APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Crazy In Love

Crazy In Love

Pria ini nyaris sempurna dengan paras rupawan layaknya idola Korea, tatapan tajam, dan kecerdasan luar biasa meski ia pemalas. Tubuh atletisnya selalu sukses memikat hati para wanita. Namun, ia memiliki satu rahasia yang memalukan: namanya, Jamaluddin. Rasa kesalnya memuncak saat seorang gadis berani menertawakan nama itu dengan keras di depan umum. Kini, ia bertekad untuk membalas dendam dan menghancurkan gadis yang telah mempermalukan harga dirinya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Adzan subuh sudah berkumandang. Ayam jantan sudah ramai-ramai berkokok menyambut terbitnya sang surya. Namun, hal itu tak membuat cowok jangkung itu bangun dari lelapnya. Padahal, sang ibu sudah berkali-kali membangunkannya. Berkali-kali sang ibu mengomel dengan keras. Namun, cowok itu tak kunjung membuka matanya. Terlalu asyik meraih mimpi.

BYUURRR

      Dengan mengesampingkan rasa kemanusiaan sang ibu mengguyur anaknya dengan air seember. Jamal dengan gelagapan terbangun dari tidurnya. Kepalanya pening akibat dibangunkan dengan cara seperti ini.

Dengan samar, ia melihat ibunya yang sedang berkacak pinggang menahan emosi.

"Mama, kalau bangunin itu yang manusiawi dong! Masa wajah ganteng begini dibangunin kayak gini. Emangnya aku ayam apa? Yang dimandiin pake semprotan?"

        Mendengar protesan anaknya, sang ibu menoyor kepala anak itu dengan sayang.

"Persetan dengan manusiawi. Emangnya kamu manusia? Kayaknya bukan deh. Kamu lebih cocok jadi anak ayam, makanya ibu mandiin pake semprotan."

"Yaampun Ma, gitu amat sama anak sendiri. Kayaknya aku emang anak pungut deh, yang kekurangan kasih sayang."

"Udah, jangan kebanyakan ngomong kamu. Kebiasaan sholat dhuha kok pake spion. Nggak malu sama adik-adik kamu? Lihat, adik-adik kamu udah rapi, tinggal nunggu abangnya yang pemalas ini turun."

"Iya-iya. Anakmu yang pemalas ini akan segera bersiap."

       Dengan malas Jamal melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Telinganya sudah super engap mendengar omelan serta teriakan maut sang ibu. Lama-lama ia bisa mati muda kalau setiap hari mendengar omelan sang bunda ratu.

.....

          Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai muslim ia merapikan peralatan sholatnya. Walaupun ia terkenal nakal dan biang onar, ia tak pernah lupa untuk melakukan kewajibannya kepada Sang Pencipta.

          Kemudian ia melihat dirinya sendiri pada cermin besar kamarnya. Ia tersenyum lebar, lalu mendekatkan dirinya ke arah cermin.

"Anjir... Ganteng banget gue. Pantes gak ada yang berani nolak pesona gue. Gila. Seribu bidadari pun bisa takluk kalau melihat wajah seganteng gue."

         Ia bergaya bak model di depan cermin. Mengagumi wajahnya sendiri bak orang gila.

PLETAK

"Aduhh... Sakit!!"

      Jamal meringis kesakitan ketika sesuatu yang keras mengenai kepalanya. Ia menoleh ke belakang. Ahh.. Ternyata ayahnya.

"Papa, kenapa si suka banget mukulin kepala aku? Gak Mama gak Papa semuanya sama aja. Suka banget bikin anak menderita."

"Adek-adek kamu udah nunggu kamu daritadi di bawah. Kasian. Eh, yang ditunggu malah asik sendiri di depan cermin. Koyok bocah gemblung!"

"Ganteng gini dibilang gemblung."

" Emang bocah gemblung gak boleh ganteng apa? Buktinya orang di depan saya gendeng tuh."

           Jamal mendengus malas mendengar perkataan sang ayah. Ia tak mau membantah terlalu banyak. Nanti di cap anak yang super durhaka, kan payah. Lalu ia berkata,

"Yaudah yuk ke bawah, ayahnya bocah gemblung. Kasian katanya adek-adek udah nunggu."

           Sang Ayah hanya bergumam menanggapi ucapan sang anak. Anak sulungnya ini benar-benar membuatnya sakit kepala. Bukannya menjadi contoh yang baik, sang anak sulung malah sering menjerumuskan adiknya ke jalan yang sesat. Huft, lagi-lagi pria paruh baya ini menghela nafas lelah. Mengingat kelakuan anaknya yang satu itu benar-benar membuatnya meradang.

.....

          Kondisi meja makan keluarga Jamal benar-benar ribut. Lihatlah anak kembar seiras yang sedang mendebatkan hal-hal yang tidak penting. Entah itu dari ayam bertelur sampai gosip bakso Mang Dadang yang katanya menggunakan boraks.

Setelah mendengar bunyi hentakan kaki dari tangga, mereka bungkam. Mereka memelototi sang kakak tidak suka. Akibat menunggu sang kakak terlalu lama, membuat cacing-cacing di perut mereka sudah konser sambil meloncat-loncat senang.

             Jamal yang ditatap seperti itu, hanya menyengirkan mulutnya. Menampilkan gigi-gigi putihnya yang rapi. Tanpa merasa bersalah, ia langsung mengambil piring kemudian menambahkan nasi dan lauk ke atas piringnya.

"MasyaAllah, nikmat mana yang kau dustakan. Masakan mama emang yang terbaiklah." Ucap Jamal menikmati masakan sang ibu.

TAK!!

      Devan membanting sendoknya kesal. Kenapa kakaknya tak merasa bersalah sama sekali? Karena sang kakak, ia harus repot-repot berdebat dengan adik kembarnya. Benar-benar mengesalkan. Ia menggeram marah, urat ototnya tampak mulai menghiasi pelipisnya.

"ABANG KOK GAK MERASA BERSALAH SAMA SEKALI? CAPEK-CAPEK AKU SAMA DEVIN NUNGGUIN ABANG! EH YANG DITUNGGUIN GAK TAHU MALU MALAH MAKAN DULUAN KAYAK MONYET!!"

         Jamal mengangkat sebelah alisnya. Suara adiknya ini benar-benar memekakkan telinga. Bahkan suara sang ibu kalah telak dengan teriakan nyaring Devan.

"Aduh, adekku sayang. Jangan marah dong. Kan abang nggak menyuruh kalian buat nunggu abang. Salahin tuh, Mama sama Papa. Kan mereka yang nyuruh kalian buat nunggu abang." Ucap Jamal santai.

         Devin yang mendengar perdebatan kedua kakaknya hanya merengut kesal. Kesal sekali dengan kakak sulungnya yang berbuat seenak hati tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dasar egois.

"Abang sama kakak udah deh berantemnya. Pusing nih kepala Devin. Dan buat Abang, jangan terlalu sering deh bikin kita nunggu lama. Devin capek kalau harus nunggu abang tiap hari."

          Jamal mendengar celotehan adik bungsunya tersenyum gemas. Devin berbeda dengan Devan yang mulutnya seperti mercon 5 kg yang diletuskan tiap lebaran. Ia mengusak rambut Devin gemas.

"Iya adek abang yang manis. Abang janji gak bakal ngulangin lagi."

          Devan hanya merotasikan bola matanya malas. Melihat adegan romansa di depannya benar-benar membuatnya mual. 

            Kedua orang tua mereka yang sedari tadi diam mulai merasa jengah. Selalu seperti ini. Setiap pagi tidak ada yang namanya hari tenang. Yah, setidaknya dengan keadaan seperti ini. Suasananya tidak terlalu monoton.

"Udah debatnya. Sekarang kita makan. Kasihan Mama kalian. Susah-susah Mama masak, malah makanannya jadi penonton keributan kalian." Ucap sang kepala keluarga, Darto.

          Mendengar sang raja telah bertitah, mau tak mau ketiganya bungkam. Mereka tak mau melihat sang raja murka karena keributan yang mereka perbuat.

....

"Jack berangkat dulu ya Pa,Ma." Ucap Jamal sembari menyium tangan kedua orang tuanya.

"Hati-hati. Jangan ngebut. Kalau ada polisi tidur pelan-pelan aja, nggak usah ngegas!" Nasihat sang Ibu.

"Mama, kalau motornya nggak di gas ya gak bisa jalan,dong." Sahut Jamal

"Udah-udah, sana berangkat. Kalau debat terus nanti terlambat lagi." Itu suara sang Ayah.

"Iya-iya."

         Jamal langsung menunggangi motor merah bahenolnya. Motor yang jadi kesayangannya ini merupakan hadiah dari sang ayah ketika umurnya menginjak usia tujuh belas tahun. Motor sport merahnya benar-benar menemani sang pemilik kemanapun ia pergi.

BRMMM

         Jamal mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Walaupun ia terkenal sebagai biang onar, ia selalu mengutamakan keselamatannya sendiri juga orang lain. Kenakalannya hanya sebatas membolos kelas, menggoda cewek-cewek,menjaili teman, dan tak lupa merecoki guru. Ia bukan remaja yang suka kebut-kebutan apalagi balapan liar.

...

       Setelah memarkirkan motor semoknya, Jamal menyusuri aula dengan gaya tengilnya. Sesekali ia beesiul saat melihat gadis sexy yang ada di depan matanya. Ia juga menyempatkan menggoda beberapa gadis yang mencap diri mereka sendiri sebagai fans Jack (Jamal) nomor satu.

        Ini merupakan hal rutin yang dilakukan oleh Jamal. Tak menggoda satupun seorang gadis tiap pagi, bisa mati muda. Katanya.

         Jamal juga bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa banyak sekali gadis yang tertarik padanya? Yah, walaupun ia akui. Bahwa dirinya memanglah sangat tampan. Tapi selain mengandalkan wajahnya, ia tak memiliki kelebihan apapun. Pintar? Tidak juga. Sebagai pemalas ulung, ia tak pernah menduduki peringkat sepuluh besar di kelasnya. Namun, ia bersyukur setidaknya ia masih berada di tengah. Tidak pintar dan tidak bodoh. Alias sedang-sedang saja. Tapi, ia bisa dikatakan memiliki otak yang cukup encer, mengingat ia tak pernah menyentuh buku-bukunya sama sekali. Kaya? Yang kaya bukan dia. Tapi orang tuanya. Sejauh ini, ia hanya bisa meminta kepada orang tua kalau membutuhkan sesuatu. Orang tuanya juga cukup pelit, mereka tidak mau memberikan uang lebih layaknya orang kaya. Entahlah. Hanya pelajaran jasmani yang bisa dibilang paling menonjol dari segala hal.

        Ia memfokuskan pandangannya ke arah seorang gadis yang terlihat bingung memikirkan sesuatu. Sepertinya, ini pertama kali ia melihat gadis itu. Apakah dia murid baru? Entahlah. Lebih baik ia hampiri, siapa tahu dia bisa menjadi mainan barunya.

        Jamal sedikit mempercepat langkahnya menghampiri gadis itu,

"Woy!" Jamal berteriak cukup keras hingga gadis itu menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan sengit.

"Kenapa mata lo? Mau gue culek? Kayak mau gue perkosa aja." Ucap Jal tak suka.

       Gadis itu hanya memalingkan wajahnya jengah. Hari pertama ia masuk ke sekolah baru harus mendapat kesialan. Sial.

        Mendapat respon yang seperti itu, membuat Jamal geram setengah mati. Baru pertama kali pesonanya tertolak oleh seorang gadis. Sepertinya cukup sulit untuk menaklukkan gadis ini.

"Lo punya mulut gak si? Kalau punya mulut itu dipake. Gak usah sok jual mahal deh lo!" Jamal kembali berucap.

         Gadis itu hanya merotasikan bola matanya malas. Merasa jengah dengan cowok pengganggu di hadapannya ini. Kemudian ia memfokuskan pada dada cowok itu. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

Jamal yang melihat itu mengernyit heran. Memangnya apa yang lucu? Sampai-sampai gadis di depannya ini tertawa keras-keras seperti kuntilanak. Karena tak tahan, ia mencekal gadis itu, kemudian bertanya

"Kenapa lo?"

         Yang ditanya masih tertawa terbahak-bahak sampai matanya bercucuran dengan air mata.

"Hahahahahaa... Jam... Hahaha... Jamal....udiinnn... Hahahaha"

         Gadis itu semakin mengeraskan suaranya. Sampai semua mata tertuju pada mereka berdua. Wajah Jamal memerah menahan amarah. Baru pertama kali ada seseorang yang berani mempermalukannya seperti ini. Ia akui, memang namanya benar-benar kuno dan ketinggalan jaman. Tapi, tak satupun yang berani mengejek namanya. Ingat, ia adalah anak dari donatur terbesar di sekolah ini.

         "Udah ya Jamaluddin. Gue mau ke ruangan kepala sekolah dulu. Btw, nama gue Anggun, bukan Surtini."

          Setelah mengatakan kalimat itu, gadis itu melenggang pergi begitu saja. Hal itu membuat wajah Jamal semakin merah menahan amarah.

        "Nama lo Anggun, tapi kelakuan kayak dugong!! Tunggu pembalasan gue!! Macam-macam sama Jack!!"

          Fyi, Jamaluddin sering menyebut dirinya sendiri dengan nama Jack. Ia benar-benar benci ketika orang lain memanggilnya dengan nama asli. Memalukan.

....

        Jamal memasuki kelas dengan wajah tertekuk. Dika, sahabat Jamal, mengernyit heran. Tak biasanya sang sahabat memasuki kelas dengan wajah tertekuk seperti itu. Kemudian ia berceletuk,

"Jam eh Jack, kenapa lo? Muka jelek jangan ditekuk gitu. Tambah jelek kaya beruk!"

        Jamal yang mendengarnya mendengus sebal. Ia semakin bad mood mendengar celetukan Dika.

"Tadi gue ketemu cewek super duper double triple nyebelin. Baru kali ini ada cewek yang berani nolak pesona gue."

         Kevin terlihat antusias dengan topik obrolan Jamal dan Dika.

"Wah wah... Bener-bener itu cewek. Berarti dia cewek istimewa bro, kan kebanyakan cewek pasti takluk tuh sama lo. Siapa tau, itu cewek bakal jadi orang istimewa buat lo nanti." Ucap Kevin sembari menaik turunkan alisnya.

"Istimewa apaan. Cewek kayak dugong begitu mana ada keistimewaannya. Tingkahnya aja nggak menunjukkan kalau dia punya gunung kembar. Tepos si. Gue yakin si dia sebenarnya punya batang yang nyamar jadi cewek."

PLETAK!

     Dika memukul kepala Jamal dengan keras. Otak temannya ini, sepertinya sudah tergeser dari tempatnya.

"Lo kebanyakan nonton film. Mana ada di dunia nyata orang nyamar begitu. Yang ada, noh banyak tetangga sebelah. Kelihatan jelas kalau mereka punya batang, tapi melambai melebihi cewek. Ewhh..."  Dika jijik sendiri membayangkannya.

           Jamal hanya menggedikkan bahunya acuh. Ucapan kedua sahabatnya ini benar-benar tak berguna. Lebih baik ia gunakan untuk meraih mimpi secara instan. Tidur. Baru saja ia menempatkan kepalanya di atas meja, tiba-tiba Kevin menggebrakkan meja dengan keras.

BRAK!!

          Jamal berjengit kaget. Telinganya sakit mendengar bunyi gebrakan yang langsung masuk ke telinganya. Jamal menatap wajah Kevin seakan akan menerkam anak itu juga. Kevin yang ditatap hanya cengengesan tak merasa bersalah.

"Hehe, santai dong Jack. Gini-gini, sebenarnya gue baru kepikiran. Gimana kalau kita taruhan?" Ucap Kevin.

"Taruhan apaan? Nggak-nggak. Gue gak ada duit buat taruhan. Daripada buat taruhan. Mending buat jajan bakso tiap hari." Sahut Dika cepat.

"Siapa juga yang ngajak taruhan duit. Gini ya, kata si Jam eh Jack dia kayaknya nggak suka sama cewek yang ditemuinya tadi pagi, siapa namanya?" Tanya Kevin.

"Anggun." Jawab Jamal malas.

"Nah Anggun. Gue yakin kalau gak bakal lama kalau si Jack bakal suka sama cewek yang namanya Anggun itu."

"Ogah." Potong Jamal cepat.

"Jack, bisa diem gak si? Gue belum selesai ngomong. Gue bertaruh kalau suatu saat si Jack jadian sama si Anggun itu."

"Terus?" Tanya Dika

"Kalau misal mereka jadian maka si merah bahenol bakal jadi jaminannya. Kalau enggak gue sama Dika bakal jadi babu lo selama dua bulan, gimana?"

"Heh, kok lo nyebut-nyebut nama gue? Enak aja, ngomong seenak jidat!" Sahut Dika tak terima. Yang benar saja ngebabu selama dua bulan? No.

"Lo tenang aja, gue yakin kita bakal menang taruhannya." Ucap Kevin yakin.

         Sementara Jamal memikirkan tawaran dari Kevin. Sepertinya cukup menarik. Menjadikan sahabatnya sendiri sebagai kacung sepertinya menyenangkan. Lagipula ia tak mungkin jatuh cinta apalagi jadian dengan gadis jadi-jadian itu. Lalu ia berkata,

"Deal?"

"Deal."

           Kevin tersenyum puas melihat Jamal menyetujui tawarannya. Motor merah bahenol itu sudah di depan mata.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kehilangan Bayiku
8.5
Maya selalu setia mendampingi Reza meski terus diabaikan dan tak diakui. Namun, kesabarannya hancur saat ia terpaksa melahirkan sendirian hingga kehilangan bayinya. Tragedi maut itu memadamkan cinta Maya dan membuatnya ingin pergi. Di sisi lain, Reza baru menyadari besarnya rasa sayangnya setelah segalanya terlambat. Saat Reza berusaha mengejar kembali hati sang istri, ia menghadapi kenyataan bahwa Maya telah berubah menjadi sosok dingin yang tak lagi membutuhkannya.
Sampul Novel Ann The Innocent
7.8
Ann Arthurian adalah gadis jenius yang malang. Ia sering dicap sebagai anak pembunuh karena ayahnya menghabisi nyawa ibu angkatnya. Setelah kehilangan nenek, Ann menderita akibat perundungan di asrama. Namun, takdir berubah saat ia bertemu putra mafia yang menemukan buku miliknya. Kehidupan Ann berbalik total ketika ia bergabung dengan tim ilmuwan untuk memecahkan kode rahasia negara. Di tengah misi besar itu, kebenaran tentang asal-usul keluarganya yang kelam mulai terungkap.
Sampul Novel Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
8.9
Tiga tahun aku membuang karier hukumku demi menjadi istri idaman Baskara Wijoyo. Namun, kesetiaanku dibalas luka saat dia lebih memilih melindungi mantan kekasihnya, Aurelia, dari tumpahan kopi panas hingga membiarkan lenganku melepuh parah. Saat itulah aku memutuskan untuk pergi. Kini, aku kembali ke ruang sidang sebagai Nemesis, pengacara legendaris yang tak terkalahkan. Aku siap menghancurkan reputasi Baskara dalam kasus terbesar yang pernah ia hadapi.
Sampul Novel Kehidupanku yang Cemerlang Setelah Perceraian
8.7
Tiga tahun menikah tanpa cinta, Becky diceraikan Rory Arsenio setelah difitnah menyebabkan keguguran Berline. Alih-alih tunduk memohon maaf, Becky memilih berpisah. Keluarga Arsenio terkejut saat tahu Becky adalah pewaris kaya raya, bukan wanita materialis. Rory yang kini terpesona mulai mengejarnya kembali, namun Becky telah berubah menjadi sosok mandiri yang sulit digapai. Di tengah upaya Rory menebus kesalahan, akankah Becky luluh atau memilih pria lain?
Sampul Novel Kutukan Selingkuhan
9.5
Rhino mengakhiri perselingkuhannya dengan Risa demi kembali ke pelukan sang istri. Namun, Risa yang murka melontarkan kutukan agar Rhino tewas dalam penderitaan. Tak lama, Rhino terserang berbagai penyakit misterius, mulai dari gangguan lambung hingga impotensi yang mengerikan. Di tengah keputusasaan, Rena sang istri mencoba menyelidiki latar belakang Risa. Ia justru menemukan fakta mengejutkan tentang sosok Risa yang sebenarnya jauh di luar nalar.
Sampul Novel Menyelamatkannya, Menghancurkan Pernikahan Kita
8.2
Tiga tahun pernikahan hancur saat Jared Stanley mengaku di TV bahwa aset berharganya bukanlah sang istri, melainkan Bailee Brooks. Kecewa, sang istri menggugat cerai. Di konferensi G20, sebagai penerjemah papan atas, ia menghadapi Jared langsung. Saat ditanya soal prinsip kerja, ia dengan tenang mengungkap profesionalismenya: tetap akurat menerjemahkan perintah penyelamatan bagi Jared, meski tahu suaminya itu baru saja mempertaruhkan nyawa demi selingkuhannya.