APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Berondong Simpanan Istriku

Berondong Simpanan Istriku

Kehidupan rumah tangga yang tampak tenang mendadak diguncang oleh persoalan yang sangat sensitif. Cerita ini mengeksplorasi gejolak batin dan dilema besar yang dihadapi ketika seorang suami gagal memberikan kepuasan serta nafkah batin kepada istrinya. Di tengah kekosongan emosional dan hasrat yang tak terpenuhi, sang istri mulai mencari pelarian yang tak terduga. Sebuah drama modern yang penuh ketegangan tentang kesetiaan, rahasia kelam, dan harga sebuah kebahagiaan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tepat pukul lima sore jam kantor usai. Segera Samsul membereskan semua berkas - berkas pekerjaannya. Dia sudah tak sabar ingin segera pulang ke rumah.

"Pak," tiba- tiba Pak Darman menepuk bahunya dari belakang.

Samsul kaget. "Ada apa Pak?"

"Atasan manggil kamu tuh!" ujar Pak Darman.

Samsul mendengus kasar. Lelaki botak itu pasti memberinya pekerjaan.

Cepat Samsul menyimpan berkasnya di laci kemudian berjalan tergesa menuju ruang atasannya. Bapak Wisnu.

Tampak Pak Wisnu tengah duduk menunggunya.

"Ayo Pak. Sini masuk!" sambutnya.

Lalu Samsul duduk berhadapan dengan Pak Wisnu.

"Ada apa Pak?"

"Begini. Karena hari ini pekerjaan begitu menumpuk, dan aku ada acara penting yang tak bisa kutinggalkan. Jadi aku minta kamu hari ini lembur. Tapi jangan khawatir, aku akan beri kamu bonus bulan depan, bagaimana? Kamu mau kan?"

Samsul menelan ludahnya. Bagaimana mungkin ia menolak permintaan Pak Wisnu. Lelaki berkepala botak itu selalu memberinya bonus yang lumayan besar, jika Samsul sanggup mengerjakan semua pekerjaan yang di limpahkan padanya.

Tapi bagaimana dengan obat kuat?

Padahal malam itu, ia ingin membuktikan keampuhan obat itu pada istrinya Mila, tapi sial. Pak Wisnu mendadak meminta bantuan padanya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.

Tapi bonus besar di depan mata.

Dengan berat hati, akhirnya Samsul menerima permintaan Pak Wisnu. Malam itu Samsul akan lembur sampai pekerjaannya selesai.

Lumayan bonusna bisa ia berikan pada Mila. Istri tercinta.

"Baiklah. Terima kasih, ya?"

"Ya Pak."

Tak berapa lama Pak Wisnu pun pergi meninggalkan ruangan. Sementara Samsul mengambil tumpukan berkas yang ada di atas meja.

Samsul akan bereskan semua pekerjaannya. Meski hatinya dongkol. Tapi biarlah. Toh bonusnya besar ini.

Sebelum mengerjakan tugasnya. Samsul mengambil ponsel untuk menghubungi istrinya Mila.

"Sayang ..." sapa Samsul pada istrinya.

"Iya Pa. Ada apa? Kok jam segini masih di kantor?" jawaban Mila di sebrang sana.

"Iya nih, Ma. Maaf ya, Papa sepertinya pulang malam."

"Kok gitu, sih? Katanya Papa akan pulang cepat, kalau pekerjaannya sudah beres."

"Mau bagaimana lagi Ma. Bos Papa meminta Papa untuk lembur. Ya sudah, Mama hati- hati ya."

"Iya Pa. Papa kira- kira pulang jam berapa?"

"Papa paling pulang jam satu malam Ma. Mama bobo aja duluan, ya? Gak usah nunggu Papa."

Lalu Samsul memutuskan sambungan teleponnya. Lega rasanya sudah menghubungi Mila. Dengan begitu dia tidak khawatir terhadap istrinya yang selalu ditinggal lembur hampir tiap malam.

Mau bagaimana lagi. Demi membahagiakan istrinya. Ia harus kerja keras agar kebutuhan Mila bisa ia cukupi. Maklum Mila banyak sekali permintaannya. Dari tas dan baju mahal, istrinya sering membelinya. Walau Samsul tak pernah melihat barang baru yang Mila beli. Tapi Samsul percaya. Mila lakukan itu semua demi membahagiakannya. Mila ingin terlihat cantik dan luwes di depannya.

**

Malam itu, rasanya Mila ingin menjerit sekencang mungkin. Suaminya akan pulang larut malam. Dengan begitu ia bisa bersenang- senang dengan Deni.

Dengan cepat ia segera menghubungi Deni.

"Den."

"Ya, Bu. Ada apa?"

"Kamu siap- siap, ya? Malam ini kita jalan- jalan. Kamu tunggu di tempat biasa, agar tak ada yang lihat kita."

"Tapi Bu. Memangnya suami Ibu kemana?"

"Sudahlah Den. Jangan mikirin suamiku. Dia malam ini ada lembur."

Setelah mengatakan itu. Mila menutup teleponnya. Gegas ia menuju kamar mandi membersihkan diri. Berdandan rapih. Malam itu ia akan habiskan waktunya dengan Deni. Jalan- jalan sambil kulineran.

Ah. Bahagia sekali ia malam itu. Terbayang ia akan melakukan apa saja dengan Deni.

Setelah selesai berpakaian rapih. Mila langsung ke luar rumah. Tampak Deni sudah siap dengan motor maticnya. Dia pun sudah berpakaian rapih. Sore itu wajah Deni sangat tampan dan gagah. Tak sabar Mila segera ingin mencumbu lelaki muda itu.

"Den. Kamu duluan. Ibu nyusul nanti. Kamu tunggu di tempat biasa, ya ..." bisik Mila pada Deni.

Deni mengganguk pelan. Ia pun pergi dari rumah. Diikuti Mila dari belakang. Mila cukup jalan kaki ke depan. Sekitar sepuluh menit untuk sampai depan pigura tempat mereka bertemu secara diam- diam.

Di tangah perjalanan, Mila berpapasan dengan Pak Bowo tetangga depan rumahnya.

"Eh. Bu Samsul. Rapih amat, mau kemana Bu?" sapanya sopan.

"Oh ini Pak. Saya mau ada perlu, permisi Pak," ucap Mila sambil terburu- buru jalannya.

Pak Bowo memperhatikan Mila dengan wajah heran. Belakangan ini. Ia sering melihat Mila berpakaian sedikit seksi. Padahal diusianya, Mila sepantasnya memakai hijab agar terlihat anggun dan sopan di lihatnya.

Tapi wanita itu malah memakai rok selutut dengan atasan kaos ketat, membuat Pa Bowo bergidik melihat penampilannya.

Tepat di depan Gapura . Deni sudah siap menunggunya. Cepat Mila naik ke motor Deni dan memeluk pinggang Deni dengan erat.

"Kemana kita Bu?"

"Kita nonton ke bioskop Den. Malam ini ada film horor."

"Baik Bu."

Deni cepat menyalakan motornya. Mereka berdua pun pergi sambil tertawa bahagia. Sepanjang perjalanan. Mila tak henti- henti menciumi pundak Deni. Dia tak punya malu sedikitpun saat orang yang berada di jalan memperhatikan tingkah mereka berdua.

Tapi Mila tak peduli. Tak ada yang mengenalinya ini. Lagipula hari sudah mulai gelap. Dan mereka sudah berada jauh dari rumahnya. Dan Mila bebas melakukan apa saja dengan Deni sambil berboncengan.

Jiwa muda Mila seakan bangkit kembali. Ia merasa seperti gadis kembali. Di bonceng oleh sang pujaan membuat Mila lupa akan statusnya.

Tapi orang yang sedang dimabuk cinta dan lupa daratan itu. Tak pernah memikirkan orang lain. Yang penting mereka hepi malam itu.

Tiba di sebuah Mal besar. Mereka bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang merajut kisah asmara.

Meski orang di sekitarnya mulai memperhatikan tingkah mereka berdua. Seorang lelaki muda yang tampan di gandeng wanita yang sudah tak muda lagi.

Umur Mila bulan Juli nanti menginjak tiga puluh delapan tahun. Sementara Deni baru dua puluh tahun.

Tapi bagi Mila. Ia berasa umur tujuh belas tahun jika sedang bejalan dengan Deni. Wanita itu memang sudah putus urat malunya, karena di gelapkan oleh cinta butanya terhadap Deni.

***

Disisi lain. Samsul sibuk berjibaku dengan pekerjaan. Matanya sudah terlihat kantuk. Sesekali ia menyeka keringat nya yang menitik di dahinya.

Malam itu, ia harus cepat menyelesaikan tugasnya. Cape dan lelah tak ia hiraukan. Demi Mila. Ia akan lakukan apa saja. Meski ia harus kehilangan nyawa sekalipun, bagi Samsul tak mengapa. Asal Mila bahagia.

Samsul menghela nafas kasar sambil melirik jam tangannya. Baru jam sepuluh malam. Dua jam lagi tugas selesai. Tinggal dua berkas lagi.

Samsul kemudian berdiri dari duduknya. Untuk mengencangkan otot- ototnya yang mulai tegang.

"Mila lagi apa, ya ... " guman Samsul sambil menyambar ponsel yang tergeletak diatas meja.

"Helo sayang .... "

Tak ada jawaban di seberang sana.

Samsul kembali menekan layar ponselnya menghubungi Mila sekali lagi.

"Helo, sayang ... "

Tetap tak ada jawaban. Malah ponsel Mila tak aktif.

"Mungkin istriku sudah tidur," pikirnya.

Ia pun kembali duduk untuk menyelesaikan pekerjaannya. Agar cepat pulang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Nadia menghabiskan malam bersama pria asing setelah dikhianati orang terdekatnya. Meski sempat menyesal, ketampanan pria itu justru membuatnya malu hingga ia nekat meninggalkan uang sebelum pergi. Kresna, sang pria misterius, merasa sangat terhina karena dianggap sebagai pria bayaran. Dengan amarah yang meluap, ia segera memerintahkan asistennya melacak identitas Nadia melalui rekaman CCTV hotel demi membalas perbuatan wanita tersebut.
Sampul Novel Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan
9.3
Liora Avanira, seorang anak angkat, terpaksa menggantikan kakaknya dalam perjodohan dengan Komandan Rayan Elvard yang dingin. Rayan memilih Liora bukan karena cinta, melainkan demi misi rahasia. Namun, pernikahan atas perintah atasan ini berubah menjadi obsesi berbahaya saat Rayan terpikat pada sikap dingin Liora. Di tengah kebencian dan ancaman musuh masa lalu yang mengincar nyawanya, Liora harus bergantung pada pria yang menjadi sumber penderitaannya tersebut.
Sampul Novel Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
7.9
Brama Wijaya memenjarakanku selama lima tahun atas fitnah pembunuhan Kania. Setelah bebas, ia menyiksaku di kandang anjing dan memaksaku meminum obat mandul. Saat Kania terungkap masih hidup, Brama membiarkan adikku tewas di tangan Kania. Aku pun mengakhiri hidup demi membalas dendam. Kini, aku terbangun tepat di hari kebebasanku. Dengan kesempatan kedua ini, aku bersumpah akan menyeret Brama dan Kania ke neraka atas segala penderitaan yang telah mereka perbuat.
Sampul Novel Dive In You
9.2
Maryam dan Alaska terjebak dalam dilema cinta beda agama yang menguras emosi. Meski perasaan mereka begitu kuat, perbedaan iman menjadi penghalang besar yang menyesakkan dada. Saat dipaksa menuruti perjodohan pilihan orang tua masing-masing, mereka mencoba patuh pada takdir. Namun, simbol keyakinan mereka tak mampu menghapus rasa yang tetap hidup. Di tengah konflik batin dan kepatuhan, mungkinkah ada jalan bagi cinta mereka untuk bersatu kembali?
Sampul Novel Gairang seorang pembantu penggoda
8.3
Hana, gadis muda berusia dua puluh tahun, merantau ke kota besar demi menghidupi keluarganya. Ia bekerja sebagai pelayan di kediaman seorang triliuner tampan. Tergiur kekayaan melimpah, Hana nekat menggoda majikannya dan terjebak dalam hubungan gelap sebagai pemuas nafsu. Hari-harinya diisi gairah panas di setiap sudut mansion demi pundi uang. Namun, titik jenuh membuatnya ingin berhenti. Mampukah Hana lepas dari jerat kenikmatan dan uang yang selama ini mengikatnya?
Sampul Novel GHAFFAR PENAKLUK AKHWAT
8.2
Ghaffar memutuskan merantau ke Jakarta demi menimba ilmu. Namun, kehidupan pemuda ini berubah total saat ia mulai berinteraksi dengan deretan wanita di ibu kota. Perjalanan yang semula fokus pada pendidikan justru membawanya ke dalam lika-liku hubungan yang tak terduga. Kisah romansa modern ini mengandung konten dewasa yang ditujukan bagi pembaca bijak. Ikuti bagaimana Ghaffar menghadapi dinamika sosial dan godaan di tengah kerasnya kehidupan Jakarta.