APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku

Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku

Lima tahun di Milan, desainer Kinan akhirnya kembali ke Jakarta untuk mengunjungi kakaknya, Airin. Namun, suasana hangat di rumah itu terusik saat ia bertemu Liam, suami kakaknya yang maskulin. Sebuah insiden membuat Liam menangkap Kinan dan berakhir dengan ciuman tak terduga yang membakar gairah. Kini, Kinan terjebak dalam dilema antara godaan terlarang dan loyalitas pada keluarga. Akankah perasaan berbahaya ini menghancurkan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kinan tersentak bangun. Matahari pagi yang cerah menerobos tirai tipis kamar tamu, menyinari debu-debu yang menari di udara. Ia mengerjap, menyadari waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dua jam lagi sebelum pemotretan penting dengan majalah Noir.

"Astaga!" Kinan melompat turun dari tempat tidur. Setelah berbulan-bulan bangun pada siang hari di Milan, rutinitas pagi yang normal ini terasa seperti hukuman.

Ia bergegas menuju kamar mandi. Sambil menyalakan air hangat, ia melepaskan piyama sutra mahalnya yang hanya ditutupi sedikit kain. Tubuhnya terpampang telanjang di depan cermin, siluet seorang model profesional yang tajam dan menggoda.

Ia memutar keran shower ke posisi maksimal. Air dingin mengucur sesaat, lalu... tidak ada. Kinan memutar-mutar kepala keran dengan panik. Terdengar suara dengungan, tetapi air panas yang diharapkannya tidak keluar sama sekali. Hanya setetes demi setetes air dingin.

"Tidak, tidak, tidak!" Kinan menggeram frustrasi. Ia butuh mandi air hangat yang cepat untuk menghilangkan sisa jet lag dan mempersiapkan kulitnya sebelum dirias tebal. Tidak mungkin ia pergi ke pemotretan dalam kondisi berantakan seperti ini.

Dengan putus asa, Kinan mengambil handuk mandi besar berwarna putih yang disediakan Airin. Ia melilitkannya erat-erat di tubuhnya, memastikan kain tebal itu menutupi bagian atas payudara dan paha. Meskipun ia seorang model sexy, ia tidak ingin berkeliaran di rumah saudarinya dengan pakaian minimalis-apalagi setelah kejadian semalam.

Kinan membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia berjalan cepat menuruni tangga, berharap bisa menangkap Airin sendirian.

Namun, harapannya pupus.

Di ruang makan, Airin sudah duduk di meja, menyajikan sarapan dengan daster yang rapi. Di sebelahnya, Luna asyik mencoret-coret buku gambarnya. Dan di seberang Airin, ada Liam, rapi dalam kemeja kantor kasual, sedang membaca koran sambil menyesap kopi. Mereka adalah gambaran keluarga yang sempurna.

Kinan mendadak merasa sangat telanjang dan canggung. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan.

"Pagi, Kinan! Wah, akhirnya bangun juga. Sini, gabung sarapan!" sapa Airin riang, tanpa menyadari keterkejutan adiknya.

Liam menurunkan korannya. Tatapannya langsung jatuh pada Kinan. Cahaya pagi yang lembut dari jendela memantul pada bahu telanjang Kinan, menonjolkan bentuk tubuh yang hanya tertutup oleh handuk putih itu. Kinan bisa merasakan tatapan Liam menyapu dari wajahnya, turun ke bahu, dan terhenti sebentar di lekukan payudaranya yang besar. Tatapan itu cepat, tetapi penuh pengakuan. Kinan melihat percikan gelap yang sama di mata Liam seperti yang ia lihat semalam. Liam terpesona.

Kinan segera menyilangkan tangan di depan dadanya. "Pagi, Kak, Liam, Luna," sapanya, suaranya agak serak. "Maaf, aku terpaksa mengganggu. Tapi... shower di kamar tamu sepertinya rusak, Kak. Airnya tidak mau mengalir. Padahal aku harus segera mandi."

Airin terkejut. "Ya ampun! Maaf sekali, Kinan. Itu shower baru dipasang, mungkin ada masalah pada pompanya." Airin menatap suaminya. "Sayang, bisa tolong Kinan? Dia harus segera pergi, katanya."

Liam meletakkan koran sepenuhnya. Ia berdiri. Gerakannya lambat, tenang, tetapi Kinan merasakan semua otot di tubuh Liam menegang karena terkejut sekaligus tertarik.

"Tentu saja," jawab Liam, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya. Ia melirik Kinan lagi, sebuah pandangan singkat, penuh hasrat yang tersembunyi. "Aku akan memeriksanya sekarang."

"Aku akan menunggumu di atas, Kakak," kata Kinan cepat, ingin segera mengakhiri adegan di depan Airin dan Luna.

Kinan bergegas kembali ke kamar. Ia berdiri di dekat pintu kamar mandi, menggigit bibir, mendengarkan langkah kaki Liam yang semakin mendekat. Ia harus tetap waspada. Ia harus menjaga batas.

Pintu terbuka. Liam masuk, memegang kotak peralatan kecil. Ia menatap Kinan, yang masih terbungkus handuk, di tengah ruangan.

"Di mana masalahnya, Kinan?" tanya Liam, berusaha keras terdengar profesional.

"Di sini," Kinan menunjuk kamar mandi. "Keran sudah diputar, tapi airnya tidak mau naik."

Liam masuk ke kamar mandi yang sempit. Kinan mengikuti dari belakang. Ruangan itu mendadak terasa sangat kecil dan panas dengan kehadiran mereka berdua. Liam berjongkok, membuka penutup keran dan mulai memeriksa mekanisme di belakangnya.

"Mungkin ada sumbatan kecil," gumam Liam.

Kinan berdiri diam di pintu, handuknya terasa semakin longgar. Keheningan itu sangat tegang. Kinan tahu ini adalah kesempatan berbahaya.

"Ini dia," kata Liam, setelah beberapa saat. Ia memutar kembali katup yang longgar. "Aku coba nyalakan. Kalau airnya menyala, jangan kaget, ya."

Liam memutar tuas shower dengan kuat.

Tiba-tiba, air dingin menyembur keluar dengan deras! Air yang kuat itu tidak hanya mengenai dinding shower, tetapi juga menyemprot tubuh Liam yang sedang berjongkok, dan juga Kinan yang berdiri tepat di sampingnya.

"Aah!" Kinan menjerit kaget.

"Maaf!" seru Liam, kaget dan basah kuyup.

Air dingin membasahi tubuh Kinan. Ia reflex mencoba melompat mundur untuk menghindari air, tetapi kakinya terpeleset pada ubin basah.

"Aduh!" Kinan terhuyung.

Dalam usaha mempertahankan diri, cengkeraman Kinan pada handuknya terlepas.

Handuk putih itu meluncur dari tubuhnya, jatuh ke lantai keramik yang dingin.

Kinan berdiri telanjang di depan Liam. Benar-benar telanjang.

Liam, yang masih basah dan terkejut, mendongak. Pandangannya terpaku. Ia melihat seluruh tubuh Kinan: kulitnya yang mulus, lekuk pinggangnya yang ramping, dan, terutama, payudaranya yang besar dan penuh, menggoda di hadapannya. Kilauan air membasahi tubuh Kinan, membuatnya terlihat seperti patung basah yang erotis.

"Ya Tuhan," bisik Liam, napasnya tercekat. Semua ketenangan yang ia coba pertahankan hancur. Matanya gelap, dipenuhi hasrat liar.

Kinan pura-pura panik, meskipun dalam hati ia tahu ini adalah ulahnya. Ia tahu handuknya memang longgar. "L-Liam... Maaf, aku..."

Liam bangkit berdiri, air menetes dari rambutnya. Ia melangkah maju. Satu langkah. Kinan mundur, terbentur dinding keramik yang dingin di belakangnya.

"Jangan bergerak," perintah Liam, suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.

Liam meletakkan kedua tangannya di dinding di samping kepala Kinan. Kinan terperangkap, sepenuhnya, oleh tubuh besar dan basah Liam. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

"Aku tahu kamu sengaja," bisik Liam, matanya menuduh, tetapi bibirnya menolak tuduhan itu.

"Aku tidak... aku hanya kaget," balas Kinan, suaranya gemetar. Jantungnya berdebar kencang, antara rasa takut dan antisipasi.

Liam tidak memberi kesempatan Kinan berbicara lebih lanjut. Ia menundukkan kepalanya, dan bibirnya menyambar bibir Kinan.

Ciuman itu kasar, mendesak, penuh keinginan yang tertahan sejak semalam. Liam mencengkeram rahang Kinan, memiringkan kepala, dan melumat bibir adiknya itu dengan rakus, seolah ingin menghapus rasa bersalah dengan gairah. Kinan merespons liar, bibirnya terbuka lebar, mengundang lidah Liam.

"Mmmh... Sayang..." desah Kinan, memeluk leher Liam.

Ciuman itu panas, lidah mereka berperang, menukarkan rasa kopi dan mint yang bercampur dengan air dan hasrat. Kinan tahu ini gila, Airin ada di bawah, tetapi adrenalin dan gairah membius akal sehatnya.

Liam melepaskan bibirnya sejenak, meninggalkan jejak air liur basah dan memerah. Ciumannya turun, menghujani leher Kinan, meninggalkan jejak basah dan panas di kulit mulusnya.

"Ah, Liam..." Kinan mendongakkan kepala, memberikan akses pada Liam untuk mencumbunya lebih dalam.

Kemudian, dengan gerakan yang tidak terhindarkan, bibir Liam menemukan payudara Kinan. Ia menghisap puting Kinan yang sudah mengeras, seperti bayi yang lapar. Rasa sakit yang bercampur kenikmatan menyengat Kinan. Satu tangan Liam memegang pinggang Kinan, dan tangan lainnya dengan kasar namun terampil meremas payudara Kinan yang besar itu.

"Liam! Aku... Kakak di bawah! Stop!" Kinan memohon, suaranya tercekat antara hasrat dan rasa takut.

"Shhh... tidak ada yang akan tahu, Sayang. Nikmati saja," bisik Liam, suaranya dalam dan bergetar, tanpa menghentikan aksinya.

Ia mengangkat Kinan sedikit, menyesuaikan posisi mereka di dinding yang dingin. Tanpa melepas ciumannya di leher Kinan, tangan Liam yang tadinya meremas payudara, kini bergerak cepat ke bawah, menuju area terlarang.

Jari telunjuk Liam yang basah mencari celah, lalu dengan cepat menusuk lubang vagina Kinan yang sudah basah karena gairah.

"A-ah!" Kinan menjerit kecil, lebih karena kejutan daripada rasa sakit. Keintiman yang cepat ini membuatnya kewalahan.

Liam tersenyum nakal. "Sudah basah, Sayang..."

Kinan yang sudah terbius, mendadak menjadi nakal. Dengan sisa kesadaran yang ia miliki, Kinan menjangkau ke bawah, dan dengan cepat membuka resleting celana kantor Liam yang basah.

"Kalau begitu... kenapa cuma tangan?" Kinan balik menggoda, matanya penuh api.

Liam menggeram rendah, membuang celananya ke lantai. Kinan melihat penis Liam yang sudah tegak dan keras. Tidak ada waktu untuk bicara lagi. Liam mengangkat Kinan sedikit lagi.

"Sayang, tahan aku," perintah Liam.

Dan kemudian, dengan satu dorongan yang tegas dan mendalam, Liam memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Kinan.

"Aaaakh!" Kinan menjerit keras. Meskipun ia model dewasa, keintiman yang tiba-tiba ini terasa menyakitkan dan luar biasa.

"Shhh! Jangan berteriak, Kinan!" Liam memperingatkan.

"Sakit, Liam! Pelan-pelan, Sayang..."

Liam melonggarkan cengkeramannya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, lalu semakin cepat. Kinan melingkarkan kakinya di pinggang Liam, tubuhnya terangkat, punggungnya menempel erat pada dinding kamar mandi yang dingin. Kontras antara dinginnya keramik dan panasnya tubuh mereka menciptakan ledakan sensasi.

"Mmmmh... rasanya sangat sempit... Kinan..." desah Liam, wajahnya merah.

"Lebih cepat, Sayang... Aku akan terlambat!" pinta Kinan, suara gairahnya lebih keras dari ketakutannya.

Liam menggerakkan pinggulnya dengan kuat dan ritmis, menyerang Kinan dengan dorongan yang semakin dalam. Kinan mendesah dan mengerang, tubuhnya bergerak liar melawan Liam. Dinding kamar mandi menjadi saksi bisu keintiman terlarang mereka.

Setelah beberapa dorongan cepat dan brutal, Liam mengerang keras, membenamkan wajahnya di leher Kinan.

"Aku datang, Kinan!"

Liam mengeluarkan cairan spermanya yang panas dan kental, menyembur ke dalam rahim Kinan. Ia menahan tubuh Kinan erat-erat, membiarkan tubuhnya bergetar karena orgasme yang kuat. Kinan juga mengerang, merasakan kepuasan yang brutal dan cepat.

Mereka berdua terengah-engah. Basah oleh keringat, air shower, dan cairan gairah.

"Astaga, Liam..." Kinan berbisik, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Liam memaksakan dirinya untuk menjauh dari Kinan, wajahnya dipenuhi rasa bersalah, tetapi matanya masih gelap oleh hasrat. Ia dengan cepat menarik celananya ke atas.

"Cepat mandi, Kinan. Aku akan bilang Airin showernya sudah benar," kata Liam, suaranya dingin, kembali mengendalikan diri. Ia tidak menoleh lagi.

Kinan berdiri terhuyung, tubuhnya basah, gairah yang kuat masih membekas. Ia mengambil handuk yang jatuh. Air shower kini mengalir deras, seolah mengejek dirinya.

Liam keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Kinan sendirian dengan kekacauan gairah dan rasa bersalah yang kini jauh lebih besar.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CLBK(Cinta Lama Biar Kembali)
9.2
Hubungan Ayu dan Irfan hancur karena restu orang tua yang tak kunjung datang. Irfan terpaksa menikahi Desi, sahabat Ayu, sementara Ayu melarikan diri ke kota demi menyembuhkan luka. Saat Ayu mulai membuka hati bagi pria lain, Irfan muncul kembali untuk mengejar cintanya. Meski Irfan berjanji hanya mencintai Ayu selamanya, Ayu menolak keras. Ia tak sudi menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mantan kekasihnya itu meski perasaan lama masih ada.
Sampul Novel Falling for him
9.1
Theo percaya bahwa hati manusia selalu berubah layaknya angin, sebuah keyakinan pahit dari masa lalunya yang kelam. Namun, pandangannya terusik saat bertemu Jaane Kim, gadis berpendirian teguh yang menutup rapat pintu hatinya untuk cinta. Bagi Theo, keteguhan Jaane adalah tantangan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Mampukah sang 'Pied Piper' menaklukkan hati Jaane dengan pesonanya? Ikuti kisah romansa musim semi yang penuh debar dan keajaiban ini.
Sampul Novel Jodohku Seorang Janda Kaya Raya
8.6
Lintar, seorang pemuda gigih, jatuh hati pada Dewi, CEO sukses yang berstatus janda. Meski pertemuan awal mereka canggung, benih cinta tumbuh di antara keduanya. Namun, asmara mereka terhalang restu paman Lintar yang menentang keras hubungan tersebut. Tak gentar, Lintar berjuang meyakinkan orang tuanya demi mempertahankan cintanya pada sang janda kaya. Ikuti perjalanan emosional Lintar menggapai kesuksesan dan kebahagiaan sejati bersama wanita pilihannya.
Sampul Novel Ketika Mertua Ikut Campur
8.0
Kehidupan pernikahan Salwa dan Lutfan kini di ambang kehancuran akibat campur tangan ibu mertuanya yang berlebihan. Situasi semakin memanas saat sang mertua sengaja membawa seorang asisten rumah tangga baru ke kediaman mereka. Namun, Salwa merasakan adanya niat terselubung di balik kehadiran wanita tersebut. Misteri besar mulai terungkap saat rencana rahasia mereka dijalankan. Sanggupkah cinta Salwa dan Lutfan bertahan menghadapi konspirasi ini?
Sampul Novel Mahasiswi Simpanan Dosen Liar
9.0
Zeya Scopuso merasa curiga saat sesi bimbingan skripsinya dialihkan ke dalam kamar pribadi. Ketika ia mempertanyakan alasan di balik lokasi yang tidak lazim tersebut, Delson Weather selaku dosen pembimbing memberikan jawaban yang mengejutkan. Sambil membelai paha mahasiswinya dengan gerakan lembut namun penuh maksud, Delson menegaskan bahwa ia akan memberikan bimbingan tambahan khusus bagi Zeya yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Sampul Novel Nabrak Jodoh
9.8
Dunia Radit hancur saat memergoki pengkhianatan istrinya tepat di hari jadi pernikahan mereka. Dalam kalutnya amarah, ia tak sengaja menabrak wanita hamil hingga harus membawanya ke rumah sakit. Namun, kejutan besar menanti saat pihak medis menghubunginya untuk menjemput bayi yang diklaim sebagai anaknya. Radit yang baru resmi bercerai dan tak memiliki keturunan pun bingung. Siapakah sebenarnya wanita serta bayi misterius yang kini dikaitkan dengan identitasnya?