APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian

Tragedi tak terduga memaksa Zaura Mazna Maziya masuk ke dalam ikatan pernikahan tanpa landasan cinta. Gadis ceria ini harus menghadapi Ezar Shafar Dhiaurrahman, sosok pria workaholic yang dikenal sangat tegas dan keras kepala. Di tengah benturan kepribadian yang kontras, mereka terjebak dalam komitmen formal yang dingin. Akankah benih kasih sayang tumbuh seiring waktu, ataukah perpisahan menjadi satu-satunya solusi bagi mereka? Simak terus perjalanan pahit manisnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ah, kebetulan ada Bapak, saya ingin minta tolong." Ezar yang menyadari kehadiran bapak yang mengenakan jas hujan segera menghampiri Bapak tersebut.

"Minta tolong apa? Minta tolong untuk menikahkan kalian berdua?" Bapak tersebut manatap tajam ke Ezar dan Ziya.

"Maksudnya apa, ya, Pak?" Ezar menautkan kedua alis.

Ziya yang menyimak pembicaraan keduanya pun ikut bingung. Dia tidak mengerti maksud Bapak berjas hujan yang baru saja tiba. Namun, Ziya yang sudah menahan sakit sejak tadi memilih untuk diam, tidak ingin menanggapi perkataan kedua lelaki di depannya.

"Sudahalah, enggak usah mengelak, A." Bapak berjas hujan itu terus mengatakan hal yang tidak dimengerti oleh Ezar dan Ziya.

Ezar dan Ziya saling tatap dengan tanda tanya besar di pikiran keduanya. Lelaki berkaus putih itu mulai menelaah situasi. Dia berpikir jika ada kesalah pahaman di antara dirinya dan bapak berjas hujan. Ezar ingin sekali membalas tatapan penuh tuduhan dari Bapak tersebut, tetapi dia menahannya karena sadar di tempat siapa saat ini. Ezar pun menarik napas dalam untuk meredakan gejolak amarah karena telah dituduh sesuatu yang tidak dia paham.

"Pak, saya benar-benar tidak mengerti maksud, Bapak? Saya-," kata Ezar terpotong karena dengan tiba-tiba banyak warga yang berdatangan.

Ezar semakin dibuat bingung. Dia tidak mengerti dari mana datangnya warga bahkan sejak tadi tak ada satu pun warga yang ditemuinya ketika dia sibuk mencari tempat berteduh, tetapi sekarang tanpa diundang warga tersebut beradatangan. Tatapan warga penuh benci ke Ezar dan Ziya. Dua anak yang tidak saling mengenal itu ditatap bagai penjahat kelas kakap yang tertangkap basah melakukan kejahatan. Suara-suara teriakan tidak jelas juga dilemparkan ke Ziya dan Ezar membuat keduanya saling tatap kembali.

"Arak mereka!"

"Mereka sudah mengotori kampung kita!"

"Tidak ada maaf untuk pezina!"

"Nikahkan saja!"

"Manusia tidak beradab! Gaya saja orang kota kelakukan seperti binatang!"

Kalimat-kalimat makian terus berdatangan silih berganti membuat Ziya dan Ezar tak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan. Ezar sudah tidak dapat menahan gejolak di dadanya. Telinganya mulai panas karena mendengar tuduhan-tuduhan tidak berdasar itu. Rahang pria itu mengeras dengan tangan terkepal. Dia menegakkan kepala. Kemudian, melihat satu per satu warga dengan tatapan tajam, sedangkan Ziya tak henti mengucap istigfar melihat keadaan yang kacau.

"Siapa yang kalian tuduh pezina?" tanya Ezar dengan suara intimidasi. Dia mengeluarkan aura mencekam seperti melawan musuh-musuhnya dipersidangan.

"Tuduhan kalian tidak benar. Itu fitnah." Ziya yang sejak tadi diam ikut membuka suara.

"Alah, maling mana ada yang mau ngaku! Suadah Pak RT segera eksekusi, arak mereka!"

Kondisi semakin tidak terkontrol, warga yang datang mulai terus menekan Pak RT untuk menghukum Ziya dan Ezar yang menjadi sasaran kemarahan warga. Tangan Ezar mulai dipegang oleh dua orang warga dengan kencang seakan-akan takut bahwa tersangka akan melarikan diri. Ziya pun yang sejak tadi duduk dipaksa berdiri oleh warga lainnya, dia juga diperlakukan sama seperti Ezar. Warga yang dipenuhi kilatan marah dari matanya menutup mata dengan kondisi Ziya yang pucat karena menahan sakit sejak tadi.

Kedua tangan Ziya dipegang ke belakang oleh salah satu warga laki-laki, sehingga lengan baju sebelah kanan yang sejak tadi dia berusaha tutup dengan pashmina tersingkap memperlihatkan kulit putih Ziya. Ziya berusaha melepaskan cengkaraman pria asing di sampingnya, tetapi tenaga perempuan tidak sebanding dengan tenaga pria yang penuh kemarahan.

"Pak, saya mohon lepaskan. Tolong! Bapak membuat lengan kanan saya terlihat." Ziya memohon dengan muka pucatnya.

"Diam! Bukannya emang ingin dibuka!"

"Sudah! Tenang Semuanya! Kita selesaikan ini secara baik-baik." Lelaki berpakaian batik dengan peci hitam yang tak lain adalah ketua RT setempat mulai menengahi.

Mendengar suara tegas orang yang disegani di desa membuat warga yang tadinya ricuh mulai tenang. Mereka mengikuti instruksi Pak RT. Namun, tetap tidak membiarkan Ziya dan Ezar terbebas. Keduanya terus dipegang dengan kencang.

"Pertama, saya tahu kalau kalian bukan warga asli sini. Kalian dari mana?" Pak RT bertanya dengan baik.

"Jakarta." Ezar dan Ziya menjawab bersamaan.

"Tuh kan! Mereka menjawab dengan kompak, sudah dipastikan mereka adalah sepasang kekasih yang ingin mengotori kampung ini dengan perbuatan yang tak bermoral." salah satu warga menyahut puas seakan tuduhannya adalah kebenaran.

"Kami bisa menjelaskan." Ezar kembali bersuara kali ini dia merendahkan suaranya.

"Jadi, begini, Neng dan Aa. Kedua warga saya melihat kalian sedang berduaan digubuk ini dan hendak melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kalian ingin melakukan penyatuan kan?" Pak RT mulai menjelaskan duduk perkara.

"Ini murni salah paham. Kami tidak saling mengenal." Ziya berusaha menjelaskan dengan pelan. Dia berharap warga mempercayai kebenaran itu.

"Betul yang dikatakannya. Kami tidak saling mengenal. Saya ke sini karena berteduh kehujanan dan kebetulan di gubuk ini ada dia juga yang sedang berteduh. Kami tidak melakukan apa-apa." Ezar berusaha meluruskan kesalah pahaman ini.

"Bohong! Jelas kami melihat mereka hendak berbuat yang tidak-tidak. Coba saja jika kami tidak melihatnya sudah dipastikan mereka akan melakukan perbuatan menjijikan itu." Warga yang pertama menemukan Ezar dan Ziya di gubuk bersuara.

"sungguh kami tidak melakukan apa-apa." Ziya berusaha membuat warga percaya.

"Buktinya apa kalau kami melakukan tuduhan itu?" Ezar yakin kalau mereka tidak memiliki bukti apa pun karena tuduhan itu memang tidak benar.

"Kalian semua bisa melihat kalau baju wanita itu robek. Selain itu, lihat penampilan mereka juga kacau dan kami mendengar teriakan yang kalian tahu teriakan apa yang kami maksud."

"Yang dikatakan Mang Asep benar, Pak RT. Saya juga menyaksikan dan mendengar hal yang sama."

Ezar dan Ziya tak punya celah untuk menjelaskan. Perkataan mereka bagai angin lalu yang tidak mendapatkan satu aja dukungan dari warga sekitar. warga lebih percaya perkataan kedua manusia yang dengan tega menuduh Ezar dan Ziya. Pak RT juga lebih mempercayai keterangan kedua warganya dibandingkan dengan penjelasan Ziya dan Ezar.

Ziya dan Ezar dibawa ke balai desa untuk mendapatkan hukuman karena tuduhan dari dua warga desa yang sama sekali tak dikenal oleh Ziya dan Ezar. Ezar merasa diirinya dipermalukan serta dibuat tak berdaya berhadapan dengan warga desa. Dia yang biasanya dengan gagah berani membela kebenaran kliennya, sekarang tak mampu membela dirinya sendiri.

Liburan yang diharapkan membawa kesegaran otak justru menambah masalah hidup untuk pria berusia dua puluh delapan tahun itu. Pertama kalinya dia merasa menyesal menyetujui pilhan tempat berlibur dari sahabat sekaligus asisten kepercayaannya.

Ziya pun merasakan hal yang sam dengan Ezar. Dirinya sangat malu diperlakukan sedemikian buruk di kampung halaman orang tuanya. Diarak ke balai desa dengan penampilan yang sangat kacau, diteriaki pezina dan makian lainnya membuat dirinya merasa sangat terhina. Ziya juga memikirkan tanggapan dari kakek dan neneknya serta kedua orang tua jika kejadian ini sampai ke telinga mereka. Ziya merasa tak punya muka untuk bertemu dengan keluarganya. Ziya yakin kakek dan neneknya akan sangat marah jika mengetahui hal yang menimpa dirinya. Ziya berharap keluarganya akan percaya dengan penjelasannya nanti, sehingga dirinya dapat terbebas dari tuduhan tak berdasar warga setempat.

"Silakan hubungi keluarga kalian." Pak RT memerintahkan Ziya dan Ezar setelah sampai di balai desa.

"Apakah masalah ini tidak bisa diselesaikan tanpa melibatkan keluarga?" Ezar jelas keberatan jika orang tuanya harus terlibat dengan kesalah pahaman ini.

"Iya, terutama kamu." Pak RT melihat ke arah Ziya.

"Saya?" Ziya menunjuk dirinya sendiri.

"Kami membutuhkan wali untuk melangsungkan pernikahan ini." Pak RT berkata dengan tenang.

"Pernikahan?" Ziya dan Ezar melebarkan mata bersamaan karena terkejut.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Tajir dan Hafidz Qur'an
8.7
Nadia adalah wanita ambisius yang terbiasa hidup dalam kemewahan. Namun, dunianya berubah saat ia bertemu Akbar, seorang penghafal Al-Qur'an yang sangat sederhana. Di tengah ambisinya, Nadia mulai meragukan nilai materi setelah mengenal spiritualitas Akbar. Kini ia bimbang antara menjaga gengsi sosial atau memilih cinta sejatinya. Sayangnya, keluarga Nadia menentang keras karena perbedaan kasta ekonomi. Mampukah mereka bersatu meski terhalang tembok status sosial?
Sampul Novel Istri Cacat CEO
9.6
Christian Oliver adalah CEO sukses yang tampak memiliki segalanya, namun hidupnya terkekang oleh aturan sang ayah. Di usia 29 tahun, ia dilarang menjalin kasih karena statusnya yang sudah terikat pernikahan sejak remaja dengan Olivia, putri sahabat ayahnya. Meski telah bertahun-tahun mencari, Christian tak kunjung menemukan keberadaan istrinya itu. Ironisnya, tanpa ia sadari sedikit pun, sosok Olivia sebenarnya selalu berada sangat dekat di sisinya selama ini.
Sampul Novel Kembalinya Cinta Sang Mantan
9.0
Tujuh tahun berpacaran, Kalea dicampakkan karena hanya penjaga toko. Lima tahun berlalu, ia bangkit menjadi pemilik butik sukses dan siap menikahi seorang dokter bedah. Namun, sang mantan tiba-tiba muncul menghancurkan pesta pernikahan dengan fitnah keji. Ia membawa seorang anak kecil dan memaksa Kalea kembali demi membesarkan bocah itu bersama. Benarkah itu anak Kalea? Di mana istri pria itu? Kalea kini terjebak antara masa lalu kelam dan masa depan barunya.
Sampul Novel Kepincut Janda Tetangga
9.3
Devit merupakan seorang dosen yang tengah mempersiapkan pernikahan dengan mahasiswinya sendiri. Namun, takdir berkata lain saat ia harus tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana. Di sana, ia justru terjebak dalam perasaan mendalam terhadap Juwi, seorang janda muda yang menjadi tetangganya. Akankah rencana pernikahan yang sudah disusun matang tetap berlanjut, ataukah pesona Juwi mengubah segalanya? Ikuti pergolakan batin dan kisah cinta rumit mereka.
Sampul Novel Ketua Jurusan vs Cewek Kampungan
8.2
Mutiara Embun Pagi terpaksa pindah ke Jakarta demi memenuhi wasiat mendiang ayahnya. Di sana, ia terusik oleh Leon Bhaskara Granada, pemenang King of School yang arogan dan gemar meremehkannya sebagai gadis kampungan. Tak terima dihina, Embun bertekad memenangkan ajang Queen of School untuk membuktikan kemampuannya. Di tengah persaingan dan intimidasi Leon, mampukah Embun bertahan, meraih takhta sekolah, sekaligus menaklukkan hati sang playboy kaya tersebut?
Sampul Novel Mencintai Gadis Amnesia
8.5
Waktu belasan tahun bersama Amelia tak mampu menumbuhkan rasa di hati Adib. Ia justru jatuh hati pada Adiba, gadis amnesia yang ditolongnya enam bulan lalu. Meski ditentang orang tua dan ditekan keluarga Amelia, Adib tetap ingin menikahi Adiba. Sang ibu memberi syarat: Adib harus menemukan keluarga kandung Adiba dan siap menanggung segala risiko. Mampukah Adib memperjuangkan cintanya dan bertahan saat badai besar mulai mengancam kebahagiaan mereka?