APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bekas Pacar ( Indonesia )

Bekas Pacar ( Indonesia )

Zetaya Diajeng Jayanti menutup rapat hatinya setelah dikhianati cinta masa lalu dan gagal membina rumah tangga. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Andaru Ansel Bratadikara, mantan kekasih masa SMA yang juga berstatus duda. Meski Zeta berusaha menolak mentah-mentah, Daru terus mengusik hidupnya dengan kenangan manis dan godaan yang intens. Di tengah kebencian dan trauma, akankah Zeta luluh pada rayuan Daru atau tetap teguh menghindari luka lama?
Bab
Bagikan

Bab 2

Daru memijat pangkal hidungnya lelah. Pemberitaan tentang dirinya dan sang mantan istri masih terus ramai diperbincangkan media.

Apa sih mau mantan istrinya itu?? Bukankah mereka sudah sepakat untuk berpisah? Mengapa kini malah bikin heboh khalayak luas?! Terlebih dirinya yang dicap jelek orang-orang karena tidak mau berkorban demi kebahagiaan anak mereka.

Evan Rahadian Bratadikara... Anak lucunya yang berusia lima tahun itu.

Bukannya Daru ingin egois, tapi untuk apa pernikahan dipertahankan jika tak ada cinta untuk Rebecca. Bukankah anaknya akan lebih kasihan lagi jika hidup di dalam kepura-puraan?

"Papa!"

Daru langsung menjauhkan tangannya dari pangkal hidung yang sejak tadi dipijatnya itu. Wajahnya semringah saat sang jagoan menghampirinya dengan membawa mainan robot-robotan di tangannya.

"Hai, Boy!" Daru langsung menangkap tubuh mungil itu, lalu memangku anak tersayangnya, kebanggaannya.

Daru memperhatikan wajah sang anak yang duduk menyamping di pangkuannya. Hidung dan bibir sang anak sangat mirip dengannya. Terima kasih untuk Rebecca, yang telah melahirkan anak setampan ini.

Pria ini mengusap sayang rambut tebal Evan. "Kenapa bangun?"

"Papanya enggak ada!"

Daru tertawa renyah melihat wajah merajuk anak manjanya ini. Anaknya selalu seperti ini, akan terbangun dari tidur jika Daru tak ada di sampingnya dalam waktu yang lama. Makanya sebisa mungkin, Daru akan tiba di rumah tidak lebih dari pukul delapan malam, kecuali jika ada pekerjaan yang mau tak mau membuatnya lembur bahkan sampai pagi.

"Ya udah, sekarang tidur lagi ya, Boy... Papa juga mau tidur. Lagian juga besok Evan sekolah kan?" Daru langsung bangkit dari duduk, lalu menggendong sang anak menuju kamar pribadinya. Walaupun Evan sudah punya kamarnya sendiri yang berada tepat di samping kamar Daru, tapi anak itu lebih sering tidur bersama sang papa.

"He em... Papa sama Mami yang anterin aku ya?" tanya sang anak yang sudah merangkul leher Daru dengan mainan robot yang masih berada di tangannya.

Daru berhenti melangkah. Senyum yang tadi terbit luntur seketika. Apakah anaknya sekeras ini ingin agar Daru dan Rebecca kembali bersama?

Daru meredakan tenggorokan yang tak gatal, lalu kembali melangkah. Pria ini kembali memasang senyum, kali ini senyum dipaksakan.

"Mami lagi banyak kerjaan. Mungkin, besok Mami ikut papa jemput Evan pulang."

"Yeyyy!! Kita jallan-jallan dullu ya, Papa, besok pas aku pullang sekollah!" Semringah Evan, yang dibalas Daru tawa geli dan anggukan kepala.

Dalam hati, Daru merasa enggan menghubungi Rebecca. Pria ini masih kesal oleh ulah Rebecca yang menurutnya sembarangan itu. Tapi kalau tidak, kasihan anaknya yang sudah berharap lebih.

***

"Mama!"

Zeta melambaikan tangan sambil tersenyum lebar saat sang anak berlari ke arahnya sambil menggendong tas punggung bergambar barbie. Setelah sang anak sampai di depannya, Zeta menumpukan lutut di atas tanah, lalu mengusap sayang keringat yang membanjiri dahi sang anak.

"Maaf mama telat."

"Enggak apa-apa. Aku ditemenin sama temen akuh." Misha menunjuk bocah laki-laki yang berjalan menghampiri mereka dengan seorang pria dewasa di sebelah bocah itu yang menggandeng tangan sang bocah laki-laki.

Zeta mengulas senyum lembut ke arah sang bocah, lalu mengalihkan pandangan ke arah pria di samping teman anaknya itu.

Deg...

Senyum Zeta luntur seketika saat melihat wajah itu. Wajah yang semalam menjadi pemberitaan hangat di mana-mana bahkan sampai sekarang. Jantung Zeta berdetak sangat kencang seperti habis mengikuti lomba lari maraton. Pria itu... pria yang tak pernah dilihatnya selama hampir sepuluh tahun, kini berdiri di hadapannya?

Terlihat sang pria pun terkejut luar biasa. Tatapan mereka bertemu.

"Misha, kamu mau ikut aku enggak?" tanya sang bocah laki-laki pada anak Zeta, yang membuat Zeta tersadar, lalu memutuskan tatapannya dan sang pria terlebih dahulu.

Zeta kembali berdiri, lalu memegang kedua bahu sang anak dari belakang, karena anaknya kini berhadapan dengan bocah laki-laki yang bisa Zeta yakini adalah anak dari mantannya yang berengsek ini.

"Ke mana?"

"Aku mau jallan-jallan sama Papa dan Mamiku!" seru sang bocah laki-laki heboh.

"Wahh!!! Enak!!!" Misha membalikkan tubuh ke arah Zeta, lalu menengadahkan kepala untuk menatap sang mama, tatapan penuh harap. "Boleh ikut sama Epan enggak, Ma?"

Zeta terdiam kaku beberapa saat ketika mendengar pertanyaan sang anak. Lalu tak berapa lama, Zeta tersenyum lembut sambil mengusap rambut Misha yang diikat dua itu dengan lembut.

"Ehm... Sayang, Misha lupa ya, kalau Ayah udah nunggu mau makan siang bareng kita?"

Misha langsung membolakan matanya terkejut, karena sepertinya teringat atas apa yang baru saja Zeta katakan. Bocah perempuan ini kembali berbalik, lalu menatap temannya. "Maaf, akuh lupa mau makan sama Ayahkuh di kape Mama."

"Yaaa...” seru bocah laki-laki itu terlihat kecewa.“Ya udah, llain kalli kita jallan-jallan sama Papa Mami aku ya," ucap sang bocah kembali, yang langsung diangguki Misha.

"Ehm, nama kamu siapa?" tanya Zeta pada teman sang anak, tanpa peduli pria yang sejak tadi berdiri di samping bocah laki-laki itu menatapnya tak berkedip.

"Evvan, Tante."

"Wah, namanya bagus banget!" seru Zeta heboh seolah mendapat jackpot, yang dibalas Evan tawa renyah. "Makasih ya, Evan udah mau nemenin Misha sampai tante datang."

"Sama-sama, Tante. Evvan juga llagi tunggu Mami, iya kan Pa?" tanya Evan pada sang papa yang masih betah menatap Zeta yang kali ini memasang wajah tak suka ke arahnya.

Apa-apaan mantannya ini?! Menatapnya seperti tak pernah melihat wanita saja!

"Pa~" rengek Evan yang akhirnya menyadarkan Daru.

"E-eh ya, kenapa, Boy?" tanya Daru gelagapan.

Sial!

Dia terlalu terkejut namun terpesona secara bersamaan, saat kembali menatap wajah itu, wajah manis dengan rambut merah seperti dulu, rambut merah alami yang dimiliki mantan kekasihnya itu. Wajah sang mantan kekasih, terlihat jauh lebih dewasa dan semakin bersinar. Pakaian sederhana yang dipakai sang mantan, kaos lengan tujuh per delapan berwarna merah jambu serta celana jeans pas body, malah membuat penampilan sang mantan persis seperti anak muda yang belum mempunyai anak.

Double sial! Mengapa dia seperti pria keganjenan yang naksir sama istri orang?! Sadarlah, Daru, mantanmu sudah menikah dan punya anak!

"Tadi aku billang, kallau kita llagi tunggu Mami."

Daru kembali ke alam nyata, saat sang anak mengingatkan mengapa mereka masih ada di sekolah sang anak sejak setengah jam yang lalu.

"Mami jadi datang kan, Pa?" tanya sang anak kembali.

"Ehm... Ya—"

"Sayang~ maaf mami telat!"

Wajah Daru langsung berubah datar saat tiba-tiba sang mantan istri sudah berada di depannya, lalu memeluk tubuh anak mereka. Daru berdecak kesal karena pakaian Rebecca yang terbuka di mana-mana. Apakah wanita ini tak bisa berpakaian sopan saat bersama anak mereka?!

"Maaf aku telat, Pa..." ucap Rebecca lembut sambil menatap Daru penuh cinta.

Ingin sekali Daru mendengus kasar. Namun ditahannya karena ada anak mereka.

"Ya udah ayo jalan," balas Daru datar. Namun tiba-tiba, tubuh pria ini menegang karena baru teringat jika masih ada Zetaya dan anaknya di depan mereka.

"Ehm... Ma-Mamanya Misha, saya... saya permisi dulu ya," ucap Daru canggung, yang hanya dibalas sang mantan anggukan singkat dengan wajah datar. Daru mengalihkan pandangan ke arah bocah perempuan berambut merah, rambut yang mirip dengan mantannya. Sebenarnya sejak tadi Daru sudah memperhatikan rambut teman anaknya itu. Rambut merah yang sangat jarang dimiliki penduduk asli negara ini. Rambut yang mengingatkannya pada sang mantan kekasih. Dan benar saja, ternyata teman anaknya adalah anak dari mantan kekasih yang pernah disakitinya itu.

"Om pulang dulu ya," ucap Daru sambil tersenyum lembut, lalu mengusap sayang rambut anak mantan kekasihnya ini.

"Makassihh ya, Om, udah temenin akuh."

"Sama-sama, Sayang."

"Pa, ayo, sepertinya Evan sudah tidak sabar ingin bermain dengan kita~" ucap Rebecca dengan nada manja. Wanita ini menatap penampilan Zeta dari atas sampai bawah, lalu senyum meremehkan terbit dari bibirnya. "Saya pikir tadi Anda itu baby sitter temannya Evan. Ternyata mamany—"

"Kamu sebaiknya ajak Evan ke mobil lebih dulu, Becca!" sentak Daru tak suka. Mantan istrinya ini masih saja suka menghina orang terang-terangan sejak dulu.

Rebecca melebarkan matanya tak terima. Namun langsung mengikuti ucapan mantan suaminya itu, karena wajah Daru terlihat tak bersahabat saat ini.

Setelah kepergian Rebecca dan Evan, Daru kembali menatap Zeta, kali ini dengan tatapan permohonan maaf.

"Maaf, Becca gak berma—"

"Gak masalah, Papanya Evan. Saya sudah biasa dibilang seperti ini hanya karena saya tidak suka pakai pakaian mewah untuk menjemput anak saya. Kalau begitu, saya permisi dulu ya, karena Ayahnya Misha sepertinya sudah menunggu kami. Terima kasih karena sudah menemani anak saya. Selamat siang, Papanya Evan," ucap Zeta panjang lebar sambil menyunggingkan senyum formal walaupun hatinya kesal bukan main karena ucapan sinis mantan istri dari mantan kekasihnya ini. Wanita ini segera berbalik menuju ke arah parkiran motor sambil menggandeng tangan anaknya.

"Sialan tuh cewek! Apa salahnya aku pakai baju seadanya kayak gini?! Mentang-mentang ini sekolah mahal, terus aku harus banget jemput anakku pakai baju kebaya dan rambut disanggul kayak mau kondangan? Atau aku harus pakai baju kurang bahan kayak dia tadi? Cih! Aku nyesel semalem puji-puji dia cantik! Gak taunya, muka gak sebanding sama hati dia yang busuk!" gerutu Zeta di sela langkah kakinya.

"Apa, Ma?"

Zeta langsung menghentikan langkah dan gerutuannya, karena tersadar jika dirinya tidak sedang sendiri. Bodoh! Mengapa dia lupa kalau anaknya ada di sini.

"Ma-mama gak ngomong apa-apa kok, Sayang. Ya udah yuk, Nak, Ayah pasti udah nunggu." Zeta kembali melanjutkan langkahnya, kali ini sambil menanyakan berbagai kegiatan yang dilakukan anaknya di sekolah, berusaha melupakan kekesalannya pada Rebecca.

Sementara itu, Daru menatap punggung indah wanita itu yang semakin menjauh dari pandangan. Pria ini menghela napas berat.

"Aku senang kamu baik-baik aja, Aya..." lirih Daru dengan jantung berdetak kencang. "Semoga kamu bahagia..." lirih Daru kembali, kali ini dengan hati yang nyeri.

"Shit!" umpat Daru tiba-tiba. Mengapa dia harus merasa nyeri melihat Zeta bahagia bahkan sudah berkeluarga? Bukankah dia yang salah karena dulu melepas Zeta?

"Berengsek!" umpat Daru kembali sambil menyugar rambutnya frustasi.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dosa Terindah Bersama Sang Primadona
9.6
Setiap malam, Lucy menyamar sebagai Rose, primadona klub malam yang menggoda namun tetap menjaga kesuciannya meski ditawar mahal. Reputasinya menarik perhatian Rookie, seorang playboy yang terobsesi menaklukkan wanita yang belum pernah menolaknya itu. Namun, pertemuan mereka justru mengungkap rahasia masa lalu yang rumit. Kini, keduanya terjebak antara pilihan untuk merajut kembali cinta lama yang tertunda atau merelakan perasaan demi menjalani hidup masing-masing.
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Iris Barcova terpaksa menjalani kehidupan kelam sebagai PSK demi membiayai ayah dan adiknya. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius keturunan mafia menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi medis bagi ayahnya. Meski ada dokter tulus yang mencintainya, Iris justru terjebak dalam dilema hati. Namun, kenyataan pahit mulai terungkap bahwa pria yang ia anggap penyelamat mungkin adalah dalang di balik segala tragedi dan kesialan yang menimpa hidupnya selama ini.
Sampul Novel Istri Yang Dicampakkan Menjadi Sultan
8.9
Lima tahun membina rumah tangga, Alia justru dikhianati Farhan yang meminta cerai demi wanita lain setelah pulang merantau. Meski hancur, Alia bertekad bangkit dan menyembuhkan luka hatinya sendirian. Saat hidupnya mulai membaik dan kesuksesan datang menghampiri, Farhan tiba-tiba muncul kembali. Mantan suaminya itu berusaha merayu dan menawarkan kenyamanan agar mereka bisa rujuk. Kini, Alia harus memilih antara ketenangan hidupnya atau kembali pada masa lalu.
Sampul Novel One Night Stand
9.8
Seo Inha tak menyangka liburan solonya di Bali berujung pada malam tak terduga bersama Lee Yeon, pewaris kaya yang sedang patah hati. Akibat salah minum ramuan dan mabuk, Inha masuk ke kamar Yeon hingga ia hamil. Yeon memutuskan menikahi Inha demi tanggung jawab meski tanpa cinta. Di tengah pernikahan kontrak mereka, perhatian Yeon mulai tumbuh, namun mantan kekasihnya mendadak kembali untuk merebut posisinya. Akankah Inha bertahan saat masa lalu Yeon datang mengganggu?
Sampul Novel Pelangi di Ujung Senja
9.5
Dunia ini tidak menawarkan kesempurnaan, begitu pun kisah cinta Reza dan Arini. Meski Reza adalah pria pertama yang menyentuh hatinya, Arini harus menghadapi kenyataan pahit tentang pengorbanan. Mencintai berarti siap merelakan, bahkan saat perasaan itu terasa seperti fatamorgana. Di tengah peliknya asmara, bayang-bayang Maya masih menghantui hubungan mereka. Mampukah Arini menjadi pelabuhan terakhir bagi Reza, ataukah ia hanya akan menjadi penonton setia di ujung senja?
Sampul Novel Pesona Duda Manja
8.8
Dikhianati sang istri justru memicu Rizaldi Takki bangkit mandiri. Berbekal kecerdasan teknologi, ia sukses memikat investor global hingga menjadi pengusaha ternama. Namun, saat luka hatinya mulai pulih, Rizaldi terjebak dilema rumit. Mantan istrinya mendadak minta rujuk, sosok wanita baik hati berubah drastis, sementara gadis sederhana justru menolak dinikahi. Di balik kesuksesannya, mampukah sang duda menghadapi kerumitan cinta dan sifat manja dalam dirinya?