APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA

BILANG SAJA KAMU JANDA

Rania hancur saat suaminya sendiri memintanya berpura-pura menjadi janda demi uang. Di balik kerudung pastelnya, ia memendam luka mendalam sekaligus berjuang melawan kanker ganas yang menggerogoti raga. Meski tubuhnya kian melemah, Rania bertahan demi kedua buah hatinya. Ini adalah kisah perjuangan seorang ibu yang bangkit dari pengkhianatan dan rasa sakit, mengumpulkan sisa kekuatan demi tetap hidup untuk anak-anak yang mencintainya.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Uangmu mana?!"

Suara itu membelah malam seperti petir yang jatuh terlalu dekat ke jantung. Piring di tangan Rania bergetar. Pecah.

Anaknya yang kecil, Hana, tersentak dari tidurnya di sofa. Di sudut lain, si sulung, Rafif, pura-pura tetap tidur. Tapi tubuh kecilnya kaku. Ia tahu... malam ini akan panjang.

Rania mendongak pelan. Emir berdiri di ambang pintu dapur, dengan setelan jas yang masih rapi, tapi wajahnya penuh amarah. Matanya menyala.

"Baru bisa ngeluh sakit, tapi nggak bisa cari uang!"

Ia mendekat. Setiap langkahnya seperti detak bom waktu. Rania mundur setapak demi setapak.

Tangannya menahan perut yang masih terasa nyeri.

"Aku udah bilang," lirih Rania, suaranya hampir tak terdengar. "Aku nggak bisa kerja dulu... badanku-"

PLAKK!

Tamparan itu datang tanpa aba-aba. Tidak keras. Tapi cukup membuat lutut Rania lemas.

"Aku bukan nyuruh kamu kerja!" bentaknya.

"Aku cuma bilang, bilang aja kamu janda. Cowok-cowok itu gampang kasihan. Ngemis dikit, rayu dikit, dapet deh duit!"

Ia tertawa pendek, tajam, getir.

"Emang susahnya di mana sih? Kau udah biasa pura-pura kuat kan?"

Air mata Rania jatuh. Tapi ia tak bersuara. Sudah terlalu sering. Sudah terlalu lama.

"Kenapa kamu tega, Mir?"

Pertanyaan itu keluar lirih. Tapi Emir terdiam. Matanya mengecil. Lalu ia mendekat lebih dekat, hingga napasnya terasa di wajah Rania yang pucat.

"Kamu pikir aku suka ngelakuin ini?! Aku muak! Aku juga capek! Tapi kamu ini beban, Rania. Kanker itu bukan alasan buat kamu jadi mandul dan miskin!"

Hana tiba-tiba menangis. Rania tersentak. Refleks, ia berlari memeluk anaknya yang menggigil.

Rafif menatap dari balik selimut, matanya penuh benci, pada ayahnya, pada dunia, dan mungkin... pada takdir.

Rania menatap dua anaknya. Tubuhnya masih bergetar. Tapi kali ini bukan karena takut. Tapi karena... cukup.

Ia peluk Hana erat-erat.

Lalu ia berkata pelan, tapi tegas,

"Besok aku pergi."

Emir tertawa, dingin.

"Mau ke mana? Rumah siapa? Siapa yang mau nampung kamu dan dua anak itu, hah?"

Rania diam.

Dia tahu, dia tak punya siapa-siapa.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun... dia percaya. Ia masih punya dirinya sendiri.

"Aku bahkan tak tahu harus pulang ke mana."

--

Langit pagi itu abu-abu. Matahari enggan muncul. Udara lembap, seperti paru-paru Rania, berat, penuh sesak.

Ia duduk di bangku halte kosong. Hana bersandar di pangkuannya, masih tertidur.

Rafif duduk di sebelah, diam, memeluk tas plastik berisi dua stel baju anak dan sisa obat kemo murah.

Ponselnya lowbat. Jemarinya gemetar saat mengirim pesan pinjaman uang ke 10 orang yang ada di kontaknya.

Tak satu pun yang mengirim. Yang balas hanya tiga.

Dan tak ada yang benar-benar menolong.

Rania membuka aplikasi tempat ia menjual tulisan. Hanya 8 orang baca novelnya bulan ini.

Aplikasi voice-over tempat ia biasa menjual suaranya juga sepi. Sudah enam bulan tak ada order.

Dokter bilang kankernya makin parah. Kemoterapi harus lanjut beberapa kalilagi. Tapi ia tak punya uang.

Dan ia tak punya siapa-siapa.

Ibunya meninggal waktu SMA. Ayahnya menyusul. Tak ada saudara. Dan sekarang, suaminya pun mengusir.

Tadi malam mereka tidur di mushola pasar. Penjaganya hanya bilang,

"Sebelum subuh, harus pergi."

"Bu, kita ke mana sekarang?" tanya Rafif lirih.

"Apa kita masih punya rumah, Bu?"

Rania mengangguk. Meski bohong.

Lalu di tengah siang yang panas, ia terima chat dari seorang teman lama.

[Maaf, aku nggak bisa bantu. Tapi kamu kuat, Ran. Kamu pasti bisa.]

Rania ingin balas:

[Kuat itu bukan pilihan. Kuat itu keterpaksaan.]

Tapi ponsel keburu mati.

Anaknya lapar. Ia bagi satu biskuit terakhir jadi dua.

Hana makan. Rafif bilang tak lapar, padahal bohong.

Dan saat semua terasa ingin diakhiri, Hana menatap ibunya dan berkata,

"Bu... jangan nangis. Nanti Allah marah."

Rania memeluk Hana.

Lalu berdiri. Pelan. Tapi yakin.

"Pulang itu bukan karena ada rumah. Tapi karena nggak ada pilihan."

"Rania?"

Suara itu datang dari balik mobil putih yang baru parkir.

Elsa.

Kakak ipar Emir. Istri abang kandung suaminya. Wajah licin, senyum plastik.

"Oh ya Allah... kamu beneran kamu?"

Elsa lalu berkata cepat,

"Gini... aku dan Bang Ucok besok mau ke Bandung. Tapi Mamak siapa yang jaga? Kamu kan udah biasa. Pulang aja deh, ya."

Bukan ajakan. Tapi titah.

Bukan karena sayang. Tapi karena butuh.

Rafif menoleh pelan dan berkata,

"Kita pulang aja, Bu. Kita kan nggak punya rumah."

---

Mereka sampai maghrib. Emir duduk di teras, rokok di tangan, tatapan penuh cemooh.

"Balik juga akhirnya si janda hidup segan mati pun ga bisa."

Elsa hanya senyum kecil dan berbisik,

"Kalau mau masak, pinjam dulu ke warung Bu Murni. Bilang aja saya yang suruh."

Malam itu, Rania menyelimuti dua anaknya. Ia tatap ibunya Emir, yang dulu sering menghinanya, yang kini terbaring lumpuh.

Dan ia tetap menyeka wajah wanita itu. Tetap mengganti popoknya. Karena meski hatinya luka, ia tetap manusia.

---

Pagi berikutnya, nasi habis. Anak-anak lapar. Rania ke warung Bu Murni.

"Boleh saya pinjam beras, Bu? Sama sayur seadanya..."

Bu Murni diam sejenak.

Lalu memberi sedikit.

"Kalau ikut hati, aku pengen kasih lebih. Tapi aku masih inget dulu Mamak kamu..."

Rania mengangguk. "Saya ngerti. Terima kasih, Bu."

Ia masak nasi dan kangkung di dapur kecil itu.

Anaknya makan hangat. Perutnya kenyang.

Dan malam itu, meski Rania tidur di lantai, ia tahu anak-anaknya tidak kedinginan

--

Pagi itu sunyi. Hanya suara cicak dan desah napas panjang Rafif yang bangun paling awal.

Hana masih meringkuk di kasur tipis. Rania menggigil di dapur, memasak air demi secangkir teh manis yang sisa gulanya harus dikorek dari kaleng biskuit kosong.

Emir tidak pulang semalam. Sudah dua malam.

Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada uang.

Dan seperti biasanya... tidak ada penyesalan.

Saat air mulai mendidih, suara ketukan keras mengguncang pintu depan.

DUG DUG DUG DUG!!

Rafif melonjak kaget. Hana menangis ketakutan.

Rania meletakkan panci, menyeka tangannya, dan berjalan perlahan. Ketukan makin keras.

Pintu seakan mau jebol.

"BUKA!!"

Suara lelaki. Berat. Marah.

Dan bukan satu orang.

Rania mengintip dari sela tirai. Tiga orang. Satu bertato, satu bawa map lusuh, satu lagi pakai topi hitam.

Dan mereka membawa nota hutang.

"BUKA PINTUNYA SEKARANG, KALO NGGAK KAMI DOBRAAK!!"

Rania membuka perlahan. Suara tangis Hana menggema dari dalam. Rafif berdiri di belakang ibunya, mencoba terlihat berani.

"Pak... ada apa ya?" suara Rania gemetar.

Laki-laki bertato melotot.

"Mana Emir? Suruh keluar! Udah tiga bulan nunggak! Tanda tangan, cap jempol, semua ada!"

Yang bertopi menimpali,

"Ini KTA, Bu. 7 juta, sekarang bunganya udah hampir 10 juta. Kalau gak bayar, kita tarik barang!"

"Pak... ini bukan rumah saya... saya cuma... saya cuma numpang..."

Rania mencoba menjelaskan. Tapi mulutnya gemetar. Air matanya menahan di ujung kelopak.

"Pokoknya kita tarik aja barangnya ya!" Lelaki bertato sudah masuk ruang tamu. Matanya liar. Melihat kipas angin, TV, dan kulkas kecil di dapur.

"PAK! JANGAN! Itu... itu bukan punya kami!"

Rania berdiri di depan kipas. Rafif ikut berdiri di depan kulkas. Hana makin keras menangis.

"KAMI ITU CUMA NUMPANG!! SUAMI SAYA HILANG! KALIAN MAU NAGIH APA?!"

Nada suaranya pecah. Bukan karena marah. Tapi karena takut dan lelah. Dan malu.

Karena anak-anaknya melihat semuanya.

---

"Bu, kita bakal diusir ya?" bisik Rafif di kamar.

Matanya merah. Tangannya menggenggam ujung jilbab ibunya.

"Enggak, Nak... enggak... Ibu di sini. Selalu ada."

Tapi Rania sendiri tak yakin.

Karena sore itu, Elsa menelepon. Suaranya ketus.

"Kamu gimana sih?! Rumah kami digerebek tukang utang! Itu aib! Mamak kaget sampe sesak napas! Emir ke mana?!"

Rania tak tahu harus menjawab apa.

Ia ingin bilang:

"Aku nggak tahu. Aku juga korban."

Tapi ia hanya bilang,

"Maaf, Kak. Aku usahakan cari jalan keluar..."

Dan itu... kebohongan paling menyakitkan hari itu.

Karena ia tak tahu jalan mana yang tersisa.

---

Malamnya, Hana demam.

Rania menempelkan tisu basah di kening anaknya.

Listrik sempat padam karena token habis.

Ia harus menyalakan lilin kecil dari kamar mandi. Rafif duduk di dekat jendela, tak mau tidur. Ia merasa harus jaga ibunya.

"Minggu depan kita ke rumah sakit ya, Bu. Biar Ibu kemo lagi. Rafif temenin."

Rania hanya mengangguk.

Tapi hatinya berdarah. Karena biaya kemoterapi belum ada.

Obat nyeri juga sudah habis.

Dan esok harinya, ia berani melakukan hal yang paling menampar harga dirinya.

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kau, Aku & Papimu
9.1
Elena tak menyangka hubungan cintanya dengan Erlangga, pemuda kaya, akan berujung tragis. Meski Tiara, mami Erlangga, menentang mereka, sebuah jebakan zat perangsang justru salah sasaran. Elena malah terjebak dalam pelukan Herlambang, ayah tiri kekasihnya. Saat Elena hamil, Erlangga dan Herlambang sama-sama merasa sebagai ayahnya. Di tengah konflik harga diri dan dendam, Elena terjepit di antara dua pria dalam satu keluarga. Akankah rahasia gelap ini menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Asal kalian puas
9.3
Dalam kegelapan, seorang asisten rumah tangga terjebak dalam situasi mencekam saat Pak Karmin, Pak Darmaji, dan Pak Doyo mulai menjamah tubuhnya secara bergantian. Di tengah perlakuan liar yang membangkitkan gairah sekaligus rasa takut, sang majikan bernama Pak Arga justru merencanakan siasat jahat. Merasa tak puas dengan istrinya, ia berniat membawa pembantunya pergi ke tempat jauh untuk memuaskan nafsu pribadinya tanpa kecurigaan siapa pun. Akankah ia berhasil?
Sampul Novel Cinta Melawan Syarat
9.4
Demi kesembuhan sang ayah, Helena terpaksa menggantikan saudara tirinya menikahi pewaris kota yang tuli. Namun, malam pertama mereka justru diawali peringatan dingin bahwa pernikahan ini hanyalah bisnis. Helena harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sulit ditebak. Meski banyak yang meramal kehancurannya, sang suami justru menjadi pelindung utama. Saat kontrak usai dan Helena bersiap pergi, pria itu memohon sambil menangis agar ia tetap tinggal.
Sampul Novel Cinta Terlarang Dengan Tetangga
9.7
Maya terjebak dalam pernikahan kelam bersama Rafael, suami temperamental yang kerap menyakiti fisik dan batinnya. Suatu malam, ia terpaku melihat kemesraan Daniel, tetangga barunya, terhadap pasangannya. Kelembutan Daniel memicu rasa iri sekaligus kekosongan mendalam di hati Maya. Meski Daniel telah beristri, benih cinta terlarang mulai tumbuh di jiwa Maya. Kini ia terombang-ambing antara tanggung jawab moral dan dambaannya akan kasih sayang yang tulus.
Sampul Novel FANTASI LIAR MR. DOMINAN
9.5
Jenny Wilson terjebak dalam dilema antara Liam Anderson, pria dominan yang ingin mewujudkan fantasi liarnya, dan Ares Martin, bosnya yang menuntut. Setelah malam penuh gairah yang melanggar batas profesional dengan Ares, Jenny kian bimbang. Liam, mantan sahabat Ares, bertekad melatih dan memenangkan jiwa Jenny meski kepercayaan sulit didapat. Di tengah persaingan sengit ini, Liam siap mempertaruhkan segalanya demi memiliki Jenny selamanya sebelum Ares merebutnya.
Sampul Novel Gairah Suami Perkasa
8.0
Marvin Rock adalah sosok lelaki yang memiliki segalanya, mulai dari kekayaan melimpah hingga kekuasaan besar. Meski dikelilingi oleh banyak wanita hebat yang memuja statusnya, Marvin tetap mengutamakan ketulusan hati di atas segalanya. Kehidupannya penuh dengan gairah dan dominasi, bahkan sang istri sendiri mengakui keperkasaan suaminya dengan penuh rasa bangga. Inilah kisah tentang kekuatan, harta, dan pesona seorang pria yang tak tertandingi di dunianya.