APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bodyguard I'm In Love

Bodyguard I'm In Love

Jhon Christy terobsesi pada Aleta Louison sejak pandangan pertama. Seiring waktu, perasaan tersebut berkembang menjadi obsesi yang kelam. Demi mendekati sang pujaan hati, Jhon rela melepas hidup mewahnya dan bertolak ke Rusia untuk menjadi seorang bodyguard. Ambisi terbesarnya hanyalah terus mendampingi Aleta. Jhon bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri gadis itu dan membimbingnya kembali menjadi sosok wanita yang normal sepenuhnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pukul 03:00 dini hari.

Ruangan dingin serta dipenuhi keluarga nyamuk telah menjadi tempat persinggahan Aleta. Gadis itu meringkukan tubuh di pojokan dengan tatapan lekat ke besi-besi pembatas dirinya.

Satu jam sudah berlalu semenjak ia memasuki neraka dunia, ia pun telah menghitung lebih dari 20 angka. Namun, sosok berkumis tebal yang ia tunggu tak kunjung tiba.

"Cih, di mana Daady?" Gerutunya, "tidak mungkin Daady membiarkan para Polisi itu memiliki kesempatan curi-curi pandang padaku 'kan?"

Setiap kali Aleta berada di sini, beberapa Polisi memang menjadikan ia cindera malam. Kecantikan dan bentuk tubuh laksana biola Spanyol, memungkinkan semua mata terhipnotis.

Sayang sekali jika nantinya mereka tau kenyataan mengerikan dibalik wanita itu.

Jauh dari Neraka Dunia

Louison duduk menyilangkan kaki pada sofa berkulit ular, Kedua tangan melipat di atas dada serta mata terpejam, tapi telinga cukup awas.

Aaa …

Aaa …

Ampun …

Rintihan demi rintihan bergema mengisi kegelapan sebuah ruang pengap dan hanya diisi satu lampu remang-remang.

Bagi Luoison suara pria di bawah kakinya terdengar merdu, sehingga ia sangat menikmati.

"Tuanku, Ia sudah mati," bisik salah seorang pria tanpa sehelai baju, hanya celana hitam panjang yang membalut setengah tubuhnya

"Ambil organnya dan kuburkan ia secara layak."

"Siap, Tuanku."

Louison terkenal bengis, kejam, sadis dan julukan iblis lainnya. 

Ayah dari dua anak itu tak tanggung-tanggung jika berurusan dengan penyiksaan. Apalagi jika sebabnya menyangkut Aleta, Puteri kesayangannya.

"Pria itu memiliki kekasih, Bagaimana kita menangani kekasihnya, Tuanku?"

"Cuci otaknya, jangan biarkan ia mengingat sedikitpun tentang Aleta."

"Baik, Tuanku."

Satu-persatu Anak buah Luoison meninggalkan ruangan. Tubuh pria yang baru usai ia siksa juga diseret keluar.

Kini hanya ada ia seorang pria kejam. Pun mengerjapkan mata, melihat lampu berkedip-kedip akan mati.

Setelah berdiam cukup lama, ia memutuskan keluar, sembari melepaskan setelan jas yang sudah bau asap rokok.

Secara asal ia melempar setelan jasnya dan ditangkap seorang pelayan. 

"Ayah … Bagaimana dengan Aleta?" Tanya Pria berambut putih menyusul Louison masuk ke kamar.

"Atasi besok," jawab Louison tegas.

"Tapi--"

"Sky … kali ini biarkan ia merasakan kecerobohannya."

Jadi pria berambut putih itu bernama Sky, ia salah satu anak buah Louison yang sudah dianggap anak. 

**

Malam panjang telah usai, samar-samar cahaya rembulan memudar diiringi datangnya kehangatan mentari.

Hoam …

Aleta menguap setelah mengerjapkan mata dari tidur singkat. Tatapan gadis itu langsung tertuju pada jeruji besi. 

Batang hidung sang Ayah tak tampak, Aleta memicingkan mata seraya menghantam dinding ruangan.

Bukkk …

"Hei!" Pekik tahanan wanita bersamaan dengan keterkejutan Aleta. "Berani sekali kau menggangu tidurku!" Lanjut tahanan wanita itu mulai berdiri.

Aleta bertanya, "Siapa?"

"Kau!" Balasnya menekan Suara.

"Yang tanya," imbuh Aleta mencebikkan bibir.

"Pelac**, berani kau padaku!"

Aleta tak bergeming, sepagi ini ia belum minat berperang. Baginya akan lebih baik mengunci mulut ketimbang meladeni kemarahan wanita itu.

"Sudah sana tidur lagi! Berisik!" Suruh Aleta memandang sebelah mata.

Pada akhirnya, tahanan wanita tersebut melanjutkan mimpi, meringkukan tubuh di atas tikar Serta menyelimuti diri dengan kain tipis.

Aleta menghela kesal, seseorang yang ia tunggu masih belum datang, membuat ketenangan jiwanya sedikit terusik.

Tanpa Aleta tau, bersama Sky dan supir pribadi. Louison mendaratkan pijakan pada pelataran parkir kantor Polisi. Kacamata hitam yang masih menggantung ia lepas, lalu diselipkan diantara kancing kemejanya. 

Ia menghela berat, pasalnya ia seakan rutin mendatangi kantor ini. Sampai-sampai ia faham betul siapa saja para Polisi yang bertugas. Mulai dari yang muda, tua, junior sampai senior. Semuanya ia kenal, begitupun sebaliknya.

"Sky?"

"Iya, Ayah."

"Jemput Aleta, Aku akan menyelesaikan kasusnya."

"Baik, Ayah."

Lantas keduanya melangkah saling membelakangi. Louison ke arah timur sedang Sky ke arah barat.

"Halo … Selamat datang kembali, Mr Louison."

Sambutan hangat, tapi terdengar penuh ejekan memenuhi gendang telinga Louison. Sesaat Louison mengepalkan tangan. Jika ia tidak berpikir puluhan kali seperti Puterinya, pasti ia sudah mencabik habis Polisi tersebut.

Sang Polisi mempersilahkan Louison duduk. "Silakan duduk, Mr."

Mereka saling berhadapan, hanya ada meja kecil beserta tumpukan dokumen sebagai sekat Pemisah.

"Walaupun Aku sudah faham apa yang akan kau katakan, tetapi Aku tetap ingin mendengarnya. Silahkan …" Cara bicaranya benar-benar menyudutkan Louison.

Louison tak mau ambil pusing. Sebatang rokok ia nyalakan, kepulan demi kepulan menyeruak perlahan dari lobang hidung dan sela bibirnya.

"Aku tidak ingin berbicara panjang lebar, sebutkan saja Nominal kebebasan Puteriku," kata Louison terdengar santai, akan tetapi matanya menatap tajam. Se-tajam pedang samurai.

Polisi tersebut menyeringai kecil, ia menyodorkan beberapa lembar dokumen yang tanpa Louison baca pun sudah ketebak isinya. Namun, Louison cukup tertegun kala melihat angka nominal kebebasan Puterinya naik 2x lipat.

Padahal terakhir kali ia datang belum sampai 2 bulan. Ternyata, para Polisi di sini juga suka bermain taktik.

Terpaut beberapa meter dari tempat Louison duduk, Kemarahan Aleta sudah tak terbendung. Sekali lagi ia menghantam dinding ruangan hingga wanita yang sedang terlelap kembali terperanjat bangun.

"Hei!!!" Kali ini bentakannya lebih seru. "Kau cari mati!"

Melihat signal Kemarahan tahanan wanita tersebut, kemarahan Aleta bertambah 100%. Kobaran api dalam hatinya kian membesar, siap membakar orang disekitarnya.

"Brengs**! Dari tadi kau meneriakiku! Kau pikir kau siapa, jal*Ng!"

Serangan tangan Aleta mulai meluncur, ia mencekik tahanan itu. 

"K--k--kau!" Suaranya terbata-bata seraya melepaskan cengkraman Aleta. 

Aleta semakin tak kalap. Kekuatannya berhasil mendorong tubuh si tahanan wanita sampai tersungkur. Walau begitu Aleta enggan menarik, justru ia semakin bengis dengan menduduki perut si tahanan.

"Kau ingin membunuhku! Maka sebelum Aku terbunuh, kau harus ku bunuh!"

Itulah prinsip Aleta, membunuh sebelum dibunuh.

"Le--le--lepas--kan! Ja-aa--jal**!"

Rasa kesakitan serta wajah memerah si tahanan wanita menjadikan bibir ranum Aleta melengkung indah. Pemandangan seperti ini sangat ia sukai.

"Gila! Wa---wanita gi--la. To--long!!!"

"Aleta!!"

Sigap Aleta menoleh ke sumber suara. "Sky …" ia pun menjauhkan cengkraman tangan dari leher si tahanan. 

Ukhuk … ukhuk …

"Tolong … wanita ini gila! Dia mau membunuhku." Lapor si tahanan, sembari mengusap kasar bekas cekikan Aleta.

"Sky … bebaskan Aku dari sini!" Pinta Aleta setengah memohon.

Tak tunggu lama, sang Polisi datang membukakan gembok Jeruji. Dari dalam Aleta menerobos keluar, menghambur pada tubuh Sky.

"Tadinya ku kira kalian tidak akan datang," ujar Aleta.

Sky yang selalu mendapat perlakuan demikian, sejujurnya merasa senang. Sky mengusap pundak Aleta. "Jangan khawatir, selama kami masih hidup kami akan selalu menyelamatkanmu."

"Oh … Sky, kau pantas disebut Kakak." Pelukan Aleta semakin kuat, darah Sky dibuat bersesir olehnya.

1 jam Kemudian.

Aleta duduk menunduk, tak sekalipun ia memberanikan diri menatap langsung wajah Louison walau sekedar melirik.

Meong … meong …

Bahkan ketika Katy, kucing kesayangan Aleta mengeong pertanda panggilan untuk Tuannya. Gadis itu tak menggubris.

"Kau sudah menyadari kesalahanmu?"

Aleta menggeleng lemah dan berkata jujur, "Tidak, Daady."

Brukk …

Dalam sekali gebrak, Louison mematahkan meja kayu se-tegal 7 inci di hadapan Aleta. Gadis itu sempat tersentak kaget. 

"Sky …"

"Iya, Ayah."

"Hukuman apa yang cocok untuk dia?"

Sebagai pengawal sekaligus anak angkat, Sky harus ikut serta memberi hukuman pada Aleta. Namun, sebagai seorang kakak yang menyimpan sejumput cinta untuk Aleta, ia tak sanggup.

Sky melirik ke arah Aleta. Kepala gadis itu menunduk, tapi ia masih merasakan tatapan Sky, Aleta pun menggeleng pelan.

"Sky!" Suara Louison memekik.

"Tidak, Ayah. Jangan hukum Aleta, tetapi …"

Kalimat Sky sengaja menggantung. "Tetapi … Aleta harus dijaga, seseorang harus selalu di sisinya agar ia tidak bisa berbuat macam-macam."

Terlihat Louison berpikir lama mengenai saran Sky. Seketika ia teringat sesuatu. 

"Bodyguard!" Ucapnya, "ya, Aleta butuh pengawal khusus."

Sky menghela lega, setidaknya Aleta lolos dari hukuman, tapi sekarang giliran dirinya yang tak lolos dari kilatan tajam netra biru Aleta.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
7.9
Adit, mahasiswa yang kerap dirundung, memilih mengakhiri hidupnya. Namun, jiwa Hito Aswatama justru merasuk ke raga Adit setelah sebuah kecelakaan maut menimpanya. Menggunakan identitas baru, Hito menyelidiki dalang pembunuhannya sambil memperebutkan takhta ahli waris Aswatama melawan paman dan sepupunya. Konflik ini perlahan mengungkap rahasia gelap keluarga besar terkait kematian orang tua Hito. Mampukah ia bertahan di tengah intrik perebutan kekuasaan tersebut?
Sampul Novel Beauty and The Mafia
8.4
Hidup Rosetta Alighieri hancur saat ia diculik oleh mafia kejam, Marco Botticelli. Ia menjadi tawanan akibat fitnah saudara kembarnya, Caritta, yang menuduhnya mencuri kalung pusaka Marco. Di tengah intrik berbahaya, benih cinta tak terduga justru tumbuh di antara mereka. Saat Marco menawarkan sebuah komitmen serius, Rosetta terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia menerima pria kriminal itu dan terjun ke dunia gelap yang penuh risiko demi perasaan yang mulai tumbuh?
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh kini memegang misi baru sebagai pelindung seorang ilmuwan jenius. Keselamatan sang ilmuwan terancam setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang sangat krusial. Namun, di tengah situasi berbahaya yang mengintai nyawa mereka, benih-benih asmara justru mulai tumbuh. Pertemuan intens ini memaksa sang gadis menghadapi konflik batin saat perasaan profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda dari Qingchang, tak sengaja bertemu The Flame, Phoenix legendaris milik Sage Putih Alaric yang gugur melawan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, Phoenix yang sekarat itu melakukan ritual penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan tersebut dikunci hingga Kiran dewasa dan dikenal sebagai jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, rahasia besar terungkap saat ia dituduh sebagai pengkhianat dan penerus Klan Phoenix Merah, memicu pengejaran maut oleh Kekaisaran Hersen.
Sampul Novel Pendekar Pedang Terhebat
9.1
Zero, bocah yatim piatu berusia sepuluh tahun, kerap dirundung karena ambisinya menjadi pendekar pedang hebat meski kemampuannya sangat buruk. Statusnya yang misterius di bawah asuhan Master Pedang juga memicu rasa iri kawan-kawannya. Namun, semangatnya terbakar hebat setelah mengetahui bahwa sang ayah ternyata adalah salah satu pendekar legendaris. Kini, Zero harus membuktikan kekuatannya melewati berbagai rintangan demi meraih gelar tertinggi tersebut.
Sampul Novel Pesona Uncle Ji
8.9
Jimmy Hugo, seorang bos mafia yang sangat berpengaruh, terjerat dalam romansa rumit dengan Graziela. Sebagai putri mendiang sahabatnya, Graziela membawa warna baru dalam hidup Jimmy yang keras. Meski terpaut usia yang sangat jauh, keduanya harus menghadapi berbagai ancaman dari musuh-musuh berbahaya. Perjalanan cinta mereka menjadi perpaduan antara aksi menegangkan yang penuh risiko dan sisi romantis yang mendalam di tengah dunia gelap kriminalitas.