APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BAYANGAN CINTA DI MASA SILAM

BAYANGAN CINTA DI MASA SILAM

Alia mengemudikan mobilnya dengan perlahan, melintasi jalanan berliku di tengah hamparan kebun teh yang luas. Harum tanah basah dan pucuk daun yang berpadu dengan sejuknya embun pagi seketika membangkitkan kenangan lama dalam benaknya. Setelah sekian lama merantau, ini adalah momen pertamanya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Perjalanan ini bukan sekadar pulang, melainkan sebuah pertemuan kembali dengan memori masa lalu yang telah lama ia tinggalkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Alia mengambil ponselnya, jari-jarinya gemetar saat menekan nomor Raka. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya.

"Halo, Raka?" suaranya bergetar.

"Alia?" Raka menjawab dengan nada terkejut. "Kamu sudah bangun?"

"Iya, aku sudah bangun. Aku ingin bicara denganmu."

"Ada apa, Alia?" Raka bertanya dengan nada khawatir.

Alia terdiam sejenak. "Aku... aku sudah memutuskan."

"Memutuskan apa, Alia?"

"Aku... aku akan kembali ke kampung halaman."

Raka terdiam di seberang telepon. Alia bisa mendengar napas Raka yang tersengal-sengal.

"Alia, apa kau yakin dengan keputusan ini?" tanya Raka. "Kau tahu bahwa hidup di kampung halaman tidak mudah. Kau akan meninggalkan semua yang telah kau bangun di Jakarta."

"Aku tahu, Raka," jawab Alia. "Tapi, aku sudah memikirkan semuanya. Aku ingin kembali ke tempat di mana aku merasa bahagia. Aku ingin kembali ke tempat di mana aku merasa dicintai."

Raka terdiam lagi. Alia bisa merasakan keraguan dalam dirinya.

"Alia, aku... aku menunggumu selama ini. Aku selalu menunggumu," kata Raka. "Aku sangat bahagia mendengar keputusanmu. Tapi, aku juga khawatir. Aku takut kau akan menyesal."

"Aku tidak akan menyesal, Raka," jawab Alia. "Aku yakin dengan keputusan ini."

"Baiklah, Alia," kata Raka. "Aku akan menunggumu di kampung halaman."

Alia tersenyum. Ia merasa lega setelah akhirnya membuat keputusan. Ia merasa seperti telah menemukan jalan keluar dari labirin yang rumit.

"Aku akan segera pulang, Raka," kata Alia. "Aku akan bertemu denganmu di kampung halaman."

"Aku menunggumu, Alia," jawab Raka.

Alia memutuskan panggilan telepon. Ia merasa seperti beban berat telah terangkat dari pundaknya. Ia merasa lega, bahagia, dan sedikit gugup.

Ia telah membuat keputusan yang sulit, namun ia yakin dengan keputusannya. Ia akan kembali ke kampung halaman, kembali ke Raka, dan memulai hidup baru.

Mobil Alia melaju perlahan menelusuri jalan berkelok yang membelah perkebunan teh hijau membentang luas. Aroma tanah basah dan daun teh bercampur dengan embun pagi, membangkitkan nostalgia dalam dirinya. Rasa gugup dan haru bercampur aduk dalam hatinya.

Ia telah kembali ke kampung halamannya, tempat di mana ia dibesarkan, tempat di mana ia bertemu dengan Raka, cinta pertamanya.

Mobil Alia berhenti di depan rumah neneknya. Rumah kayu tua itu masih berdiri kokoh, meskipun tampak sedikit usang. Alia turun dari mobil, matanya tertuju pada taman kecil di depan rumah. Taman yang dulu dipenuhi bunga-bunga warna-warni, kini hanya tersisa beberapa tanaman kering.

"Alia?"

Suara itu membuat Alia tersentak. Ia menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu. "Pak Darto?" tanyanya.

"Ya, Alia. Kamu sudah datang." Pak Darto tersenyum hangat. "Raka sudah menunggumu di sana." Ia menunjuk ke arah gubuk kecil di tengah kebun teh.

Alia mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia merasakan debar jantung yang semakin kencang. Ia berjalan menuju gubuk kecil itu, kakinya terasa berat.

Setibanya di gubuk, Alia melihat Raka sedang duduk di teras, sedang mengupas kulit kacang. Pria itu mengenakan baju kaos oblong dan celana pendek, rambutnya sedikit memutih di bagian pelipis. Ia menoleh saat Alia mendekat, matanya berbinar-binar.

"Alia," katanya, suaranya bergetar.

Alia tersenyum tipis. "Raka."

Mereka berdiri terdiam, saling menatap dalam diam. Seolah-olah waktu berhenti berputar, membawa mereka kembali ke masa lalu, ke saat mereka masih muda dan saling mencintai.

"Kau sudah datang," kata Raka. "Aku sangat bahagia."

Alia mengangguk. Ia merasakan air mata mengalir di pipinya. Ia merasa seperti telah kembali ke rumah, kembali ke tempat di mana ia merasa aman dan dicintai.

"Aku sudah memutuskan untuk kembali ke sini, Raka," kata Alia. "Aku ingin memulai hidup baru bersamamu."

Raka tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia meraih tangan Alia, menggenggamnya erat.

"Aku menunggumu selama ini, Alia," kata Raka. "Aku selalu menunggumu."

Alia tersenyum. Ia merasa seperti telah menemukan tempatnya, tempat di mana ia merasa bahagia dan dicintai.

Alia menghabiskan beberapa hari pertama di kampung halaman dengan bernostalgia. Ia berjalan-jalan menyusuri jalan setapak di perkebunan teh, mengunjungi rumah neneknya yang sudah kosong, dan bertemu dengan teman-temannya yang sudah berkeluarga.

Ia merasakan kembali keakraban dan kehangatan yang pernah ia rasakan di masa kecil. Namun, ia juga merasakan perbedaan yang mencolok antara kehidupan di Jakarta dan kehidupan di kampung halaman.

Kehidupan di Jakarta terasa cepat, penuh dengan ambisi dan persaingan. Sedangkan kehidupan di kampung halaman terasa lebih lambat, lebih sederhana, dan lebih penuh dengan nilai-nilai kebersamaan.

Alia mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru. Ia membantu Raka bekerja di kebun teh, belajar cara mengolah daun teh, dan membantu Bu Tini mengurus kebun sayur di belakang rumah.

Meskipun awalnya merasa canggung, Alia perlahan mulai menikmati kehidupannya yang baru. Ia merasa tenang dan damai, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.

Ia juga mulai membangun kembali hubungannya dengan Raka. Mereka menghabiskan waktu bersama di kebun teh, bercerita tentang masa lalu, dan merencanakan masa depan.

Alia menyadari bahwa Raka adalah pria yang tulus dan penyayang. Ia selalu ada untuk Alia, selalu mendukungnya, dan selalu membuatnya merasa dicintai.

Namun, Alia juga menyadari bahwa Raka adalah pria yang sederhana dan tidak ambisius. Ia tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan kampung halaman dan mengejar karir di kota.

Alia merasa sedikit khawatir. Ia takut bahwa perbedaan mereka akan menjadi penghalang bagi hubungan mereka.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di teras gubuk, Alia mengungkapkan ketakutannya kepada Raka.

"Raka," kata Alia. "Aku sedikit khawatir. Aku takut kita akan memiliki perbedaan yang besar. Aku berasal dari kota, dan aku terbiasa dengan kehidupan yang cepat dan penuh ambisi. Sedangkan kau, kau terbiasa dengan kehidupan yang sederhana dan tenang di kampung halaman."

Raka tersenyum, menggenggam tangan Alia. "Alia, aku tahu kita memiliki perbedaan. Tapi, aku mencintaimu apa adanya. Aku tidak ingin kau berubah. Aku hanya ingin kau bahagia."

Alia terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia merasa tersentuh dengan kata-kata Raka. Ia menyadari bahwa Raka mencintainya dengan tulus, dan ia tidak akan pernah meminta Alia untuk mengubah dirinya.

"Terima kasih, Raka," kata Alia. "Aku juga mencintaimu. Aku akan belajar untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini. Aku akan belajar untuk hidup sederhana dan bahagia."

Raka tersenyum. Ia merasa lega karena Alia telah menerima dirinya apa adanya. Ia yakin bahwa mereka akan bisa membangun kehidupan yang bahagia bersama.

Alia dan Raka duduk di teras gubuk, menikmati secangkir teh hangat. Matahari sore mulai terbenam, langit berwarna jingga keemasan.

Alia menatap Raka yang sedang mengaduk tehnya. Ia teringat saat pertama kali bertemu dengan Raka di kebun teh, saat mereka masih anak-anak. Waktu terasa berlalu begitu cepat.

"Raka," kata Alia, "aku ingin membuka usaha di sini. Aku ingin memanfaatkan keahlian desainku untuk membuat produk-produk yang bisa membantu masyarakat di sini."

Raka terkejut. "Kau ingin membuka usaha di sini, Alia? Apa kau yakin?"

Alia mengangguk. "Aku yakin. Aku ingin memanfaatkan keahlian yang kumiliki untuk membantu orang lain. Aku ingin membuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat di sini."

Raka tersenyum. "Aku mendukungmu, Alia. Aku akan membantumu."

Alia merasa senang mendengar kata-kata Raka. Ia merasa bahwa ia tidak sendirian dalam membangun mimpi barunya.

"Aku ingin membuat produk kerajinan tangan dari bahan-bahan lokal," kata Alia. "Seperti tas, dompet, dan aksesoris lainnya. Aku ingin membuat produk yang unik dan berkualitas, dan bisa dijual di pasar lokal maupun internasional."

Raka mengangguk. "Ide bagus, Alia. Aku yakin produkmu akan laku keras. Masyarakat di sini sangat kreatif dan terampil. Aku yakin mereka akan antusias untuk bekerja sama denganmu."

Alia tersenyum. Ia merasa semangat untuk mewujudkan mimpinya.

"Aku juga ingin membuat program pelatihan untuk para perempuan di sini," kata Alia. "Aku ingin mengajarkan mereka cara membuat kerajinan tangan dan cara berbisnis. Aku ingin membantu mereka untuk meningkatkan taraf hidup mereka."

Raka terdiam sejenak, matanya berbinar-binar. "Alia, kau wanita yang luar biasa. Kau memiliki mimpi besar dan kau ingin membantu orang lain untuk meraih mimpinya."

Alia tersenyum. Ia merasa bahagia karena Raka mendukung mimpinya.

"Aku akan membantumu, Alia," kata Raka. "Aku akan bekerja keras untuk mewujudkan mimpi kita bersama."

Alia menggenggam tangan Raka. Ia merasa yakin bahwa mereka akan bisa mewujudkan mimpi mereka bersama.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After a Breakup
9.0
Arya menyimpan rahasia gelap di balik kemegahan keluarganya yang memicu mimpi buruk berkepanjangan. Alisha yang merasa dikhianati memutuskan pergi untuk melupakan cinta dan luka yang diberikan pria pujaannya itu. Meski Arya tega mencampakkannya saat perasaan sedang membara, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Jarak yang tercipta hanya sementara, memaksa keduanya menghadapi keterikatan kuat yang belum usai di antara misteri dan asa yang tersisa.
Sampul Novel Demi Anak, Kuterima Hinaan Mertua
8.7
Keira terpuruk setelah perusahaannya nyaris bangkrut dan tunangannya berkhianat demi wanita kaya. Di tengah keputusasaan, ia melarikan diri ke kelab malam hingga mabuk berat. Takdir buruk membawanya terbangun di ranjang yang sama dengan Aksel Sanjaya, CEO dingin di kantornya sendiri. Kini, Keira dan Aksel terjebak dalam konsekuensi rumit akibat satu malam tragis tersebut. Bagaimana mereka menghadapi perubahan hidup yang tidak terduga ini?
Sampul Novel I love you Mas duda
9.3
Demi membalas budi, Meysa bersedia dijodohkan dengan Harry, seorang duda beranak dua. Meski benih cinta mulai tumbuh dan rencana pernikahan disusun, rintangan besar menghadang dari mantan istri Harry. Sang mantan tak henti mengusik, mulai dari menghasut anak-anak agar membenci Meysa, menyebar fitnah keji di kantor, hingga melakukan sabotase fisik untuk menggagalkan akad mereka. Akankah ketulusan Meysa mampu mengalahkan segala tipu daya jahat sang mantan istri?
Sampul Novel Mari Selingkuh
8.3
Julia, mahasiswi Hukum Tata Negara, tewas mengenaskan setelah jatuh dari gedung tinggi. Tak disangka, ia terbangun kembali di dalam dunia webtoon sebagai Ranesha, seorang karakter sampingan yang bernasib malang. Bertekad mengubah takdir tragisnya, ia nekat mendekati atasannya yang bernama Hail Delmara. Julia pun melancarkan aksi berani dengan mengajak suami dari tokoh utama tersebut berselingkuh. Akankah misi Ranesha merebut hati Hail berhasil?
Sampul Novel Princess and The Secret
9.7
Zia, supermodel papan atas keturunan bangsawan Timur Tengah, terpaksa menyamar demi melindungi keluarganya dari krisis besar. Ia mengubah identitasnya menjadi Ara Bella untuk menjalankan misi rahasia. Namun, keberhasilan misinya justru berujung pilu. Reikhan Edward merasa dikhianati dan mempertanyakan keaslian hubungan mereka. Di sisi lain, Zia mengakui bahwa tujuannya mendekat hanyalah demi membongkar kebohongan keluarga Reikhan, meski hatinya harus terluka.
Sampul Novel Tahan Nafsumu Tuan Jenderal
7.9
Fang Ru Lan, perampok gunung dermawan dari Dinasti Tang, tewas akibat dikhianati sahabatnya meski sempat dibantu oleh musuh bebuyutannya, Jenderal Song Kwan Xin. Sang jenderal jujur itu rupanya selalu sengaja mengalah dalam pertarungan mereka. Bertekad membalas budi, Ru Lan bereinkarnasi ke abad 21 dalam tubuh gadis muda. Di zaman modern yang asing ini, ia memulai pencarian sulit untuk menemukan kembali sosok sang jenderal demi menepati janji setianya.