APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Terlarang, Murka Sang Wali

Cinta Terlarang, Murka Sang Wali

Sepuluh tahun mencintai waliku, Bima Wijaya, berakhir tragis saat aku menyatakan perasaan di usia delapan belas. Alih-alih balasan cinta, dia justru murka dan merobek lukisan berhargaku. Keadaan kian perih ketika dia membawa Clara, tunangannya, ke rumah. Bima yang dulu melindungi kini menjadi sumber luka terdalam. Demi menyembuhkan hati yang hancur, aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama Ayah dan memulai hidup baru di Universitas Indonesia.
Bab
Bagikan

Bab 1

Selama sepuluh tahun, aku diam-diam mencintai waliku, Bima Wijaya. Setelah keluargaku hancur, dia membawaku masuk dan membesarkanku. Dia adalah seluruh duniaku.

Pada hari ulang tahunku yang kedelapan belas, aku mengumpulkan semua keberanianku untuk menyatakan cintaku padanya.

Tapi reaksinya adalah kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia menyapu kue ulang tahunku ke lantai dan meraung, "Kamu sudah gila? Aku ini WALImu!"

Dia kemudian tanpa ampun merobek lukisan yang telah kukerjakan selama setahun—pengakuanku—menjadi serpihan.

Hanya beberapa hari kemudian, dia membawa pulang tunangannya, Clara.

Pria yang telah berjanji untuk menungguku dewasa, yang memanggilku bintangnya yang paling terang, telah lenyap. Satu dekade cintaku yang putus asa dan membara hanya berhasil membakar diriku sendiri.

Orang yang seharusnya melindungiku telah menjadi orang yang paling menyakitiku.

Aku menatap surat penerimaan dari Universitas Indonesia di tanganku. Aku harus pergi. Aku harus mencabutnya dari hatiku, tidak peduli betapa sakitnya.

Kuambil telepon dan menekan nomor ayahku.

"Ayah," kataku, suaraku serak, "Aku sudah memutuskan. Aku ingin ikut dengan Ayah di Jakarta."

Bab 1

Hari kedelapan belas menyerah pada Bima Wijaya dimulai dengan Anya menghapus foto di layar kunci ponselnya.

Itu adalah foto candid yang diam-diam dia ambil.

Bima sedang duduk di sofa, bermandikan sinar matahari sore, sebuah majalah finansial tergeletak di pangkuannya. Dia menatap Anya, senyum tipis yang nyaris tak terlihat tersungging di bibirnya.

Selama sepuluh tahun penuh, dari usia delapan hingga delapan belas tahun, pria ini telah menjadi matahari di dunianya.

Kegembiraannya, kemarahannya, kesedihannya, seluruh dunianya berputar di sekelilingnya.

Tapi sekarang, dia ingin memadamkan matahari itu dengan tangannya sendiri.

Layar itu menjadi hitam.

Hitam pekat yang bersih, tidak meninggalkan apa pun.

Jari-jari Anya sedikit gemetar saat dia meletakkan ponselnya dan mengambil segelas susu di atas meja. Susu itu sudah dingin.

Dia meminumnya dalam sekali teguk, cairan dingin itu meluncur ke tenggorokannya, tetapi tidak bisa menekan sensasi terbakar di dadanya.

Dia mengambil ponselnya lagi dan menekan nomor yang sudah lama tidak dia hubungi.

Panggilan itu cepat tersambung. Suara lembut seorang pria terdengar.

"Anya?"

"Ayah," panggilnya, suaranya sedikit serak. "Aku sudah dapat surat penerimaanku. UI."

Ayahnya terdiam sejenak, lalu suaranya dipenuhi kegembiraan yang tak terselubung. "Itu luar biasa! Anya, selamat. Sejarah Seni, kan? Jurusan yang selalu kamu impikan."

"Iya."

"Jadi, kamu sudah memutuskan? Kamu akan datang ke Jakarta?"

"Aku sudah memutuskan," kata Anya, cengkeramannya pada telepon mengencang. "Aku ingin ikut dengan Ayah."

Dia ingin melarikan diri dari tempat ini. Dia ingin melarikan diri dari Bima Wijaya.

Ayahnya sepertinya merasakan emosi dalam suaranya. Dia menghela napas pelan. "Apakah ini karena Bima? Apa dia menyulitkanmu lagi?"

"Tidak," bohong Anya, memaksakan nada santai. "Dia akan bertunangan. Aku tidak bisa terus tinggal di rumahnya sebagai anak perwaliannya, tidak sekarang. Rasanya tidak pantas. Selain itu, aku sudah dewasa sekarang. Sudah waktunya aku belajar mandiri."

Keheningan yang berat menyusul.

Setelah beberapa lama, suara ayahnya, yang penuh dengan kepedihan, terdengar melalui telepon. "Anya-ku yang malang. Pasti berat bagimu selama ini, tinggal di rumah itu karena Ayah tidak bisa... Baguslah kamu datang. Ayah akan menjagamu mulai sekarang."

Dia menambahkan, "Bisnis keluarga kita sudah kembali normal. Kamu tidak perlu bergantung pada siapa pun lagi. Ayah bisa menafkahimu."

Kehangatan kata-katanya membuat mata Anya perih.

Dia terisak, menahan air mata. "Baiklah."

Setelah menutup telepon, dia menatap dirinya di cermin. Matanya merah dan bengkak.

Sepuluh tahun. Dia telah menghabiskan sepuluh tahun penuh mencintai seorang pria yang tidak akan pernah menjadi miliknya.

Dia harus pergi.

Dia harus mencabut Bima Wijaya dari hatinya, sepotong demi sepotong, tidak peduli betapa sakitnya.

Mengambil napas dalam-dalam, dia berjalan keluar dari kamarnya. Lampu di ruang kerja di ujung lorong menyala.

Bima masih bekerja.

Dia ragu-ragu sejenak, lalu berjalan mendekat, mencengkeram surat penerimaan UI. Dia perlu memberitahunya.

Dia berhenti di pintu yang setengah terbuka. Melalui celah itu, dia bisa melihat pria di dalam.

Dia mengenakan kemeja abu-abu sederhana, posturnya tegak dan ekspresinya fokus. Cahaya dari lampu meja memberikan cahaya lembut pada profilnya yang tajam, menggarisbawahi wajah yang begitu tampan hingga tampak tidak nyata. Sepasang kacamata berbingkai emas bertengger di hidungnya yang mancung, memberikan sentuhan keanggunan yang berkelas pada sikapnya yang dingin.

Inilah Bima Wijaya. Mantan anak didik ayahnya, pemuda brilian yang tetap setia ketika bisnis keluarganya hancur. Ketika orang tuanya bercerai dan ibunya meninggalkan negara itu, ayahnya, di titik terendahnya, yang meminta Bima untuk menjadi wali sahnya. Dia adalah pria yang telah membesarkannya.

Walinya, tanpa hubungan darah.

Dan pria yang diam-diam dia cintai selama sepuluh tahun.

"Bima," panggilnya pelan, suaranya nyaris berbisik.

Bima mendongak, alisnya sedikit berkerut saat melihatnya. "Ada apa?"

Suaranya sedingin dan sejauh biasanya.

Jantung Anya terasa diremas. Dia hendak berbicara ketika teleponnya di meja berdering, nada yang renyah dan menyenangkan.

Ekspresi dinginnya meleleh begitu dia melihat ID penelepon. Kelembutan yang belum pernah dia lihat sebelumnya mekar di matanya.

"Clara," katanya, suaranya rendah dan lembut.

Itu tunangannya, Clara Adhitama.

"Tempatnya? Kamu yang putuskan, aku tidak masalah dengan apa pun. Jangan khawatir tentang biayanya." Dia mendengarkan orang di seberang sana, sudut mulutnya melengkung menjadi senyum penuh kasih. "Selama kamu suka, tidak ada yang lain yang penting."

Anya berdiri membeku di pintu, tangan dan kakinya menjadi sedingin es.

Surat penerimaan di tangannya terasa seberat seribu kilogram.

Dia tiba-tiba teringat hari ulang tahunnya yang kedelapan belas, baru dua bulan yang lalu. Dia telah mengumpulkan semua keberaniannya untuk memberinya lukisan yang telah dia kerjakan selama setahun, berjudul "Rahasia".

Dalam lukisan itu, seorang gadis muda mengikuti punggung seorang pria, matanya penuh cinta.

Itu adalah pengakuannya.

Reaksi Bima adalah kemarahan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Dia menyapu semua hadiah dari meja, kue itu jatuh ke lantai.

"Anya Larasati!" raungnya, matanya merah karena marah. "Kamu sudah gila? Aku ini WALImu!"

Dia dengan keras kepala membantah, air mata mengalir di wajahnya. "Tapi kita tidak punya hubungan darah! Ayahku mempercayaimu! Dan caramu selalu memanjakanku... itu bukan cara seorang wali memperlakukan anak perwaliannya!"

Dia mencibir, wajah tampannya berkerut karena kekejaman. "Tidak bisakah kamu membedakan antara kasih sayang keluarga dan cinta? Pendidikanmu selama ini sia-sia saja."

Dengan itu, dia tanpa ampun merobek lukisannya, "Rahasia"-nya, menjadi serpihan.

Dia berbalik dan pergi tanpa menoleh ke belakang, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan hari ulang tahunnya.

Dia menangis dan memunguti potongan-potongan itu, dengan hati-hati menempelkannya kembali. Tapi lukisan itu, seperti hatinya, tertutup bekas luka.

Bahkan saat itu, dia belum menyerah.

Dia berpikir bahwa selama dia cukup baik, selama dia masuk ke almamaternya, dia akan melihatnya.

Tapi tepat setelah kelulusannya, dia membawa Clara Adhitama pulang.

Dia memperkenalkannya dengan senyuman. "Anya, ini Clara, tunanganku."

Saat itulah dia tahu.

Semuanya benar-benar sudah berakhir.

Semua cintanya yang putus asa dan membara selama sepuluh tahun terakhir hanya membakar dirinya sendiri.

Sekarang, dia harus menjadi orang yang memadamkan api itu.

Dia harus mengeluarkannya dari hatinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Duka mendalam Amara atas kematian tragis kakaknya, Danisa, berubah menjadi ambisi balas dendam yang membara. Ia bertekad menghancurkan keluarga Pramudya yang telah mengkhianati Danisa hingga sang kakak mengakhiri hidupnya. Dengan pesonanya, Amara menyusup dan mulai menjerat mantan suami, mertua, serta ipar Danisa dalam rencana penghancuran reputasi dan harta mereka. Namun, mampukah ia tetap dingin saat perasaan tak terduga mulai mengancam misi utamanya?
Sampul Novel Dipatahkan Oleh Cinta
8.6
Permintaan maaf sang suami karena ucapan kasarnya terasa hambar bagi sang istri. Luka hatinya kian mendalam saat suaminya memutuskan untuk membawa Charissa, selingkuhannya yang tengah hamil, tinggal bersama mereka. Sang istri dipaksa menerima kehadiran madunya di bawah satu atap demi alasan kesehatan. Di balik kepatuhannya, ia meratapi nasibnya yang hancur. Ia merasa tak sanggup berbagi kasih sayang dan rumah dengan wanita lain yang telah merebut kebahagiaannya.
Sampul Novel Gelora Berbahaya Sang Pengacara
9.8
Demi melunasi utang orang tuanya kepada mucikari, Madona nekat menjebak pengacara bernama Ardan demi uang 500 juta rupiah. Namun, rencana tersebut berbalik menjadi petaka bagi Madona saat video skandal mereka justru membawanya ke dalam masalah besar. Alih-alih mendapatkan harta, ia justru terkurung di kediaman Ardan. Di tengah situasi penuh tekanan ini, akankah benih cinta mulai tumbuh, ataukah hanya rasa benci yang akan mewarnai hubungan mereka?
Sampul Novel Harga Simpanan Sembilan Belas Tahunnya
9.7
Lima tahun menikah, aku mengira Christoper Wijaya telah berubah. Namun, saat ayahku butuh donor sumsum tulang, dia justru asyik bersama simpanan barunya, Iris, hingga ayahku wafat. Christoper berulang kali mengorbankanku demi melindungi gadis itu dalam berbagai insiden maut, bahkan mencuri warisanku untuknya. Saat aku memilih pergi dan menggugat cerai, dia yang tak tahu ayahku telah tiada justru mengirim pesan tentang donor baru. Pengkhianatannya sudah tak termaafkan.
Sampul Novel Kehidupan Istri Seorang Milyarder
8.4
Demi imbalan seratus juta, seorang wanita menyelamatkan pria yang ternyata miliarder paling berpengaruh di kota. Sang presiden kaya yang terobsesi mulai mengejarnya dan menawarkan mahar fantastis untuk menikah. Meski ditagih janji uangnya, sang wanita tegas menolak lamaran karena tidak tertarik pada sosoknya. Namun, pria dominan itu justru menaikkan tawaran menjadi satu miliar dan dengan berani mengajukan dirinya sendiri sebagai hadiah tambahan hadiah.
Sampul Novel Kiana (Anak yang tidak di Harapkan
9.3
Kiana menjalani hidup yang penuh luka di tengah pengabaian keluarganya sendiri. Meski menyandang status sebagai anak, ia justru merasa dikucilkan dan tidak pernah dianggap ada. Saat dunianya terasa runtuh, Kiana hanya bisa memohon kesembuhan bagi sang ayah, sosok yang menjadi satu-satunya tumpuan harapannya. Di tengah rasa sakit dan ketidakadilan yang ia terima, Kiana berseru kepada Tuhan, mencari setitik kekuatan untuk bertahan hidup dalam kesendiriannya.