APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Damn! Dia Bosku

Damn! Dia Bosku

Alexandre Geraldo kembali dari Amerika demi mengejar cinta lamanya, Dara. Namun, Dara yang sekarang telah berubah dan bersikap dingin meskipun mereka dahulu sangat dekat. Di tengah penolakan itu, Alex menghadapi tekanan orang tua untuk menikahi wanita pilihan mereka. Terdesak oleh situasi, Alex mengambil keputusan nekat yang tak terduga. Mampukah Alex mengungkap rahasia besar yang disembunyikan Dara dan memenangkan kembali hatinya di tengah konflik ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kekesalan gadis itu semakin bertambah. "Kalau gitu, saya boleh duduk?" Dara bertanya. Alex mengangguk kemudian menepuk kursi di sampingnya.

Dara mematung. Perempuan itu tidak yakin untuk duduk di samping bosnya. Dia merasa tidak pantas jika harus berdekatan dengan sang direktur.

Alex melihat Dara yang diam saja, menarik tangan gadis itu untuk duduk di sisinya. Sesaat Dara terkejut dengan tindakan bosnya. Namun, semua terjadi begitu cepat sehingga dia menurut.

"Kaca mata kamu ke mana?" Pertanyaan Alex memecah kesunyian antara keduanya.

"Su-sudah dimuseumkan, Pak."

Alex terkekeh. Dia melihat wanita di sampingnya itu dengan teliti, sedangkan Dara terdiam tidak dapat melakukan apa pun. Dia menunduk pasrah dengan apa yang terjadi setelah ini.

Setelah puas melihat Dara. Alex bangkit dari duduknya. "Buatkan saya kopi sekarang! Saya juga minta jadwal ketemu klien seminggu ke depan!" perintah Alex membuat Dara bangkit dan segera berlalu dari ruangan menegangkan itu.

Setelah keluar ruangan, Dara mengatur napasnya yang tidak menentu. Baru beberapa menit bersama sang direktur, jantungnya sangat sulit dikondisikan. Apalagi di hari-hari selanjutnya, dia akan bekerja sama dalam kurun waktu yang tidak dapat ditentukan.

Dara tidak dapat membayangkan yang terjadi setelah ini. Apakah dia akan bertahan atau akan menghindar seperti yang dilakukannya di masa lalu.

***

Setelah pulang dari bekerja, Dara selalu menunggu angkutan umum di depan kantor. Dengan menggunakan kendaraan tersebut, membuat Dara akan sampai dengan cepat ke indekosnya yang hanya membutuhkan waktu lima belas menit dari kantor.

Gerimis menemani Dara yang sedang duduk di halte sore itu. Sudah lima belas menit gadis itu menunggu angkutan tujuannya. Namun, kendaraan berpenumpang itu tidak kunjung tiba. Ini tidak seperti biasanya, Dara mulai terlihat panik karena senja sebentar lagi akan menyapa.

Seorang pemilik Range Rover melintas di depan halte tersebut. Dia melihat sosok yang sangat dikenal, kemudian lelaki itu berhenti sejenak untuk memandang gadis yang duduk di halte itu sendirian. "Penampilan aja yang berubah. Namun, kebiasaan masih sama seperti rakyat jelata," gumam Alex. Kemudian dia memutar kendaraannya menuju halte.

Bunyi klakson membuyarkan lamunan Dara. Perempuan itu memperhatikan mobil besar di depannya. Dara tidak mengetahui siapa yang berada di dalam mobil tersebut. Jadi, dia tetap duduk di tempatnya tanpa beranjak sedikit pun.

Kaca mobil terbuka dan menampakkan wajah sang atasan. Dara terkejut dengan kedatangan lelaki berambut cokelat itu. Ketika Alex menawarkan untuk menumpang, angkutan umum tujuan Dara melintas. Tanpa berpikir panjang, gadis itu menghentikan angkutan dan meminta maaf pada Alex jika dia tidak dapat ikut dengannya.

Alex mencebik, "Masih sok jual mahal!" Kemudian lelaki itu menutup kembali kaca mobilnya dan berlalu dari tempat itu.

Di dalam angkutan umum, Dara mengatur napasnya yang memburu.

Kalau tiap hari gini, jantung gue bisa nggak baik-baik aja, batin gadis itu sambil menepuk-nepuk kepalanya. Dara tidak memedulikan pandangan orang yang sedari awal selalu memperhatikan tingkah bodohnya.

Setibanya di indekos, Dara merebahkan dirinya di ranjang. Ingatannya menerawang tujuh tahun yang lalu. Saat dia masih duduk di bangku SMA.

Dara, seorang gadis cupu yang sangat mengidolakan kapten basket di sekolahnya. Diam-diam gadis cupu tersebut mencari tahu tentang semua hal yang kapten basket tersebut sukai dan dibenci.

Dara terkekeh. Dia menyadari jika dulu sangat mengagumi Alex hingga mengesampingkan logikanya. Gadis itu juga mengingat ketika dirinya mencuri gambar Alex saat bermain basket. Kemudian dirinya mencetak foto Alex dengan ukuran poster dan ditempelkan di kamar kosnya. Saat sekolah menengah dulu, betapa pesona Alex sangat menyihirnya kala itu.

Senyum Dara pudar tatkala mengingat kejadian yang membuat dirinya terpisah jauh dengan Alex. Gadis itu sadar diri jika pemuda itu sangat jauh untuk dijangkau.

Alex tidaklah pantas untuk dirinya. Lelaki itu hanya akan menjadi bagian terindah dalam hidup Dara dan akan menjadi masa lalu yang menghiasi goresan takdirnya.

***

Esok pagi, Dara berangkat ke kantor seperti biasa. Kemeja biru laut dipadu dengan blazer warna hitam dan rok selutut yang berwarna senada dengan blazer, membuat Dara semakin memesona.

Saat akan memakai softlens-nya, Dara teringat dengan perkataan Alex tentang kaca matanya. Gadis itu tersenyum, sudah lama dia menanggalkan benda itu untuk menunjang penampilannya, kemudian dia bersiap untuk berangkat menggunakan angkutan umum.

Sesampainya di lobi kantor, Dara melihat Alex yang datang dari basemen tempat parkir mobil direktur. Lelaki itu bersiap untuk menaiki lift menuju lantai teratas, yaitu lantai para direksi.

Dara tersadar jika harus sampai terlebih dahulu sebelum sang bos besar datang. Gadis itu melihat jam yang melingkar di tangannya. Belum jam tujuh udah datang! Rajin banget! batinnya.

Saat berada dekat dengan lift, Dara ragu untuk mendekatinya karena Alex berada di tempat itu. Gadis itu berjalan perlahan sambil menundukkan kepala. Tidak ada pilihan lain jika dia terlambat datang, maka pekerjaannya menjadi taruhan.

Ketika berada di samping Alex, lelaki itu hanya melihat Dara sekilas, kemudian dia berpaling pada pintu lift. Raut wajah lelaki itu terlihat biasa saja.

Alex berdiri tegap, tidak memedulikan Dara yang berdiri di dekatnya. Hal itu membuat Dara takut karena gadis itu tidak dapat menebak apa yang akan dilakukan sang direktur padanya.

Setelah pintu lift terbuka, Alex masuk begitu saja ke dalam, sedangkan Dara masih mematung. Dia ragu untuk masuk ke dalam lift tersebut. Alex menautkan alisnya. Lelaki itu heran dengan perempuan di depannya.

"Masuk cepat!" Suara tegas Alex membuat Dara tersadar. Perempuan itu segera menyusul ke dalam.

"Seharusnya bawahan itu datang duluan!" Alex bersuara setelah mereka terdiam lama.

Dara yang merasa bersalah segera meminta maaf. "Ta-tadi nunggu angkot lama, Pak. Maaf."

Alex melihat perempuan di sampingnya dan tersenyum sinis. "Penampilan aja yang berubah, kebiasaan masih sama!"

"Maksud, Bapak? Kebiasaan saya, kan, bukan urusan Bapak," jawab Dara datar tanpa melihat Alex.

"Rakyat jelata!"

Dara tidak terima dengan sebutan yang Alex lontarkan. Saat akan membela diri, pintu lift terbuka dan Alex keluar begitu saja. Membuat Dara mengurungkan niatnya mengucapkan sesuatu.

"Kamu buatkan saya kopi! Jangan lupa jadwal saya hari ini!" Alex membuat perintah sebelum masuk ke ruangannya.

Dara yang merasa heran dengan kebiasaan baru Alex membuatnya bertanya, "Sejak kapan Bapak suka kopi?"

Pertanyaan Dara membuat Alex berbalik dan melihat gadis itu.

"Kebiasaan saya bukan urusan kamu!"

Dara mematung. Perkataannya di lift tadi berbalik padanya. Suara bantingan pintu membuatnya tersadar.

Dara berjalan menuju pantry yang ada di ujung lorong untuk membuatkan kopi sang direktur. Setelah kopi siap, Dara mengambil jadwal sang direktur di mejanya.

Dia masuk ke ruangan yang menegangkan itu. Dilihatnya sang bos yang telah melepas jasnya. Kemeja berwarna hitam yang pas di badan Alex, membuat otot lelaki itu terlihat sangat jelas. Hal itu membuat Dara semakin terpesona.

Kenapa dia makin keren gini. Bisa gila gue kalau tiap hari liat ginian, batin Dara.

Gadis itu hanya berdiri di ambang pintu. Hal itu membuat Alex mengalihkan perhatiannya dari laptop yang berisi laporan perusahaan.

"Sampai kapan kamu berdiri di situ? Saya butuh kopinya sekarang!" Suara tegas Alex membuat Dara tersadar dan dia segera beranjak dari tempatnya berdiri.

Dara meletakkan segelas kopi dan sebuah map biru yang berisi jadwal bosnya di atas meja. Saat Alex menyeruput kopi buatan Dara, alisnya terlihat berkerut. "Ini kopi manis, Dara. Saya nggak suka kopi manis. Sekarang buatkan saya kopi hitam tanpa gula!"

"Kopi yang saya buat kemarin manis juga dan Bapak nggak protes!" Kali ini Dara terlihat kesal dengan bosnya itu.

"Kamu berani membantah saya!"

"Minum kopi itu kebiasaan baru Bapak. Saya juga baru tau seka ...." Dara menutup mulutnya. Dia tersadar jika ucapannya memancing sesuatu.

Alex tersenyum mendengar ucapan Dara. "Ternyata kamu nggak lupa dengan kebiasaan saya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Whore Mate
9.1
Layla, Alana, dan Zeline adalah mahasiswi Universitas Pembangunan yang berbagi rumah. Sejak awal, gerak-gerik Zeline yang sering keluar malam memicu kecurigaan Layla. Meski jarang kuliah, nilai Zeline secara misterius melampaui Alana. Rahasia mulai terkuak saat Zeline membiayai pengobatan ayah Layla. Ketegangan memuncak ketika Roger, kekasih Alana, ternyata mengenal Zeline sebagai penyedia jasa pemuas nafsu. Ternyata, selama ini mereka tinggal bersama seorang pelacur.
Sampul Novel Antara Aku dan Adik Tiriku
8.7
Setelah enam tahun berpisah, Raffael kembali menemui Syaqila. Namun, kepulangannya membawa luka lama karena dulu Syaqila sering memfitnahnya hingga Raffael terpaksa mengasingkan diri ke luar negeri. Kini, niat tulus Syaqila untuk memohon maaf justru disambut dingin oleh tatapan penuh kebencian dari adik tirinya tersebut. Akankah hubungan mereka membaik, ataukah kepulangan Raffael ini merupakan awal dari misi balas dendam atas penderitaan masa lalunya?
Sampul Novel Cahaya Pelangi dari Surga
8.0
Hidup Rubby dipenuhi derita akibat siksaan ibu tirinya. Di tengah luka itu, Rain hadir menawarkan cinta tulus sebagai sahabat setia. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, Rubby justru dipaksa menikah dengan Halilintar yang menyimpan niat jahat. Meski berbahaya, pesona Halilintar tetap menggetarkan hati Rubby. Kini ia terjebak dalam dilema besar. Antara janji setia Rain dan daya tarik Halilintar, siapakah yang akhirnya Rubby pilih untuk sisa hidupnya?
Sampul Novel Hanya Menjadi Wanita Pengganti
9.8
Demi menjaga martabat keluarga setelah Naila kabur di hari pernikahan, Diandra Sahanaya alias Naya nekat menggantikan posisi adiknya untuk dinikahi Zayn. Meski Zayn menegaskan hanya mencintai Naila, Naya tetap berjuang memikat hati pria yang selama ini dipujanya itu. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh di hati Zayn, alasan tersembunyi di balik kepergian Naila terungkap. Akankah Zayn berpaling kembali pada Naila atau memilih mempertahankan Naya?
Sampul Novel HASRAT TERLARANG GIGOLO
8.1
Demi menghidupi tiga adik dan ibu yang sakit jiwa, Bagaskara nekad menjadi pria sewaan di usia 20 tahun. Pemuda ini terjebak dalam tawaran fantastis Arta Syakila, wanita kaya berumur 27 tahun yang bersedia membayar 500 juta hanya untuk satu malam. Meski Arta memiliki segalanya, alasan di balik keputusannya menyewa gigolo tetap misterius. Akankah Bagas bisa kembali hidup tenang, atau justru terjerat selamanya dalam rahasia kelam kehidupan sang miliarder?
Sampul Novel Melody Cinta Tuan Muda
8.9
Niat tulus Melody menyelamatkan seorang kakek dari aksi bunuh diri justru menyeretnya ke lingkaran keluarga konglomerat pemilik perusahaan raksasa. Di sana, ia menyaksikan persaingan licik antaranggota keluarga yang haus kekuasaan. Sagara, sang cucu yang merupakan pewaris sah, justru menjadi sasaran manipulasi karena sifatnya yang terlalu lugu. Melody kini terperangkap dalam intrik perebutan harta dan siasat kejam demi takhta tertinggi perusahaan tersebut.