APKDock Logo
Sampul Novel Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya

Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya

8.8 / 10.0
Lima tahun menikah, identitas asliku terungkap sebagai pengganti Clara, kekasih Baskara. Setelah melahirkan pewaris Adhitama, aku justru disiksa dan dikurung. Puncaknya, Baskara membiarkan putra kami, Banyu, tewas demi menyelamatkan Clara yang bersandiwara. Kini, duka itu berubah jadi dendam dingin. Baskara tak sadar telah menandatangani surat kuasa fatal di balik dokumen arsitekturku. Keangkuhannya akan kuhancurkan lewat hak yang dia remehkan.

Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya Bab 1

Setelah lima tahun menikah dan melahirkan putranya, aku akhirnya akan diterima di keluarga Adhitama yang berkuasa. Aturannya sederhana: lahirkan seorang putra, dan kau akan masuk dalam dana perwalian keluarga. Aku telah melakukan tugasku.

Tetapi di kantor pengacara, aku menemukan seluruh hidupku adalah sebuah kebohongan. Suamiku, Baskara, sudah memiliki seorang istri yang terdaftar dalam perwalian: Clara Gunawan, kekasih masa SMA-nya yang seharusnya sudah meninggal satu dekade lalu.

Aku bukan istrinya. Aku hanyalah seorang pengganti, sebuah wadah untuk menghasilkan ahli waris. Tak lama kemudian, Clara yang "mati" itu tinggal di rumahku, tidur di ranjangku. Ketika dia dengan sengaja menghancurkan guci abu nenekku, Baskara tidak menyalahkannya. Dia malah mengurungku di gudang bawah tanah untuk "memberiku pelajaran".

Pengkhianatan terbesar datang ketika dia menggunakan putra kami yang sedang sakit, Banyu, sebagai pion. Untuk memaksaku mengungkapkan lokasi Clara setelah wanita itu merekayasa penculikannya sendiri, Baskara merenggut selang pernapasan dari nebulizer putra kami.

Dia membiarkan anak kami sekarat sementara dia berlari ke sisi wanita itu.

Setelah Banyu meninggal dalam pelukanku, cinta yang kumiliki untuk Baskara berubah menjadi kebencian murni yang sedingin es. Dia memukuliku di makam putra kami, berpikir dia bisa menghancur-leburkanku sepenuhnya.

Tapi dia lupa tentang surat kuasa yang kuselipkan di antara tumpukan akta arsitektur. Dia menandatanganinya tanpa berpikir dua kali, meremehkan pekerjaanku sebagai sesuatu yang tidak penting.

Keangkuhan itulah yang akan menjadi kehancurannya.

Bab 1

Keluarga Adhitama punya satu aturan, aturan yang setua dan sekokoh kerajaan properti mereka. Seorang istri baru akan disambut secara resmi, baru ditambahkan ke dalam dana perwalian keluarga yang menggiurkan, setelah dia melahirkan seorang putra.

Aku telah melakukan tugasku.

Kudekap putraku, Banyu, erat-erat saat mobil mewah kami berhenti di depan kantor hukum megah dan megah yang menangani semua urusan keluarga Adhitama. Lima tahun pernikahan, dan hari ini adalah hari di mana aku akhirnya akan diakui. Bukan hanya sebagai istri Baskara, tetapi sebagai anggota sejati keluarga itu.

Sang pengacara, seorang pria yang wajahnya adalah topeng permanen dari sikap sopan yang acuh tak acuh, menyambutku. "Nyonya Adhitama. Dan ini pasti pewaris muda itu."

Aku tersenyum, senyum tulus yang lelah. "Ini Banyu."

Dia membawaku ke sebuah ruangan berpanel kayu ek yang berat. "Jika Anda bersedia menunggu di sini, saya akan mengambil dokumen perwalian untuk Anda tanda tangani. Ini hanya formalitas."

Aku menunggu, jantungku berdebar sedikit lebih kencang. Inilah saatnya. Langkah terakhir.

Pengacara itu kembali, ekspresinya tak terbaca. Dia meletakkan sebuah dokumen tebal di atas meja tetapi tidak membukanya.

"Sepertinya ada sedikit masalah, Nyonya Adhitama."

"Masalah?" tanyaku, suaraku tetap tenang.

"Ya. Dokumen perwalian sudah mencantumkan nama pasangan untuk Tuan Baskara Adhitama."

Perutku terasa melilit dingin. "Saya tidak mengerti. Kami sudah menikah selama lima tahun."

"Pencatatan ini dibuat tujuh tahun yang lalu," kata pengacara itu, matanya menghindari tatapanku. "Pasangan yang terdaftar adalah Nona Clara Gunawan."

Nama itu menghantamku bagai palu godam. Clara Gunawan. Kekasih masa SMA Baskara. Gadis yang meninggal dalam kecelakaan kapal satu dekade lalu.

"Itu tidak mungkin," kataku, suaraku nyaris tak terdengar. "Dia sudah meninggal."

"Pendaftaran ini sah dan mengikat secara hukum," katanya datar, akhirnya menatapku. "Sejauh yang tercatat dalam Dana Perwalian Keluarga Adhitama, Clara Gunawan adalah istri Baskara Adhitama."

"Tapi aku istrinya," desakku, suaraku meninggi. "Kami mengadakan pernikahan. Kami punya surat nikah."

Pengacara itu tampak tidak nyaman. "Saya tahu tentang pernikahan Anda, tentu saja. Namun, tidak ada satu pun dari keluarga Adhitama yang menghadiri pernikahan Anda, seperti yang Anda tahu."

Dia benar. Baskara mengklaim keluarganya tertutup dan tidak menyetujui upacara yang mewah. Dia bilang mereka akan luluh begitu kami punya anak, seorang putra. Itu semua adalah bagian dari ceritanya, cerita yang kupercayai.

Pengacara itu menggeser sebuah map ke seberang meja. "Ini adalah salinan resmi dari pendaftaran perwalian."

Kubuka map itu, tanganku gemetar. Di sanalah, tertulis hitam di atas putih. Baskara Adhitama dan Clara Gunawan. Menikah. Tanda tangannya tidak salah lagi.

Gelombang pusing menerpaku, dan aku mencengkeram tepi meja yang berat untuk menenangkan diri. Bayiku, Banyu, bergerak dalam dekapanku, dan aku memeluknya lebih erat, kehangatannya menjadi jangkar kecil di dunia yang tiba-tiba miring dari porosnya.

Clara Gunawan. Nama itu bergema di benakku.

Aku teringat potret-potret dirinya di rumah kami. Baskara memesannya setelah kematiannya. Dia menyebutnya inspirasi terbesarnya, cintanya yang hilang. Aku, seorang arsitek berbakat, mengerti obsesi artistiknya, atau begitulah yang kupikirkan.

Dia pernah bilang aku mirip dengannya. "Matanya," katanya, suaranya lembut. "Kau punya semangatnya."

Awalnya, aku merasa itu meresahkan. Terus-menerus dibandingkan dengan wanita yang sudah mati. Tapi dia begitu menawan, begitu persuasif. Dia bersumpah dia mencintaiku apa adanya, bahwa kemiripan itu hanyalah kebetulan yang indah dan pahit.

Aku telah menerimanya. Aku bahkan membantunya merancang sebuah galeri pribadi di rumah kami yang didedikasikan untuk mengenangnya, sebuah monumen untuk kesedihannya. Kupikir itu adalah cara untuk membantunya sembuh, untuk melanjutkan hidup bersamaku.

Sekarang, kebenaran itu adalah tamparan yang dingin dan keras. Dia tidak sedang menyembuhkan diri. Dia sedang menunggu.

Dan aku bukanlah seorang istri. Aku adalah seorang pengganti. Pengganti untuk wanita yang tidak pernah dia lepaskan. Sebuah wadah yang dia gunakan untuk menenangkan keluarganya dan menghasilkan seorang ahli waris.

Pernikahan lima tahunku adalah sebuah kebohongan. Hidupku bersamanya adalah sebuah kebohongan.

Aku hanyalah sebuah pengganti.

Ponselku bergetar, menarikku dari pikiran yang berputar-putar. Itu Baskara.

"Hai, cantik," suaranya hangat dan akrab, suara yang sama yang dia gunakan selama lima tahun. "Gimana tadi sama pengacaranya? Semuanya sudah beres?"

Aku berjuang untuk menjaga suaraku tetap datar. "Aku masih di sini. Ada beberapa berkas yang harus diperiksa."

"Nggak usah khawatir. Tanda tangani saja apa yang mereka kasih," katanya meremehkan. "Aku harus lembur di kantor malam ini, ada proyek besar yang mau final. Nanti aku tebus akhir pekan ini, ya."

Dia beralih ke panggilan video, wajah tampannya memenuhi layar. Dia berada di kantornya, dengan pemandangan cakrawala Jakarta yang familier di belakangnya. Dia mencoba menunjukkan padaku bahwa dia sedang bekerja.

Tapi mataku, mata yang dia klaim sangat mirip dengan mata wanita itu, menangkap sesuatu yang lain. Di sudut mejanya, hampir di luar bingkai, ada sebuah vas kecil. Di dalamnya ada setangkai bunga kacapiring putih.

Bunga favorit Clara. Bunga yang selalu dia letakkan di potretnya pada hari peringatan "kematiannya".

Dan di pergelangan tangannya, sebuah rantai perak tipis yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tergantung di sana sebuah liontin kecil berukir rumit huruf 'C'. Inisial Clara.

Dia tidak di kantor. Dia bersama wanita itu.

Dia menyembunyikannya. Wanita itu tidak mati.

Darah serasa terkuras dari wajahku. Aku merasakan gelombang mual. Aku harus menggigit bagian dalam pipiku, keras, hanya untuk tetap tegak. Rasa sakit yang tajam adalah satu-satunya hal yang menahanku dari berteriak.

"Asti? Kamu baik-baik saja? Kamu kelihatan pucat," katanya, sekelibat ekspresi yang tampak seperti kekhawatiran di matanya.

"Cuma lelah," aku berhasil berkata. "Banyu membuatku terjaga semalaman."

"Kasihan gadisku," bujuknya. "Istirahatlah. Aku mencintaimu."

Kata-kata itu, yang dulu menjadi sumber kenyamanan, kini terasa seperti asam. Aku memaksakan senyum lemah. "Aku juga mencintaimu."

Aku mengakhiri panggilan itu dan menyandarkan kepalaku ke kursi, kulitnya yang dingin terasa di kulitku. Kebohongan itu adalah jaring yang menyesakkan, dan aku telah terperangkap di dalamnya selama lima tahun.

Tapi pikiran yang paling mengerikan datang terakhir. Aku mendengar suaranya di kepalaku, bukan dari telepon, tapi dari sebuah ingatan. Aku tidak sengaja mendengarnya berbicara di telepon di ruang kerjanya beberapa malam yang lalu, suaranya rendah dan penuh rahasia.

"Jangan khawatir, cintaku yang bangkit kembali," bisiknya. "Aku bilang pada semua orang kamu adalah android, salinan sempurna untuk meredakan kesedihanku. Mereka tidak akan pernah curiga. Aku melakukan semua ini untuk membawamu kembali padaku."

Saat itu, kupikir dia sedang berbicara dengan rekan bisnis tentang proyek teknologi baru yang aneh. Aku mengabaikannya sebagai salah satu keeksentrikannya.

Sekarang aku tahu. Dia tidak sedang berbicara tentang android. Dia sedang berbicara dengan Clara. Clara yang hidup dan bernapas.

Aku adalah penggantinya. Aku adalah wadahnya. Aku adalah si bodoh yang memberinya seorang putra agar dia akhirnya bisa mengamankan warisannya dan membawa istri aslinya keluar dari bayang-bayang.

Seluruh hidupku adalah sebuah lelucon. Lelucon yang kejam dan rumit.

Rasa sakit itu tidak membuatku ingin menangis. Itu membuatku dingin. Itu membuatku jernih.

Aku berdiri, gerakanku presisi. Kutinggalkan Banyu dengan asisten pengacara, yang memujinya, tidak menyadari badai yang berkecamuk di dalam diriku. Aku kembali ke ruangan berpanel kayu ek.

Aku tidak mengambil dokumen perwalian. Sebaliknya, aku mengambil formulir surat kuasa kosong dari tumpukan di meja samping. Lalu aku pergi ke mobilku dan mengambil satu set akta pemindahan arsitektur yang telah kusiapkan untuk properti yang seharusnya kami kembangkan bersama. Aku telah merancang seluruh proyek itu. Dia mempercayai pekerjaanku sepenuhnya.

Kujepit dokumen-dokumen itu menjadi satu, surat kuasa tersembunyi dengan cerdik di antara cetak biru dan akta-akta.

Dia akan menandatanganinya tanpa melihat. Dia selalu begitu. Dia sangat mempercayaiku. Atau lebih tepatnya, dia meremehkan pekerjaanku sebagai sesuatu yang tidak cukup penting untuk membutuhkan perhatian penuhnya.

Hari ini, keangkuhan itu akan menjadi kehancurannya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan