APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO

Balas Dendam Sang CEO

Dahulu Adnan dicampakkan oleh kekasihnya karena kemiskinan yang ia derita. Wanita itu memilih pergi demi mengejar pria kaya. Sepuluh tahun berlalu, Adnan kembali dengan kekayaan melimpah untuk membalas rasa sakit hatinya. Namun, ia terkejut saat menemukan sang mantan kini justru menjadi wanita panggilan demi menyambung hidup. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi? Akankah Adnan tetap menjalankan dendamnya saat melihat kondisi tragis wanita itu?
Bab
Bagikan

Bab 1

Adnan duduk bersandar di sebuah sofa dengan satu tangan memegang gelas berisi red wine kesukaannya. Sesekali tangannya menggoyang pelan gelas tersebut hingga isi di dalamnya menjadi sedikit berputar mengitari gelas, membuat aroma harum yang manis dan khas menguar sampai ke indra penciuman lelaki itu. Kemudian, diteguknya sedikit minuman tersebut sembari menatap lekat ke arah sosok yang saat ini sedang berdiri di hadapannya dengan raut wajah pias.

"Kenapa berdiri saja di situ, Nona? Kemarilah, kamu bukannya salah orang. Memang aku yang memintamu untuk melayaniku," ujar Adnan pada sosok yang mematung itu.

Mau tak mau, orang yang dipanggil Adnan dengan sebutan nona tadi sedikit mengangkat wajahnya. Namanya Renata, seorang wanita penghibur yang sebelumnya memang sengaja dipesan Adnan untuk melayaninya malam ini. Dan sebenarnya, Adnan harus menempuh sebuah perjalanan hidup yang panjang sebelum bisa membawa perempuan ini berdiri di hadapannya seperti sekarang.

Usia perempuan itu relatif tak muda lagi, berkisar di awal tiga puluhan. Tapi wajah dan tubuhnya tak kalah menawan dibandingkan dengan para gadis belia. Apalagi dengan gaun malam berwarna merah marun yang saat ini tengah dikenakannya. Sangat pas membalut tubuh langsingnya yang memiliki kulit seputih susu. Membuatnya terlihat anggun sekaligus seksi.

"Kenapa? Kamu takut aku tidak mampu membayarmu karena tarifmu lumayan mahal?" tanya Adnan saat Renata tak juga bergerak dari tempatnya semula.

Wajah perempuan cantik itu terlihat agak memucat. Ekspresinya lebih tepat dikatakan syok ketimbang terkejut. Tampaknya butuh waktu agak lama baginya untuk meyakinkan diri jika lelaki yang akan menggunakan jasanya kali ini adalah Adnan, sosok yang tak asing baginya. Sosok yang selama sepuluh tahun ini tak pernah dia lihat lagi sehingga nyaris dia lupakan.

"Adnan …." Renata menyebut nama Adnan lirih, nyaris berbisik. Suaranya terdengar bergetar, seirama dengan seluruh tubuhnya yang juga ikut bergetar. Dari sekian banyak lelaki, kenapa harus lelaki ini yang sekarang menjadi pelanggannya. Apakah ini sebuah kebetulan? Tapi melihat raut wajah Adnan yang tak menunjukkan raut terkejut sama sekali, tampaknya lelaki itu sudah tahu jika Renata yang akan datang untuk melayaninya.

Mungkinkah lelaki yang tengah asyik menikmati red wine di hadapan Renata saat ini memang sengaja mengatur pertemuan mereka dalam situasi seperti sekarang?

"Senang sekali kamu masih mengingat namaku. Tidak disangka, ya, kita akan bertemu lagi setelah sekian lama," sahut Adnan sambil tersenyum tipis, kemudian menyesap sekali lagi minuman yang ada di tangannya.

Renata kembali bergeming. Lelaki itu tampak begitu santai melihat kehadirannya saat ini, namun menggunakan kata tak disangka dalam kalimat yang diucapkannya barusan, seolah mereka bertemu secara tak sengaja. Sungguh pernyataan yang bertolak belakang dengan kenyataan.

"Kamu tidak lelah hanya berdiri di situ?" tanya Adnan.

Pertanyaan itu membuyaran lamunan Renata, membuat perempuan itu tersadar pada situasi yang sekarang tengah dia hadapi. Dia tidak sedang bermimpi atau pun berhalusinasi. Lelaki yang menyewa jasanya malam ini adalah Adnan, seseorang yang pernah mengukir kenangan indah dalam hidupnya sebelum akhirnya harus dia tinggalkan karena keadaan.

Dengan langkah yang sedikit kikuk, akhirnya Renata mendekat ke arah Adnan dan duduk di hadapan lelaki itu. Renata sedikit menundukkan pandangannya, tak sanggup menatap wajah lelaki yang saat ini tengah tersenyum miring ke arahnya, senyuman yang menyimpan ejekan dan juga penghinaan tanpa kata.

"Kenapa segugup itu? Aku yakin kamu sudah sangat berpengalaman dalam melayani pelanggan-pelangganmu. Aku tak ada bedanya dengan mereka semua, jadi tidak perlu tegang seperti itu," ujar Adnan sambil meletakkan gelas red wine di tangannya. Wajahnya masih memperlihatkan senyuman asimetris yang jelas bertujuan merendahkan.

Tak ada yang bisa Renata katakan untuk menanggapi kata-kata yang dilontarkan Adnan. Dia justru semakin menunduk dengan mulut yang membisu. Sungguh tak disangka jika pada akhirnya dia akan bertemu lagi dengan lelaki ini saat sedang melakoni pekerjaan rendahnya.

"Atau kamu menganggap aku tak memiliki uang? Tenang saja, seperti kataku tadi, aku punya uang yang cukup untuk membeli pelayananmu. Barusan aku sudah mentransfer penuh pembayaran pada bosmu" ujar Adnan lagi sembari bangkit dari duduknya.

Adnan mendekat ke arah Renata dan duduk persis di samping perempuan itu. Tangannya terulur meraih dagu Renata dan mengarahkan agak Renata melihat ke arahnya.

"Dan jika kamu bisa memuaskanku, tentu saja aku akan memberimu tip yang sesuai," gumam Adnan lagi.

Renata menelan ludahnya dengan agak kesulitan. Seperti ada yang mencekik lehernya saat dia mendengar gumaman rendah yang dilontarkan Adnan barusan. Selama ini, dia tahu jika pekerjaannya adalah pekerjaan yang teramat sangat kotor, tapi baru kali ini dia benar-benar merasa hina sampai tak sanggup hanya untuk sekedar mengangkat wajahnya.

"Lihat aku, Renata!" titah Adnan dengan suara yang tak ingin dibantah. Cengkramannya di dagu Renata semakin menguat saat perempuan itu tak juga mengangkat pandangan untuk melihat ke arahnya.

"Tidak mungkin kamu bersikap seperti ini di hadapan pelanggan-pelangganmu yang lain, jadi lakukan seperti biasanya kamu melakukan itu bersama mereka. Aku sudah membelimu untuk malam ini, jadi aku berhak mendapatkan pelayanan yang memuaskan!" Adnan akhirnya berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Sepertinya dia agak kesal pada Renata yang sejak tadi hanya bisa diam.

Renata memberanikan diri mengangkat wajahnya dengan dada yang bergemuruh tak menentu. Dia melihat kilatan kemarahan di mata Adnan, juga sorot mata penuh kebencian. Seperti ada yang menancap di dadanya melihat tatapan itu, terasa sakit dan juga menyesakkan.

"Maaf," gumam Renata akhirnya dengan suara yang masih terdengar agak bergetar. Perempuan itu kembali menunduk, lalu menghela nafasnya sejenak. Setelah beberapa saat, barulah sekali lagi dia mengangkat wajahnya dan menatap Adnan dengan tatapan yang lebih berani daripada sebelumnya.

"Anda lebih suka permainan seperti apa?" tanya Renata kemudian setelah berhasil menguasai dirinya. Dia bertanya dengan bahasa formal yang sopan, seperti saat dia melayani pelanggan-pelanggannya yang lain.

Kali ini Adnan yang tertegun dibuatnya. Dia agak terkesiap melihat Renata yang sudah terlihat lebih tenang daripada sebelumnya.

"Terkadang pelanggan saya punya permintaan terkait dengan gaya permainan kesukaan mereka. Makanya saya bertanya, Anda suka permainan yang seperti apa?" ulang Renata lagi. Sekuat tenaga dia berusaha membuat suaranya tak terdengar bergetar seperti sebelumnya, meski dadanya masih bergemuruh hebat.

Berganti Adnan yang menghembuskan nafas kasar. Entahlah, dia jadi merasa kesal melihat Renata tak lagi gugup dan kebingungan seperti tadi.

"Aku tidak punya permintaan khusus. Kerahkan saja kemampuanmu sebisa mungkin untuk membuatku puas," sahut Adnan kemudian dengan suara yang dingin.

Renata mengangguk. Dia meletakkan tas tangan yang sedari tadi dipegannya, kemudian kembali beralih ke arah Adnan. Perempuan itu tak punya pilihan selain melakukan tugasnya melayani Adnan, seperti halnya dia melayani lelaki lain yang memakai jasanya.

Dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan, Renata mendekatkan tubuhnya pada tubuh Adnan, tampak hendak mulai memulai pekerjaannya.

"Tunggu dulu," tahan Adnan saat Renata hendak mendekatkan wajah mereka untuk memberikan cumbuan.

"Bersihkan dirimu dulu!" titah Adnan dengan suara yang dingin seperti sebelumnya.

Renata agak tertegun dengan wajah yang terlihat tak mengerti. Tentu saja sebelum pergi menemui setiap pelanggannya, Renata sudah mandi, bahkan berendam dalam air yang dicampur dengan aroma terapi terlebih dahulu. Setelah berpakaian pun dia akan menggunakan parfum mahal, sehingga dari tubuhnya menguar aroma harum yang menggoda. Hal yang biasanya membuat pelanggan lain akan langsung menerkam tubuhnya tanpa basa basi karena tak tahan dengan godaan aroma tersebut.

"Karena pekerjaanmu adalah menjajakan tubuh, jadi bisa saja sebelum datang kemari, kamu lebih dulu melayani pelanggan lain dan tidak membersihkan diri lagi. Aku tidak mau mengambil resiko merasakan peluh lelaki lain di tubuhmu, jadi lebih baik kamu mandi dulu sampai tak ada aroma lelaki lain. Setelah itu, baru melayaniku." Adnan menjelaskan tanpa merasa bersalah sedikit pun. Tentu saja, karena tujuannya menyewa jasa Renata adalah untuk merendahkan dan mempermalukan perempuan itu secara langsung.

Renata tertegun, lalu tersenyum miris. Kini dia menyadari apa yang Adnan coba lakukan padanya. Lelaki itu tiba-tiba muncul di hadapannya sebagai seorang pelanggan tak lain karena ingin membalas apa yang pernah dirinya lakukan di masa lalu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah, Tapi Bukan Untuk Dicintai
9.6
Terdesak utang, Lana menerima tawaran Valerie untuk menggoda ayahnya, Cedric Vellani, demi membatalkan pernikahan pria kaya itu dengan wanita pemburu harta. Namun, Cedric yang dingin tak mudah ditaklukkan. Lana justru terjebak dalam pesona sang target hingga hubungan transaksional mereka berubah jadi perasaan terlarang. Saat Valerie merasa dikhianati, Lana harus memilih antara uang atau cinta yang berawal dari kebohongan. Akankah ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Babu Kumal VS CEO Kutub Utara
8.4
Terryn dikirim ibunya untuk tinggal bersama sahabat lamanya, Ibu Imelda. Meski dididik menjadi wanita berpendidikan, Terryn justru diperlakukan bak pembantu oleh Deva, putra bungsu Imelda yang dingin dan angkuh. Konflik memuncak hingga sebuah peristiwa besar memaksa mereka menikah atas keinginan Imelda. Terryn yang mencintai Deva harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya tetap tak acuh. Namun, saat Deva mulai luluh, Terryn justru pergi menjauh darinya.
Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta adalah wanita tangguh yang fokus pada karier meski sering diremehkan karena penampilannya yang bersahaja. Pernah dicampakkan akibat perbedaan kasta, ia bertekad membuktikan nilainya tanpa banyak bicara. Kehidupannya berubah saat bertemu Evan, seorang pengusaha duda sukses. Kini, mereka harus bersatu menyelidiki dalang di balik kekacauan perusahaan masing-masing, sembari berjuang mempertahankan cinta yang terus diterjang badai dan dendam masa lalu.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel Dikejar Oleh Sang Miliarder
9.6
Kayla Herdian kembali ke masa lalu demi membalas dendam setelah dikhianati suami dan mertuanya hingga tewas mengenaskan. Dulu hidupnya hancur, namun kini ia bangkit untuk menghancurkan para musuh dan membawa bisnis keluarganya ke puncak kejayaan. Di tengah ambisinya, seorang miliarder dingin yang dulu tak terjangkau justru datang mendekat. Pria itu kini terang-terangan merayu Kayla, memohon kesempatan untuk menjadi pendamping di pernikahan keduanya.
Sampul Novel Gadis Nakal Miliarder
8.4
Serafhine Ariana menjalani profesi unik di dunia daring dengan menawarkan jasa khusus bagi pria tanpa harus mengorbankan kesuciannya. Meski banyak pelanggan merasa puas dan bersedia membayar mahal, Serafhine memiliki prinsip yang sangat teguh dalam bekerja. Ia hanya melayani satu klien untuk satu malam saja. Baginya, tidak ada kesempatan kedua bagi siapa pun, karena ia secara tegas menolak pesanan berulang meskipun ditawari imbalan yang sangat tinggi.