APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku

Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku

Bagi Pratama, Dewi hanyalah persinggahan sementara sebelum ia kembali ke pelukan kekasih masa lalunya. Setelah mencampakkan Dewi, ia membiarkan wanita itu hancur dalam hinaan keluarganya. Di tengah kegelapan masa depan yang penuh luka akibat janji palsu, Dewi bertemu Reza. Pria ini menawarkan ketulusan yang sangat berbeda dari pengkhianatan sebelumnya. Kini, Dewi harus memilih antara menutup diri atau kembali membuka hati di bawah bayang-bayang trauma masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dewi menatap Reza, keraguan masih bersemayam di matanya yang lelah. "Pak... Reza," katanya, suaranya pelan. "Anda tidak tahu apa-apa tentang saya. Anda tidak tahu betapa hancurnya saya karena laki-laki."

Reza tersenyum, senyum yang tulus, bukan senyum angkuh seperti yang selalu Pratama tunjukkan. "Mungkin saya tidak tahu detailnya, Dewi. Tapi saya melihat luka di mata kamu. Luka yang sama yang pernah saya lihat di mata ibu saya."

Pengakuan itu mengejutkan Dewi. Ia menatap Reza dengan lebih seksama. "Ibu Anda?"

Reza mengangguk, sorot matanya melembut. "Ayah saya... Dia juga meninggalkan ibu saya demi cinta pertamanya. Ibu saya harus berjuang sendirian untuk membesarkan saya. Dia hancur, sama seperti kamu sekarang." Reza mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya lekat pada Dewi. "Saya melihat kamu dan saya melihat perjuangan ibu saya di masa lalu. Saya tidak ingin melihat wanita lain merasakan kepedihan yang sama. Terutama, wanita yang memiliki bakat seperti kamu."

Ada jeda yang hening. Dewi terdiam, kata-kata Reza menyentuh bagian terdalam hatinya. Ia tidak pernah berpikir bahwa seorang pria sekaya dan sekuat Reza akan memiliki cerita seperti itu. Rasanya, ia seperti menemukan satu-satunya orang di dunia yang benar-benar memahaminya, tanpa harus ia jelaskan.

"Saya tidak meminta kamu untuk mempercayai saya sekarang juga," lanjut Reza, "Tapi saya ingin kamu memberikan saya kesempatan. Kesempatan untuk membuktikan bahwa cinta tidak harus selalu menyakitkan. Kesempatan untuk menyembuhkan luka-luka itu bersama-sama."

Kalimat itu, "bersama-sama," menggema di benak Dewi. Ia tidak sendirian lagi. Hatinya yang dingin perlahan mulai mencair. "Apa... apa yang harus saya lakukan?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Terima pekerjaan ini," jawab Reza, "dan izinkan saya mengenal kamu lebih jauh. Sebagai rekan kerja. Sebagai teman. Apa pun itu. Mulailah dengan pekerjaan ini, Dewi. Bangun kembali dirimu, bukan untuk membuktikan pada mereka, tapi untuk dirimu sendiri. Agar kamu tahu, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."

Dewi menatap portofolio desainnya yang tergeletak di meja. Selama ini, ia membuat semua itu untuk menyenangkan Pratama. Ia berusaha menjadi yang terbaik agar Pratama bangga padanya. Ia lupa, bahwa gairah pertamanya adalah seni. Ia lupa bahwa ia bekerja untuk dirinya sendiri.

"Baiklah," ucapnya, menarik napas dalam-dalam, "Saya terima."

Keputusan itu adalah titik balik dalam hidup Dewi. Setiap hari, ia datang ke kantor Abisena Group, sebuah tempat yang terasa sangat berbeda dari perusahaan sebelumnya. Di sini, tidak ada tatapan sinis, tidak ada gosip yang membicarakan masa lalunya. Semua orang ramah, profesional, dan menghargai karyanya. Reza, sebagai atasannya, tidak pernah memperlakukan Dewi seperti pegawai rendahan. Ia selalu bertanya pendapat, meminta saran, dan memberikan pujian yang tulus.

Suatu siang, saat Dewi sedang fokus mengerjakan desain, Reza datang menghampirinya. "Dewi, apakah kamu keberatan jika kita makan siang bersama? Ada yang ingin saya diskusikan."

Dewi merasa sedikit canggung, tetapi ia mengangguk. Mereka pergi ke sebuah restoran sederhana di dekat kantor. Di sana, suasana terasa lebih santai. Reza tidak membahas pekerjaan, melainkan menanyakan hal-hal personal. "Kamu suka apa, Dewi? Selain desain?"

Dewi terdiam sejenak. Ia sudah lama tidak memikirkan hal itu. "Dulu... saya suka melukis. Melukis pemandangan. Tapi, sudah lama saya tidak melakukannya."

"Kenapa?" tanya Reza lembut.

"Tidak ada waktu," jawab Dewi singkat. Padahal, alasan sebenarnya adalah karena Pratama selalu menganggap hobinya kekanak-kanakan. Pratama lebih suka Dewi menemaninya ke acara-acara sosial, bukan sibuk dengan kanvas dan cat.

Reza tersenyum. "Pemandangan itu indah. Kapan-kapan, ayo kita melukis bersama. Saya punya beberapa kanvas di rumah."

Mata Dewi melebar. "Anda juga melukis?"

Reza tertawa kecil. "Dulu. Ketika saya masih kecil. Tapi saya selalu suka seni. Makanya saya terkesan dengan portofoliomu. Kamu punya sentuhan yang unik."

Perbincangan itu membuat Dewi merasa nyaman. Ia mulai membuka diri, menceritakan sedikit demi sedikit tentang hobinya, tentang keluarganya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia sudah bercerita banyak, sampai Reza mengantar ia kembali ke kantor.

"Terima kasih untuk makan siangnya, Reza," ucap Dewi tulus.

Reza tersenyum. "Sama-sama, Dewi. Lain kali, kita harus melakukan ini lagi."

Hari-hari berlalu. Hubungan Reza dan Dewi semakin dekat. Mereka tidak hanya makan siang bersama, tetapi juga menghabiskan waktu di akhir pekan. Reza mengajak Dewi ke galeri seni, ke pameran-pameran, dan akhirnya, ke sebuah studio seni miliknya. Di sana, Reza memberikan Dewi sebuah kanvas kosong dan seperangkat cat.

"Ayo, lukis apa pun yang kamu suka," ajak Reza.

Dewi ragu-ragu. Ia sudah lama tidak menyentuh kuas. "Aku tidak tahu harus melukis apa."

"Lukis saja apa yang ada di hatimu," bisik Reza. "Keluarkan semua yang kamu rasakan."

Dewi menatap kanvas itu. Ia teringat akan Pratama. Ia teringat akan luka. Ia mulai menggoreskan kuas. Warna-warna gelap, hitam, abu-abu, dan biru tua, mulai memenuhi kanvas. Gambaran jentera usang yang hancur, terpecah belah, dan terbuang, mulai terbentuk.

Reza hanya diam di sampingnya, membiarkan Dewi tenggelam dalam perasaannya. Ia tidak bertanya, ia tidak menghakimi. Ia hanya ada di sana, menemani.

Setelah berjam-jam, lukisan itu selesai. Dewi menatapnya. Sebuah lukisan yang penuh dengan kepedihan, namun juga penuh dengan kejujuran. "Ini... ini adalah perasaanku," bisiknya.

Reza mendekat dan memeluk Dewi. Sebuah pelukan yang hangat, bukan pelukan yang terburu-buru seperti Pratama. "Tidak apa-apa, Dewi. Keluarkan semua. Biarkan luka itu mengering."

Saat itulah, air mata Dewi tumpah. Air mata yang selama ini ia tahan, air mata yang selama ini ia sembunyikan. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Reza. Reza hanya diam, membiarkan ia menangis.

Setelah tangisnya mereda, Reza mengusap rambut Dewi. "Bagaimana perasaanmu?"

"Aku... aku merasa lebih baik," jawab Dewi, terisak.

"Itu karena kamu sudah mulai jujur pada dirimu sendiri," kata Reza. "Kamu sudah mulai menerima lukamu. Sekarang, kita akan menyembuhkannya."

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Dewi sedang menunggu taksi di depan kantor, sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Jendela mobil terbuka, menampakkan sosok yang sangat ia kenal: Clarissa, mantan kekasih Pratama.

"Oh, lihat siapa ini," ucap Clarissa dengan nada mengejek. "Aku dengar kau bekerja di sini? Di perusahaan baru milik anak kemarin sore?"

Dewi menatapnya dingin. Ia sudah tidak takut lagi. "Ya. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa," jawab Clarissa, tersenyum sinis. "Hanya ingin mengingatkan. Jangan pernah berpikir bisa menggoda Pratama lagi. Dia sudah bahagia denganku. Dan keluarga Abisatya... mereka tidak akan pernah menerima wanita seperti kamu."

Hinaan itu tidak lagi menusuk. Hati Dewi sudah terlatih. Ia membalas tatapan Clarissa dengan tatapan yang tajam. "Aku tidak pernah mengganggu Pratama, Clarissa. Kami sudah selesai. Dan aku tidak peduli dengan keluarga Abisatya atau siapa pun."

Clarissa terkejut dengan jawaban Dewi. "Berani sekali kamu."

"Kenapa tidak?" jawab Dewi. "Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Kamu sudah mengambil segalanya dariku."

Clarissa tertawa sinis. "Aku belum mengambil segalanya, Dewi. Masih ada satu lagi. Nama baikmu."

Dewi tidak mengerti maksud Clarissa. Namun, ia tidak peduli. Ia berjalan pergi, meninggalkan Clarissa yang masih menatapnya dengan penuh amarah.

Keesokan harinya, Dewi datang ke kantor dan menemukan tatapan-tatapan aneh dari rekan-rekan kerjanya. Ada yang berbisik-bisik saat ia lewat, ada yang menghindarinya. Hatinya mulai diliputi firasat buruk.

Saat ia duduk di mejanya, ia menemukan sebuah majalah gosip. Di halaman depannya, ada foto dirinya dengan Reza, sedang makan siang. Judulnya, "CEO Abisena Group, Reza Abisena, Tergoda Janda Kaya Pratama Abisatya?"

Dewi terkejut. "Janda? Kaya?" gumamnya. "Aku bukan janda dan aku tidak kaya."

Ia membaca artikel itu. Artikel itu menyebutkan bahwa ia adalah seorang wanita yang pernah memiliki hubungan terlarang dengan Pratama Abisatya, dan kini ia mencoba untuk menjerat Reza, yang juga dikenal sebagai saingan bisnis Pratama. Artikel itu juga menyebutkan bahwa ia adalah wanita yang serakah, yang hanya menginginkan uang dan kekuasaan.

Air mata Dewi jatuh. Ia kembali ke titik nol. Semua usahanya untuk bangkit, semua usahanya untuk melupakan masa lalu, hancur dalam sekejap. Ia merasa seperti seorang penjahat. Ia merasa seperti wanita simpanan.

Saat itulah, Reza datang menghampirinya. "Dewi, apakah kamu sudah membaca ini?" tanyanya, dengan nada tenang.

Dewi hanya bisa mengangguk, isaknya tertahan.

"Jangan dengarkan mereka," kata Reza, mengambil majalah itu dan merobeknya. "Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya ingin menjatuhkan kita."

"Tapi... tapi semua orang di kantor sudah tahu," ucap Dewi. "Mereka akan menganggapku seperti wanita murahan."

Reza memegang kedua tangan Dewi. "Dewi, dengarkan saya baik-baik. Saya tidak peduli apa kata mereka. Saya tahu siapa kamu. Saya tahu kamu adalah wanita yang baik, wanita yang kuat, dan wanita yang berhak mendapatkan kebahagiaan."

"Tapi artikel ini... ini akan merusak reputasimu," ucap Dewi, merasa bersalah.

Reza tersenyum. "Reputasi saya tidak akan rusak hanya karena satu artikel murahan. Lagipula, mereka benar. Saya memang tertarik padamu."

Pengakuan itu membuat Dewi terdiam. Jantungnya berdebar kencang. "Anda... Anda serius?"

"Sangat serius," jawab Reza. "Dewi, saya sudah mencintai kamu sejak pertama kali saya melihatmu. Kamu mungkin tidak percaya, tapi ini benar. Saya ingin membuktikan, bahwa cinta yang tulus itu ada. Saya ingin mencintai kamu dengan cara yang berbeda."

Dewi menatap Reza, matanya penuh dengan air mata. Akankah ia percaya lagi? Akankah ia membuka hatinya untuk cinta yang baru, setelah luka yang begitu dalam?

Malam itu, Dewi pulang ke rumahnya. Ia duduk di kamarnya, merenungkan semua yang terjadi. Ia teringat akan Pratama, janji-janji palsunya, dan luka yang ia berikan. Ia juga teringat akan Reza, ketulusannya, kehangatannya, dan janjinya.

Ia tahu, pilihannya ada dua. Menyerah, dan kembali ke masa lalu. Atau bangkit, dan membuka diri untuk masa depan.

Ia mengambil kanvas yang diberikan Reza. Kanvas yang masih kosong. Ia mengambil kuasnya. Kali ini, ia tidak melukis jentera usang. Ia melukis matahari, yang perlahan terbit dari balik awan gelap. Matahari yang memberikan kehangatan, yang memberikan harapan.

Ia tahu, jalan di depannya tidak akan mudah. Masih ada Clarissa, masih ada keluarga Pratama, dan masih ada luka di hatinya. Tetapi, ia tidak sendirian lagi. Ada Reza, pria yang berjanji akan mencintainya dengan cara yang berbeda. Pria yang membantunya untuk bangkit kembali.

Dewi menatap lukisannya, dan sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ia akan melukis kembali masa depannya. Dengan warna-warna yang cerah, dengan harapan yang baru, dan dengan cinta yang tulus. Ia tidak akan membiarkan masa lalunya mengendalikan masa depannya. Ia akan menjadi Dewi yang baru, Dewi yang kuat, dan Dewi yang berhak mendapatkan kebahagiaan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Lover (Alec & Alea)
8.6
Hasrat Alec Cage memuncak saat melihat kecantikan Azalea Mahendra. Peluang muncul ketika Arsen, kakak Alea, menyerahkan adiknya demi kursi CEO. Terpaksa tunduk, Alea menjalani pernikahan formal meski hatinya milik Arza, kakak angkatnya. Namun, badai datang saat Alec mengungkap masa lalu mereka. Sebagai pria pencemburu yang benci pengkhianatan, Alec tak akan memberi ampun. Ia bertekad menyiksa Alea dengan balasan yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.
Sampul Novel En-PD181
7.9
Sebagai agen papan atas, karier saya terancam saat model pendatang baru Lucas menuntut pemecatan saya hanya karena masalah jaket. Dengan sombongnya, ia memamerkan hubungan spesialnya dengan pemilik perusahaan di tengah pesta. Namun, ia tidak menyadari siapa lawan bicaranya. Tanpa ragu, saya langsung menghubungi pria terkaya di negeri ini untuk mundur dari proyek film besarnya. Kini, nasib investasi mereka berada di ujung tanduk akibat keangkuhan tersebut.
Sampul Novel GAIRAH CINTA CEO MESUM
9.8
Jeff Sebastian, CEO ternama pendiri Tokopedio, jatuh hati pada Sarah melalui aplikasi kencan. Sarah mengaku sebagai lulusan Harvard sekaligus pemilik restoran sukses. Namun, Sarah tiba-tiba menghilang dan memutus kontak karena identitas aslinya hanyalah Viola, seorang supervisor marketing biasa. Viola merasa tak pantas bersanding dengan miliarder dan memilih bersembunyi. Ternyata, Jeff sudah mengetahui rahasia itu. Ia tetap mengejar Viola demi mendapatkan cintanya.
Sampul Novel Heal Me, Baby
8.1
Insiden ciuman tak sengaja membuat Sean Wilson, pria penderita fobia kuman, pingsan seketika. Keyra Minolia, mahasiswi pekerja keras yang menabraknya, dituntut ganti rugi terapi yang mahal. Karena miskin, Keyra terpaksa melunasi hutang dengan menjadi asisten rumah tangga Sean. Hidup mereka yang kontras pun beradu di bawah satu atap hingga orang tua Sean memergoki mereka dan memaksa keduanya menikah. Mampukah pernikahan ini menyembuhkan Sean dan menyatukan hati mereka?
Sampul Novel Kei's Three Children
8.8
Keina diusir setelah dituduh mengkhianati kekasih saudara tirinya. Di titik terendah, ia mengalami tragedi hingga hamil. Meski berjuang dalam kemiskinan, Keina bangga membesarkan tiga anak jenius: Anna sang pelukis, Alice si penulis, dan Andre sang aktor cilik. Takdir mempertemukannya dengan Jeremy, CEO industri film yang ternyata ayah biologis mereka, saat Andre memulai syuting perdana. Kehidupan Keina pun berubah drastis sejak pertemuan tak terduga itu.
Sampul Novel Pemuas Nafsu Sang Casanova
8.6
Aletta Casandra, gadis cantik dengan fisik sempurna, harus menghadapi kenyataan pahit saat pamannya sendiri menjadikannya sebagai alat penebus hutang. Masa mudanya hancur seketika saat ia dipaksa menjadi pemuas nafsu bagi Leonardo Pradungganegara. Leonardo adalah pengusaha muda ternama yang kaya raya namun memiliki kepribadian yang sangat kejam. Kini, Aletta terperangkap dalam kehidupan kelam sebagai budak dari pria berdarah bangsawan tersebut.