APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cahaya Pelangi dari Surga

Cahaya Pelangi dari Surga

Hidup Rubby dipenuhi derita akibat siksaan ibu tirinya. Di tengah luka itu, Rain hadir menawarkan cinta tulus sebagai sahabat setia. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, Rubby justru dipaksa menikah dengan Halilintar yang menyimpan niat jahat. Meski berbahaya, pesona Halilintar tetap menggetarkan hati Rubby. Kini ia terjebak dalam dilema besar. Antara janji setia Rain dan daya tarik Halilintar, siapakah yang akhirnya Rubby pilih untuk sisa hidupnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Inggrid memejamkan mata. Dia membuka kembali kotak kenangan bersama suaminya yang meninggal karena mengalami kecelakaan. Membuka foto seorang wanita berambut hitam yang duduk bersebelahan dengan suaminya.

"Sherena, maafkan aku. Seandainya aku tahu, kau hidup menderita dengan Brahma. Aku tidak akan melarang Emanuel dekat denganmu dulu. Semoga anakku bisa membahagiakan anakmu, Pelangi.

"Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana membongkar tabir rahasia yang menyadarkan Brahma," keluh Inggrid dengan menyandarkan tubuh di kepala ranjang.

*

Udara pagi menyapa, sinar keemasan menerobos ranting pohon. Daun-daun menari seirama dengan hembusan angin. Di bawah pohon besar, Rubby dan Rain menikmati sarapan. Satu bekal berdua sudah biasa mereka nikmati.

Rain menyingkirkan daun kering yang jatuh, menyentuh pucuk kepala Rubby. Siapapun yang melihat akan menganggap mereka pacaran. Namun, nyatanya hanya persahabatan yang mengikat mereka.

"Masakan, Mbok Minah selalu enak ya?" Rubby membuka suara.

"Kau suka?" Rain memiringkan wajah ke satu sisi dengan tersenyum tipis. Senyum yang hanya terukir untuk Rubby seorang.

"Heum." Rubby mengangguk antusias. Dengan lahap kembali memasukan satu sendok nasi ke dalam mulut.

"Kebiasaan, makan belepotan." Rain membersihkan satu nasi yang ada di ujung bibir Rubby. Rubby hanya tersenyum dengan mulut penuh dengan nasi.

"Makan nih, dari tadi aku aja yang makan," cicit Rubby menyuapkan satu sendok nasi pada Rain. Rain membuka mulutnya.

"Kau beruntung punya Mbok Minah."

"Hanya dia yang kumiliki setelah ibu pergi. Ayah selalu sibuk. Aku benci!" sahut Rain.

"Bukankah dia sangat baik? Buktinya dia mau ikut pindah ke Jakarta memenuhi keinginanmu," tutur Rubby.

"Ya karena kebetulan saja dia pindah kerja," sahut Rain. Rubby tidak memperpanjang pembahasan. Karena tahu, Rain tidak suka.

Usai sarapan Rubby mengeluarkan kertas HVS. Dia merogoh pensil yang lancip.

"Berposelah!" titah Rubby.

"Huh, kebiasaan," keluh Rain. Rubby hanya membalas dengan terkekeh.

"Sampai kapan kau jadikan aku objek lukisanmu, Rubby?" protes Rain. Rubby tidak menjawab. Rubby fokus menggoreskan pensil pada kertas putih. Dia melukis Rain yang sedang duduk, memegang kotak bekal yang berada dalam pangkuan.

"Rubby aku pegel, udah blom?" protes Rain setelah lima menit dia berpose dengan mencucutkan bibir.

"Diem nape. Berisik!" bentak Rubby.

"Huh!"

"Tuh bibir mau kulukis manyun?" goda Rubby.

"Eh, jangan macam-macam ya," ancam Rain.

beberapa menit berlalu.

"Selesai!" Rubby tersenyum sumringah.

Rubby menyodorkan sketsa wajah Rain. Mata Rain membola, memukul kepala Rubby dengan kotak bekal. Dia mencekik Ruby dengan siku dan menghadapkan wajah Rubby pada ketiaknya. Bukan marah Rubby terkekeh.

"Rubby, Astaga! Gambar apa ini? Kenapa bibirku jadi seperti ini? Kau pikir aku bang Malih!?" Rain tidak berhenti menjitak pelan kepala Rubby.

"Haha, sukurin. Kubilang jangan manyun!"

Rubby menggigit dada Rain, hingga meringis dan Rain melepaskan tangannya yang mengunci kepala Rubby.

"Dasar nakal!" Rain mengacak rambut Rubby.

"Hey, apa salahku? Aku sudah bilang

kan, jangan cemberut! Itulah hasilnya," kilah Rubby.

Mereka tertawa senang. Rain memasukan sketsa gambarnya ke dalam tas ransel. Rubby sudah tidak heran, dia tahu Rain memajang semua goresan tangan Rubby di ruangan yang khusus. Mereka masih bercanda dengan banyak tawa yang terukir. Hingga teriakan perempuan mengalihkan mereka.

Noli—sahabat Rubby datang. Dia berteriak dengan napas tersengal-sengal. Sampai di hadapan Rubby, dia membungkukkan setengah badan.

Hosh

Hosh

Ruby dan Rain hanya duduk santai menyaksikan Noli. Menunggu berita apa lagi yang akan dibawa biang gosip itu.

Noli menegakkan tubuh dan mulai berbicara, meski napasnya masih belum beraturan.

"Ka kalian tahu, tidak?" ucapnya terbata.

"Apa?" jawab Rubby. Rain hanya diam tidak menanggapi.

"Itu … a anu …."

"Gak jelas deh," keluh Rubby. Dia beranjak dari duduk. "Ngomong tuh jangan terpotong-potong gitu! Pelan-pelan," serunya.

"Tarik napas," titah Rubby. Noly mengikuti dia menarik napas panjang. "Hembuskan!"

"Duuuuutt."

"Astagfirullah, Noliiiii!" teriak Ruby dengan menutup hidung.

Noly menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tersenyum cengengesan dan itu terlihat menyebalkan di mata Rubby.

"Sorry, keceplosan, hehe." Noli mengacungkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.

Rubby mengibaskan tangan. "Bau tahu, dasar jorok!" umpatnya. Noli hanya terkekeh. Rain merotasikan mata jengah.

"Katakan deh ada apa, heboh banget," selidik Rubby.

"Eh, lo tau, gak? Di sekolah kita akan ada murid baru. Anjirrrrr, ganteng banget ke Lee min ho," cicitnya histeris dengan menjerit histeris.

"Jadi itu yang kau bilang, berita penting?" Rubby mengangkat satu alis. Tidak tertarik.

"Iya, keren kan. Yakin kalau lo lihat, pasti jatuh cinta. Dan, lo batu es." Noli menunjuk Rain yang masih acuh.

"Gue yakin, persona lo, bakal kalah." Noli tersenyum meremehkan. Rain sama sekali tidak peduli. Dia bersiul mendongak menatap daun-daun.

"Pesona, oncom, bukan persona," koreksi Rubby dengan menoyor kepala Noli.

"Ya, itu deh. Oh iya. Gimana kalau kita lihat dia, katanya lagi di parkiran. Uwuuuu, seganteng apa sih," cicit Noli.

"Jadi kamu belum lihat? Katanya seperti leho," seloroh Rubby.

"Oh ya ampun, ya ampun." Noly menepuk jidatnya sendiri. "Lee Min-ho, bukan leho atau ingus!" geram Noli.

"Sama aja." Rubby mengibaskan tangan.

"Ayo kita lihat." Noli menarik tangan Rubby.

"No!" tolak Rubby menepis tangan Noli.

"Gak solder Lo." Noli mencucutkan bibir.

"Solider, bege!" Rubby menoyor Noli.

"Dah ah, aku mau ke kelas!" Rubby berjalan acuh, meninggalkan Noli yang terus bersungut-sungut. Rain ikut beranjak dan membuntuti Rubby. Rubby dan Rain berjalan menuju koridor kelas, sedangkan Noli lebih memilih ke parkiran mencari anak baru.

Sepanjang jalan, banyak adik kelas yang kecentilan pada Rain. Namun, seperti biasa, pria itu hanya mengangguk tanpa tersenyum. Dingin dan ganteng, dua kata itu yang menjadi perbincangan para wanita. Banyak adik kelas yang memberikan bunga, coklat, bekal dan surat cinta. Tangan Rubby yang siap sedia menerima itu semua. Rain selalu meminta Rubby membuang semua pemberian para fans-nya. Namun, Rubby tidak pernah melakukan itu. Dia akan menghabiskan semua pemberian fans Rain dengan Noly dan Cloud.

"Kalau gini terus kau tidak akan punya pacar. Terlalu dingin nanti gak kawin-kawin," cicit Rubby dengan kedua tangan membawa semua pemberian Fans Rain.

"Ngapain pusing kan ada kamu, Rub."

"Maksudnya?" Rubby menatap Rain.

"Dasar tulalit, dah ah!"

Rain berjalan cepat meninggalkan Rubby dengan wajah yang memerah. Rain merutuki kebodohan ucapannya. Dia pergi meninggalkan Rubby, tidak kuasa menahan genderang jantungnya yang terus berdebar tidak karuan.

Rubby berlari mengejar Rain, penasaran dengan apa yang diucapkan Rain. Karena tidak fokus dia menabrak seseorang. Hingga Rubby terjatuh ke lantai dan barang bawaannya berhamburan.

"Aduh, sakit," pelik Rubby memegangi pantatnya.

"Hey, kalau jalan pake mata dong!" Pria itu menendang coklat Rubby yang berhamburan di lantai.

Rubby beranjak dari duduk dengan wajah murka. Dia mengambil satu buket bunga mawar.

"Hay, kau! Seenaknya menendang makanan. Kau tahu tidak, cari duit itu susah!" omel Rubby dengan bertolak pinggang.

"Lo yang salah jalan tidak pakai mata! Dasar udik!"

"Kau jalan pake mata?" tanya Rubby. "Cih!" Rubby mengangkat satu sudut bibirnya.

"Ya. Emang lo, buta!" semburnya.

"Dasar bodoh, enak saja bilang buta!" Rubby memukul kepala pria asing itu dengan buket bunga mawar. Sehingga kelopaknya berhamburan di lantai.

"Beraninya lo, pukul gue!" Pria itu murka dengan wajah yang memerah.

"Kenapa harus takut pada orang bodoh!?"

"Gue tidak bodoh!"

"Kau bilang jalan pake mata, dimana-mana jalan pake kaki bukan mata! Jadi, apa namanya kalau bukan bodoh, hem?" Ruby memiringkan wajahnya.

"Nah, itu dia murid barunya! Kejaaaaaar!" seru Noli bersama siswi yang lain.

"Rubby, tahan dia!" titah Noli dengan berteriak.

Pria asing yang tadi menabrak Rubby pun ketakutan saat siswa perempuan mengejar dia. Sebelum pergi dia mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Rubby. "Awas kau!" ancamnya. Rubby tidak terpengaruh, dia berjongkok dan merapikan kembali barang-barang yang terjatuh.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFFAIR WITH IPAR
9.4
Tiga tahun membina rumah tangga tanpa kehadiran buah hati membuat hubungan Alma dan Evan mulai terasa hambar. Di tengah kejenuhan yang melanda, Evan justru mencari pelarian hingga terjebak skandal asmara dengan Laras, adik iparnya sendiri. Pengkhianatan ini menjadi ujian berat bagi pernikahan mereka. Akankah Alma mampu memberikan maaf saat rahasia terlarang antara suami dan adiknya terbongkar? Sebuah kisah emosional tentang kesetiaan yang hancur.
Sampul Novel Cathleen secret
8.1
Cathleen rela berperan sebagai antagonis demi melindungi Rikkard, pangeran kampus pujaannya, dari para wanita yang berniat buruk. Meski dibenci, ia bertahan hingga lembaran cintanya mencapai angka 3650. Akhirnya, Cathleen memilih mundur dan merelakan Rikkard bagi wanita lain yang tulus. Saat rahasia pengorbanannya terungkap, dunia Rikkard seketika terguncang. Akankah pandangan Rikkard terhadap sosok yang ia anggap iblis ini berubah selamanya?
Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Vanya adalah ladyboy menawan yang kecantikannya mengancam wanita tulen. Di sebuah klub, ia terpikat pada Ricardo Esteban, namun ragu akan statusnya. Pesonanya sebagai penari juga memicu obsesi Peter Hallmark, miliarder New York, serta Don Salvatore, bos mafia Italia yang ingin mengubahnya. Di balik karier MUA, Vanya terjebak dalam gelapnya perdagangan manusia. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan cinta sejati di tengah badai penderitaan tersebut?
Sampul Novel Cinta Seroja
8.2
Seroja Wijaya adalah kembang desa rupawan anak petani di tanah Sunda. Meski banyak pria desa hingga kota ingin meminangnya, ia selalu menolak demi menunda pernikahan. Suatu hari, sang abah menjodohkannya dengan juragan sayur dari kampung tetangga. Sayangnya, pernikahan itu berakhir cerai karena Seroja hanya merasa kecewa. Di tengah luka, ia bertemu Alzidan, teman masa kecil yang sempat pindah ke kota. Pertemuan itu membawa mereka ke pelaminan dan hidup bahagia.
Sampul Novel Hasrat Liar
8.8
Meski statusnya hanya anak angkat, Rey mendapatkan dukungan penuh dari orang tua serta saudara-saudaranya untuk bertransformasi menjadi sosok pria perkasa. Mereka mendorongnya untuk mengasah daya pikat yang tak tertandingi demi menaklukkan hati setiap wanita yang ia temui. Ikuti perjalanan hidup Rey dalam mengeksplorasi sisi maskulin dan pesonanya yang liar. Akankah ia berhasil memenuhi harapan keluarga dan menjadi sang penakluk ulung di dunia asmara?
Sampul Novel JEJAK CINTA DI SISIKU
9.2
Anindita terjebak dalam dilema saat mencari Zack, kekasihnya yang menghilang tanpa jejak. Di tengah pencarian, ia bertemu Dirgantara, pria pelindung yang masih terbayang mendiang istrinya yang tewas tragis. Saat perasaan Anindita mulai beralih pada Dirgantara, Zack kembali muncul dengan segala misterinya. Takdir pun mulai mengungkap keterkaitan kelam antara masa lalu Zack, Dirgantara, dan sang istri. Siapakah yang akhirnya akan memenangkan hati Anindita?