APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Menantu Miskin

Dendam Menantu Miskin

Akibat kemiskinannya, Rendra Gumilar dipaksa bercerai oleh Tuan Brata, mertuanya yang angkuh. Meski berat hati, buruh pabrik ini terpaksa berpisah dengan Viona serta bayi mereka yang masih kecil. Diusir dan dihina, Rendra tidak menyerah pada nasib. Ia bertekad bangkit menjadi pria sukses demi merebut kembali keluarga kecilnya. Mampukah Rendra membuktikan harga dirinya di hadapan mertua yang dulu meremehkannya, ataukah ia justru akan kehilangan mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sayangnya Viona tidak menghiraukan panggilan dari suaminya. Saat Rendra akan memegang tangan sang istri, tiba-tiba Brata langsung menarik tangan Rendra hingga ia terjengkang ke belakang.

"Sudah saya bilang berapa kali, Rendra. Kamu tidak boleh menyentuh putriku!" Brata menghempaskan tubuh Rendra hingga ia terjatuh kebelakang.

Melihat kejadian itu, sontak Viona membalikkan tubuhnya menatap sendu pada laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Air matanya menetes satu per satu membasahi pipinya.

"Papa ...."

"Diam kamu, Viona. Masuk ke dalam mobil sekarang juga!" titah Brata kepada Viona yang tidak bisa ia bantah.

Lagi, Viona menuruti perintah papanya. Ia masuk ke dalam mobil.

"Tutup pintunya, lalu kunci! Begitupun dengan kaca jendelanya. Jangan sampai Viona keluar dari mobil!" Kali ini Brata memberi perintah kepada supir pribadinya yang bernama Rudi.

"Baik, Tuan." Rudi segera menuruti perintah majikannya.

Rendra bangkit, berjalan mendekati mobil mertuanya. Lagi-lagi Brata menghalangi Rendra yang ingin mendekati mobilnya.

"Pak, aku mohon ijinkan aku untuk berbicara sebentar saja dengan Viona." Rendra memohon kepada Brata dengan wajah memelas.

"Tidak, Rendra. Mulai detik ini kamu tidak bisa bertemu lagi dengan Viona, begitupun dengan cucuku."

Brata berjalan masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Rendra yang terus memohon kepadanya.

"Jalan!" titah Brata kepada supirnya untuk menjalankan mobilnya.

"Tunggu!" seru Viona.

"Ada apa Viona?" tanya Brata. "Jangan bilang kalau kamu tidak ingin ikut Papa untuk pergi dari gubug itu!"

"Bukan, Pa. Tapi, setidaknya ijinkan Viona untuk berbicara dengan Mas Rendra. Sebentar saja," jawab Viona. "Untuk terakhir kalinya," ucapnya lagi. Kali ini suaranya sangat lirih. Terlihat jika Viona pun sangat berat untuk berpisah dengan Rendra.

"Baiklah, Papa ijinkan. Tapi janji, hanya sebentar saja. Setelah itu kamu harus cepat masuk ke dalam mobil. Dan ingat, ini untuk terakhir kalinya kamu bertemu dengan laki-laki gembel itu!" Jelas terlihat dari wajahnya, jika Brata benar-benar sangat membenci Rendra.

"Iya, Pa. Viona janji."

Sembari menggendong bayinya, Viona keluar dari mobil. Melihat itu, mata Rendra berbinar bahagia. Ia menyangka jika Viona tidak jadi pergi bersama papanya.

"Viona, sayang. Aku tau kamu pasti tidak akan pergi meninggalkan aku."

Rendra menangkup pipi Viona dengan kedua tangannya. Matanya menatap wajah sang istri dengan penuh cinta. Setelah itu, matanya beralih menatap wajah polos bayi yang ada di pelukan Viona. Berkali-kali Rendra menciumi pipi mungil anaknya. Mengelus lembut kepalanya. Sangat terlihat jika Rendra benar-benar sangat menyayangi bayinya.

Viona membiarkan suaminya menciumi bayinya. Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah puas menciumi bayinya. Rendra langsung mengambil alih bayinya dari dekapan Viona. Ia menggendongnya dan memeluknya sangat erat.

"Papa tidak bisa kehilangan kamu, sayang. Kamu akan tinggal bersama Papa, sayang." Rendra berbicara pada bayinya. Bayi mungil itu membuka matanya, menatap wajah sang papa, kemudian memberikan senyuman manisnya. Melihat itu, Rendra semakin gemas pada bayi mungilnya. Ia kembali menciumi pipi tembem anaknya.

Melihat Rendra yang sangat menyayangi bayinya, membuat hati Viona semakin hancur. Satu sisi ia tidak tega memisahkan anaknya dari papa kandungnya. Aka tetapi di sisi lain, ia pun tidak bisa bertahan hidup miskin dengan suaminya. Meskipun rasa cinta itu masih kuat untuk Rendra.

"Ayo, sayang. Kita masuk ke dalam, sepertinya sudah mau turun hujan. Langitnya terlihat sangat gelap," ucap Rendra. Ia masih menyangka jika Viona turun dari mobil untuk kembali kepadanya. "Oh iya, mana barang-barangnya tadi?" Matanya melihat kebawah, tak ada koper yang tadi di masukkan ke bagasi mobil oleh Rudi. "Biar Mas saja yang mengambilnya. Lebih baik kamu cepat masuk ke dalam, sayang. Kasian bayi kita, takut kedinginan."

Rendra hendak berjalan menuju belakang mobil mengambil koper milk Viona. Namun tangan Viona menghentikan langkahnya.

"Mas, tunggu!" seru Viona.

"Ada apa, sayang? Sebentar lagi hujan akan turun. Lebih baik kamu cepat masuk ke rumah, sayang. Aku tidak mau kamu dan bayi kita kehujanan." Rendra melanjutkan langkahnya.

"Mas, aku turun dari mobil bukan untuk kembali ke rumah ini. Tapi aku hanya ingin ...." Viona tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia tak sanggup lagi berkata. Matanya mengembun, air mata yang sedari ia tahan akhirnya luruh juga membasahi pipinya.

Seketika Rendra menghentikan langkahnya. Kemudian membalikkan tubuhnya menatap wajah sang istri.

"Apa maksudmu, Viona? Mengapa kamu berbicara seperti itu?" Rendra kembali mendekat pada Viona. "Ingin apa, Viona, katakan!" Nada suaranya meninggi.

"Aku ... aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk terakhir kalinya, melihat wajah bayi kita," lirih Viona. Kali ini ia tak mampu menatap wajah Rendra.

Rendra menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Viona. Kamu dan bayi kita tidak akan pergi kemana-mana. Kita akan selalu bersama-sama selamanya."

Viona menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa lagi hidup bersamamu." Lirih Viona mengeluarkan suaranya.

"Tapi kenapa, Viona? Bukankah selama ini kamu bahagia hidup denganku? Bahkan tidak pernah sekalipun aku melihatmu bersedih saat bersamaku. Katakan padaku, Viona, apa kurangku selama ini?"

Rendra mengguncang tubuh Viona pelan. Hancur sudah hatinya, namun ia tak bisa mengeluarkan air matanya meskipun satu tetes. Padahal terlihat jelas jika laki-laki itu sangat terpukul dengan keputusan istrinya.

"Maafkan aku, Mas. Aku ...." Viona tak dapat berkata-kata lagi. Ia pun sebenarnya sama sakitnya dengan apa yang dirasakan oleh suaminya. Suami yang sangat ia cintai. Namun ia tak bisa hidup bersamanya, karena egonya yang mengalahkan rasa cintanya terhadap suaminya sendiri.

"Tidak, Viona. Katakan jika kamu tidak benar-benar serius untuk pergi dariku!" Viona menggelengkan kepalanya. "Katakan Viona!" Rendra sedikit meninggikan suaranya. Berharap istrinya yang paling ia cintai akan menurut kepadanya, seperti sebelumnya yang selalu menuruti setiap perkataannya. Dan untuk pertama kalinya Rendra meninggikan suaranya saat berbicara dengan Viona.

"Jika itu masalah materi, aku janji, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Jika perlu, aku akan bekerja siang dan malam demi membuat kamu dan bayi kita bahagia, aku janji, Viona."

Tiba-tiba Brata kembali turun dari mobil untuk menyuruh anak dan cucunya masuk kembali ke dalam mobil.

"Kamu mau tau apa kekuranganmu, Rendra? Kamu terlalu miskin untuk putriku!" Brata menekankan kata 'miskin'. "Ayo masuk, Viona! Buang-buang waktu kamu berbicara dengan gembel seperti dia!"

Brata mendorong pelan tubuh Viona untuk segera masuk ke dalam mobil. Sebelum Viona dan bayinya benar-benar masuk ke dalam mobil, Viona menatap wajah lelaki yang selama ini telah memberikan cinta yang tulus kepadanya untuk terakhir kalinya. Air mata terus berjatuhan membasahi pipinya. Brata segera menyusul Viona dan masuk ke dalam mobilnya.

"Jalan!" Brata memberi perintah kepada supirnya untuk segera menjalankan mobilnya dan pergi dari tempat itu.

"Tidak, Viona ...."

Rendra menggelengkan kepalanya. Menyugar rambutnya dengan kasar. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal dengan kuat sehingga urat-uratnya menonjol. Matanya merah. Menatap kepergian istri dan anaknya yang paling ia cintai. Rendra terus memandangi mobil milik mertuanya yang semakin menjauh, berharap masih ada keajaiban jika Viona mengurungkan niatnya untuk ikut pergi bersama papanya. Namun semuanya itu hanyalah khayalannya saja. Nyatanya mobil itu terus pergi hingga tak lagi terdengar suara mesinnya.

Seiring dengan kepergian Viona dan bayinya, hujan lebat tiba-tiba turun dengan sangat deras. Membasahi seluruh tubuh lelaki malang itu. Dan untuk pertama kalinya di dalam kehidupannya, seorang Rendra menitikkan air mata, menangisi kepergian seorang perempuan yang paling ia cintai. Beruntungnya tak ada yang melihatnya menangis, karena air matanya menyatu dengan air hujan yang membasahi wajahnya.

Tanpa Rendra ketahui, dibalik gorden, ada seorang wanita yang sedang menangisi nasib keponakannya. Sama seperti yang Rendra alami, wanita itu sangat hancur melihat ponakannya memiliki nasib yang tragis, ditinggal oleh anak dan istrinya hanya karena materi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Broken Vessel
7.9
Di dunia di mana setiap orang memiliki kekuatan spesial bernama Arte, Trystan yang berusia 21 tahun justru terjebak dalam bahaya besar. Kekuatan langka miliknya memicu perburuan mematikan; banyak pihak ingin menghabisinya atau memanfaatkan kemampuannya. Hidup Trystan kini dipenuhi pengkhianatan, dendam, dan rasa kehilangan yang mendalam. Di tengah paksaan serta tanggung jawab besar, ia harus berjuang melindungi hal berharga sambil menghadapi musuh yang terus mengincar.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Danny Hatta
9.2
Saat memburu target di Swiss, Danny Hatta menemukan petunjuk krusial mengenai kematian ayahnya, seorang hakim tinggi. Penyelidikan itu justru menjebaknya dalam fitnah pembunuhan aparat dan mantan sekretaris sang ayah. Kini berstatus buronan, Danny harus melarikan diri bersama Sarah Hartono, jurnalis yang mengikuti jejaknya. Di tengah ketegangan yang mendebarkan, keduanya terlibat dalam petualangan berbahaya demi mengungkap kebenaran di balik konspirasi ini.
Sampul Novel Devil Heart Angel
9.7
David Edward dikenal sebagai sosok pria kejam yang menyandang julukan malaikat berhati iblis. Namun, segalanya berubah drastis saat takdir mempertemukannya dengan Anesia Sabila. Kehadiran wanita tersebut menjungkirbalikkan dunia David hingga hidupnya terasa kacau dan tidak terkendali lagi. Apa sebenarnya yang membuat Anesia mampu mengusik ketenangan sang iblis? Ikuti kisah penuh konflik dan romansa yang akan mengungkap alasan di balik kekacauan hidup David.
Sampul Novel Cinta, Pengkhianatan dan Dendam: Godaan Mantan Istri yang Tak Tertahankan
8.0
Dikhianati hingga menjadi pembunuh, Maria menceraikan James dan pergi membawa dendam. Enam tahun berselang, ia kembali bersama rival mantan suaminya dengan identitas baru yang tangguh. Meski bekerja sama dengan James hanya demi membalas sakit hatinya, Maria tidak menyadari bahwa ia justru masuk ke dalam jebakan pria itu. Di tengah pergolakan antara gairah dan niat balas dendam, mereka terjebak dalam permainan perasaan yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Kemarau Kapan Berlalu?
9.0
Sam Rahardja nekat menjadi kurir narkoba demi biaya sekolah keponakannya, meski upahnya dipotong oleh Galih. Saat Galih memutuskan berhenti, Sam terdesak masalah finansial. Di tengah kebuntuan, sosok misterius bernama Sena muncul mengancam akan melaporkan masa lalu ilegal Sam ke polisi. Terpojok demi masa depan Renaldi, Sam terpaksa menerima tawaran kerja dari Sena. Namun, ia justru terjebak dalam penyesalan mendalam karena pekerjaan tersebut adalah menjual diri.