APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Padam

Cinta Yang Tak Pernah Padam

Dua tahun Nayara terkurung dalam pernikahan tanpa cinta akibat paksaan ibu Ravian. Sebagai pemimpin perusahaan yang dingin, Ravian Aditya Maheswara hanya menganggap hubungan ini kewajiban belaka. Namun, saat Nayara menyerah dan meminta cerai, sikap Ravian berubah drastis. Alih-alih setuju, ia justru mulai mempermainkan perasaan Nayara, menjebaknya dalam teka-teki hati yang membingungkan tepat saat ia ingin pergi menjauh dari bayang-bayang pria itu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudah tiga minggu sejak Nayara mulai menjaga jarak dari Ravian.

Bukan dengan cara yang mencolok, bukan dengan pertengkaran, tapi dengan kesunyian yang perlahan memisahkan mereka seperti dua pulau yang menjauh karena arus laut.

Ia tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa-menyiapkan sarapan, merapikan jas Ravian di ruang tamu sebelum pria itu berangkat, namun tanpa tatapan yang sama. Dulu Nayara selalu menatap punggung suaminya dengan harapan kecil bahwa pria itu akan menoleh. Sekarang ia tidak lagi menunggu.

Setiap pagi terasa seperti pengulangan tanpa makna.

Dan Ravian, entah sadar atau tidak, mulai merasakan kekosongan yang sama.

Suatu pagi, saat hendak berangkat ke kantor, Ravian berhenti di depan pintu. Biasanya Nayara akan mengucapkan, "Hati-hati di jalan," dengan senyum tipis yang membuat rumah mereka terasa hidup. Tapi kali ini hanya keheningan yang menyambutnya.

"Nayara."

Ravian menoleh. Wanita itu sedang sibuk di dapur, mencuci gelas dengan ekspresi datar.

"Hm?" sahutnya tanpa menoleh.

"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu diam?"

Nada suara Ravian terdengar datar, tapi sebenarnya ada keresahan yang sulit ia sembunyikan.

Nayara mematikan keran air, mengeringkan tangannya, lalu menatap suaminya dengan mata lelah. "Aku hanya sedang belajar berhenti berharap."

Ravian mengerutkan dahi. "Maksudmu apa?"

Nayara tersenyum hambar. "Kamu tahu maksudku, Ravian. Aku lelah berusaha memperbaiki sesuatu yang hanya aku sendiri yang ingin jaga."

Ravian tak bisa membalas. Kata-kata itu terasa seperti tamparan. Ia ingin menyangkal, tapi tidak punya dasar untuk melakukannya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi. Namun sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya tidak tenang. Setiap suara klakson mobil terasa seperti gema dari kalimat Nayara yang terus terulang di kepalanya-Aku sedang belajar berhenti berharap.

Sementara itu, Nayara memutuskan untuk kembali aktif di galeri tempatnya dulu bekerja. Ia menerima tawaran kurator lamanya, Mira, untuk mengatur pameran seni yang akan diadakan bulan depan.

"Senang banget kamu mau balik lagi, Nay," ucap Mira sambil menepuk bahunya. "Galeri sepi tanpa kamu."

Nayara tersenyum kecil. "Aku cuma ingin sibuk lagi, Mir. Biar nggak terlalu banyak mikir."

"Masalah rumah tangga?" tanya Mira dengan nada hati-hati.

Nayara terdiam sesaat. "Bisa dibilang begitu."

Mira menatap sahabatnya itu dengan tatapan prihatin. "Kamu masih bisa nyerah, Nay. Kamu masih muda. Kamu berhak bahagia."

Nayara hanya menggeleng. "Kadang aku berpikir begitu. Tapi entah kenapa, masih ada bagian diriku yang nggak tega."

"Karena kamu masih cinta," jawab Mira cepat.

Nayara terdiam. Kata itu terasa berat di dadanya. Ia tak bisa menyangkalnya, tapi juga tak ingin mengakuinya.

Di sisi lain kota, Ravian duduk di ruang kerjanya, memandangi laporan yang seharusnya ia tandatangani. Tapi matanya tak fokus. Dalam pikirannya, bayangan wajah Nayara terus muncul-tatapan datarnya pagi tadi, senyum yang dulu hangat kini hilang entah ke mana.

"Pak Ravian?" suara sekretarisnya, Della, membuyarkan lamunan.

Ravian menoleh. "Ada apa?"

"Ada tamu yang ingin bertemu. Katanya urusan pribadi."

"Siapa?"

"Seorang pria, namanya Revan. Katanya kenal dekat dengan Ibu Nayara."

Nama itu membuat alis Ravian terangkat. "Revan?"

"Iya, Pak."

"Suruh tunggu di ruang tamu."

Ravian berdiri, rasa tidak nyaman merayapi dadanya. Ia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi entah mengapa, hanya mendengarnya saja sudah membuat darahnya sedikit mendidih.

Begitu masuk ke ruang tamu, ia melihat seorang pria berpenampilan rapi, dengan kemeja biru muda dan senyum ramah.

"Selamat siang, Tuan Ravian," sapa pria itu sopan. "Saya Revan Adiputra, teman lama Nayara."

"Teman lama?" Ravian duduk perlahan. "Ada perlu apa datang ke sini?"

Revan tersenyum tenang. "Saya hanya ingin mengundang Nayara menghadiri pameran seni minggu depan. Kami dulu sempat satu proyek waktu di galeri."

Ravian menatapnya tajam. "Kamu bisa langsung menghubungi Nayara. Kenapa harus datang ke sini?"

Revan mengangkat alis, sedikit terkejut dengan nada dingin itu. "Saya hanya ingin bersikap sopan. Lagipula, Nayara bilang dia sekarang jarang ke luar rumah. Jadi saya pikir akan lebih baik kalau lewat Anda."

Ravian mengetukkan jarinya di meja. Ia berusaha menahan sesuatu yang mirip amarah. "Baik. Aku akan sampaikan."

Revan berdiri, mengulurkan tangan. "Terima kasih atas waktunya. Senang akhirnya bisa bertemu dengan suami Nayara. Dia banyak bercerita tentang betapa pekerja kerasnya Anda."

Ucapan itu terdengar biasa saja, tapi bagi Ravian, justru terasa seperti sindiran halus.

Begitu Revan pergi, Ravian bersandar di kursinya, rahangnya mengeras.

Dia banyak bercerita? Nayara bercerita tentangnya pada pria lain?

Entah kenapa, rasa tidak nyaman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap-cemburu.

Sebuah emosi yang bahkan ia sendiri tidak ingin akui.

Malamnya, Ravian pulang lebih awal. Ia menemukan Nayara sedang duduk di teras belakang sambil memandangi langit.

"Teman lamamu datang ke kantor," ucap Ravian membuka percakapan.

Nayara menoleh perlahan. "Revan?"

"Ya."

"Kamu marah?" tanyanya tenang.

Ravian tidak menjawab langsung. "Kenapa dia harus datang menemuiku untuk mengundangmu?"

"Dia cuma sopan, Ravian."

"Sopan?" Ravian mendengus pelan. "Atau sengaja cari perhatian?"

"Ravian," Nayara menatapnya dalam, "tidak semua orang seburuk yang kamu pikirkan."

Ravian menahan diri. Ia ingin membalas, tapi melihat tatapan tenang Nayara, sesuatu dalam dirinya runtuh. "Aku tidak suka dia datang ke sana."

"Kenapa?"

"Karena aku suamimu."

"Suami di atas kertas," Nayara menimpali cepat. "Kamu sendiri yang bilang kita tidak punya hubungan apa-apa selain tanggung jawab."

Kata-kata itu membuat Ravian kehilangan kata. Ia ingin berteriak bahwa bukan itu maksudnya, tapi lidahnya kelu.

Nayara berdiri, hendak masuk ke dalam rumah, tapi Ravian menahan lengannya. "Aku tidak mau kamu terlalu dekat dengan dia."

Nayara menatap tangan Ravian di lengannya. Sentuhan itu hangat, tapi sekaligus menyakitkan. "Lucu ya," ujarnya pelan, "kamu baru peduli ketika ada orang lain yang memperhatikanku."

Ravian melepaskan genggamannya. "Itu bukan seperti yang kamu pikirkan."

"Lalu seperti apa, Ravian? Kamu bahkan tidak pernah memandangku sebagai istrimu, tapi sekarang kamu melarangku bergaul dengan teman lama?"

Pria itu menunduk, rahangnya menegang. "Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka."

"Tidak suka atau takut kehilangan?" Nayara menatapnya tajam. "Kalau memang takut, buktikan. Tapi kalau tidak, lepaskan aku sepenuhnya."

Ravian diam. Matanya menatap Nayara lama, tapi tidak sanggup berkata apa-apa.

Malam itu, setelah Nayara masuk ke kamar, Ravian duduk sendirian di ruang tamu, memandangi dinding kosong. Di kepalanya, kalimat Nayara terulang lagi dan lagi-Buktikan atau lepaskan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ravian menyadari betapa ia sebenarnya takut kehilangan perempuan itu. Tapi rasa takut itu datang terlambat, setelah semuanya mulai retak.

Hari pameran tiba. Nayara datang bersama Mira, mengenakan gaun sederhana warna krem. Semua mata tertuju padanya, bukan karena penampilannya yang mencolok, tapi karena aura lembut dan tenangnya yang memancar.

Revan menyambutnya dengan senyum hangat. "Kamu kelihatan lebih bahagia sekarang."

Nayara tersenyum tipis. "Mungkin karena aku mulai berdamai dengan diri sendiri."

Mereka berjalan berdua, membahas lukisan-lukisan yang dipajang. Tapi di sisi ruangan, seseorang memperhatikan mereka dengan wajah menegang-Ravian.

Ia datang diam-diam, tidak memberi tahu Nayara. Tubuhnya tegang setiap kali melihat Revan tertawa bersama istrinya. Ada dorongan aneh di dadanya, antara marah dan takut.

Ketika Nayara sedang berbicara dengan pengunjung lain, Ravian menghampirinya.

"Kamu tidak bilang mau ke sini malam ini," ucapnya datar.

Nayara sedikit terkejut. "Aku tidak tahu kamu peduli."

Ravian menatapnya lama. "Aku peduli."

Revan datang menghampiri mereka, menepuk bahu Ravian dengan sopan. "Senang Anda datang juga, Pak Ravian. Nayara banyak membantu persiapan pameran ini."

Ravian mengangguk kaku. "Ya, aku lihat."

Tatapan keduanya bertemu sesaat-dingin dan penuh ketegangan yang tak tersentuh kata.

Setelah Revan pergi, Nayara menatap Ravian dengan nada getir. "Kamu datang untuk memantauku?"

"Untuk memastikan kamu baik-baik saja."

"Terima kasih, tapi aku bisa menjaga diriku." Nayara berbalik meninggalkannya, tapi Ravian menarik lembut pergelangan tangannya.

"Jangan terus menjauh, Nayara."

Wanita itu menoleh, matanya berkaca-kaca. "Aku bukan menjauh, Ravian. Aku cuma berhenti mengejar."

Ravian menunduk, suaranya serak. "Kau tidak tahu betapa aku menyesal."

"Menyesal tidak sama dengan mencinta," balas Nayara lirih.

Ia melepaskan tangannya perlahan, lalu pergi.

Dan malam itu, di tengah keramaian, Ravian berdiri sendiri, menatap punggung perempuan yang perlahan menjauh.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ravian benar-benar merasakan kehilangan-bukan karena harga diri, bukan karena ego, tapi karena cinta yang baru ia sadari setelah semuanya hampir terlambat.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Desire of Love CEO
8.0
Hidup Alana Handoko hancur seketika saat ia harus bertanggung jawab atas kecelakaan fatal yang menewaskan seorang gadis kecil. Tragedi ini memicu kemarahan besar Reynar Adiwangsa, CEO tampan yang kehilangan sosok paling berharga dalam hidupnya. Dipenuhi dendam membara, Reynar bertekad membalas kematian tersebut dengan menyiksa Alana. Ia merancang segala cara untuk mengubah dunia Alana menjadi neraka tanpa ampun demi melampiaskan rasa sakit hatinya.
Sampul Novel Kembar Manis: Memuaskan Diri dalam Cinta Ayah
8.1
Demi biaya operasi sang ibu, Ningsih rela mengandung anak dari pria asing. Lima tahun berselang, ia kembali sebagai dokter anak sukses dan bertemu Charles, pria misterius dari masa lalunya yang membawa seorang putra. Kejutan tak berhenti di sana, seorang pria lain muncul membawa bayi perempuan yang diklaim sebagai darah daging Ningsih. Di tengah pusaran rahasia lama yang mulai terkuak, mampukah Ningsih menghadapi takdir rumit yang menantinya?
Sampul Novel Luka & Keegoisan
9.1
Sembilan tahun lamanya Lina Damaris Adelia berjuang menghapus jejak Elian Zayn Anderson dari hatinya. Namun, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan pria yang pernah memberi luka batin tersebut. Kini, Lina terjebak bekerja di perusahaan milik Elian yang angkuh dan egois. Di tengah gejolak emosi dan kesabaran yang kian menipis, mampukah mereka memperbaiki hubungan yang telah hancur, ataukah perasaan lama itu hanya akan menjadi ujian yang menyakitkan?
Sampul Novel Menikah, Bercerai, Diinginkan Lagi
8.8
Tiga tahun pernikahan gagal mencairkan hati Theo. Saat Lena terluka parah akibat insiden galeri, Theo justru memanjakan wanita lain dengan jet pribadi. Kecewa, Lena menggugat cerai dan menyebar rumor bahwa suaminya impoten. Ia bangkit menjadi desainer elit yang sukses. Namun, saat mengira Theo akan menikahi kekasih lamanya, pria itu justru menyudutkannya di peragaan busana demi membuktikan kejantanannya yang sempat Lena ragukan di mata publik.
Sampul Novel My Bule Husband
8.1
Naina, gadis sederhana, terpaksa menikahi pria kaya asal Jerman karena rasa balas budi. Ia mengira hidupnya akan tenang, namun kenyataannya ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Suami bulenya yang dingin menganggap Naina hanya sebagai pengasuh bagi putranya yang berusia tujuh tahun. Tak hanya sang suami, putra sambungnya, Steven, juga bersikap acuh dan tidak menerimanya sebagai ibu. Kini Naina harus bertahan menghadapi sikap kasar dua sosok kaku tersebut.
Sampul Novel Mysterious Love
8.0
Chen Qianqian adalah bos CyberTech sekaligus pewaris tunggal kerajaan bisnis internet di China. Meski hidupnya sempurna, tekanan keluarga memaksanya segera menikah di usia tiga puluh tahun. Takdir mempertemukannya dengan Bai Chou Fei, putra pemilik jaringan rumah sakit ternama, saat berada di rumah sakit. Meski awalnya sulit, Chou Fei akhirnya menerima lamaran Qianqian. Namun, pernikahan ini justru penuh rintangan emosional. Akankah sandiwara mereka berujung luka atau cinta?