APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Collateral Fate

Collateral Fate

Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus mengemban misi berisiko tinggi demi menyelamatkan Alana Weston, relawan yang diculik teroris internasional. Namun, operasi rahasia ini berubah menjadi perjuangan hidup mati saat mereka terjebak di zona musuh yang berbahaya. Arya segera menyadari bahwa penculikan Alana bukan sekadar aksi kriminal biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik besar yang mengancam keselamatan mereka di tengah pelarian.
Bab
Bagikan

Bab 3

Arya menoleh ke Alana. "Ayo, kita harus bergerak cepat."

Alana mengangguk, masih mencoba mengatur napasnya. Mereka melangkah keluar dari lorong sempit itu, menyatu dengan bayangan malam. Pasir di bawah kaki mereka sedikit berderak, tetapi suara itu tenggelam oleh hembusan angin gurun yang menusuk kulit.

Delta-1 segera memberikan instruksi melalui radio. "Letnan, bergeraklah ke koordinat 35.1789, 38.5168. Tim ekstraksi akan menunggu di sana, tetapi mereka tidak bisa bertahan lama."

Arya mengecek peta digital di jam tangannya. Lokasi itu berjarak sekitar tiga kilometer ke arah barat. Dengan musuh yang masih aktif di sekitar, mereka harus menghindari jalur utama dan bergerak melalui celah-celah medan berbatu.

"Tetap di belakangku," bisik Arya.

Mereka mulai bergerak dengan cepat namun tetap rendah, bersembunyi di balik puing-puing bangunan yang roboh. Sesekali, lampu sorot dari pos militan menyapu daerah sekitar, memaksa mereka untuk menahan napas dan merapat ke tanah.

Setengah perjalanan, Arya tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Dari kejauhan, ia melihat dua kendaraan lapis baja mendekat, roda mereka menggilas pasir dengan suara yang mengancam. Seorang pria bersenjata berdiri di atap kendaraan pertama, mengawasi sekitar dengan senter besar.

"Turun ke cekungan itu," bisik Arya sambil menarik Alana ke dalam sebuah lubang alami di tanah. Mereka merapat ke dinding pasir, mencoba menyatu dengan kegelapan.

Pria bersenjata itu mengarahkan senter ke arah mereka. Cahaya nyaris menyentuh tempat persembunyian mereka sebelum akhirnya beralih ke arah lain.

Arya menahan napas hingga kendaraan itu menjauh. Begitu keadaan aman, mereka kembali bergerak.

Hanya beberapa ratus meter dari titik ekstraksi, suara dentuman keras terdengar di kejauhan. Langit malam diterangi ledakan oranye yang membumbung tinggi.

"Horizon di bawah serangan," suara Delta-1 terdengar tegang. "Kami diserang! Percepatan langkah kalian! Kami tidak bisa bertahan lama!"

Arya segera meraih tangan Alana dan menariknya untuk berlari. Tidak ada lagi waktu untuk bergerak perlahan. Napas mereka terengah-engah saat mereka berlari di antara reruntuhan dan bukit pasir.

Dalam hitungan menit, mereka bisa melihat helikopter tempur yang menunggu di kejauhan, baling-balingnya berputar kencang, pasir beterbangan di sekitarnya. Beberapa operator Delta-1 menembakkan senjata ke arah musuh yang mulai bermunculan di belakang mereka.

Arya mengangkat senjatanya dan menembak ke arah pengejar. Beberapa dari mereka jatuh, tetapi jumlahnya terlalu banyak.

"Masuk sekarang!" teriak salah satu operator dari dalam helikopter.

Arya mendorong Alana ke dalam, lalu melompat menyusul. Begitu keduanya masuk, helikopter langsung lepas landas, meninggalkan kobaran api dan suara tembakan di belakang mereka.

Di dalam kabin, Alana masih terengah-engah, matanya menatap Arya dengan campuran ketakutan dan kekaguman.

"Ini belum selesai," kata Arya dengan nada serius. "Kita baru saja masuk ke dalam permainan yang jauh lebih besar."

Alana mengangguk pelan, menyadari bahwa apa pun yang telah ia temukan, bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Helikopter terus melaju menembus kegelapan malam, menghindari tembakan sporadis yang masih terdengar dari bawah. Cahaya di horizon masih berkobar, menandakan pertempuran yang belum usai.

Delta-1 berbicara melalui radio kepada pilot, suaranya penuh ketegangan. "Kita butuh jalur alternatif. Basis utama mungkin sudah dikompromikan."

Arya mengencangkan pegangan senjatanya. Napasnya masih berat, tapi matanya tajam mengamati sekeliling. Ia menoleh ke Alana, yang masih berusaha mengatur pernapasannya. "Kau baik-baik saja?"

Alana mengangguk, meskipun matanya masih menyiratkan ketegangan. "Aku masih hidup, kan?"

Salah satu operator Delta-1 mendekati Arya. "Letnan, ini bukan sekadar misi penyelamatan biasa. Kami dapat informasi baru bahwa ada operasi yang lebih besar sedang berlangsung. Target utama mereka bukan hanya Alana, tapi sesuatu yang ia bawa."

Arya menatap Alana dengan tajam. "Apa maksudnya? Apa yang mereka cari darimu?"

Alana menelan ludah, tampak ragu sebelum akhirnya berbicara. "Aku... aku tidak yakin. Aku hanya seorang relawan kemanusiaan. Tapi sebelum aku ditangkap, aku sempat melihat sesuatu yang aneh di markas mereka. Ada data-data tentang pergerakan pasukan internasional di Timur Tengah dan beberapa file yang terkait dengan jaringan intelijen. Aku tak sempat memahami semuanya, tapi sepertinya mereka mengira aku tahu lebih dari yang seharusnya."

Arya menghela napas panjang. "Kalau begitu, ini bukan sekadar operasi penyanderaan. Ini jauh lebih besar dari yang kita kira."

Radio berbunyi lagi, suara pilot terdengar tegang. "Letnan, kita punya masalah. Ada dua jet tempur musuh mendekat dari arah timur. Kami tak bisa menghindari mereka lebih lama lagi."

Arya segera bergerak ke kokpit, melihat layar radar yang menunjukkan dua titik merah mendekat dengan kecepatan tinggi.

"Berapa lama sampai kita mencapai zona aman?" tanyanya.

"Lima belas menit, tapi mereka akan mengejar kita sebelum itu."

Delta-1 mengambil senapan dan mengangkat bahu. "Kita harus bertarung kalau ingin keluar hidup-hidup."

Alana menggigit bibirnya. Ia bukan prajurit, tapi situasi ini memaksanya untuk tetap bertahan. Helikopter bergetar saat suara dentuman terdengar di kejauhan, rudal telah dilepaskan.

"Tahan!" teriak pilot, melakukan manuver tajam untuk menghindari serangan.

Arya menatap ke luar jendela. "Persiapkan senjata. Ini akan jadi perjalanan panjang."

Helikopter berguncang keras saat sebuah ledakan meletus di dekat mereka. Alarm berbunyi di seluruh kabin, membuat semua orang waspada.

"Mereka semakin dekat!" seru salah satu operator Delta-1 sambil mengamati radar.

Arya bergerak cepat ke senapan mesin yang dipasang di sisi helikopter, mengokangnya dengan cekatan. "Aku akan mengulur waktu. Pastikan kita tidak kehilangan arah."

Peluru mulai ditembakkan ke arah jet tempur yang berusaha mengunci target. Helikopter kembali bermanuver, berusaha menghindari rentetan serangan yang semakin gencar.

Arya menekan pelatuk senapan mesin, menyalakan rentetan peluru ke arah salah satu jet tempur yang mendekat. Cahaya dari ledakan di kejauhan menerangi kabin sesaat sebelum helikopter berputar tajam untuk menghindari rudal yang melesat ke arah mereka.

"Delta-1! Kita tidak bisa bertahan seperti ini!" seru Arya sambil tetap menembak, berusaha memberi perlawanan sebaik mungkin.

"Roger, Letnan! Kita butuh manuver darurat!" jawab pilot dengan suara penuh ketegangan.

Salah satu jet tempur musuh tiba-tiba melepaskan rudal lain, meluncur lurus ke arah mereka. Pilot menarik kontrol dengan cepat, membuat helikopter berbelok tajam ke kiri hingga hampir terbalik. Semua orang di dalam kabin berpegangan erat, sementara alarm berbunyi semakin nyaring.

"Rudal akan menghantam dalam lima detik!" suara Delta-1 memperingatkan.

Arya melihat ke luar dan menyadari satu-satunya pilihan mereka adalah menggunakan sistem flare untuk mengalihkan rudal tersebut. "Lepaskan flares! Sekarang!"

Sebuah kilatan cahaya menyala saat pilot menekan tombol pelepas flare. Beberapa bola api kecil terbang ke udara, menciptakan panas buatan yang cukup untuk mengecoh sistem pencari rudal. Rudal itu berbelok tajam ke arah flare, sebelum akhirnya meledak di udara.

"Itu nyaris saja," gumam Alana, masih berusaha mengatur napasnya.

Namun, belum sempat mereka bernapas lega, jet tempur kedua kembali masuk dalam formasi serangan. Kali ini, mereka tidak hanya menghadapi rudal, jet itu mulai memberondongkan tembakan dari kanon otomatisnya. Peluru melesat melewati sisi helikopter, beberapa menghantam bagian ekor dan membuatnya terguncang hebat.

"Kita terkena! Mesin mulai kehilangan daya!" seru pilot.

Arya menggeram, mengetahui bahwa mereka tidak akan bisa bertahan di udara lebih lama lagi. Matanya bergerak cepat mencari solusi. "Dimana lokasi pendaratan terdekat?"

"Ada area berbatu di dua kilometer ke barat daya, tapi kita harus bertahan hingga ke sana!" jawab Delta-1.

Helikopter kembali berguncang keras saat tembakan lain menghantam bagian bawahnya. Lampu indikator menyala merah. Mereka tidak punya pilihan selain turun secepat mungkin.

"Pegangan erat! Kita akan melakukan pendaratan darurat!" seru pilot.

Semua orang bersiap menghadapi benturan, sementara helikopter mulai menukik turun ke arah daratan berbatu di bawah. Jet tempur masih berusaha mengejar, tetapi kali ini, satu suara baru terdengar di radio.

"Ini Falcon-3, kami masuk ke wilayah pertempuran. Tahan posisi kalian!"

Dari kejauhan, dua pesawat tempur sekutu muncul, langsung menyerang jet musuh yang memburu mereka. Salah satu jet musuh mencoba menghindar, tetapi terlambat, sebuah rudal udara-ke-udara menghantamnya, meledakkannya di udara.

"Mereka datang tepat waktu," gumam Arya, matanya tetap fokus pada tanah yang semakin mendekat.

Pilot menarik kontrol sebaik mungkin, memperlambat laju pendaratan. Benturan keras terasa saat helikopter akhirnya menghantam tanah berbatu, membuat semua orang terlempar ke depan. Debu dan pasir beterbangan di sekitar mereka.

Arya membuka sabuk pengamannya dengan cepat, menoleh ke arah Alana. "Kau baik-baik saja?"

Alana mengangguk meskipun wajahnya pucat. "Ya... aku masih utuh."

Namun, mereka belum bisa bersantai. Dari balik bebatuan, beberapa sosok bersenjata muncul, bersiap menyerang mereka.

"Siapkan senjata!" Arya berteriak, mengokang senapannya. "Pertempuran belum selesai!"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD
8.8
Seorang profesor ambisius melontarkan kutukan pahit kepada seorang bocah tanpa identitas. Ia meramalkan bahwa sang anak akan hidup dalam kesendirian total, tanpa ikatan, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya karena dikhianati dunia. Namun, bocah itu tidak gentar. Dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, ia menantang balik pernyataan sang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa akhir dari permainan takdir ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi siapa pun.
Sampul Novel Ketika Dokter Menentang Perwira
7.8
Nayra Adeline, dokter ortopedi yang gila kerja, tewas akibat kelelahan usai operasi 48 jam. Keajaiban membawanya terbangun di Bandung tahun 1975 sebagai Ratri Larasati, wanita pemalas bertubuh tambun yang dibenci lingkungan asrama militer. Nayra harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya, Kapten Ardan Wicaksana, sangat dingin dan enggan menyentuhnya karena reputasi buruk Ratri. Di tengah keterbatasan zaman, Nayra berjuang memperbaiki hidup barunya.
Sampul Novel Ketua Geng Itu Suamiku
8.0
Ayu, siswi beasiswa berprestasi di SMA Garuda, harus menjalani pernikahan dini dengan Arbinata alias Bin, pemimpin geng motor Garuda Steel yang bermasalah. Hidupnya berubah drastis setelah menyaksikan konfrontasi maut sang suami. Di tengah perjuangan lulus sekolah, Ayu terjebak dilema karena perhatian Iky, sahabat Bin. Mereka harus menghadapi musuh bersama serta kerumitan cinta segitiga demi meraih masa depan yang tenang di tengah kekacauan dunia geng motor.
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak
8.5
Tepat di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim undangan pernikahan dan rekaman suara yang menghinaku karena trauma masa lalu. Terungkap pula bahwa dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain. Dia bermimpi membangun dinasti baru yang megah, namun aku akan datang ke pesta pernikahannya bukan untuk memberi restu, melainkan menghancurkan segalanya hingga menjadi abu.