APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Untuk Nadia

Cinta Untuk Nadia

Dunia seakan runtuh saat Nadia mendengar kabar pahit bahwa calon suaminya tidak akan hadir di hari pernikahan. Di tengah situasi yang kacau, Abah Yai menyampaikan permintaan yang sangat mengejutkan. Ia memohon kepada sosok lain untuk bersedia mengambil alih posisi pengantin pria demi menyelamatkan nasib Nadia. Keputusan mendadak ini membawa perubahan besar dalam hidup mereka, memicu konflik batin yang mendalam tentang tanggung jawab dan juga perasaan.
Bab
Bagikan

Bab 3

BAB 3 Mendapat Pekerjaan

"Wahai para pemuda, siapa-siapa di antara kalian yang mampu ba'ah (memberi tempat tinggal) hendaknya ia menikah, sungguh menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan siapa-siapa yang belum mampu ba'ah maka hendaknya ia berpuasa, sungguh puasa itu akan menjadi perisai baginya." (Muttafaq 'Alaih - Lafadz milik Muslim)

Kututup buku hadits yang baru saja kupelajari. Memang benar, tidak wajib bagi kami untuk menikah, selama kami belum memiliki suatu apapun yang patut untuk diberikan pada sang istri. Namun, ketika kita sudah memiliki segalanya, sebaiknya kita akhiri masa lajang dengan mencari pendamping hidup. Mungkin begitu kesimpulannya.

Saat aku tengah mencoba memahami bab tentang menikah, tiba-tiba terdengar suara seseorang memangilku.

"Zis, Abah Yai memanggilmu!" Itu suara Dani.

Segera luletakkan kembali buku yang baru saja kubaca, kemudian menghampiri Dani yang tengah menungguku di luar kamar.

"Ada apa, Dan?" tanyaku, saat sudah berdiri di depannya.

"Kamu dipanggil Abah Yai, Zis,'' ulangnya, padahal tadi aku sudah dengar dari dalam.

"Oh ... ya sudah. Makasih ya, aku nemuin Abah Yai dulu. Oh iya, sekarang beliau ada di mana?" tanyaku, kemudian Dani menyebutkan satu tempat yang sudah kuhafal.

Perpustakaan.

Kuketuk pintu dengan hati-hati, setelah sebelumnya kuintip bagian dalamnya. Abah Yai tengah membaca sebuah buku. Entah buku apa itu.

"Assalamu'alaikum, Bah?"

Tak lama kemudian, pintu terbuka. "Wa'alaikumsalam. Masuk, Zis!" titah Abah Yai.

Aku pun segera masuk. Terlihat, ada beberapa santri yang lain ternyata. Mereka sama-sama tengah membaca buku.

Di perpustakaan ini memang selalu ramai. Berbagai macam buku tersedia di dalamnya. Setiap hari, ratusan santri bergantian meminjam buku. Eits, jangan salah! Perpustakaan untuk santri laki-laki dan perempuan tetap terpisah. Jadi, tidak perlu khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Kamu tahu toko buku Maulia yang berada di desa sebelah?" tanya Abah Yai, setelah aku duduk di seberangnya.

"Ehm, sepertinya tahu, Bah. Kenapa?"

"Kamu sedang butuh pekerjaan, 'kan?" tanya beliau lagi.

"Iya, Bah. Uang hasil kerja kemarin mulai menipis, tidak cukup untuk membayar bulanan untuk bulan depan," jawabku dengan jujur.

Aku memang tak pernah menyembunyikan apa pun pada Abah Yai. Apalagi ini mengenai pekerjaan yang kadang memakan waktu lebih banyak daripada mengaji. Tentu aku ingin selalu mendapat izin darinya.

"Di toko buku Maulia sedang membutuhkan karyawan. Dibutuhkan yang kuat fisiknya dan bisa mengendarai motor ataupun mobil. Soalnya nanti akan ada waktu di mana dia dibutuhkan untuk mengangkat atau sekedar mengirim barang. Aku lihat, kau bisa melakukan itu semua," terang Abah Yai.

Ya, alhamdulillah aku memang bisa semuanya. Mengendarai motor, aku sudah terbiasa sejak masih sekolah di bangku SMK. Walau hanya motor pinjaman, tapi setidaknya bisa mengendarai.

Untuk mobil, aku bisa semenjak mondok di sini. Beberapa kali disuruh mengambil belanjaan yang jumlahnya lumayan banyak dari pasar. Aku bisa setelah diajari oleh putra sulung Abah Yai, Gus Farid, yang kini sudah menikah dan mendirikan pondok sendiri. Masya Allah. Aku jadi ingin seperti dia.

Sedangkan untuk angkat-mengangkat barang, aku sudah jagonya dari dulu. Karena hidup di pedesaan haruslah kuat fisiknya, apalagi aku termasuk lahir dari keluarga yang pas-pasan. Mau tidak mau memang harus bisa melakukan segala pekerjaan. Termasuk membawa potongan kayu yang diameternya saja bisa mencapai lima puluh sentimeter.

Akan tetapi, aku belum sekuat itu. Terakhir kali, aku ikut memanggul kayu yang diameternya dua puluh lima sentimeter. Itu pun sudah membuatku kewalahan dalam berjalan.

Mungkin untuk saat ini, kekuatanku baru segitu. Entah kalau dilatih terus. Sayangnya, sekarang aku lebih memilih untuk menerima pekerjaan yang wajar-wajar saja, biar tak terlalu melelahkan. Kecuali di saat terpepet tentunya.

"Alhamdulillah saya bisa, Bah," jawabku sambil tersenyum, tak menyangka akan mendapat pekerjaan yang layak di sini.

"Syukurlah." Abah Yai mengangguk-angguk. "Oh iya, di sana sistem kerjanya dibagi menjadi tiga shift. Soalnya toko buku itu buka selama dua puluh empat jam. Kamu bisa menyesuaikan dengan jadwal mengajimu. Nanti biar aku bicarakan dengan pemiliknya," tambah Abah Yai.

Masya Allah. Abah Yai baik sekali. Tahu saja kalau aku sedang membutuhkan pekerjaan ini.

"Alhamdulillah, Bah, terima kasih banyak. Maaf sudah merepotkan Abah." Kemudian aku segera pamit setelah semua dijelaskan oleh Abah Yai.

***

"Siapa namamu, Cah Bagus?" tanya pemilik toko, saat aku baru saja tiba.

Orangnya terlihat sudah lumayan berumur, telihat lebih tua dari Abah Yai. Dari caranya berkata, dapat kupastikan beliau orang yang ramah. Tak banyak mengekang karyawannya. Mungkin.

"Nama saya Azis, Pak." Aku tersenyum setelah menjabat tangannya.

"Panggil abah saja, yang lain juga seperti itu," ucapnya sembari tersenyum.

"Oh ... baik, Bah," kataku kemudian.

Semua dia jelaskan dengan rinci. Mulai dari kapan waktu bekerja, apa saja yang dikerjakan, juga siapa saja karyawan-karyawannya.

Toko buku ini cukup ramai. Toko buku terbesar sekecamatan. Buku yang dijual pun bukan sembarang buku. Ada berbagai kitab yang tersusun rapi di dalam sana. Ada pula novel berbagai genre, serta berbagai buku pelajaran dan perlengkapan sekolah lainnya.

Sebelumnya, aku juga sering ke sini. Saat memulai pelajaran baru, pasti Abah Yai menyuruhku untuk membeli kitabnya di sini. Termasuk kitab Ihya yang kini tinggal beberapa jilid lagi untuk selesai. Setelah kitab itu selesai, aku akan fokus bekerja.

"Loh, Mas Azis?" Terdengar suara seseorang menyapaku, aku menoleh.

Tiba-tiba saja detak jantung dalam dada bertalu lebih cepat, setelah aku mengetahui siapa yang menyapa.

"Dik Nadia?" balasku kemudian.

Ada sedikit lengkung senyum di bibirnya, kemudian mengangguk saat aku menyebut namanya. Masya Allah ... ini memang kami berjodoh, atau bagaimana? Entah kenapa, setiap kali bertemunya selalu saja seperti ini. Terasa seperti melayang di atas awan.

"Mas Azis kerja di sini?" tanyanya kemudian.

"I-iya. Baru mulai tadi pagi," kataku.

Ah, kenapa gugup sekali, ya? Rasanya seperti tengah menunggu hasil ujian. Deg-degan gimana ... gitu.

"Oh ... begitu," ucapnya. Aku mengangguk ramah, kemudian dia pamit ingin melihat-lihat buku.

Cinta.

Terasa bahagia, walau hanya sedetik saja melihat hadirnya. Terasa menderita, saat melihat dia bersama yang lainnya. Sulit untuk diartikan, apalagi dijabarkan. Hanya bisa dirasa, itu pun tak tahu akan sampai di ujung mana.

Sudah dua bulan lamanya aku bekerja di toko buku ini. Begitu sering juga aku melihat Nadia berkali-kali mengambil buku dari rak yang berbeda-beda. Namun, tak pernah sekali pun dia membayarnya.

Beberapa hari kemudian, barulah aku tahu kalau dia adalah anak dari pemilik toko ini. Itu berarti ... pemilik toko ini adalah saudara Abah Yai, 'kan?

Pantas saja, dari perkataan keduanya selalu saja hampir sama. Ternyata memang bersaudara.

"Zis, tolong antarkan kardus ini ke seberang jalan!" perintah Mas Arya, karyawan yang sudah lama bekerja di sana.

"Baik, Mas." Kemudian aku segera mengantar buku itu ke tempat tujuan.

Di saat aku tengah menyeberang jalan, entah kenapa tiba-tiba tubuhku terasa lemas. Tak lama setelah itu, tiba-tiba terdengar decitan rem dan ... brughk!

Tubuhku terpental entah ke mana. Kemudian semua pandangan menjadi gelap. Aku ... tak ingat apa-apa lagi.

***EA***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Pekerjaan Rahasiaku Dan Cintanya
8.8
Meri terpaksa melakoni profesi pembunuh bayaran demi uang karena sulit mencari kerja. Mike adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kelam ini. Meski Meri mencintai sahabatnya itu, ia memilih memendam rasa demi menjaga pertemanan, apalagi Mike sudah memiliki kekasih seorang model cantik. Namun, pertemuan tak terduga dengan seorang dokter tampan di rumah sakit mulai menggoyahkan hatinya. Siapakah sebenarnya belahan jiwa yang ditakdirkan untuk Meri?
Sampul Novel Dia Meninggalkan Suaminya Setelah Dia Menemukan Rahasianya
8.6
Lima tahun menikah, Tobias Stevens jatuh miskin dan terlilit utang. Di tengah kesulitan, Dorothy bekerja keras demi menghidupi Margaret, putri mereka. Suatu hari, Dorothy membawa Margaret ke taman bermain impian dari hasil tabungannya. Namun, mereka terkejut melihat Tobias di sana bersama cinta pertamanya, Liza Briggs, dan anaknya. Ternyata, Tobias telah menyewa seluruh tempat itu secara pribadi, sementara istri dan anaknya sendiri justru diusir oleh petugas.
Sampul Novel Birahi Kadang Tak Ada Logika
9.3
Kisah ini ditujukan bagi pembaca dewasa yang mampu menggunakan logika secara mendalam. Dalam dinamika asmara, cinta dan birahi sering kali muncul melampaui nalar manusia. Mengapa fenomena ini terjadi? Ikuti narasi ini hingga tuntas agar Anda tidak melewatkan pemahaman baru mengenai logika birahi yang terus berkembang. Jangan sampai menyesal karena berhenti di tengah jalan, sebab setiap babnya menawarkan sudut pandang penting agar Anda tidak menjadi pembaca yang merugi.
Sampul Novel Cathleen secret
8.1
Cathleen rela berperan sebagai antagonis demi melindungi Rikkard, pangeran kampus pujaannya, dari para wanita yang berniat buruk. Meski dibenci, ia bertahan hingga lembaran cintanya mencapai angka 3650. Akhirnya, Cathleen memilih mundur dan merelakan Rikkard bagi wanita lain yang tulus. Saat rahasia pengorbanannya terungkap, dunia Rikkard seketika terguncang. Akankah pandangan Rikkard terhadap sosok yang ia anggap iblis ini berubah selamanya?
Sampul Novel Dua Wajah Suami Romantisku
9.5
Vanessa Putri Ardian menjalin kasih dengan Eksa Susanto, mantan gurunya yang jauh lebih dewasa. Meski penuh lika-liku akibat perbedaan usia, kedewasaan Eksa membawa mereka hingga ke jenjang pernikahan. Namun, konflik rumah tangga mulai muncul saat masalah keturunan dan kehadiran Risang Aditya Sidharta, kembaran Eksa, menguji kesetiaan mereka. Saat wajah yang identik menyukai wanita yang sama, mampukah Eksa tetap menjadi satu-satunya suami bagi Vanessa?
Sampul Novel Kesalahan Semalam : Manisnya Suami Miliarder
9.0
Hidup Alina hancur saat tunangannya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Beban hutang keluarga pun memaksanya menyerahkan kesucian pada pria asing. Kini, ia terjebak pernikahan tanpa cinta dengan Nathaniel, miliarder dingin penuh rahasia. Di tengah dendam dan perebutan harga diri, tembok hati Alina mulai goyah oleh sikap suaminya. Haruskah ia menuntaskan misi balas dendamnya, atau justru kembali jatuh cinta pada sosok yang menyimpan masa lalu kelam itu?