APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bidadari Untuk Tuan Mafia

Bidadari Untuk Tuan Mafia

Don Vincent Corleane, pemimpin mafia yang dikenal bengis dan tak berperasaan, terpaksa menjalani perjodohan dengan cucu bangsawan bernama Silvana Aramazd. Silvana adalah gadis lembut bercadar yang hidup dalam ketenangan. Pernikahan ini menjadi jalan bagi Vincent untuk keluar dari kegelapan dunia hitam, sekaligus upaya mengungkap misteri kematian orang tua Silvana. Bisakah Silvana bertahan mendampingi Vincent di tengah perbedaan dunia mereka yang sangat kontras?
Bab
Bagikan

Bab 2

Disebuah rumah klasik minimalis yang masih terletak didalam kawasan sebuah rumah besar seorang bangsawan di San Francisco. Seorang gadis berkerudung besar dengan cadar hitam sedang duduk dimeja kerjanya dengan tumpukan buku didepannya.

Buku-buku yang berada dimejanya seakan membuatnya tenggelam. Mata cantiknya melirik ponsel yang berdering memberi notif waktu ibadah. Gadis itu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar mandi.

Ia menanggalkan cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Dengan gerakan lembut, ia menyapukan air wudhu pada wajah, tangan dan kaki. Gadis itu kemudian meraih gamis hitam beserta kerudung besarnya didalam lemari untuk kemudian menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim.

Jari jemarinya yang lentik memutar tasbih mutiara pemberian sang Ayah. Sesekali ia menyapu air matanya yang turun membasahi pipinya yang mulus.

Aktivitasnya terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu.  Gadis itu meraih cadarnya kembali dan melangkah keluar. Saat pintu terbuka, seorang pria paruh baya datang bersama dua orang, 1 laki-laki dan perempuan.

“Assalamualaikum” sapa pria tua tadi.

“Waalaikumsalam Tuan”

Gadis itu kemudian mempersilahkan tamunya masuk. Mereka duduk diruang tamu. Gadis itu menundukkan pandangannya. Suasana canggung menyelimuti ruangan tersebut.

Pria tua itu berdehem guna memecah kecanggungan.

“Bagaimana tentang tawaran saya tempo hari Vana? Apakah kau sudah memikirkannya?”

“Saya sudah memikirkannya Tuan” jawabnya dengan lirih.

“Apa keputusanmu, apakah kau menerima lamaranku atau tidak”

“Dengan menyebut nama Allah, saya menerima lamaran Tuan”

Tuan Corleane tersenyum bahagia. Tanpa berlama-lama berada ditempat tersebut, Tuan Corleane pamit untuk kembali ke mansion miliknya guna menyampaikan kabar bahagia tersebut pada Vincent.

Setelah tamunya menghilang. Gadis tersebut lantas menuju rumah besar yang berada agak jauh dari tempat ia tinggal. Para pelayan menundukkan badan menyambut kedatangan sang putri yang terasingkan.

Di lorong lantai dua, tak sengaja ia bertemu dengan Pasha, pengawal setia kakeknya. Pria yang usianya hampir sama dengan mendiang Ayahnya tersebut menunduk hormat pada Silvana.

“Selamat datang kembali Nona Vana” sambutnya dengan penuh penghormatan.

“Apa Paman tau dimana Kakek?”

“Tuan Besar sedang berada diruang pribadinya Nona”

“Terimakasih Paman”

“Apakah Nona butuh pengawalan?”

“Apa disini sudah tidak aman bagiku hingga aku membutuhkan pengawalan dirumah kakekku sendiri Paman?”

“Baiklah Nona”

Vana masuk kedalam ruangan besar di sudut lantai dua. Sebuah ruangan dengan nuansa emas yang mendominasi. Manik coklat miliknya yang cantik menatap sang Kakek yang tengah duduk membelakanginya. Tuan Fedor memutar kursi lantas tersenyum menatap seorang gadis dengan kurudung besar dan cadar hitamnya.

Tangannya mengisyaratkan pada Vana untuk mendekat. Tuan Fedor tampak bersusah payah untuk bangun dari duduknya guna menghampiri sang cucu tercinta yang jarang sekali ia temui. Vana dengan sigap memapah sang Kakek dan membantunya duduk diatas sebuah sofa empuk diruangan tersebut.

Sebuah obrolan ringan mengawali percakapan dari dua insan yang berbeda generasi. Sampai akhirnya Vana mengatakan bahwa Tuan Corleane, sahabat mendiang Ayahnya telah meminangnya untuk putra pertamanya.

Tuan Fedor menatap Vana dengan tatapan yang sangat dalam. Matanya tampak sayu dan sedikit berembun. Vana, gadis itu sangat mirip dengan putra keduanya, Matvey. Dengan penuh keyakinan, Tuan Fedor memberikan restunya kepada sang cucu.

Tubuh renta seorang bangsawan keturunan Rusia tersebut berjalan menuju sebuah lukisan besar yang menempel sempurna pada dinding yang kokoh. Tangannya yang keriput tampak meraba sesuatu disamping lukisan. Sebuah tombol kecil yang berwarna senada dengan cat dinding ia tekan. Terbukalah lukisan tersebut layaknya sebuah pintu lemari.

Dengan matanya sendiri, Vana melihat begitu banyak perhiasan dan juga tumpukan uang. Tuan Fedor meraih dua kotak beludru berbeda ukuran berwarna hitam dari dalam sana lalu menyerahkannya pada Vana.

Tangan Vana terulur menyambut pemberian Tuan Fedor. Vana membuka kotak hitam tersebut dengan sangat hati-hati. Sebuah kalung bertahtakan batu safir warna biru yang tampak cantik. Sedangkan, satu kotak yang ukurannya agak besar berisi dua buah shuriken dengan mata pisau yang berbeda jumlahnya. Dua barang dalam kotak tersebut tidak asing bagi Vana. Tapi untuk apa kakeknya memberinya dua jenis barang yang sudah ia lupakan bertahun-tahun lamanya. Vana menatap penuh tanda tanya pada Tuan Fedor.

Tuan Fedor tersenyum penuh arti. Dengan langkah yang sedikit tertatih, pria tua tersebut berdiri didekat jendela kaca yang besar. Matanya menatap jauh kearah dunia luar. Dengan penuh keyakinan, Tuan Fedor akhirnya mulai bicara.

“Kau pasti bertanya-tanya, untuk apa kakek memberikan itu semua padamu?”

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Vana. Pikirannya seolah buntu oleh sebuah pertanyaan yang membuat otaknya terasa penuh.

“Kalung tersebut adalah hadiah dari calon ayah mertuamu, Corleane, ketika kau baru saja dilahirkan. Sementara shuriken itu –”

Setetes air mata jatuh dari mata Tuan Fedor. Lidahnya terasa kelu tak dapat melanjutkan bicara. Vana lantas menghampiri kakeknya. Berdiri tepat disampingnya dan menyenderkan kepalanya dilengan Tuan Fedor.

Tangan Tuan Fedor melepaskan tongkat yang menopang tubuhnya lalu membelai lembut puncak kepala cucu kecilnya yang sudah beranjak dewasa.

“Tidak usah dilanjutkan kakek, Vana masih mengingat semuanya” ucapnya dengan suara lirih.

“Simpan semuanya, suatu saat kau akan membutuhkannya”

“Vana akan menyimpannya untuk kakek”

Tak ada percakapan setelahnya. Vana lantas berpamitan lalu kembali kerumah kecilnya yang terletak jauh dibelakang rumah besar Tuan Fedor.

Tanpa ia sadari sepasang mata menatap penuh kebencian pada Vana. Sosok misterius tersebut lantas berlalu dengan amarah yang memuncak.

Masih berada didalam ruang pribadinya. Tuan Fedor yang duduk dikursi membuka laci mejanya. Jarinya mengambil sebuah pigura dengan foto hitam putih disana. Menatap lekat foto tersebut dengan keharuan yang memuncak. Mungkin karena faktor usia yang membuat pria tua tersebut mudah sekali terharu.

“Ayah tau mungkin rencana Ayah akan membuat Putrimu dalam bahaya Vey, tapi tidak ada yang bisa Ayah lakukan selain merelakan Vana bersama dengan Vincent seperti yang kalian rencanakan dulu. Vincent akan membantunya mengakhiri sesuatu yang belum tuntas” ujarnya dengan menatap selembar foto ditangannya.

Pasha masuk kedalam ruangan setelah Tuannya memanggilnya melalui alat komunikasi kecil yang ia pasang ditelinganya. Ruangan tersebut sangat pribadi, hanya tiga orang yang diperbolehkan masuk kesana. Dirinya, Vana dan juga Tuan Fedor sendiri. Anak-anaknya bahkan tidak ada yang berani menginjakkan kakinya diruangan tersebut. Bahkan mendiang Matvey yang dulunya ia pilih untuk menjadi penerusnya tidak diperkenankan masuk kedalamnya.

Pasha masih berdiam diri dibalik pintu yang terkunci. Pria paruh baya tersebut tak berani melangkah sebelum mendapat perintah dari Tuannya.

Sebuah senyum tercetak diwajah Tuan Fedor yang tak lagi muda. Pasha, sang pengawal setia yang sangat patuh padanya. Jari telunjuknya ia arahkan ke sebuah rak buku yang berada didekat pintu.

Seperti mengerti maksud sang Tuan. Pasha lantas menarik tiga buah buku yang terletak dijajaran paling atas.

Sebuah pintu rahasia berada dibalik rak buku yang terbuka. Dengan langkah pelan, kakinya yang mulai lemah menuruni setiap anak tangga diikuti Pasha dibelakangnya.

Dibawah sana, sebuah ruangan yang cukup besar dengan berbagai macam senjata didalamnya. Ruangan rahasia tersebut tak ubahnya semacam ruang penyimpanan senjata. Berbagai macam pistol dengan jenis berbeda berjejer rapi disebuah lemari kaca. Pedang, granat, senapan, panah serta busur dan longsongan peluru memenuhi ruangan tersebut.

Pasha terkesiap. Sejak kematian Matvey, dirinya tak pernah lagi menginjakkan kaki diruangan rahasia itu.

Tuan Fedor mengambil sebuah pistol berwarna hitam putih dari dalam lemari kaca. Memasukkannya kedalam sebuah kotak bertuliskan “Aramazd”. Kemudian menyerahkannya pada Pasha.

“Apa Tuan akan tetap melakukannya?”

“Kau tak percaya padaku?”

“Saya percaya pada anda Tuan. Tapi keselamatan Nona?”

“Kau meragukan kemampuannya Pasha?”

“Saya sangat percaya akan kemampuan Nona Vana”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Seksi Tuan Cedric
8.2
Falisha Marbella, mahasiswi berusia 19 tahun, terjebak dalam tragedi saat kekasihnya, Ben Andrigo, meninggal dunia di sisinya. Ayah Ben, Cedric Andrigo, seorang miliarder kejam yang menguasai bisnis ilegal, menyalahkan Falisha atas kematian putranya. Didorong dendam membara, pria arogan ini bersumpah menyiksa hidup Falisha. Cedric menjadikan Falisha budak pemuas nafsu demi membalas dendam. Mampukah Falisha lepas dari jerat penderitaan dan kekejaman Cedric?
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris Lumpuh
8.6
Erios Danbert, pria kaya yang lumpuh, harus mencari istri meski hatinya tertutup rapat. Takdir mempertemukannya dengan Emery Olivia La Carlistee, putri keluarga pembunuh bayaran yang mengincar kekuasaan Erios. Awalnya Emery hanya memanfaatkan situasi, namun ia justru terjebak dalam pusaran bahaya yang mengintai sang pewaris. Meski saling curiga dan mengejar ambisi pribadi, benarkah ada cinta tulus saat topeng dan motif asli Emery akhirnya terungkap?
Sampul Novel Diatas Ranjang Papa Angkatku
9.5
Bianca dibesarkan oleh Emanuel Carlos, pemimpin mafia kejam yang menghabisi keluarganya. Tumbuh menjadi gadis cantik, Bianca mengira Emanuel adalah ayah kandungnya meski pria itu selalu bersikap dingin dan acuh. Namun, rahasia besar terungkap bahwa ia hanyalah anak angkat. Bukannya menjauh, Bianca justru kian terobsesi menaklukkan hati pria tampan itu. Di tengah sikap keras Emanuel, Bianca bertekad mengubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi Mafia Kejam
9.1
Niat tulus Grazella Elnara Wesley menolong pria asing justru menyeretnya ke dalam neraka. Gabriel Leonard Mattew, pemimpin mafia kejam asal Italia, terobsesi menjadikannya istri karena kemiripan fisik dengan masa lalunya. Meski dipaksa menikah, mahasiswi psikologi ini tetap teguh menjaga hatinya dari dominasi sang mafia. Di tengah perjuangan menyembuhkan adiknya, Grazella harus bertahan menghadapi kekejaman Leon yang menganggap dirinya tuhan.
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Sampul Novel Istri Ke-4 Kesayangan Tuan Mafia
8.0
Diculik dan dipaksa menjadi istri keempat mafia kejam Zuan Lee, hidup Aneisha penuh penderitaan. Setelah gagal mengakhiri hidup akibat siksaan suami dan tiga istri lainnya, ia berhasil kabur dan ditolong oleh Xavier, rival bisnis Zuan. Di bawah perlindungan Xavier, Aneisha bertransformasi menjadi wanita tangguh dan mempesona. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali bertemu Zuan yang terobsesi memilikinya lagi. Mampukah Zuan merebut hati wanita yang kini berani menolaknya?