APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA YANG RETAK

CINTA YANG RETAK

Bertahun-tahun membina rumah tangga, seorang istri akhirnya mengungkap perselingkuhan suaminya yang tersembunyi. Di saat ia mempersiapkan diri untuk pergi dan mengakhiri segalanya, sebuah kenyataan mengejutkan muncul ke permukaan. Ternyata, pengkhianatan menyakitkan tersebut menyimpan alasan yang jauh lebih rumit dan gelap dari sekadar cinta terlarang. Kini, ia terjebak dalam misteri besar yang menguji batas antara kebencian dan kebenaran yang sesungguhnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, Arya tertidur lebih awal. Maya duduk di sisi tempat tidur, memperhatikan suaminya yang tampak begitu lelap. Hatinya bergolak antara keinginan untuk percaya dan dorongan kuat untuk mencari tahu kebenaran. Setelah beberapa menit ragu, ia mengambil ponsel Arya yang tergeletak di meja kecil.

"Maaf, Mas... Aku harus tahu," bisiknya lirih.

Tangannya sedikit gemetar saat membuka ponsel Arya. Tidak ada sandi-Arya selalu percaya bahwa Maya tidak akan pernah mencoba melihat isinya.

Maya membuka aplikasi pesan dan menemukan nama yang sudah tidak asing lagi baginya: Sinta. Pesan terakhir dikirim beberapa jam yang lalu.

Sinta: "Jangan lupa besok kita makan siang bareng, ya. Aku udah pilih tempat yang kamu suka 😊"

Arya: "Oke. Sampai besok."

Maya menatap pesan itu, dadanya terasa sesak. Emotikon senyum itu terasa seperti duri yang menusuk hatinya. Bukankah Arya selalu mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan? Tetapi pesan ini terlalu santai, terlalu... akrab.

Ia menggulir percakapan mereka lebih jauh ke belakang. Pesan-pesan itu penuh candaan ringan, perhatian kecil yang membuat Maya merasa tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang ada di hati Arya.

Sinta: "Mas Arya, makasih ya untuk hari ini. Aku senang banget ngobrol sama kamu. Rasanya beda kalau ada kamu 😊"

Arya: "Aku juga senang. Kamu selalu bikin hari-hariku lebih ringan, Sin."

Mata Maya memanas. Air mata mulai menggenang, tetapi ia mencoba menahannya. Ia tidak ingin membangunkan Arya.

Ponsel itu masih di tangannya ketika Maya berdiri dan keluar dari kamar. Ia menuju ruang tamu, duduk di sofa sambil menatap layar ponsel. Dadanya dipenuhi perasaan campur aduk: marah, sedih, dan bingung.

Pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan. "Sejak kapan ini dimulai? Apakah aku kurang cukup? Apakah dia tidak lagi mencintaiku?"

Maya membuka kontak Sinta, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menelepon atau mengirim pesan. Namun, tangannya berhenti di udara. Ia tidak ingin bertindak gegabah.

Pagi harinya, Maya memasak sarapan seperti biasa, meskipun hatinya masih berat. Arya datang ke meja makan dengan senyuman kecil.

"Wah, ada nasi goreng favoritku," katanya ceria.

Maya tersenyum tipis. "Iya, aku pikir kamu butuh energi lebih banyak. Kelihatannya belakangan ini sibuk sekali."

Arya hanya tertawa kecil. "Iya, kerjaan kantor lagi gila-gilanya."

"Termasuk makan siang sama Sinta, ya?" pertanyaan Maya keluar begitu saja, suaranya terdengar datar.

Arya yang sedang menyendok nasi langsung berhenti. Ia menatap Maya dengan tatapan bingung.

"Apa maksud kamu?" tanyanya, mencoba terdengar santai meski raut wajahnya berubah.

Maya menatap langsung ke matanya. "Aku baca pesan kalian, Mas. Jadi aku tahu. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Arya terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Maya dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Maya, aku nggak mau kamu salah paham. Aku dan Sinta cuma teman. Kami memang dekat karena sering kerja bareng, itu saja."

"Dekat?" suara Maya mulai meninggi. "Kalau kalian cuma teman, kenapa dia bilang hal-hal yang seharusnya nggak diucapkan oleh teman biasa? Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang dia?"

Arya berdiri, mencoba meraih tangan Maya. "Aku nggak mau kamu merasa nggak nyaman, makanya aku nggak cerita. Tapi, sumpah, aku nggak pernah melakukan hal yang melanggar batas."

Maya menarik tangannya, menatap Arya dengan tatapan tajam. "Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa semua ini terasa salah? Kamu pikir aku bodoh, Mas?"

Arya mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Maya, aku nggak tahu harus bilang apa. Tapi aku janji, hubungan ini nggak seperti yang kamu pikirkan."

Maya menggeleng pelan. "Aku ingin percaya, Mas. Tapi semua ini terlalu banyak menyakiti aku. Aku nggak tahu sampai kapan aku bisa terus begini."

Arya terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Maya meninggalkannya di ruang makan, hatinya penuh luka dan amarah.

Maya mengunci diri di kamar setelah meninggalkan Arya di ruang makan. Hatinya terasa remuk. Ia duduk di kursi dekat jendela, memandang keluar dengan tatapan kosong. Matahari pagi yang biasanya memberikan semangat kini terasa hambar.

Tak lama kemudian, suara langkah Arya terdengar mendekat. Ia mengetuk pintu perlahan.

"Maya, boleh aku masuk?" suaranya terdengar tenang, tapi sedikit gemetar.

Maya tidak menjawab. Ia membiarkan Arya masuk sendiri.

Arya membuka pintu pelan, lalu berdiri di depan Maya yang tetap memandang keluar jendela. Ia menghela napas panjang sebelum berbicara.

"Maya, aku ngerti kalau kamu marah. Tapi aku harap kita bisa bicara baik-baik," katanya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.

Maya akhirnya menoleh, tatapannya tajam namun penuh luka. "Masih ada yang mau kamu jelaskan, Mas? Bukannya semua sudah jelas dari pesan itu?"

Arya duduk di tempat tidur, menjaga jarak agar tidak membuat Maya semakin marah. "Aku tahu kamu terluka. Tapi hubungan aku sama Sinta benar-benar nggak seperti yang kamu pikirkan. Kami cuma dekat karena pekerjaan. Itu saja."

Maya mendekatkan tubuhnya, wajahnya penuh emosi. "Cuma pekerjaan? Mas, kalau cuma pekerjaan, kenapa pesannya penuh dengan perhatian yang aku bahkan nggak pernah dapat lagi dari kamu? Kalau nggak ada apa-apa, kenapa kamu nggak pernah cerita soal dia?"

Arya menunduk, seperti mencari kata-kata yang tepat. "Aku nggak tahu, May. Aku... Aku nggak mau bikin kamu cemburu, jadi aku nggak cerita."

Maya tertawa sinis. "Cemburu? Kamu nggak cerita karena takut aku cemburu, atau karena kamu tahu hubungan itu memang salah?"

Arya tidak menjawab. Hening yang tercipta membuat Maya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah beberapa saat, Maya berdiri. "Aku butuh waktu sendiri, Mas. Aku nggak bisa langsung percaya begitu saja."

Arya mencoba mendekat. "Maya, jangan begini. Kita bisa bicarakan ini. Aku nggak mau masalah ini jadi besar."

Maya menatap Arya dengan mata berkilat. "Masalah ini sudah besar. Dan aku nggak yakin kita bisa menyelesaikannya tanpa kejujuran penuh dari kamu."

Arya hanya bisa mengangguk pelan. "Baik, aku akan beri kamu waktu. Tapi tolong, jangan langsung ambil keputusan. Kita sudah melalui banyak hal bersama, May."

Maya tidak menjawab. Ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Arya yang masih duduk dengan kepala tertunduk.

Di ruang tamu, Maya memutuskan untuk mencari jalan keluar dari kebingungannya. Ia kembali membuka ponsel Arya dan mencatat nomor Sinta. Kali ini, ia tidak akan hanya menunggu jawaban dari Arya.

Maya mengetik pesan dengan hati-hati.

"Halo, Sinta. Ini Maya, istri Arya. Aku mau bicara dengan kamu soal sesuatu. Bisa kita ketemu?"

Ia ragu beberapa saat sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Detik-detik berlalu, dan ponselnya bergetar. Balasan dari Sinta masuk.

"Halo, Mbak Maya. Tentu. Saya bisa bertemu kapan saja Mbak mau."

Balasan itu membuat Maya sedikit terkejut. Sinta terdengar tenang, bahkan terlalu tenang.

Keesokan harinya, Maya dan Sinta bertemu di sebuah kafe. Sinta adalah seorang wanita muda, rapi, dan menawan. Senyum kecil di wajahnya terasa ramah, tetapi Maya tidak bisa menghilangkan rasa curiga di hatinya.

"Terima kasih sudah mau bertemu," kata Maya, mencoba menjaga nada suaranya tetap netral.

Sinta tersenyum. "Tentu, Mbak. Saya juga ingin semuanya jelas. Saya nggak mau Mbak salah paham."

Maya menatapnya tajam. "Jadi, Sinta, apa sebenarnya hubungan kamu dengan Arya?"

Sinta menghela napas, tampak berpikir sebelum menjawab. "Saya tahu ini sulit buat Mbak. Tapi saya harus jujur. Saya memang dekat dengan Mas Arya. Kami sering kerja bareng, dan dari situ, hubungan kami jadi... lebih personal."

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar Maya. Dadanya terasa sesak. Namun, ia berusaha menahan emosinya. "Sejauh apa hubungan kalian? Apakah dia pernah bilang kalau dia mencintai kamu?"

Sinta menggeleng pelan. "Tidak, Mbak. Mas Arya tidak pernah bilang itu. Tapi saya merasa dia nyaman dengan saya. Mungkin saya salah paham, tapi saya nggak pernah berniat merusak rumah tangga Mbak."

Maya tersenyum tipis, penuh kepahitan. "Kamu merasa nyaman, dia merasa nyaman, tapi aku yang harus menanggung semua ini."

Sinta menunduk. "Saya minta maaf, Mbak. Tapi mungkin Mbak harus bicara lebih dalam dengan Mas Arya. Ada sesuatu yang sepertinya dia belum ceritakan ke Mbak."

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adikku Seorang Pelakor
9.1
Hidup Ayu Wulansari hancur seketika akibat pengkhianatan keji dari Rangga, suaminya, dan Nindi, adik kandungnya sendiri. Hubungan terlarang mereka menciptakan cinta segitiga yang menyiksa batin Wulan. Luka semakin dalam saat ia terpaksa menyaksikan pernikahan Rangga dengan Nindi yang telah hamil. Di tengah pedihnya kenyataan yang tak seindah drama, Wulan harus menelan pil pahit kehidupan yang penuh air mata, di mana kebahagiaan sejati terasa begitu jauh.
Sampul Novel Berikan Aku Cinta
9.6
Dua kepribadian yang sama-sama kuat harus beradu dalam ikatan pernikahan yang tidak biasa. Seorang wanita bermental baja memutuskan untuk tetap bersatu dengan pria yang memiliki sifat sangat keras kepala. Bagaimana dinamika hubungan mereka saat ego dan prinsip masing-masing saling berbenturan di bawah atap yang sama? Kisah ini menyoroti perjuangan cinta dan komitmen di tengah kerasnya watak mereka yang sulit untuk saling mengalah satu sama lain.
Sampul Novel Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
9.4
Nyawa Alexa, pewaris dinasti politik, terancam bahaya. Ayahnya menugaskan Rafael, mantan pasukan khusus yang kaku dan disiplin, sebagai pengawal pribadi. Meski Rafael berusaha menjaga batas profesional, pesona Alexa perlahan meruntuhkan pertahanannya. Di tengah intaian musuh, sebuah godaan muncul. Bagi Rafael, melindunginya dari pembunuh adalah tugas rutin, namun tantangan terberatnya justru menahan perasaan agar Alexa tidak jatuh hati padanya.
Sampul Novel Hasrat Liar Istri Salihah
8.1
Lima tahun membina rumah tangga, seorang istri yang dikenal salihah justru menyimpan rahasia besar yang tak terduga. Meskipun statusnya telah lama menikah, ia ternyata masih menjaga kesuciannya sebagai perawan. Apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu kamar mereka? Kisah romansa dewasa ini mengungkap gejolak hasrat terpendam dan alasan mengejutkan di balik dinginnya hubungan suami istri yang telah berjalan bertahun-tahun tersebut.
Sampul Novel Ikatan Suci
8.8
Mona, janda dari seorang pahlawan negara, harus menerima takdir saat ayahnya, Jenderal Handoko, menjodohkannya dengan Galih. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak karena Galih adalah mantan narapidana kasus narkoba. Di balik pernikahan yang penuh tanda tanya ini, Mona berusaha mencari alasan sebenarnya Galih bersedia menikahinya. Dua jiwa yang menyimpan luka lama kini terikat dalam janji suci, menghadapi pengorbanan demi mengungkap kebenaran di balik persatuan mereka.
Sampul Novel Istriku Punya Nama
7.9
Hananan, gadis mandiri berusia 25 tahun, terkejut saat mengetahui dirinya bukan anak kandung keluarga petani yang membesarkannya. Hidupnya berubah drastis ketika dijemput paksa ke sebuah rumah mewah, bukan untuk disambut hangat, melainkan dipaksa menggantikan adik kembarnya, Nazia, yang kabur demi cinta. Ia harus menikahi pengusaha kaya sebagai pengganti. Tanpa kasih sayang orang tua kandungnya, mampukah Hananan menemukan kebahagiaan sejati?