APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DANCING WITH DESTINY

DANCING WITH DESTINY

Jane Miles adalah dokter andal yang sangat mencintai kehidupan damainya. Namun, kecelakaan tragis di masa lalu membuatnya menderita Amnesia Retrograde, hingga seluruh ingatannya terkunci rapat. Keadaan berubah total saat Rafael Klein muncul dan memaksa masuk ke dunianya. Pria itu mengacaukan segalanya demi satu tujuan: menuntut Jane menerima takdir sebagai pewaris tunggal klan Klein yang berkuasa. Kisah romansa dewasa ini penuh dengan konflik dan rahasia masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 1

Prolog

"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pa?"

Seorang wanita menghela nafas panjang. Ia menatap suaminya yang tengah fokus memegang kemudi mobil. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, membayangkan kemungkinan terburuk yang akan segera mereka hadapi.

"Lebih baik kita pergi dari sini. Kita kembali ke Moskow. Bersembunyi disana sampai keadaan lebih baik," saran sang istri.

Sang suami menggeleng pelan. "Tidak, Ma. Kita tidak bisa selamanya bersembunyi. Mereka pasti akan segera menemukan kita."

"Jadi? Kamu mau kembali ke tempat itu? Kembali pada Klein?" Sang istri mendesah frustasi. "Mereka tidak akan mengijinkan kami menginjakkan kaki di rumah itu."

Ia berbalik untuk melihat seorang bocah laki-laki yang terlelap memeluk boneka Minion kesayangan, di bangku belakang.

"Apa yang akan terjadi pada putra kita?" lirihnya nelangsa.

Sang suami melepaskan salah satu tangannya dari balik kemudi lalu meraih tangan sang istri. "Kamu tenang saja, Sayang. Aku janji, kita akan selalu ber-"

"Papa, AWAS!"

[BREAK ...]

Sebuah truk pengangkut pasir datang dari arah samping dengan kecepatan tinggi. Menghantam mobil yang ditumpangi sepasang suami istri bersama putra mereka yang masih berumur sepuluh tahun. Mobil terhempas jauh, terguling beberapa kali hingga hancur tidak berbentuk sebelum akhirnya mendarat dengan posisi terbalik.

"Cepat, cek! Pastikan mereka semua mati."

Sebuah suara berjalan mendekati mobil, di susul suara dua pasang derap kaki yang berputar mengelilingi mobil. Memastikan tidak ada pergerakan mahkluk bernyawa dari dalam mobil.

"Bos, mereka semua mati." Lapor salah satu diantara mereka.

"Bagus. Ayo pergi."

Suara derap langkah kaki yang menjauh seolah memberi tanda bagi bocah laki-laki yang duduk di bangku belakang mobil, dia membuka mata dan perlahan mengerakkan jarinya. Berusaha untuk menggapai tubuh sang Ibu yang tidak lagi sadarkan diri.

"Ma, Pa," ucapnya terbata. "Ma," panggilnya lirih dengan suara terakhir yang mampu dia keluarkan. Sebelum akhirnya terlelap dalam buaian sang malaikat pencabut nyawa.

*****

Tujuh belas tahun kemudian ...

"Ketua, mobil di belakang sepertinya mengikuti kita." Lapor laki-laki memakai setelan jas lengkap pada laki-laki lainnya di bangku penumpang.

Empat orang yang berada di dalam mobil—bersamaan melirik dari balik kaca spion, dua mobil Van tengah merapatkan jarak mereka hingga bumper depan Van hampir mencium bumper belakang city car.

"Dimana anggota yang lain, Clay?" tanya Rafael datar. Pemimpin itu seolah hal seperti ini sudah sering dihadapinya.

"Terjebak macet dua blok dari sini," sahut Clay—si pengemudi, tegang. Sesekali dia melirik dari spion depan untuk mengukur jarak Van yang semakin lama semakin mendekat.

Berbeda dengan ekspresi Rafael yang tenang, wanita yang duduk disampingnya tampak waspada. Sang sekretaris segera meraih ponsel, mencari sebuah nama di laman kontak untuk dihubungi.

"Kami diserang!" Serunya panik begitu mendengar suara dari balik ponsel.

"Nona Fey, tolong jaga ketua. Kami akan mengurus masalah ini," kata Clay. Dia melirik Ben—rekan yang duduk disampingnya, memberi kode untuk bersiap akan kemungkinan terburuk.

"Hati-hati." pesan Rafael. Kedua pengawalnya mengangguk paham.

Clay menambah kecepatan mobil untuk menghindar dari kejaran musuh. Mobil meliuk-liuk diantara sela mobil lainnya. Ben melirik dari balik spion depan menembus kaca belakang, mereka berhasil mengelabui musuh hingga jarak mobil dengan salah satu Van terpaut jauh.

"Mereka tertinggal, Clay," seru Ben mengabarkan kondisi di lapangan.

Clay tersenyum puas tanpa menyadari dari arah lain datang Van dengan kecepatan tinggi, langsung menuju ke arah sedan yang dikendarainya. Di detik terakhir Clay berhasil memutar setir hingga mobil berbelok tajam tepat menuju deretan mobil yang mengantri menunggu lampu hijau di persimpangan traffic light.

[BRAK ... ]

Mobil menabrak salah satu pohon besar yang berada tidak jauh dari bantalan jalan. Ini merupakan satu-satunya cara penyelamatan terakhir yang bisa di lakukan Clay agar mobil yang dikendarainya tidak menghantam kerumunan mobil lainnya dan menghasilkan banyak korban jiwa.

Ben menggosok tekuk nya lalu berpaling ke deretan bangku belakang untuk mengecek kondisi penumpang di bangku belakang. "Bos, anda baik-baik saja?" Tanyanya panik begitu melihat darah di pelipis bos-nya.

"Aku baik. Bagaimana kondisi kalian? Fey?"

"Saya baik-baik saja ketua," sahut wanita disampingnya.

"Ketua dan Nona Fey tetap di dalam mobil. Kami akan segera mengatasi ini," ujar Clay begitu melihat rombongan berjaket kulit lengkap dengan helm full face keluar dari dalam mobil Van.

"Kalian yakin?"

"Ketua tenang saja, kami bisa mengatasinya," pukas Ben menyakinkan bos dan sekretaris nya.

Keduanya langsung keluar dari dalam mobil.

"Siapa yang mengirim kalian?!" Hardik Clay langsung.

Rombongan berjaket kulit tak bergeming. Mereka terus maju, merengsek posisi Clay dan Ben.

"Ben, kamu dua di kiri. Selebihnya serahkan pada ku," kata Clay.

"Kenapa nggak buat kamu semua aja?" Canda Ben untuk menutupi kegugupannya.

Clay menatap temannya takjub. "Bagaimana dia masih bisa bercanda dalam situasi seperti ini?!" Batinnya.

"Maaf." Ucap Ben begitu sadar akan kekonyolannya.

"Pastikan mereka tidak mendekati mobil. Keselamatan ketua nomor satu." Pesan Clay sebelum melayangkan tinju mautnya ke perut salah satu rombongan ber-helm yang mulai menyerang.

Baku hantam tidak terelakkan. Awalnya Ben dan Clay tampak bisa mengimbangi lawan namun energi mereka terkuras lebih cepat karena lawan yang dihadapi tak henti melayangkan pukulan dan tendangan. Kalah oleh jumlah, Ben dan Clay terdesak mundur namun keduanya tetap berjaga agar tidak ada yang bisa mendekati mobil.

Sayangnya dengan tubuh yang kelelahan dan terluka, Ben dan Clay tidak menyadari salah seorang anggota berjaket kulit mendekati mobil dan mengayunkan tongkat bisbol hingga menghantam kaca jendela dari arah penumpang.

[PRANG!]

Kaca mobil pecah, jeritan ketakutan dari dalam mobil memecah kesunyian malam. Dari arah yang berseberangan, pintu mobil terbuka disusul sosok tinggi keluar dari sana.

Tarikan urat di wajahnya menggambarkan besarnya amarah. Sosok dengan rambut hitam segelap charcoal dengan mata berlapis iris biru itu bergerak secepat angin menarik jaket kulit yang dikenakan lawannya. Membalik tubuh dalam cengkraman hingga melayang di udara sepersekian detik sebelum menghempasnya ke aspal keras. Bunyi suara retakan mengiringi lolongan kesakitan dari pemakai jaket kulit.

"Ketua, awas!" Seru Ben begitu melihat sosok lain datang dari arah yang berlawanan, bersiap menyerang bos-nya. Ben segera berlari menghalau pisau yang mengarah ke tubuh bos-nya.

"Akh." Rintih Ben saat dirasakannya benda dingin itu menembus perutnya.

"Ketua!"

Teriakan panik disusul derap langkah serentak dari bala bantuan tambahan yang baru saja tiba di lokasi segera menghampiri sosok Rafael yang tengah memangku Ben yang bersimbah darah.

"Habisi mereka semua." Perintah Rafael pada puluhan anak buahnya yang berlari—menghampiri dan mengepung lokasi untuk melindunginya.

*****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BURONAN
9.5
Sammy, mantan perwira militer yang difitnah dan disiksa di penjara, berhasil melarikan diri sebagai buronan Interpol demi mencari adik angkatnya. Untuk bertahan hidup dalam pelarian, ia beralih profesi menjadi pembunuh bayaran yang dingin. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada gadis jelita bernama Rheyna. Konflik batin memuncak ketika Sammy menyadari bahwa target pembunuhan berikutnya adalah orang terdekat dari wanita yang sangat ia cintai itu.
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Letnan Imam mengutamakan tugas negara, namun pengkhianatan Serda Resti menghancurkan janji suci mereka. Meski Resti telah menjadi milik orang lain, bayangannya tetap ada. Pasca kecelakaan, Imam menemukan cinta baru pada Dokter Utami. Namun, penugasan ke Lampung mempertemukannya dengan Lita, pelajar yang mirip Resti. Saat kesetiaannya diuji, Utami memilih berpisah sementara Lita sudah memiliki kekasih. Siapakah yang akhirnya akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
9.4
Pesta ulang tahun Thania berubah menjadi petaka saat ia diculik dan menyaksikan kedua orang tuanya dihabisi. Kini, ia terperangkap sebagai tawanan pemuas nafsu seorang bos mafia yang sangat sadis. Di tengah penderitaannya, Thania harus memutar otak untuk menaklukkan hati pria kejam tersebut. Akankah ia berhasil memikat sang mafia agar membantunya mengungkap konspirasi besar di balik kehancuran keluarganya, atau justru terjebak selamanya?
Sampul Novel King Of King
8.2
Di Negeri Awan, Elisabet yang merupakan selir keempat Kaisar Oro melahirkan putra bernama Starling di bawah naungan bintang raksasa. Namun, hasutan dukun keji membuat Kaisar percaya bahwa bayi itu hasil perselingkuhan Elisabet dengan Jenderal Robert. Demi keselamatan abadi istana, sang Kaisar dituntut untuk menjadikan darah dagingnya sendiri sebagai tumbal persembahan. Akankah ambisi kekuasaan mengalahkan naluri ayah saat nyawa Starling terancam di tangan Oro?
Sampul Novel MAFIA DI KEJAR GADIS OBSESI
9.2
Dunia berlutut di hadapan bos mafia kejam yang dikenal sangat agresif dan tak kenal ampun. Namun, otoritasnya mendadak goyah saat menghadapi seorang gadis pemberani berjiwa pejuang. Berbeda dari orang lain, pebisnis tangguh ini justru berani membangkang, berdebat, hingga menggoda sang mafia tanpa rasa takut. Meski sang bos mencoba segala cara untuk mengintimidasi, keberanian gadis itu justru membalikkan keadaan. Akankah kekejaman sang mafia luluh oleh obsesi unik ini?
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa menyelamatkanku dari maut, namun sepuluh tahun kemudian, dia mengkhianatiku demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya menghinaku meski tahu nyawaku terancam. Sadar hanya dianggap properti, cintaku musnah seketika. Di hari perayaannya, aku memutuskan kabur dari sangkar emas ini. Sebuah jet pribadi siap membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok pria yang ternyata adalah musuh bebuyutan sang bos mafia tersebut.