APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan

Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan

Marco menjanjikan piknik romantis di tebing, namun ia justru mendorong Clara ke jurang demi selingkuhannya, Chika. Meski tubuhnya hancur, Clara bertahan hidup dan mendengar rencana keji Marco untuk memalsukan kematiannya sebagai kecelakaan. Di tengah keputusasaan, api balas dendam mulai membara. Harapan muncul saat Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya, datang menyelamatkannya. Kini, Clara siap menghancurkan pria yang telah mengkhianatinya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Suamiku selama lima tahun, Marco, bilang dia akan membawaku piknik romantis di puncak tebing. Dia menuangkan segelas sampanye untukku, senyumnya sehangat mentari. Katanya, ini untuk merayakan hidup kami bersama.

Tapi saat aku sedang mengagumi pemandangan, tangannya menghantam punggungku. Dunia buyar, hanya ada langit dan bebatuan saat aku terhempas ke jurang di bawah.

Aku terbangun dengan tubuh remuk dan berdarah, tepat pada waktunya untuk mendengar suaranya dari atas. Dia tidak sendirian. Ada Chika, selingkuhannya.

"Apa dia... sudah mati?" tanya Chika.

"Jatuhnya sangat dalam," suara Marco terdengar datar, tanpa emosi. "Tidak ada yang bisa selamat dari situ. Saat mayatnya ditemukan, semua akan terlihat seperti kecelakaan tragis. Clara yang malang, jiwanya tidak stabil, berjalan terlalu dekat ke tepi tebing."

Kata-katanya yang diucapkan dengan santai terasa lebih kejam dari benturan apa pun. Dia sudah menulis obituariku, merangkai narasi kematianku sambil membiarkanku mati di tengah badai.

Gelombang keputusasaan menyapuku, tapi kemudian sesuatu yang lain menyala: amarah yang membara dan dahsyat.

Tepat saat pandanganku mulai memudar, sorot lampu mobil menembus hujan. Seorang pria keluar dari sebuah mobil mewah. Itu bukan Marco. Itu Julian Suryo, saingan paling dibenci suamiku, dan satu-satunya pria yang mungkin sama inginnya menghancurkan Marco seperti diriku.

Bab 1

Hal pertama yang kusadari adalah rasa sakit, penderitaan yang menyilaukan dan tajam menusuk kakiku hingga meledak di belakang mataku. Hal kedua adalah bau tanah basah dan daun pinus yang hancur, aroma yang begitu pekat hingga terasa seperti aku menghirup lumpur. Pipiku menempel pada sesuatu yang dingin dan licin karena hujan.

Aku mengerjap, mencoba membersihkan kabut dari pandanganku. Hujan membuat rambutku lengket di wajah, setiap tetesnya terasa seperti sengatan es kecil di kulitku. Di atasku, melalui jalinan dahan-dahan gelap, langit berwarna ungu lebam, bergolak dengan awan badai. Dunia adalah simfoni penderitaan: genderang hujan yang tanpa henti, gemuruh guntur di kejauhan, dan suara napasku sendiri yang tersengal-sengal putus asa.

Lalu, aku mendengar suara. Suaranya.

"Apa dia... sudah mati?" Suara yang lain adalah suara perempuan, dengan nada manis yang memuakkan hingga membuat perutku mual. Chika.

"Jatuhnya sangat dalam. Tidak ada yang bisa selamat dari situ." Suara Marco datar, tanpa kehangatan yang telah ia palsukan selama lima tahun. Itu adalah suara seorang pria yang sedang membahas transaksi bisnis, bukan istri yang baru saja coba ia bunuh.

Pikiranku berputar, berjuang untuk menghubungkan titik-titik. Piknik di puncak tebing. Termos berisi teh "spesial" yang membuat kepalaku pusing. Dorongan tiba-tiba dan brutal dari belakang. Sensasi jatuh yang memuakkan, dunia berputar menjauh dariku saat bebatuan melesat menyambutku. Ini bukan kecelakaan.

*Dia melakukan ini. Dia mendorongku.*

Aku mencoba berteriak, memanggil, tapi hanya desahan tertahan yang keluar dari bibirku. Tenggorokanku terasa perih, dan rasa seperti logam memenuhi mulutku. Darah.

"Kita harus pergi," rengek Chika. "Nanti ada yang lihat mobil kita."

"Tidak ada yang datang ke sini saat cuaca seperti ini," kata Marco, nadanya meremehkan. "Dia sudah pasti mati. Saat mayatnya ditemukan, semua akan terlihat seperti kecelakaan tragis. Kasihan, si Clara yang jiwanya nggak stabil itu, berjalan terlalu dekat ke tepi tebing."

Kekejaman dalam kata-katanya yang santai adalah pukulan fisik, lebih buruk dari benturan dengan tanah. Dia sudah menulis obituariku, merangkai narasi kematianku. Suami yang penuh kasih, berduka atas istrinya yang bermasalah. Rasa mual naik ke tenggorokanku.

Langkah kaki mereka berderak di atas kerikil, lalu memudar. Suara mesin mobil menyala, dan kemudian derak ban yang menjauh, ditelan oleh badai. Mereka pergi. Mereka telah meninggalkanku untuk mati.

Gelombang keputusasaan yang dingin dan hitam menyapuku, begitu dalam hingga hampir menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh jatuhnya aku. Aku terbaring di sana, membiarkan hujan membasahiku, sebuah boneka rusak yang dibuang di hutan. Tapi kemudian, percikan sesuatu yang lain menyala di kegelapan dingin jiwaku. Amarah. Amarah yang membara dan dahsyat yang membakar habis keputusasaan. Dia tidak akan menang. Aku tidak akan membiarkannya menghapusku.

Dengan menggunakan sikuku, aku mulai menyeret diriku ke depan, menjauh dari dasar tebing. Setiap gerakan mengirimkan gelombang penderitaan baru ke seluruh tubuhku, tetapi amarah adalah bahan bakar yang lebih kuat. Aku merangkak melalui semak belukar yang lebat, ranting-ranting tajam dan bebatuan merobek gaunku yang sudah hancur. Kainnya, sutra lembut yang ia belikan untuk ulang tahun pernikahan kami, kini hanyalah kain compang-camping yang basah kuyup oleh lumpur.

Tanganku menggenggam sesuatu yang kecil dan keras di tanah. Aku menariknya, jari-jariku mati rasa karena kedinginan. Itu adalah seekor burung kayu kecil, diukir dengan rumit, permukaannya halus dan anehnya masih bersih meskipun berlumpur. Benda itu terasa padat dan nyata di telapak tanganku, sebuah misteri kecil yang nyata di tengah mimpi buruk ini. Tanpa pikir panjang, aku memasukkannya ke dalam saku mantel tipisku.

Badai pecah dengan sungguh-sungguh. Langit terbuka, dan hujan turun dalam curahan yang membutakan. Suhu turun, dan getaran hebat mengguncang tubuhku. Hipotermia mulai menyerang. Aku kalah dalam pertempuran ini. Pandanganku mulai menyempit, tepiannya berubah menjadi abu-abu. Tepat saat aku akan menyerah pada kegelapan yang mendekat, sepasang lampu depan menembus pepohonan yang basah oleh hujan.

Cahayanya menyilaukan, tanpa ampun. Sebuah sedan mewah hitam yang ramping melambat hingga berhenti di jalan berkelok-kelok tepat di luar batas pepohonan. Jantungku berdebar kencang di dada. *Apa mereka kembali? Apa Marco kembali untuk memastikan aku mati?*

Pintu sisi pengemudi terbuka, dan sesosok tubuh tinggi muncul, siluetnya menantang sorot lampu yang kuat. Dia bergerak dengan keanggunan yang meresahkan, seekor predator puncak yang terganggu oleh rintangan di jalannya. Dia bukan Marco. Pria ini lebih tinggi, lebih tegap, kehadirannya memancarkan otoritas yang dingin dan berbahaya.

Saat dia melangkah lebih dekat, lampu depan menerangi wajahnya. Fitur wajah yang tajam dan aristokrat, rambut gelap yang licin karena hujan, dan mata berwarna awan badai. Aku kenal wajah itu. Aku pernah melihatnya di majalah, di saluran berita keuangan, dalam tatapan marah yang Marco arahkan ke televisi. Julian Suryo. CEO kejam dari Suryo Corporation, saingan terbesar dan paling dibenci suamiku.

Dia menatapku, ekspresinya topeng dingin yang merendahkan. Tidak ada belas kasihan di matanya, hanya kejengkelan.

Bibirnya melengkung membentuk seringai pengakuan. "Wah, wah. Clara Adijaya. Sepertinya permainan suamimu akhirnya menimpamu juga."

Dia melihat keadaanku yang hancur, darah, lumpur, ketakutan di mataku, dan ekspresinya tidak melunak. Dia tampak seolah-olah menikmati pemandangan itu. Dia berbalik, tangannya meraih pintu mobilnya, siap meninggalkanku pada takdirku.

Panik, mentah dan primal, melonjak dalam diriku. Dengan sisa kekuatan terakhir yang kumiliki, aku menerjang, jari-jariku mencengkeram kulit halus sepatunya yang mahal, meraih pergelangan kakinya. Sentuhanku adalah noda lumpur yang putus asa pada kesempurnaannya.

Dia membeku, menatap tanganku seolah-olah itu adalah ular.

"Tolong," desahku, kata itu keluar dari tenggorokanku. Mataku, yang melebar karena teror, terkunci pada matanya. "Dia mencoba membunuhku."

Ketakutan yang mentah dan tak terbantahkan dalam suaraku sepertinya menembus ketenangannya yang sedingin es. Tangannya membeku di pintu mobil. Dia berdiri di sana, terperangkap antara kebenciannya yang mendalam terhadap suamiku dan bukti kejahatan yang mengerikan dan berdarah tepat di kakinya. Badai mengamuk di sekitar kami, latar belakang yang pas untuk saat hidupku diletakkan di tangan musuhku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta CEO dalam Jebakan
8.5
Gabriella, gadis yatim piatu yang malang, kehilangan rumah warisannya akibat penggusuran paksa oleh Perusahaan Quebracha. Saat menuntut keadilan pada sang CEO, Max Evans, sebuah insiden tragis justru merampas kehormatannya. Alih-alih merasa bersalah, Max menuduh Gabriella sebagai wanita bayaran yang sengaja menjebaknya demi uang. Di tengah kebencian dan tuduhan palsu, mampukah keduanya menyadari bahwa ada dalang yang sedang mengadu domba mereka?
Sampul Novel CINTA GILA KENAN
9.7
Kenan dikenal sebagai pebisnis yang kejam dan berhati dingin. Namun, ketenangannya terusik saat bertemu kembali dengan Yezi, wanita keturunan Jepang-Indonesia yang terlibat dalam masa lalunya. Merasa diabaikan, Kenan menuntut ganti rugi tak masuk akal kepada ayah Yezi. Tak tinggal diam, Yezi membalas ancaman itu dengan rekaman rahasia dari kejadian tiga tahun silam. Di tengah persaingan bisnis dan arogansi, rahasia besar apa yang sebenarnya menyatukan mereka?
Sampul Novel Dream come true
8.7
Zefanya sempat merasa dicintai Andrew, hingga kesalahpahaman fatal menghancurkan segalanya. Kehormatan Zefanya direnggut secara paksa, menghancurkan impiannya untuk memiliki keluarga tulus. Sepuluh tahun berlalu, Andrew hidup menderita dalam kekayaan dan rasa bersalah yang mendalam. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, Zefanya bukan lagi wanita yang sama. Andrew kini berjuang keras demi sebuah maaf, namun benarkah hanya itu yang ia inginkan?
Sampul Novel Gairah Ranjang CEO Kejam
9.2
Alice Morrigan terpaksa menggantikan posisi kakak kembarnya, Berenice, yang menghilang saat pernikahan dengan Nicholas Chevalier. Sebagai istri pengganti, Alice diperlakukan layaknya pelayan oleh Nicholas yang kejam. Ia kerap menerima kekerasan fisik dan cambukan menyakitkan saat berhubungan intim. Nicholas yang posesif terus mengekang tubuh serta kebebasan Alice tanpa ampun. Di tengah penderitaan ini, mampukah Alice bertahan atau justru berhasil melarikan diri?
Sampul Novel Menikahi Pria Angkuh
8.3
CEO Steve Willson yang dingin terjebak obat perangsang dalam sebuah pesta. Ia akhirnya menghabiskan malam panas bersama gadis misterius yang tak sempat ia kenali wajahnya. Meski terobsesi mencari wanita itu, Steve justru dipaksa sang ibu untuk segera menikah. Demi menunda tekanan tersebut, ia menjadikan Zira, gadis yang terlilit utang, sebagai istri kontraknya. Akankah Steve menyadari identitas asli Zira, atau tetap mengejar bayangan wanita dari masa lalunya?
Sampul Novel Menyukai Bos Pengusaha
8.4
Maya baru saja memulai perjalanannya sebagai asisten eksekutif di sebuah perusahaan besar. Sebagai wanita muda yang penuh talenta dan dedikasi, ia melihat posisi ini sebagai peluang emas demi membuktikan keahlian profesionalnya. Meski harus menghadapi ritme kerja yang sangat padat dan sempat didera rasa cemas di awal, Maya tetap teguh pada pendiriannya. Ia bertekad memberikan performa terbaik dalam menjalankan setiap tugas demi meraih kesuksesan di lingkungan baru.