APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Chef Galak Itu Mantan Pacarku

Chef Galak Itu Mantan Pacarku

Mita adalah manajer selebriti handal yang harus menghadapi tantangan besar saat bertemu Gun Saliba. Chef ternama yang sangat rewel itu ternyata merupakan mantan kekasih yang ingin ia lupakan selamanya. Bukannya bersikap profesional, Gun justru menunjukkan permusuhan dan bertekad menyulitkan hidup Mita di tempat kerja. Di balik ketegangan tersebut, Gun rupanya belum mengetahui alasan sebenarnya mengapa Mita memutuskan hubungan mereka di masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Suaranya rendah dan berat, dari aroma musk tubuhnya secara insting aku langsung tahu milik siapa, namun aku kesulitan untuk menggeliat karena cengkeramannya yang seakan ingin meremukkan kepalaku.

"Pak!" sebutku serak dan ngeri.

"Kamu sengaja mengikuti saya?"

"B-bukan." Kucoba-coba untuk meraba jemarinya agar terlepas tapi lengan Gun yang bebas malah membelit perutku, aku praktis tidak bisa bergerak.

"Jawab," bisiknya mendesak.

"Sa-saya cari toilet, Pak."

"Apa ini kekurangan kamu yang ketiga? Berpura-pura, padahal kamu penguntit?" serang Gun tanpa ampun. "Atau kamu sudah nggak sabar bekerja bersama saya?"

"Pak, bisa lepasin dulu nggak, saya nggak bisa napas," kataku megap-megap.

Gun mendengus, kupikir dia tidak akan menuruti permintaanku begitu saja, tapi perlahan dia mengurai pelukan, dan cengkeramannya mengendur, aku langsung mengambil dua langkah menghindar lalu terbatuk-batuk heboh, sambil berbalik menatapnya, kuraba-raba leher, memastikan kepalaku masih utuh.

"Apa yang terjadi?" tanyanya, baru menyadari kemejaku yang basah, aku buru-buru menutupinya, karena pakaian berbahan chiffon itu kini menempel di kulitku hingga tembus pandang, Gun seketika mendengus. "Tenang saja, saya nggak akan napsu melihat kamu. Semuanya serba kecil dan rata."

Mataku melotot.

Apakah dia lupa apa saja yang dulu pernah kami lakukan? Apakah dia lupa bagaimana dulu dia sangat memujaku? Apakah dia lupa bahwa kami...

"Pakai ini." Sebuah bathrobe terlempar, refleks aku segera menangkapnya. Lalu merentangkan benda itu, mengernyit ketika melihat ukurannya yang dua kali lipat lebih besar, jika menggunakannya aku akan terlihat seperti jadoo. Jelas ini milik Gun.

"Nggak usah Pak," tolakku segera.

"Nggak mungkin kamu berkeliaran di sini dengan pakaian seperti itu."

"Saya cuma butuh toilet."

"Jadi kamu ingin mempertontonkan tubuh kamu?"

"Kalau Bapak nggak mau pinjamin saya toilet, saya permisi, Pak." Kesal karena tuduhan sepihaknya, aku memilih untuk melangkah pergi, namun belum mencapai pintu, Gun kembali bersuara.

"Tunggu." Aku membeku. "Saya nggak melihat ada cincin di jari manis kamu."

"Apa?" Aku sontak menoleh, terkejut.

"Pernikahan kamu nggak berhasil?"

"Itu bukan urusan Bapak."

"Saya perlu tahu dengan siapa saya bekerja, dan bagaimana statusnya."

"Bapak bisa mengetahuinya dari resume profil saya, nanti akan saya kirim secepatnya."

"Jadi benar?"

Ketegangan terasa di dadaku dengan degup jantung yang bertalu-talu ketika tatapan kami beradu. Bisa kutemukan sebuah pertanyaan mendesak di dalam sana, tak sanggup mempertahankan kontak mata, aku melengos, menarik embuskan oksigen sebanyak-banyaknya.

"Saya rasa, saya sudah mengganggu waktu Bapak, permisi." Berusaha tegar aku memilih untuk mengabaikannya dan berjalan ke pintu.

Tapi tentu saja terlalu naif jika berpikir Gun akan menyerah dengan mudah karena dari balik bahu kudengar dia berkata. "Jangan pikir kamu bisa menghindar begitu saja, Mita."

Aku menahan diri untuk tidak mengumpat.

"Saya ingin menambahkan satu aturan dari kesepakatan kerja sama kita."

Apa sebenarnya yang dia inginkan?

"Utamakan sopan santun, ketuk pintu setiap kali kamu ingin memasuki ruangan saya, hanya karena kamu manajer, bukan berarti kamu bisa keluar masuk tanpa izin, paham?"

Ya ampun, aku tahu ini ruangan dia saja tidak! Tapi bisa dimengerti, ruangan ini tampak rapi, tertata, kinclong persis seperti pemiliknya.

"Baik Pak." Tak ingin menambah masalah aku mengangguk saja, lalu bernapas lega ketika berhasil keluar dari sana.

Pertanyaan Gun membuatku takut, kuremas handuk di tangan lalu sadar bathrobenya masih kugenggam. Sial, aku tidak mungkin mengembalikannya karena tidak ingin berhadapan dengan laki-laki itu lagi hari ini.

Terpaksa aku menggunakan handuk itu, jika dipakai Gun mungkin hanya sebatas dengkul, tapi ketika dipakai olehku, panjangnya nyaris mencapai mata kaki, membalut seperti jubah.

Sambil merapikan debar jantung yang berantakan, aku menyusuri koridor yang sepi, begitu melewati kantin, Zara sudah menjadi pusat perhatian, dikerubungi oleh karyawan yang memberi selamat.

Sebentar lagi berita pertunangannya dengan Roy pasti akan trending di kalangan netizen

***

"Siapa yang mulai duluan?"

Hiro menunjuk Naga, begitu pun sebaliknya, aku mendengus.

Apakah ini hari basah-basahan nasional? Karena bukan hanya aku yang terkena tumpahan air, tapi kedua anakku juga. Bedanya air mereka bercampur tanah, mengotori pakaian sampai membuat wajah mereka cemang-cemong.

"Mama tanya sekali lagi ya, siapa di antara kalian yang duluan melempar lumpur?"

Keduanya menunjuk diri sendiri. Bagus, tadi mereka saling menyalahkan, kini mereka saling melindungi.

"Jadi kalian nggak ada yang mau ngaku?"

"Aku suka main lumpur." Hiro menyahut datar.

Naga segera menimpali. "Aku juga, Ma."

"Ini bukan masalah main lumpurnya, tapi kalian bikin semua kotor," kataku capek. "Bukannya Mama udah pesan jangan bertingkah, dan jangan bikin Mba Susi repot?"

"Tempat itu bau, aku nggak kuat, lebih enak main di luar, kami bisa tanam jagung." Sebagai yang lebih tua meski hanya beda lima menit, Hiro menjelaskan. Aku melotot tidak percaya dengan penuturan frontalnya.

"Bau?"

"Ikan asin." Naga dengan senang hati menambahkan. "Mereka masak itu untuk maksi." Maksudnya adalah makan siang.

Aku baru menjemput mereka di day care, karena seharian bekerja dan tidak ada yang mengurus, terpaksa dua bocah ini dititipkan di sana. Tapi ibu mana yang tidak shock jika mendadak disuguhkan pemandangan mengenaskan.

"Dengar," kataku, berjongkok, untuk menjajari tubuh mungil mereka. Lalu menatap kedua anak kembarku bolak-balik. "Kalian nggak boleh menghakimi apa yang dikonsumsi orang lain, dan kalian juga nggak boleh menghina makanan. Gimana kalau itu lauk kesukaan Mba Susi? Dia berhak makan apapun yang dia suka."

"Tapi udah ada larangan nggak boleh membawa makanan beraroma menyengat." Jemari montok Hiro menunjuk peraturan yang menempel di dinding. "Bau itu bisa tersimpan di filter AC yang lama dan bisa mempengaruhi aroma ruangan."

Aku meringis.

"Iya Ma, cara supaya baunya hilang kompartemen AC harus dibersihkan dan diganti dengan filter udara yang baru," imbuh Naga semangat.

Baiklah, aku tidak akan marah dengan alasan mereka meski terdengar menyebalkan, tapi aku tidak ingin diajarkan cara membersihkan AC oleh anak berusia empat tahun.

"Ya sudah, Mama mau temuin Mba Susi, kalian bersih-bersih, mandi dulu sebelum pulang, oke?"

"Aku lebih suka langsung pergi." Hiro memberikan pendapat.

"Aku juga." Naga setuju.

Kuabaikan penolakan mereka dengan membiarkan keduanya digiring ke kamar mandi oleh Mba Fiona, lalu melangkah lebih ke dalam untuk bertemu Mba Susi.

Beliau adalah wanita paruh baya berusia empat puluh tahun bertubuh tambun dan kacamata, suaranya yang ceriwis langsung menyambut begitu melihat kedatanganku.

"Gimana Mba Mita?" tanyanya mendadak tidak ramah. "Sudah lihat Hiro dan Naga?"

"Sudah Mba, saya minta maaf mewakili mereka ya," kataku tak enak hati. "Saya pasti akan mengajari mereka di rumah supaya lebih sopan dan menjaga perilaku."

"Itu tindakan yang bagus. Yah, saya tahu Mba sibuk kerja dan mungkin nggak sempat mendidik mereka, makanya mereka jadi liar."

Aku meringis kecut. "Makasih untuk pengertiannya, Mba. Besok saya pastikan mereka sudah lebih nurut dan nggak membuat masalah."

"Gini Mba..." Mba Susi berdeham, lalu membetulkan letak kacamatanya. "Saya pikir sebaiknya Mba nggak usah bawa mereka ke sini lagi."

"Gimana Mba?"

"Sejujurnya saya kualahan, kemarin mereka memecahkan selusin gelas untuk melakukan penelitian terhadap sinar matahari atau apa, saya nggak paham, sekarang mereka mencangkul tanah di belakang rumah. Saya nggak tau apa yang akan mereka lakukan besok."

"Mohon keringanannya, Mba."

"Tolong pengertiannya juga Mba, anak yang dititipkan di sini ada banyak dan saya nggak bisa hanya mengawasi mereka. Lagipula Hiro dan Naga sudah terlalu dewasa buat dititipkan di sini."

"Tapi Mba-"

"Makasih Mba Mita."

Tidak ada negosiasi, Mba Susi langsung melengos untuk menyapa Bunda lain yang menjempat anaknya.

Aku mendesah, dengan lesu berjalan menuju mobil, menunggu sampai Hiro dan Naga melompat masuk ke kursi penumpang, sudah rapi dan wangi.

"Kita diusir?" tanya Hiro, benar-benar membuatku melotot.

"Kamu nguping?"

"Baguslah aku malas di tempat ini."

"Apa itu berarti besok kita bakalan di apartemen sama Mama?" tanya Naga antusias, tidak menyadari situasi yang terjadi.

Aku mendengus. "Nggak, sekarang kalian akan Mama tinggalin di panti asuhan."

Keduanya merengek protes.

Sial, bagaimana aku akan menjaga anak-anak sementara aku pun harus bekerja dan tidak ada libur?

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dinikahi Mas Pandu
7.8
Pasca lamaran kilat dan pernikahan yang digelar dalam empat jam, Zita memulai babak baru bersama Pandu di kota tempat suaminya bekerja. Zita sering merasa jengkel pada Pandu, bahkan bersumpah tak akan menyerah pada rayuan suaminya yang masih menanti malam pertama mereka. Namun, pertahanan Zita diuji saat sikap Pandu yang terlalu baik pada orang lain justru memicu rasa cemburu. Akankah ia tetap teguh pada pendiriannya atau justru luluh karena perasaan tersebut?
Sampul Novel Gadis Muda untuk Tuan Duda
8.3
Rayyan, duda berusia 32 tahun, menghadapi tekanan dari sang ibu untuk menikahi Mayra, gadis muda berumur 19 tahun. Mayra sendiri merupakan pengasuh sekaligus guru PAUD yang berhasil meluluhkan hati putri Rayyan, Asyifa. Sebelumnya, bocah empat tahun itu selalu menolak belajar dengan siapa pun. Melihat ikatan kuat di antara mereka, ibu Rayyan mendesak pernikahan ini demi masa depan Asyifa. Akankah Rayyan bersedia menjadikan Mayra sebagai ibu sambung bagi anaknya?
Sampul Novel GAIRAH PEREMPUAN NAGA
8.1
Koh Ho Ming yakin bahwa Diandra, putri dari asisten rumah tangganya, adalah reinkarnasi legendaris Perempuan Naga. Sejak belia, gadis yatim piatu ini menunjukkan tanda-tanda sebagai titisan Dewi Kesayangan Langit dengan kekuatan spiritual besar. Diandra harus berjuang melewati berbagai tragedi dan ujian hidup demi meraih kesuksesan. Kisahnya penuh rintangan rumit, berpadu dengan romansa mendalam serta sisi erotis yang mewarnai perjalanan takdirnya.
Sampul Novel Kompilasi Cerpen Dewasa
9.1
Antologi ini menyajikan kumpulan cerita pendek romansa dewasa yang mengeksplorasi lika-liku hubungan penuh gairah. Menampilkan berbagai karakter dari latar belakang profesi berbeda, pembaca akan dibawa menyelami pengalaman intim yang emosional bersama pasangan mereka. Setiap kisahnya dibumbui konflik tajam antara tokoh protagonis dan antagonis yang mendebarkan. Selain menghibur, narasi di dalamnya memberikan wawasan tentang dinamika cinta dan pesan moral yang bermakna bagi setiap pembaca.
Sampul Novel Mendadak Kaya
8.4
Pasca kehilangan pekerjaan, seorang gadis berlesung pipi mendapat tawaran tak terduga yang mengubah nasibnya. Ia diminta berkencan satu malam di rumah seorang pria misterius dengan imbalan fantastis sebesar seratus juta rupiah. Sang pria menjamin bahwa agenda mereka hanyalah makan malam bersama tanpa ada tuntutan lainnya. Bak rezeki nomplok di tengah kesulitan, ia pun menyadari bahwa roda kehidupan memang berputar dengan sangat tidak terduga.
Sampul Novel Misteri Menu Sarapan Mertua
9.3
Kehidupan baruku setelah menikah seharusnya penuh kebahagiaan saat aku memutuskan tinggal bersama mertua demi merawat mereka. Namun, kehangatan rumah itu perlahan sirna oleh suasana mencekam yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang sangat ganjil pada perilaku kedua orang tua suamiku. Setiap pagi, misteri mulai menyelimuti meja makan, memicu kecurigaan bahwa ada rahasia gelap yang mereka sembunyikan di balik sikap tenang mereka selama ini.