APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA YANG TERTUKAR

CINTA YANG TERTUKAR

Kehidupan asmara Mahya, wanita kelahiran 1991, jauh dari kata sempurna karena kehadiran seorang sahabat yang manipulatif. Di balik topeng keluguan, sang sahabat terus merusak setiap hubungan cinta yang Mahya bangun. Meski sering dikhianati, Mahya yang polos tetap menaruh kepercayaan penuh pada sosok licik tersebut. Namun, sebuah kejadian tak terduga akhirnya memicu kemarahan besar dalam diri Mahya. Akankah tabir kepalsuan ini segera terungkap?
Bab
Bagikan

Bab 1

Pagi itu suasana kelas tampak ramai karena akan di adakan pengetesan pada semua santri.

"Aku harus bisa bersaing dengan santri lain," ucap Mahya melipat tangan dengan mata terpejam, berpikir tentang pelajaran beberapa bulan yang lalu.

"Hai, apa yang kamu pikirkan?" tangan Aliyah menepuk pundak Mahya, hingga membuyarkan lamunannya.

"Aliyah!" Mata Mahya terbelalak karena kaget.

"Sudah aku duga, kamu pasti sedang melamun!" Aliyah mengulurkan tangan dengan senyum miring.

Mahya tersenyum dan menyambut uluran tangannya.

"Begini lebih baik," ucap Aliyah lalu melangkah dan meletakan buku di sisi Mahya.

"Apa yang kamu lakukan disini? Pergilah! Aku ingin sendiri!" Tangan Mahya mendorong Aliyah kuat.

Aliyah menjerit, matanya melotot tidak tidak terima.

"Sudah kukatakan tinggalkan aku sendiri, aku tidak butuh ditemanimu!" Mata Mahya nyalang, menujukan tidak suka.

"Sejak kapan kamu bersikap beringas seperti ini Mahya!" Aliyah menatap Mahya tajam.

"Kamu yang memulai, sudah aku katakan tinggalkan aku sendiri!" bentak Mahya gemas.

Aliyah sangat marah melihat kelakuan Mahya yang tidak biasa, tangannya mengepal menahan gejolak jiwa.

"Aliyah! mengapa kamu masih di situ! Apa kamu tidak mendengarku!" bentak Mahya kembali saat melihat Aliyah masih tetap di tempat semula.

"Tidak perlu kamu repot-repot menyuruhku untuk pergi Mahya." Aliyah mundur mencari tempat duduk yang tidak jauh dari Mahya.

Acara akan segera dimulai, keadaan kelas kini tenang semua menjadi fokus dengan pikirannya masing-masing termasuk Mahya dan Aliyah yang sempat bersetrupun ikut berusaha mengikuti.

"Silahkan maju untuk yang paling depan!" suruh sang guru, dengan suara tegasnya.

"Ss-saya, Pak?" tanya Mahya yang kebetulan duduk di bangku paling depan tepat berhadapan dengan sang guru. Matanya terbelalak tangan dan juga bibir gemetar.

"Ya, kamu," jawab sang guru. Dia adalah Rafa. Laki-laki dengan tubuh kekar dan bibir tipis.

Gadis itu maju selangkah bersamaan dengan langkah sang guru, hingga keduanya bersitatap.

"Majulah, dan bacalah!" seru Rafa dengan berusaha menyembunyikan wajahnya. Tangannya berusaha membuka lembaran Al-Qur'an dan menunjuk surat yang harus dibaca.

"Ba-ba baik, Pak," Mahya berbicara dengan suara terputus-putus. Gadis itu tidak mampu menutupi rasa malu dan grogi di hadapan guru ngaji. Baru kali ini dia melihat secara dekat, sebelumnya Rafa tidak pernah ditugaskan untuk acara seperti saat ini.

Wajah tampan Rafa membuat Mahya terus mencuri pandang hingga menjadi tidak konsentrasi. Mahya lupa untuk segera membaca surat yang sudah di tujuknya.

"Dasar cewek caper," gumam Aliyah. Dia duduk tidak jauh dari bangku Mahya.

"Harap semua perhatikan, dan simak baik-baik!" Rafa berdiri dan mengangkat kitab Al-Qur'an.

Semua santri mengikuti petunjuk Rafa, menundukkan kepala dan mulai konsentrasi.

Sementara Mahya masih terdiam, mulutnya terasa tercekat.

"Siapa, namamu?" tanya Rafa gemas.

Mahya kaget dan wajahnya menjadi pucat pasi.

"Mahya," jawabnya tanpa berani mengangkat wajah.

Rafa melangkah lagi berdiri lalu duduk tepat di hadapannya. Rafa menunjuk salah satu surat yang berbeda agar segera di baca.

Mahya mulai membaca dengan sangat berhati-hati, namun apalah daya rasa grogi membuat suaranya terputus-putus.

"Hem, berhentilah!" Printahnya. Rafa merasa kecewa dengan sikap muridnya.

"Duduklah kembali!" perintahnya.

Rafa menoleh ke belakang menunjuk salah seorang santri untuk mengulang.

"Saya, Pak?" tanya salah satu santri yang merasa di tunjuk mengangkat tangan.

"Ya, berdirilah maju ke depan!"

Saat di hadapan Rafa Santri laki-laki itu terlihat bingung dia sendiri kurang paham tentang bacaan, tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Apakah kamu tidak mendengarku berbicara!" Dengan gemas tangan Rafa meraih pundak Burhan lalu menghadapkan wajahnya.

Burhan ketakutan. Tapi, Mahya yang sejak tadi masih duduk, seketika berdiri melangkah lebih dekat dan menunjukan kesalahan yang telah di lakukan.

"Bagus, ternyata kamu peka dan tahu letak kesalahanmu sendiri," ujar Rafa dengan tersenyum senang.

Rafa mempersilahkan keduanya untuk kembali ketempat duduknya masing-masing. Gadis itu terlihat lega dan sesekali mencuri pandang.

"Aliyah sekarang giliranmu," ucap Mahya saat menoleh ke belakang.

"Sabarlah Mahya, pak Rafa juga belum memanggilku." Aliyah menjawab dengan alis dinaik turunkan.

Mahya kembali menghadap ke depan dengan perasaan kesal.

"Menyebalkan!"

"Kamu selalu ingin membuatku marah,"Aliyah menelisik tepat di telinga kirinya.

Mahya membalikkan tubuh kesal.

"Kamu yang mulai duluan!"

Rafa mendengarnya.

"Diam! Apakah kalian pikir ini tempat untuk berdebat!" Rafa menggebrak meja, menimbulkan bunyi keras.

Semua santri tidak ada yang berani mengkat wajah, termasuk Mahya dan juga Aliyah. "Jika kalian masih merasa belum bisa setidaknya diam itu lebih baik," lanjutnya. Kini semua berlanjut hingga selesai.

Pukul 16:00.WIB.

"Aliyah! Berhentilah!" Mahya melambaikan tangan, kaki melangkah lebih cepat.

Aliyah mendesah terpaksa menoleh dan berhenti meski sejujurnya masih sangat marah, "apalagi sih! Aku pikir kamu sudah tidak mau lagi denganku."

Mahya mendesah, mengatur nafas

sebelum lanjut bicara, "Aliyah aku minta maaf, kamu tahu? mengapa tadi aku kesal sama kamu?" Aliyah menggeleng acuh.

"Aku sedang konsentrasi, pikiranku kalut sehingga mudah marah," lanjutnya. Mahya sejenak menghentikan langkah menatap Aliyah lekat.

"Hee-em."

Rafa sengaja berdehem agar Mahya menyadari keberadaannya di belakang.

"Pak Rafa!" ucap Mahya lirih.

Mahya menjadi salah tingkah, dan menghentikan bicara.

"Ada apa Mahya? Mengapa kamu jadi berhenti bicara?" tanya Aliyah. Rupanya kekesalan pada Mahya membuat Aliyah tidak mendengar ucapannya.

Mahya hanya menggeleng tidak mampu menjawab pertanyaan Aliyah.

rupanya Aliyah tidak menyadari jika di belakangnya ada Rafa, karena tidak mendengar saat Rafa berdehem.

"Santri jaman sekarang memang susah di atur," ujarnya.

Rafa mendengus kesal, melanjutkan langkah tanpa permisi.

Mahya dan Aliyah hanya mampu saling pandang, tubuh bergeser memberi jalan.

"Mahya, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Aliyah penasaran.

"Ah, bukan apa-apa," jawab Mahya dengan wajah masih clingukan memastikan. "Cuma perasaan kamu saja Aliyah," lanjutnya dengan mempercepat langkah.

"Tunggu Mahya! mengapa jalannmu menjadi cepat? lihatlah aku sampai ngos-ngosan mengejarmu!" Tangan Aliyah berusaha menggapai baju Mahya. Kini giliran Aliyah yang justru mengejar Mahya.

Mahya hanya tersenyum dan tidak menghiraukan Aliyah, hingga mereka sampai di asrama.

Di pagi harinya saat waktu makan telah tiba semua santri berdesak-desakan memenuhi kantin, mereka biasanya ada yang tinggal menggambil jatah makan dan ada pula yang makan dengan uang kes. Keadaan asrama pun menjadi sepi hanya Mahya yang masih tetap di tempatnya.

"Mengapa hatiku menjadi tidak karuan setiap kali melihat pak Rafa, dia sangat tegas, dingin tapi manis, aku harus berusaha bersikap biasa padanya," ucap Mahya lirih. Matanya terus memandangi langit-langit asrama dengan senyuman mengembang.

"Mahya, apa kamu tidak mau makan?Mengapa masih di situ terus? Ingat ya, ini sudah hampir waktunya masuk kelas," tanya Aliyah yang baru saja dari kantin dengan membawa sepiring nasi.

"Makanlah dulu! Aku sedang tidak selera," jawabnya dengan tangan mengambil sepatu dan memakainya.

Aliyah menggelengkan kepala dengan mulut tetap mengunyah,"Kamu mulai aneh sekarang, Mahya."

Mahya tidak menghiraukan temennya, dan segera berlalu.

Pukul 08.00.WIB.

Tidak seperti biasanya pagi itu, saat pelajaran hampir di mulai suasana aman terkendali hanya Mahya yang terlihat gusar.

Gadis itu merasa debaran hatinya semakin kencang, pikiran menjadi semrawut bahkan peluhpun ikut merembes ke sela-sela jarinya entah karena apa.

"Selamat pagi semuanya?" sapa seorang guru yang baru masuk. Dia melambaikan tangan dan juga tersenyum merekah.

"Oh, rupanya ini yang membuatku gusar," ucap Mahya dalam hati.

"Waduh-waduh, mengapa hatiku semakin berdebar ya, huuuh."

Mahya membuang nafas dalam-dalam. Berusaha untuk tetap bersikap wajar di depan semua teman-temannya.

Tidak sengaja sang guru menoleh ke arah Mahya. Dia merasa di perhatikan, dan entah mengapa hatinya juga mulai berdebar.

"Kamu," tunjuknya dengan pandangan serius.

"S-saya, pak?" tanya Mahya kurang percaya.

"Iya, kamu. Majulah!"

"Baik, Pak." Mahya dengan takut maju, menengok ke kanan dan kiri, berharap ada yang mau menyemangati.

"Apa yang kamu lihat? majulah, tidak usah takut!" printahnya dengan suara serak.

Mahya masih tetap diam di tempat seoalah tidak mendengarnya. Bukan karena takut tapi, debaran hatinya belum mampu di kendalikan.

"Mahya! apa yang kamu tunggu!" Aliyah berbisik.

Aliyah sedikit menjawel baju Mahya dari belakang. "Mahya, ayo cepatlah!" lanjutnya. Aliyah bangkit dan duduk dekat Mahya. Namun, Mahya masih diam tidak menjawab.

"Mahya, jangan permalukan dirimu di depan santri banyak"

Seketika Mahya terpancing lalu menoleh ke arahnya Aliyah. "Apa pedulimu! Sejak tadi kau ingin membuatku marah."

"Apakah kamu masih tetap mau diam di tempat!" tanya guru tersebut dengan nada tinggi.

Tetap ikuti kelanjutannya, siapakah guru itu sebenarnya mengapa Mahya menjadi diam tidak berkutik.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hadiah Madu Untuk Suamiku
9.6
Indana Zulfa Hewatun menganggap poligami sebagai solusi agar ia bisa mengejar impian kuliah di luar negeri. Ia bahkan rela menjodohkan Jidan, suaminya, dengan seorang santriwati dari pesantren ayahnya. Namun, rencana itu terancam gagal saat Jidan mencurigai hubungan Inda dengan sang mantan kekasih. Akankah kepercayaan yang hancur membatalkan perjodohan ini? Sebuah kisah tentang perjuangan meraih cita-cita tanpa harus mengorbankan pernikahan.
Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
James tidak menyangka jatuh hati pada pandangan pertama saat menikahi Elvira melalui perjodohan. Kecantikan Elvira dan momen malam pertama mereka di dalam limosin membuat James terobsesi. Namun, Elvira bahkan tidak menyadari kekayaan suaminya yang luar biasa. Bahtera rumah tangga mereka segera diuji oleh berbagai rintangan besar, terutama saat mantan kekasih James muncul kembali. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi gangguan orang ketiga?
Sampul Novel Karma sang pelakor
8.2
Keluarga Christian bersaudara menyimpan amarah besar setelah mengetahui suami mereka mengkhianati komitmen demi gadis muda. Dendam ini memicu rencana pembunuhan gelap yang mengguncang segalanya. Namun, aksi tersebut justru memancing kecurigaan Nathan bersaudara. Mereka kini bertekad menelusuri jejak misterius demi mengungkap penyebab sebenarnya di balik kematian tragis adik bungsu mereka. Konflik antar keluarga pun pecah dalam balutan aksi dan misteri.
Sampul Novel Keturunan Rahasia
8.5
Akibat jebakan licik pamannya, Rajendra Antariksa melakukan kesalahan fatal terhadap Amara Lucia Haidar di masa lalu. Setelah sepuluh tahun hidup dalam penyesalan mendalam, pewaris Antariksa Group ini terkejut saat mengetahui Amara mengalami trauma berat dan telah melahirkan putranya secara rahasia. Namun, upaya Rajendra untuk menebus dosa tidaklah mudah. Ia justru menghadapi penolakan keras dari Amara, orang tuanya, bahkan anak kandung yang baru diketahuinya itu.
Sampul Novel Kisah Yuna
8.8
Yuna adalah mahasiswi biasa yang tengah berjuang keras meraih impian masa depannya. Dunianya seketika berubah penuh warna saat idola kampus menyatakan perasaan kepadanya. Namun, perjalanan asmara ini tidaklah mudah. Yuna terjebak dalam dilema besar ketika situasi memaksanya memilih antara pacar pertamanya saat ini atau sosok cinta pertama dari masa lalu. Siapakah yang akan memenangkan hati Yuna pada akhirnya di tengah persimpangan emosi ini?
Sampul Novel Love Over Everything
9.2
Zanara melarikan diri demi menghindari rahasia kelam suaminya, lalu bertemu Jayme yang tulus mencintainya. Meski trauma masa lalu membuatnya menutup diri, ia justru terjebak dalam romansa rumit saat orang-orang dari masa lalunya kembali mengusik. Kini, keselamatan putri semata wayangnya, Marion, menjadi taruhan utama. Zanara dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menyendiri dan kehilangan Marion, atau menerima pinangan pria demi melindungi sang buah hati.