APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO in My Bed

CEO in My Bed

Mahesa, pria kaya yang skeptis terhadap cinta akibat masa lalu kelam, mengajukan tawaran gila kepada Athalia. Ia berjanji membiayai pengobatan adik Athalia asalkan gadis itu bersedia menjadi teman tidurnya selama satu bulan. Di tengah tuntutan dingin sang CEO yang kerap merendahkan wanita, Athalia bertahan dengan ketulusan hatinya. Akankah pengabdian dan kasih sayang Athalia mampu meruntuhkan dinding keangkuhan Mahesa dan membuatnya percaya pada cinta?
Bab
Bagikan

Bab 3

Tubuh Athalia terasa mengkerut setiap kali langkah kaki panjang Mahesa makin mendekat padanya.

Mahesa menduduki tepi meja tepat di depan Athalia, melipat kedua tangannya di dada, seraya matanya memindai tubuh wanita itu dari atas ke bawah. Hal itu membuat Athalia menahan napas sekuat tenaga. Tatapan Mahesa begitu merendahkan.

“Aku sudah setuju dengan penawaran Anda, Tuan. Dan aku tidak ingin berdebat lagi. Terserah dengan apa tanggapan Anda tentang diriku. Aku hanya ingin meminta uang satu miliar itu. Adikku sangat membutuhkannya sekarang.”

“Hei? Apa aku tidak salah dengar, Athalia? Kau ingin meminta bayaranmu sementara kau belum memberikan apa yang seharusnya kudapatkan.” Mahesa mengangkat alis, membuyarkan tangannya yang terlipat di dada.

Ketukan sepatu mahal itu terdengar kembali, mengusik jantung Athalia yang semakin berdetak resah.

Satu tangan Mahesa menjepit dagu Athalia dan menariknya hingga mata mereka kembali bersinggungan.

Athalia menelan ludah. Dada mereka yang nyaris tak berjarak membuat Athalia harus sedikit menahan napasnya.

“Aku tidak akan memberikan uang itu sebelum kau melakukan tugasmu,” bisik Mahesa mengingatkan. Terpaan napasnya terasa hangat di permukaan wajah Athalia. “Kau sudah menyepakati tawaranku untuk mendapatkan uang itu, bukan? Kau ingin aku membiayai seluruh pengobatan adikmu sampai dia benar-benar sembuh? Kau ingin uang itu secepatnya?” lanjutnya bertanya pada Athalia.

Athalia sedikit bergidik ketika telapak tangan Mahesa yang lebar menelisik ke dalam rambutnya, mengelusnya dengan gerakan halus, sebelum akhirnya menyelipkannya ke belakang telinga.

Tetapi kepala Athalia tak urung mengangguk sebagai jawaban.

“Adikku harus segera melakukan transplantasi. Dia tidak punya banyak waktu.” suara Athalia agak bergetar saat mengatakan itu.

Pundaknya berjengit menghindari sentuhan tangan Mahesa yang mencoba mengelus leher jenjangnya. Terasa geli dan aneh bagi Athalia yang tak pernah merasakan sentuhan dari laki-laki dewasa.

Mahesa tersenyum menang. “Baiklah. Tampaknya kau sudah sangat tidak sabar ingin segera mendesah di atas ranjangku,” ejeknya membuat Athalia mendengus dan mengalihkan pandangan ke samping.

Menyeringai tipis, Mahesa memindai wajah Athalia yang begitu polos. Wajah yang meski jarang terpoles oleh make-up tebal, tetapi masih menampilkan kesan cantik yang unik.

Tangannya mengambil sebuah kartu di dompet, lalu memberikannya pada Athalia.

“Itu kartu namaku. Di sana ada alamat apartmenku. Kalau kau ingin semua dilakukan secepatnya, maka datanglah malam ini. Mulai nanti malam kau sudah bisa bekerja sebagai teman tidurku,” ucap Mahesa.

Athalia menerima kartu nama itu dengan tangan yang agak bergetar. Meski hati kecilnya sangat menentang apa yang ia putuskan saat ini. Tetapi Athalia tetap harus melakukannya untuk Yasna.

Mata bulatnya melekat pada kartu nama yang tadi disodorkan Mahesa. Tiba-tiba Athalia menelan ludahnya berat, benaknya membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam dengan dirinya?

“Kenapa kau terlihat gugup? Kau tahu ‘kan, sekali kau memutuskan maka kau tidak akan pernah bisa membatalkannya.” matanya mengamati keresahan yang tergambar jelas di wajah Athalia.

“Selama satu bulan penuh, tubuhmu adalah milikku. Dan tugasmu adalah menghangatkan ranjangku,” bisik Mahesa, mengelus leher jenjang Athalia dengan gerakan seringan bulu. Membuat Athalia sejenak memejamkan mata.

Ingin rasanya ia menghindar, tetapi sialnya Athalia tak bisa melakukan itu.

Hembusan napas lelaki itu di kulit pipinya membuat Athalia bergidik.

“Lalu… bagaimana dengan pekerjaanku? Apa aku tetap dipecat?”

Mahesa tertawa pelan.

“Jika aku memecatmu, lalu siapa yang akan melayani hasratku saat aku di kantor? Aku membayarmu bukan hanya untuk dipajang di apartmenku. Tapi untuk melayaniku selagi aku menginginkanmu dimanapun dan kapanpun.”

Athalia sedikit terhenyak.

Dimanapun dan kapanpun katanya? Bagaimana jika Mahesa meminta dirinya di tempat dan waktu yang tak terduga?

“Apa kata-kataku cukup jelas untuk kau pahami, Athalia? Kau mengerti dengan yang aku maksud?”

Athalia mengangguk pelan. Itu artinya ia tidak jadi dipecat. Tapi kabar buruknya, bukan tidak mungkin Mahesa akan memanggilnya sewaktu-waktu ke ruang kerja lelaki itu, hanya untuk menuntaskan hasratnya yang seperti kuda liar.

“Aku mengerti.”

“Bagus! Sekarang keluarlah dan lakukan pekerjaanmu seperti biasa.” sebelah tangan Mahesa mengibas di depan Athalia.

Athalia baru akan berbalik ketika Mahesa mendudukan dirinya kembali di kursi kerjanya. Namun saat tangan Athalia hendak mengayunkan daun pintu, suara baritone itu terdengar memanggilnya.

“Athalia!”

Athalia menoleh, menatap dengan raut penuh tanya.

“Iya Tuan?”

Mahesa tidak langsung menjawab. Ia tampak berdeham sejenak, sebelum kemudian bicara.

“Saat datang ke apartmenku nanti malam, pakailah gaun yang seksi!”

Seketika bola mata Athalia membeliak lebar.

***

“Athalia. Kau mau pergi ke mana? Tidak biasanya kau dandan malam-malam begini?”

Spontan Athalia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengoles lipstick di depan cermin, ketika tiba-tiba Dian datang dan memergokinya di dalam kamar.

“Ibu. Aku pikir Ibu sudah tidur dengan Yasna.”

Diam mengangguk, mengelap keningnya yang sedikit berkeringat sambil menghampiri Athalia yang sibuk dengan peralatan make-up murah seadanya yang ia miliki.

“Yasna memang sudah tidur. Tapi Ibu belum. Tidak tahu kenapa, malam ini rasanya Ibu susah sekali untuk tidur. Padahal hanya tinggal memejamkan mata. Hati Ibu seperti merasa tidak tenang. Rasanya resah sekali. Perasaan Ibu tidak enak. Ibu juga bingung, mengapa Ibu merasakan perasaan aneh seperti ini.”

Mendengar itu, Athalia tergugu di tempatnya berdiri. Matanya menatap nyalang pada cermin yang memantulkan bayangannya sendiri.

‘Ibu tidak tahu. Sebenarnya apa yang sedang Ibu rasakan adalah sebuah firasat buruk. Sesuatu yang buruk akan menimpa diriku, Bu. Malam ini aku akan menyerahkan kehormatanku dan menjadi wanita murahan bagi bossku sendiri. Maafkan aku, Bu.’ Athalia membatin.

Dengan alasan akan menginap di rumah teman, akhirnya Dian mengizinkan Athalia keluar rumah malam ini.

Padahal Dian tidak tahu jika sebenarnya Athalia akan pergi ke apartmen Mahesa.

Menggunakan ojek online, Athalia pun sampai di depan pintu apartmen milik bossnya. Tangannya ragu-ragu memencet bel, sampai akhirnya daun pintu berayun terbuka dan sosok Mahesa yang masih terbalut lengkap dengan kemeja kerjanya, kini berdiri menjulang di hadapannya.

“Kupikir kau tidak akan datang,” katanya pada Athalia, bibirnya menyungging senyum kemenangan.

“Masuklah! Selamat datang di tempat kerjamu yang baru,” ledek Mahesa sembari membuka daun pintu lebih lebar.

Athalia membuang napasnya pelan, merasa kesal. Tetapi kakinya tetap melangkah masuk. Dan mata Mahesa memindai tubuh bagian belakang Athalia yang tampak ramping.

“Apa kau ingin minum?” Mahesa sudah duduk kembali di sofanya, tangannya mengangkat gelas berisi minuman memabukan pada Athalia.

Athalia yang masih berdiri di tempatnya hanya menggeleng. “Tidak. Terima Kasih,” jawabnya sembari mengalihkan pandangan dan mengusap lengannya sendiri.

Mahesa meneguk minumannya cepat sementara matanya masih lekat menatap wajah Athalia.

“Duduklah, Athalia. Jika kau duduk terus, nanti darahmu turun.” Mahesa mengedikkan dagu ke arah sofa di seberangnya.

Athalia menurut, ia menghempaskan pantatnya di sana. Namun seketika itu juga Athalia menjadi semakin gelisah.

Menyadari bahwa mereka hanya berdua saja di apartmen ini, membuat Athalia menelan salivanya berat.

‘Mahesa terus saja menatapku setajam itu. Aku tahu kalau malam ini aku sudah tidak bisa melepaskan diri darinya. Karena aku sudah menjatuhkan pilihan dengan menjadi teman tidurnya. Hanya satu bulan, Athalia, semua ini hanya satu bulan saja. Setelah itu aku bisa bebas dari lelaki ini.’

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Kakak Pembunuh
8.6
Malam pernikahan berubah maut saat Carlos Fowler membiarkan aku tewas di tangan penculik demi wanita lain. Di saat terakhir, kakak laki-lakinya yang lumpuh, Vincent, datang membalaskan dendamku. Kini aku terlahir kembali untuk memperbaiki takdir. Di depan altar, kubatalkan pernikahan dengan Carlos secara mengejutkan. Aku justru melamar Vincent yang terabaikan di kursi rodanya. Carlos mengira ini hanya gertakan, namun ia akan segera kehilangan segalanya.
Sampul Novel Bangkit Dari Luka: Istri Yang Terbuang
8.1
Tiga tahun mencintai Elton hancur seketika saat ia mencampakkan Jilly ke laut demi menyelamatkan Rachel. Di tengah pengkhianatan itu, Jilly menyembunyikan kehamilannya dan merancang pelarian dari pernikahan beracun mereka. Saat Elton akhirnya menemukan persembunyian Jilly dalam kondisi hancur, ia memohon pengampunan demi sang buah hati. Namun, bagi Jilly, sosok ayah dari bayinya telah mati sejak hari suaminya lebih memilih wanita lain daripada nyawanya sendiri.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Dream come true
8.7
Zefanya sempat merasa dicintai Andrew, hingga kesalahpahaman fatal menghancurkan segalanya. Kehormatan Zefanya direnggut secara paksa, menghancurkan impiannya untuk memiliki keluarga tulus. Sepuluh tahun berlalu, Andrew hidup menderita dalam kekayaan dan rasa bersalah yang mendalam. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, Zefanya bukan lagi wanita yang sama. Andrew kini berjuang keras demi sebuah maaf, namun benarkah hanya itu yang ia inginkan?
Sampul Novel Gelora Asmara Ratu Berlian
8.6
Intan Malika, yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan, harus menelan pahitnya dikhianati oleh Zayn Alarik. Saat Intan hamil, Zayn menolak bertanggung jawab dan justru pergi ke luar negeri. Bertahun-tahun berlalu, Intan bangkit menjadi sosok sukses berjuluk Ratu Berlian. Kini ia kembali untuk membalas dendam pada keluarga Pradipta. Namun, kehadiran putra mereka yang merindukan sosok ayah membuat Intan bimbang antara dendam atau memaafkan masa lalu.
Sampul Novel Istri Kampungan Kesayangan Presdir
9.1
Santi hanyalah seorang gadis desa yang nekat merantau ke kota besar demi menyambung hidup adik-adiknya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Bima, seorang CEO tampan sekaligus Casanova yang kerap bergonta-ganti pasangan. Meski terbiasa dengan kehidupan glamor, Bima justru mulai merasa luluh setelah mengenal ketulusan dan kepolosan yang dimiliki Santi. Perbedaan dunia mereka menjadi awal dari kisah romansa yang tak terduga di tengah hiruk pikuk kota.