APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BERKAH SECANTING BERAS

BERKAH SECANTING BERAS

Mira merupakan sosok ibu rumah tangga yang memiliki hati sangat mulia meski hidup dalam kondisi ekonomi serba terbatas. Di tengah himpitan kesulitan tersebut, ia tetap tulus mengulurkan tangan bagi sesama, terutama kepada Abah Karjo, seorang pria tua yang kini hidup sendirian. Akankah keikhlasan Mira mampu membantunya melewati berbagai rintangan hidup yang menghadang? Simak perjuangan penuh kasih dan keteguhan hati Mira dalam menghadapi lika-liku takdirnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Angin sore berhembus pelan menerpa dedaunan layu yang berserakan di tanah gersang. Suara kicauan burung yang berterbangan terdengar saling bersahutan. 

Di ujung jalan setapak, tampak pria renta sedang berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan tongkat kayu. Tubuhnya pun sudah sedikit bungkuk. Maklum usianya sudah menginjak Delapan puluh tahun lebih.

Namanya adalah Karjo. Biasa dipanggil abah Karjo. Keseharian abah hanya bekerja sebagai pemulung barang bekas. Kadang jika tubuh ringkihnya kelelahan, abah hanya bisa berdiam dan berbaring dalam rumahnya. 

Hidup seorang diri di daerah perantauan membuatnya tidak banyak dikenal warga sekitar. Hanya sebagian yang mengenalnya dengan baik bahkan ada juga sebagian warga yang mau mengasihinya.

Hasil memulung tidaklah seberapa. Jika kesehatan tubuhnya mendukung, abah pergi bekerja mencari barang bekas di sekitar. Ia kumpul hasil memulung itu selama tiga hari lalu ia jual pada orang pengumpul barang bekas. 

Hasil penjualan terkadang hanya dapat lima belas ribu. Abah akan selalu bersyukur berapapun uang yang ia dapatkan. Terpenting baginya adalah dapat membeli beras.

Jika tubuhnya sedang tak enak, abah pun terpaksa tidak mencari. Terkadang ia terpaksa menahan lapar karena stok kebutuhannya sudah habis. Jika sudah begitu, abah hanya mampu meminum air putih untuk mengganjal perutnya.

Kaki kurus tanpa mengenakan sandal itu terlihat masih kuat berjalan. Hanya beberapa langkah lagi ia tiba di sebuah  rumah yang dituju.

Akhirnya, ia tiba di halaman sebuah rumah yang sederhana.  Sejak sebelum sore tadi ia sudah berniat mendatangi rumah tersebut. Tujuannya tidak lain hanya ingin meminta tolong dan ia yakini hanya pemilik rumah inilah yang mau menolongnya.

Abah melangkah pelan memasuki teras depan rumah tersebut. Ia mengangkat tangannya yang terlihat gemetar kemudian mencoba mengetuk pintu dan memberi salam.

Tok tok tok 

 "Assalamualaikum, Nduk!" ucapnya sambil mengetuk pintu.

Sembari menunggu pintu dibuka, abah mencoba duduk di kursi untuk mengurangi rasa lelahnya. Ia letakkan tongkat kesayangan di samping kursi tempatnya duduk.

"Waalaikumsalam." terdengar sahutan si empunya rumah dari dalam.

Seorang wanita muda beranjak dari kamarnya dan bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Pekerjaannya melipat baju di kamar itu pun ia tinggalkan sebentar. 

Nama wanita itu adalah Mira. Rumahnya memang tidak begitu jauh dari rumah abah. Mira merupakan seorang ibu rumah tangga. Keseharian ia hanya di rumah merawat rumah, suami dan kedua anaknya.

Krek

Pintu berbentuk persegi itu pun terbuka lebar. Mira melihat pria tua yang menggunakan tongkat duduk di kursi teras rumahnya. Ternyata yang mengetuk pintu rumahnya adalah Abah Karjo

"Eh, Abah. ada apa, Bah?"  tanyanya menghampiri Abah. 

Mira langsung duduk di samping pria tua itu. Ia memandangnya sambil tersenyum. Di lihatnya, wajah keriput itu  pun ikut tersenyum ke arahnya.

Tampak di sebelah mata kanan abah ada kotoran mata yang menempel. Mira tahu, mata abah sudah sangat rabun. Akhirnya ia mengambil handuk kecil yang sedikit usang yang tergantung di leher abah kemudian mengelap kotoran mata tersebut.

"Nggak apa-apa, Nduk. Abah kesini cuma mau minta tolong kalau kamu berkenan." Ucap Abah langsung ke intinya. Kedua tangannya terlihat saling meremas merasa tidak enak dengan apa yang barusan diucapkan pada Mira.

"Minta tolong apa, Bah? InsyaAllah Mira selalu berkenan," jawab Mira kembali sambil tersenyum. Ia akan menolong semampunya, siapa pun yang membutuhkan pertolongannya. termasuk abah, pria tua di hadapannya itu.

Abah karjo tampak mengangguk. Mengambil nafas kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Sejujurnya ia merasa ragu untuk meminta tolong pada Mira. Sebab, dirinya bukan siapa-siapanya bagi wanita itu.

Akan tetapi, karena tak ada pilihan lain, abah pun terpaksa meminta pertolongan. Sebab tubuhnya sungguh tidak mampu lagi untuk berusaha. Akhirnya, dengan pelan dan hati-hati, abah pun mengatakan tujuannya pada wanita tersebut.

"Abah mau minjem beras, Nduk. kalau ada, secanting saja. Dari tadi pagi abah belum makan. karena beras abah habis. InsyaAllah kalau ada rejeki nanti, abah pasti kembalikan." Jelas abah kemudian sambil memandang Mira penuh harap.

Mira tertegun mendengar ucapan abah Karjo. Sekarang hari sudah pukul empat sore. Dari tadi pagi abah belum makan. Hatinya terasa teriris melihat pria renta di hadapannya. "Ya Allah, kasihan Abah," batinnya dalam hati.

"Iya, tunggu sebentar ya, Bah. Mira ambilkan beras dulu," ucapnya tersenyum. 

Mira beranjak dari duduknya kemudian pergi kembali ke dalam. Tujuannya mengambil beras di dapur dan memberikannya pada abah Karjo.

Saat tiba di dapur, Mira bergegas mengambil sepiring nasi beserta lauk tumis kangkung dan sambal. Tak lupa ia mengambil beras di dalam wadah tempat ia menyimpan beras.

Saat membuka wadah beras, Mira terdiam.Ternyata beras-nya juga tinggal sedikit cuma secanting. Itupun untuk jatah makan esok hari.

Lama Mira terdiam sambil berpikir. Ia merasa bingung. Suaminya pun belum pulang dari kerja. Jika beras secanting ini ia berikan pada abah Karjo, bagaimana keluarga kecilnya makan esok hari. Ia takut suaminya nanti akan marah. karena mengingat hari ini suaminya pun belum gajian.

Suami Mira hanya bekerja jadi kenek mobil angkutan umum kota. Itu pun tak selalu dapat uang. kadang tiga hari kedepan ia baru mendapatkan uang. Itupun tergantung keberuntungan. 

Bila angkot sedang ramai penumpang, dalam satu hari suaminya bisa membawa uang sebesar seratus ribu Rupiah. Terkadang bila lagi sepi, suaminya hanya bisa membawa uang sebesar dua puluh ribu Rupiah. Terkadang pulang suaminya tidak  membawa uang sama sekali.

Dengan niat dan Bismillah, akhirnya Mira berniat menyedekahkan satu-satunya harta secanting beras pada abah Karjo. 

Soal esok hari, ia akan mencari. Apapun dan bagaimanapun ia harus berusaha. Yang penting baginya anak-anaknya bisa makan.

Mira lantas membungkus beras secanting tersebut dengan plastik kemudian bergegas beranjak pergi ke luar menemui abah Karjo kembali. 

Sambil tersenyum, Mira memberikan sepiring nasi tadi serta beras dalam plastik tersebut pada abah karjo. 

"Ini Bah, berasnya. nggak usah dikembalikan, Bah. Mira ikhlas. Dan juga ini  ada nasi beserta lauk untuk makan Abah nanti malam," ucap Mira sambil memberikan kantong plastik dan sepiring nasi. 

Mata abah Karjo berkaca-kaca menahan rasa haru dan syukur. Hatinya senang dan merasa sangat berterimakasih pada wanita di hadapannya.

"Terimakasih, Nduk. Mudah-mudahan rejeki nduk melimpah dan barokah." 

"Amin, Bah," sahut Mira mengaminkan ucapan abah Karjo. 

" Kalau begitu abah pulang dulu, Nduk! Bentar lagi hari mau malam." Ucapnya lagi mohon pamit untuk pulang. 

"Iya, Bah. hati-hati di jalan." Balas Mira sambil menganggukkan kepala.

Abah karjo pun pulang. Sambil memegang kantong plastik dan sepiring nasi, abah tersenyum kemudian berlalu pergi berjalan mengenakan tongkatnya menuju pulang ke rumahnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
9.5
Adhitama terpaksa menikahi Riani, seorang janda yang asing baginya, demi kepentingan keluarga. Adhit bersikap dingin untuk menjaga jarak, namun ketenangan Riani tak tergoyahkan. Keadaan berbalik saat sebuah tragedi membuat Adhit rapuh dan Riani setia merawatnya tanpa pamrih. Perhatian Riani mulai meluluhkan hati Adhit hingga rasa cemburu pun muncul. Kini, Adhit bertekad meruntuhkan tembok yang ia bangun sendiri demi mendapatkan cinta tulus dari istri yang dulu ia abaikan.
Sampul Novel Dendam Cinta Sang Miliarder
9.4
Sagara Tyson Murphy hancur saat Janessa, kekasihnya, tewas menjelang pernikahan mereka. Dendam membara pun ia tujukan kepada Aluna Jaylee Morris yang dituduh sebagai penyebab kecelakaan itu. Murka melihat Luna masih bebas, Saga nekat menjadikannya pengantin pengganti demi menyiksa hidup gadis itu secara langsung. Luna pasrah menerima penderitaan asalkan orang terdekatnya aman. Namun, mampukah kebencian Saga bertahan saat kebenaran di balik tragedi Jane mulai terungkap?
Sampul Novel DI ANTARA DUA LELAKI
8.1
Kebahagiaan rumah tangga Lina yang telah terjalin selama sepuluh tahun kini berada di ambang kehancuran. Ardi, sang suami, perlahan mulai bersikap dingin dan terasa menjauh darinya. Di tengah kesepian itu, kehadiran Ivan sebagai kawan lama membangkitkan kembali getaran asmara masa lalu yang sempat padam. Lina pun terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan komitmen pernikahannya atau mengejar cinta baru yang membara bersama Ivan saat ini.
Sampul Novel Gairah Sang Majikan
8.2
Kisah romansa dewasa ini menyoroti dinamika terlarang antara seorang majikan dan asisten rumah tangganya. Sang majikan tak kuasa menahan pesona kecantikan pembantunya yang begitu memikat, hingga percikan gairah di antara mereka meledak dalam hubungan intim yang penuh intensitas. Pembaca diharapkan bijak karena narasi ini dipenuhi adegan panas yang eksplisit, menggambarkan bagaimana keduanya terhanyut dalam godaan yang tak terbendung di dalam rumah.
Sampul Novel KUSEMBUNYIKAN KEKAYAANKU DARI SUAMI DAN MERTUA
9.6
Mia merasa muak karena terus direndahkan oleh ibu mertuanya hanya karena dianggap miskin dibanding menantu lainnya. Meski dihina secara zalim, Mia memilih bungkam dan menyembunyikan rahasia besar. Tanpa ada yang tahu, ia sebenarnya memiliki kekayaan melimpah dan tumpukan logam mulia dari hasil jerih payahnya menulis secara daring. Ia sengaja merahasiakan aset tersebut agar suami dan mertuanya yang rakus tidak bisa menyentuh hartanya sedikit pun.
Sampul Novel Langit Jam 4 Sore
8.2
Divia Putri Gayatri adalah gadis pemimpi yang mengagumi kedamaian langit pukul empat sore. Ia berharap takdir hidupnya akan seelok cakrawala itu. Tanpa diduga, Divia justru menemukan tambatan hati saat ia tidak sedang mencari cinta. Pertemuannya dengan Arman yang begitu sinematik meninggalkan kesan mendalam yang tak terlupakan. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu mulai mengancam kebahagiaan mereka, mampukah cinta mereka bertahan melawan ujian takdir yang berat?