APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder

Dalam Pelukan Sang Miliarder

Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah membuat keputusan itu, Raissa merasa seperti baru saja menginjak garis batas yang tak bisa kembali. Dia berjalan keluar dari kantor Arkhan, dengan napas yang tak teratur dan jantung yang hampir keluar dari dada. Matahari sore yang redup memantulkan bayangan panjangnya di jalanan kota. Tidak ada kelegaan, hanya kekosongan yang menjalari setiap inci tubuhnya.

Malam itu, Raissa kembali ke apartemennya, merasakan seolah-olah seluruh dunia berputar terlalu cepat. Tangannya menggenggam ponsel yang kini terasa sangat berat. Di layar ponselnya, wajah Bu Nila yang penuh kekhawatiran muncul. Raissa tahu, dia tidak bisa menghindar lebih lama lagi. Dia harus memberitahu Bu Nila bahwa panti itu aman, tapi harga yang dia bayar jauh lebih mahal dari sekadar kata-kata.

Pukul sepuluh malam, Raissa duduk di dapur sambil menatap piring kosong di depannya. Dulu, saat makan malam dengan ibunya, meja itu selalu penuh dengan makanan sederhana dan tawa. Kini, hanya ada kesunyian yang menekan dada, membungkam setiap keluhan, setiap pertanyaan yang ingin dia suarakan.

Ponselnya berbunyi, mengejutkan dirinya. Itu panggilan dari Arkhan. Rasa cemas mengalir seperti listrik melalui tubuhnya. Raissa meraih ponsel, menatap nama yang tertera. Dia menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab.

"Raissa." Suara Arkhan terdengar tanpa ekspresi, bahkan sedikit dingin. "Aku ingin bertemu denganmu malam ini. Di apartemenku."

"Kenapa? Apakah ada yang salah?" Raissa berusaha menahan nada paniknya.

"Tidak, hanya ingin berbicara. Kau tidak perlu khawatir. Datanglah, dan jangan terlambat."

Sebelum Raissa bisa menjawab, Arkhan sudah menutup telepon. Seluruh tubuhnya gemetar. Dia tahu, malam ini akan menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa dia prediksi. Malam itu, dia mengubah pakaian sederhana yang dia kenakan dengan gaun hitam sederhana, rambutnya yang kusut diikat rapi, dan dia berdiri di depan cermin, mencoba melihat dirinya yang baru, seseorang yang akan mengubah jalannya hidup orang lain dengan satu keputusan yang dia buat dalam ketakutan.

Raissa mengendarai mobilnya dengan tangan yang gemetar, setiap detik terasa lebih lama dari yang seharusnya. Jantungnya berdetak kencang, seperti suara yang menggetarkan dinding mobil. Setibanya di gedung Arkhan, dia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar. Gedung itu berdiri kokoh seperti peringatan bahwa dia hanya seorang manusia kecil di dunia pria itu, dan tidak ada ruang untuk melawan.

Lobi gedung itu luas, dengan lantai marmer mengkilap dan lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Suasana di sana tidak pernah berubah-selalu sama, tetapi malam ini, ada sesuatu yang terasa berbeda. Seorang petugas keamanan mengarahkan Raissa ke lift, tanpa berkata sepatah kata pun. Dia masuk, menekan tombol ke lantai 58, dan menunggu dengan hati yang semakin berdetak cepat.

Pintu lift terbuka, dan Raissa keluar, menatap pintu apartemen yang terletak di ujung lorong. Suara langkah kakinya menggema, seolah mengingatkannya bahwa dia sedang berjalan menuju takdir yang tak bisa diubah. Arkhan berdiri di pintu apartemen, mengenakan kaos hitam yang ketat dan celana jeans, jauh dari kesan formal yang biasa dia tunjukkan.

"Masuklah," katanya, suara lembut tetapi mengandung perintah yang tak bisa dibantah.

Raissa melangkah masuk, merasakan hawa dingin yang menyelimuti ruangan luas itu. Apartemen itu tidak seperti yang dia bayangkan-tidak ada hiasan yang berlebihan, hanya barang-barang mewah yang terorganisir dengan sempurna. Arkhan menatapnya, matanya yang tajam memindai wajah Raissa seolah mencoba membaca setiap emosi yang tertulis di sana.

"Kau sudah membuat keputusan yang bijak," katanya, memecah keheningan.

Raissa menundukkan kepalanya, mencoba melawan dorongan untuk melarikan diri. "Apa yang Anda inginkan dari saya, Tuan?"

Arkhan tersenyum tipis, senyum yang membuat Raissa merinding. "Aku ingin memastikan bahwa kau mengerti apa artinya menjadi milikku. Ini bukan permainan, Raissa. Kau harus tahu bahwa semua yang kau lakukan sekarang, termasuk keputusannya, adalah bagian dari kesepakatan."

"Kesepakatan?" Raissa mengulang, mencoba memahami makna kata itu.

Arkhan mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah dari Raissa. "Kau akan tinggal di sini, bersamaku. Setiap gerakan, setiap perasaan, setiap napasmu akan menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak peduli apa yang kau rasakan, Raissa, karena di dunia ini, hanya ada aku dan dunia yang aku kendalikan."

Raissa mengangkat kepala, menatap Arkhan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tuan, saya tidak tahu apakah saya bisa melakukan ini. Saya-"

Arkhan meletakkan jari telunjuknya di bibir Raissa, menghentikan kata-kata yang hampir keluar. "Kau sudah memilih, Raissa. Tidak ada jalan kembali."

Tetesan air mata jatuh di pipi Raissa, membasahi kulit yang kini terasa terbakar. "Saya hanya ingin memastikan, Tuan, bahwa panti itu benar-benar aman."

Arkhan mengangkat dagu Raissa dengan satu tangan, memaksa mereka berhadapan. Mata pria itu bersinar, tidak ada rasa empati, hanya kilau keras yang membuat Raissa merinding. "Kau tahu aku selalu menepati janjiku. Panti itu aman, selama kau berada di sini. Tapi jangan pernah mencoba melawan keputusan ini."

Raissa mengangguk, tubuhnya lemas dan hatinya nyaris berhenti berdetak. Perasaan cemas dan takut bercampur aduk, menumbuhkan benih kebencian terhadap pria di hadapannya, namun sekaligus mengerutkan rasa ingin tahu tentang pria itu yang belum pernah ia kenal.

Arkhan mendekat, suara lembutnya seperti bisikan yang menghanyutkan. "Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu... asalkan kau mengerti tempatmu di dunia ini."

Raissa menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis. Dia tahu, pada akhirnya, semua ini hanya awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan pengorbanan dan pengkhianatan. Tapi di saat itu, di malam yang penuh keheningan dan ancaman, Raissa membuat satu keputusan lagi-bahwa dia akan bertahan, apa pun yang terjadi. Karena dalam pertempuran ini, hanya ada satu hal yang pasti: dia tidak akan membiarkan Arkhan memenangkan segalanya, meskipun dia harus mengorbankan segalanya, termasuk dirinya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani mengalami nasib tragis setelah terjebak di kamar Rafael Damar, bos mafia penguasa bisnis. Insiden tersebut membuatnya hamil lima anak kembar jenius. Diusir dari rumah, ia kabur ke luar negeri demi membesarkan mereka. Bertahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai wanita berkuasa. Takdir membawanya bertemu Rafael lagi, namun kali ini kelima anaknya telah menyiapkan rencana balas dendam besar terhadap ayah kandung mereka.
Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Gairah Liar Tuan Xavier
8.5
Bella terjebak dalam situasi yang sangat mencekam saat ia berusaha keras menolak klaim sepihak dari Tuan Xavier. Meski Bella berteriak menentang takdir yang dipaksakan kepadanya, pria berkuasa itu dengan tegas menyatakan bahwa Bella kini menjadi miliknya sepenuhnya. Xavier tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Bella untuk melarikan diri atau memberikan bantahan. Kini, Bella harus menghadapi obsesi liar sang tuan yang tidak mengenal kata penolakan.
Sampul Novel Hot Billionaire
8.6
Kehidupan Ariel dipenuhi cemoohan karena statusnya sebagai anak dari hubungan gelap. Meski menyandang nama besar sang ayah, ia tetap dianggap sebagai noda hitam yang tak termaafkan. Di tengah penderitaan itu, takdir mempertemukannya dengan Shawn Geovan, seorang miliarder sempurna yang memiliki dunia berbeda. Akankah Shawn mampu menjadi pelindung bagi Ariel dan menjaganya dari hinaan dunia? Ikuti perjuangan cinta mereka yang penuh tantangan dan perbedaan kasta.
Sampul Novel Mantan Jadi Bos
9.4
Alula kehilangan pekerjaan tanpa pesangon karena menolak jadi istri keempat bosnya. Padahal, ia tulang punggung keluarga demi ibu dan adiknya. Lewat bantuan teman, Alula kembali bekerja, namun CEO barunya adalah mantan kekasih yang dulu ia tinggalkan tanpa alasan. Sang mantan pun memanfaatkan posisi ini untuk membalas dendam. Meski terus disakiti, Alula justru merasakan kembali benih cinta. Sanggupkah ia bertahan menghadapi dendam sang bos?