi maksudmu... kita mau 'mengintai' dia seperti detektif?" Suaranya penuh antusiasme, tapi juga ada nada perhitungan.

"Betul," kata Adriel. "Dan bukan sekadar mengintai. Kita harus paham niatnya. Jika dia mencoba mengganggu Mama atau kita... kita harus siap. Semua ini adalah persiapan."

Aiden, yang duduk di lantai sambil menyusun model pesawat, menatap layar tablet dengan cermat. "Kalau dia berniat jahat... aku bisa membuat sistem alarm digital untuk memperingatkan kita."

Aris, si bungsu tapi paling analitis, menepuk tangannya. "Aku bisa menambahkan sensor gerak di pintu masuk. Jadi kalau dia mendekat tanpa izin... kita tahu."

Isabella menatap anak-anaknya dari balik pintu dapur, hatinya campur aduk. Mereka memang masih anak-anak, tapi kecerdasan dan ketajaman mereka membuatnya bangga sekaligus cemas. Ia tahu Rafael bukan pria biasa. Ia bukan hanya seorang pengusaha kaya; ia adalah pria licik, kuat, dan berbahaya. Setiap langkah yang salah bisa berakibat fatal.

Isabella melangkah masuk, menatap anak-anaknya dengan mata tegas. "Kalian tahu bahwa ini serius, kan? Rafael Damar bukan main-main. Kita tidak bisa hanya bermain-main atau sembarangan menghadapinya."

Adriel mengangguk. "Kami tahu, Mama. Tapi kami ingin tahu siapa dia. Dan kalau dia berani mengganggu kita... kami akan siap."

Isabella menghela napas panjang. "Baik. Kalian boleh mengekspresikan rasa penasaran, tapi jangan sampai ketahuan atau terlalu terang-terangan. Aku tidak mau ada yang terluka."

Aurora menatap ibunya, matanya serius. "Kami akan berhati-hati, Mama. Tapi kami juga ingin tahu kebenarannya."

Malam harinya, Isabella mulai merencanakan strategi lebih rinci. Ia duduk di ruang kerja pribadinya, memeriksa laporan keamanan, menyusun jadwal anak-anak, dan bahkan meneliti aktivitas Rafael melalui berita dan kontak bisnis yang bisa ia pantau. Ia sadar bahwa menghadapi Rafael bukan sekadar masalah emosional; ini adalah masalah keselamatan keluarga.

"Kalau Rafael benar-benar ingin tahu tentang anak-anak... aku harus bisa menyiapkan jebakan atau sistem perlindungan," gumam Isabella pada dirinya sendiri. Ia menatap foto anak-anak yang tertempel di papan kerja-lima wajah yang kini menjadi pusat dunianya.

Di sisi lain, anak-anak mulai membuat rencana kecil mereka sendiri.

"Bagaimana kalau kita mulai dengan mengamati dia dari jauh?" ujar Aurora. "Kita bisa catat kapan dia datang, apa yang dia lakukan, dan siapa yang dia temui."

Alara mengangguk. "Aku bisa bikin kode rahasia untuk catatan kita. Jadi kalau Mama melihat... dia tidak tahu apa yang kita lakukan."

Adriel tersenyum tipis. "Dan aku bisa membuat peta digital. Semua pergerakan dia bisa kita pantau. Kalau dia melakukan sesuatu yang mencurigakan... kita bisa laporkan ke Mama."

Aiden menambahkan, "Dan aku akan pasang sistem alarm di rumah. Sensor gerak, kamera tersembunyi, dan beberapa jebakan digital. Kalau dia mencoba mendekat diam-diam... kita tahu."

Aris menatap mereka dengan serius. "Kita juga harus pelajari psikologinya. Cara dia berbicara, gerak tubuhnya, intonasi suaranya. Semua itu bisa memberi tahu kita niatnya."

Isabella, dari kejauhan, menatap anak-anaknya dengan kagum. Mereka memang anak-anaknya, tapi kecerdasan mereka... luar biasa. Dan sekaligus, ia merasa khawatir. Rafael bukan orang biasa, dan anak-anaknya masih terlalu muda untuk langsung menghadapi pria sekuat itu.

Beberapa hari kemudian, Rafael mulai menunjukkan ketertarikannya lebih jelas. Ia menghadiri salah satu acara bisnis tempat Isabella hadir dengan anak-anak. Dari jauh, ia mengamati mereka, menatap satu per satu dengan tajam, seperti ingin mengenali DNA keluarga yang sama.

Anak-anak, yang duduk bersama Isabella, merasakan tatapan itu. Aurora menekuk bibirnya, bisik-bisik ke kakaknya. "Dia... ayah kita, kan?"

Adriel mengangguk. "Iya. Tapi kita harus tetap hati-hati. Kita tidak bisa terlihat takut atau gugup."

Alara, sambil mengamati Rafael dengan mata tajam, berkata, "Aku bisa lihat caranya menatap, caranya menggerakkan tangan... dia mencoba membaca kita."

Isabella menatap mereka dengan cemas, tapi juga kagum. Ia tahu anak-anaknya sudah mulai belajar bagaimana menghadapi pria yang dulu menghancurkan hidupnya. Anak-anaknya belajar cepat-dan mungkin, lebih cepat daripada yang ia prediksi.

Rafael, di sisi lain, tersenyum tipis saat menyadari kecerdasan anak-anaknya. "Ini akan menyenangkan," gumamnya sendiri. "Mereka pintar... sangat pintar. Tapi aku juga tidak kalah pintar."

Malam itu, setelah acara selesai, Isabella duduk bersama anak-anaknya di ruang keluarga. Ia memutuskan untuk berbicara jujur, tapi tidak seluruhnya. "Kalian harus tahu... ayah kalian bukan pria biasa. Dia kuat, licik, dan bisa sangat berbahaya. Tapi Mama akan selalu melindungi kalian."

Aurora menatap ibunya, mata penuh tekad. "Kami tahu, Mama. Tapi kami juga ingin tahu siapa dia. Dan kalau dia mencoba menyakiti kita... kami akan hadapi."

Adriel menambahkan, "Betul. Kami punya rencana. Kita akan pelajari setiap langkah dia, setiap kata, setiap gerakannya. Kita akan siap."

Isabella tersenyum getir. Ia bangga sekaligus cemas. Lima anaknya bukan hanya jenius, tapi juga pemberani-dan ia tahu, keberanian itu akan segera diuji.

Dan malam itu, ketika bintang-bintang berkelap-kelip di langit gelap, sebuah permainan baru dimulai. Anak-anak Isabella mulai mengeksekusi rencana kecil mereka, mengamati Rafael dari jauh, mencatat setiap langkahnya, dan merancang strategi awal balas dendam mereka.

Sementara Isabella, di balik semua itu, mulai menyiapkan benteng pertahanan-sistem keamanan, pengawasan, dan strategi psikologis. Ia tahu Rafael bukan sekadar pria yang bisa dihadapi dengan amarah. Dibutuhkan kecerdikan, ketenangan, dan keberanian untuk melindungi anak-anaknya dari pria yang dulu menghancurkan hidup mereka.

Malam itu, rumah Isabella dipenuhi oleh aura ketegangan, rasa penasaran, dan tekad. Lima anak kembar yang jenius mulai bergerak seperti pasukan kecil, siap menghadapi ayah mereka sendiri-sambil ibunya menyiapkan setiap langkah untuk memastikan mereka tetap aman.

Dan di luar jendela, Rafael Damar menatap villa itu dari kejauhan, tersenyum tipis. Ia tahu permainan baru telah dimulai... dan ia siap menghadapi tantangan dari lima anak jenius yang menantangnya, serta Isabella, wanita yang dulu ia hancurkan tetapi kini berdiri dengan kekuatan luar biasa di samping anak-anak mereka.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dalam Skandal
9.3
Bitna, aktris berbakat asal Korea Selatan, terjerat skandal besar setelah menghadiri pesta di Indonesia. Reputasinya terancam hancur akibat insiden dengan Kenzo, bos besar penyelenggara acara tersebut. Demi menyelamatkan karier, Bitna sepakat melakukan klarifikasi publik. Namun, Kenzo justru mengejutkan dunia dengan mengumumkan pertunangan palsu tanpa persetujuannya. Mengapa Kenzo nekat berbohong? Akankah sandiwara ini menyelamatkan atau justru menghancurkan hidup Bitna?
Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Vanya adalah ladyboy menawan yang kecantikannya mengancam wanita tulen. Di sebuah klub, ia terpikat pada Ricardo Esteban, namun ragu akan statusnya. Pesonanya sebagai penari juga memicu obsesi Peter Hallmark, miliarder New York, serta Don Salvatore, bos mafia Italia yang ingin mengubahnya. Di balik karier MUA, Vanya terjebak dalam gelapnya perdagangan manusia. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan cinta sejati di tengah badai penderitaan tersebut?
Sampul Novel Crossing Love
9.6
Miya Tamama adalah gadis polos yang menyimpan trauma masa kecil hingga dunianya kehilangan warna. Di tengah hidup yang kelabu, muncul Tamama Kunai, putra konglomerat sekaligus investor di sekolahnya yang memberi warna baru di hati Miya. Meski mendapat kasih sayang dari kakaknya, dokter Koko Tamama, ternyata ada pria lain yang juga mengamati Miya secara rahasia. Akankah cinta sang pewaris mampu menyembuhkan luka lama dan mengubah takdir hidup Miya selamanya?
Sampul Novel Gairah Tersembunyi Bos Killer
8.6
Nina, lulusan terbaik yang penuh ambisi, harus menghadapi kenyataan pahit saat bekerja di bawah kendali Nathan. Sang bos yang dikenal kejam itu terus mempersulit langkahnya di kantor. Namun, suasana berubah drastis ketika sebuah lembur malam mengungkap sisi hangat Nathan yang tak terduga. Meski benih cinta mulai tumbuh, mereka terpaksa menjalin asmara secara sembunyi-sembunyi. Kini Nina terjebak dalam dilema antara karier, intrik kantor, dan rahasia besar.
Sampul Novel KASIH UNTUK FAITH
8.2
Faith Hoewar, pebisnis dingin yang membenci wanita, terpaksa menikahi dokter Kasih Alayah demi memenuhi wasiat Oma Meri yang sedang sakit. Meski awalnya menolak, Kasih pun tak kuasa menghindar karena hutang budi keluarganya pada sang Oma. Tanpa landasan cinta, pernikahan ini penuh rintangan emosional. Mampukah ketulusan Kasih mencairkan hati beku Faith yang penuh kebencian, ataukah perceraian menjadi satu-satunya jalan keluar bagi mereka berdua?
Sampul Novel OBSESI DAN KEINGINAN
9.1
Andy Alf adalah CEO perfeksionis yang terobsesi pada keteraturan. Di sisi lain, Camille yang rendah hati bekerja di perusahaan Andy demi membiayai pengobatan kanker ibunya. Meski Andy sudah bertunangan dengan wanita cantik, ia justru terobsesi pada Camille hingga melakukan tindakan nekat. Hubungan mereka pun berubah menjadi romansa beracun yang penuh keterikatan emosional ekstrem. Di ambang kegilaan, mampukah keduanya bersatu setelah melewati ribuan perpisahan?