APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Itu Luka

Cinta Itu Luka

Hidup Nur Alia hancur setelah kehilangan lima calon buah hati akibat keguguran dan janin tak berkembang. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru didepresi dan difitnah mandul oleh suaminya sendiri. Kehadiran sosok baru yang semula menjanjikan kesembuhan malah menorehkan luka yang lebih perih. Namun, di tengah keputusasaan dan keraguan akan cinta, sebuah keajaiban datang saat Tuhan menitipkan dua malaikat kecil di rahim yang sebelumnya dianggap tak berdaya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Perlahan aku beringsut turun dari batu yang sedang kami duduki. "Tunggu Alia!" Azwar menarik tanganku yang hendak melangkah.

"Mau ke mana?" Ia bertanya setelah melepaskan tangannya dari lenganku.

"Pulang yuk!" ajakku sambil tersenyum agar ia tahu aku memang mau pulang bukan menghindarinya karena pernyataan barusan.

"Loh, yang tadi belum dijawab." Azwar masih bersikukuh menunggu jawaban. Ia tersenyum mengucapkan hal itu, tetapi pandangan matanya ke arah lain. Mungkin dia malu. Lucu jadinya.

"Azwar, ini persoalan hati. Aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang. Perlu dipikirkan matang-matang. Beri sedikit waktu, ya?!" ucapku lembut tetapi tegas agar dia mengerti urusan yang satu ini bukanlah persoalan main-main.

"Apakah waktu enam bulanan ini tidak cukup bagimu untuk mengenalku, Alia?" Dia masih menuntut jawaban saat ini juga.

"Bukan masalah enam bulan atau enam tahun atau pun enam jam Azwar. Tetapi, sekali aku menjawab 'iya' maka aku ingin bersamamu untuk enam puluh tahun kedepan atau bahkan jika mungkin untuk enam ratus tahun lamanya." Kembali kusunggingkan senyum meyakinkan Azwar agar ia tidak lagi mendesak.

***

Kami duduk berhadapan di dalam angkot yang membawa kami pulang. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami pulang bersama dengan angkutan umum. Sering malah, tetapi baru kali ini aku memperhatikan wajahnya dengan seksama.

Ia duduk tenang dengan mata melihat jalanan di luar sana. Sesekali tatapan kami beradu saat ia juga ikutan mencuri pandang ke arahku, yang kemudian secepatnya ia alihkan lagi ke luar jendela angkot. Aku yakin, Azwar tahu jika sedari tadi mataku terus menatapnya dalam diam.

Saat dia terlebih dahulu turun dari angkot untuk kemudian naik angkot lainnya dengan jalur menuju rumahnya, mataku tetap mengawasinya sampai angkot yang membawaku kembali bergerak setelah juga menurunkan beberapa penumpang lainnya.

Apakah aku harus menerima dia? batinku mulai menerawang. Secara fisik dia lumayan, bahkan mungkin bisa dikatakan di atas rata-rata jika saja penampilan cupunya itu diubah. Sikapnya pun pasti membuat banyak orang tua mendambakannya menjadi menantu. Lalu, apa lagi yang kurang?

Cinta? Ah, dia bisa hadir sendiri seiring sering bersama bukan? Hati milik kita, bukan kita yang dimiliki oleh hati, jadi kurasa hati akan mudah ditaklukkan.

Baiklah, diterima saja, suara hati mulai sepakat. Eh, jangan dulu. buat dia berjuang sedikit lagi. Ego mulai ikut-ikutan bersuara membantah hati.

***

Seminggu berlalu, hampir setiap hari Azwar mempertanyakan jawaban untuk pernyataan cintanya. Perlahan tapi pasti aku pun mulai menyukainya. Tetapi, tetap saja aku memilih mengulur waktu. Setidaknya aku ingin melihat sedikit lagi keseriusannya.

"Alia ....!" Terdengar suara teriakan dari belakang saat aku hendak menuju kantin. Hari ini jadwal kelasku di jam pertama, aku belum sempat sarapan sebelum masuk kelas pagi tadi. Sekarang perutku lapar bukan main.

Saat berpaling ke balakang mencari tahu siapa yang telah berteriak mencegat langkahku, aku melihat Azwar berlari tergopoh menuju ke arahku.

"Aku dapat beasiswa," ucapnya dengan napas tersengal-sengal.

"Alhamdulillah, Selamat ya!"

Aku kembali melanjutkan langkah menuju kantin. Azwar ikut berjalan beriringan.

"Kamu tidak masuk kelas?" Setahuku ia ada jadwal kuliah di jam kedua ini.

"Enggak." Ia menggeleng.

"Dosennya berhalangan hadir," ucapnya tersenyum senang.

Memang hal yang paling membuat mahasiswa bahagia adalah dosen yang berhalangan untuk datang mengajar. Meski dari rumah buru-buru supaya tidak terlambat masuk kelas, tetapi begitu tiba di kampus mendengar dosennya tidak masuk, seharusnya kesal karena sudah capek-capek berjibaku agar cepat sampai, tetapi justru kegirangan yang terasa. Begitulah mahasiswa.

"Alia, ini!" Azwar menyodorkan amplop warna coklat panjang ke arahku.

"Apa ini?" Kuhentikan suapan makanan ke mulut, dan menatapnya sambil menautkan alis meminta penjelasan.

"Nafkah pertama untukmu," jawabnya cengengesan.

"uuhhuukk ... uuhuuk ... "

Aku tersedak. Secepat kilat aku meneguk minuman yang disodorkan Azwar, meminimalisir batuk tersedak dan sekaligus juga agar tidak menjadi tontonan banyak pasang mata di kantin ini.

"Kamu kalau makan pelan-pelan!" Azwar kembali menyerahkan tisu.

"Ini uang beasiswa yang kamu ceritakan tadi?" tanyaku setelah reda keterkejutan tersebut.

Azwar mengangguk. "Buatmu semuanya," katanya lagi kembali mendorong amplop yang masih tergeletak di atas meja lebih mendekat ke arahku.

Aku tahu, Azwar juga bukan anak orang kaya. Sama sepertiku, kami berasal dari keluarga yang sederhana saja. Tidak kekurangan, juga tidak terlalu berlebihan.

"Seharusnya uang ini untuk biaya kuliah, bukan untukku." Aku mendorong kembali amplop itu ke arahnya.

"Aku bukan istrimu, tidak ada kewajibanmu untuk menafkahiku," ucapku tegas.

"Dan, perlu kamu tahu Azwar, orang tuaku masih sanggup memberikan uang jajan dan membiayai hidupku." Kali ini suaraku terdengar sedikit ketus. Pertanda, jika aku kurang suka dengan cara dia ini.

"Alia, maaf. Aku tidak bermaksud menghinamu dengan pemberian ini. Aku hanya ingin membuktikan padamu, bahwa aku serius ingin menjadikanmu calon istri," ujar Azwar pelan dan terdengar sendu seperti merasa bersalah.

"Tapi, bukan begini caranya ... "

"Harus bagaimana lagi, Alia? Sudah hampir dua minggu aku menunggu kesediaanmu." Azwar cepat memotong kalimatku yang belum selesai.

"Aku bukan perempuan matre yang bisa kamu sogok dengan uang." Meski pelan, tetapi nada suaraku terdengar geram.

"Tidak pernah sekali pun terlintas di benakku bahwa kamu perempuan matre. Justru karena itulah, aku semakin yakin memilihmu untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak." Azwar masih terus saja mendesakku agar memasukkan amplop itu ke dalam tas.

"Baiklah, aku terima kamu. Tapi, berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkanku apa pun yang terjadi nanti dalam hidup kita di masa depan!" ucapku dengan ketegasan yang pasti dipahami Azwar.

Seketika ia berdiri dari duduknya. Dengan senyum lebar, ia mengangguk kuat. "Aku berjanji Alia." Tegas suaranya, dengan sorot mata yang sangat meyakinkan.

"Ayo kita belanja!" Aku ikutan bangkit dan melangkah keluar kantin. Semua uang ini akan aku pergunakan untuk merubah penampilan dia yang cupu itu. Lihat saja, sebentar lagi Azwar akan kuubah menjadi lelaki paling tampan di fakultas ini.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kehilangan Bayiku
8.5
Maya selalu setia mendampingi Reza meski terus diabaikan dan tak diakui. Namun, kesabarannya hancur saat ia terpaksa melahirkan sendirian hingga kehilangan bayinya. Tragedi maut itu memadamkan cinta Maya dan membuatnya ingin pergi. Di sisi lain, Reza baru menyadari besarnya rasa sayangnya setelah segalanya terlambat. Saat Reza berusaha mengejar kembali hati sang istri, ia menghadapi kenyataan bahwa Maya telah berubah menjadi sosok dingin yang tak lagi membutuhkannya.
Sampul Novel Bingkai Suami, Keadilan Sengit Istri
9.7
Baskara Aditama, jaksa ternama yang kupikir penyelamat, nyatanya dalang yang menjebloskanku ke penjara demi melindungi Valerie. Usai tiga tahun menderita di Lapas Cipinang, aku bebas hanya untuk dipermalukan di pesta mereka hingga nyaris tewas akibat pendarahan internal. Baskara justru memalsukan medisku demi menutupi kekejamannya. Kini, harapanku telah sirna, berganti ambisi balas dendam. Aku akan menghancurkan karier, reputasi, dan segala yang ia cintai tanpa sisa.
Sampul Novel Cinta satu malam terbaik
8.7
Pasca ditinggal kekasih, Feyleria terbangun di samping pria asing dan memilih kabur. Ternyata, Alexander, pria semalam itu, terobsesi memilikinya. Lewat tekanan orang tua, Alex memaksa Fey masuk ke jerat perjodohan yang tak terelakkan. Saat benih cinta mulai tumbuh untuk Alex, Sani sang mantan kekasih tiba-tiba kembali demi merebut hati Fey lagi. Kini Fey terjebak di antara kenangan masa lalu atau masa depan bersama pria yang memujanya dengan tulus.
Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Dunia Kirana runtuh saat suaminya, Bima Nugraha, memamerkan kehamilan selingkuhannya di depan publik. Demi kelancaran bisnis, Bima dan keluarga angkat Kirana bersekongkol menjadikannya tahanan di rumah sendiri. Kirana difitnah gila dan dipaksa menggugurkan kandungannya. Namun, mereka tidak tahu identitas asli Kirana. Dengan satu panggilan, ia menghubungi ayah kandungnya, Antony Suryoatmodjo, konglomerat kuat yang siap menghancurkan Bima hingga tak bersisa.
Sampul Novel Dikejar Oleh Sang Miliarder
9.6
Kayla Herdian kembali ke masa lalu demi membalas dendam setelah dikhianati suami dan mertuanya hingga tewas mengenaskan. Dulu hidupnya hancur, namun kini ia bangkit untuk menghancurkan para musuh dan membawa bisnis keluarganya ke puncak kejayaan. Di tengah ambisinya, seorang miliarder dingin yang dulu tak terjangkau justru datang mendekat. Pria itu kini terang-terangan merayu Kayla, memohon kesempatan untuk menjadi pendamping di pernikahan keduanya.
Sampul Novel MENIKAHI BILLIONAIRE
8.8
Zyan Liu terancam gagal menjadi ahli waris utama keluarga Liu jika ia tidak segera menikahi wanita yang sesuai dengan standar ketat keluarganya. Di luar dugaan, Mu Tian Rui yang hanyalah gadis desa sederhana justru dianggap memenuhi kriteria tersebut. Kini, dua insan dengan latar belakang kehidupan yang sangat kontras ini terjebak dalam sebuah pernikahan yang diatur. Mampukah Zyan dan Rui mempertahankan hubungan mereka di tengah jurang perbedaan yang begitu lebar?