APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Derita berujung bahagia

Derita berujung bahagia

Arini berjuang sendirian membesarkan buah hatinya di tengah kerasnya hidup. Saat sang anak telah sukses, mantan suami yang dahulu membuang mereka tiba-tiba datang menuntut harta dengan alasan hubungan darah. Kemarahan Arini memuncak melihat ketidakadilan tersebut. Di tengah konflik batin dan dendam masa lalu, Arini justru dipertemukan dengan jodoh tak terduga yang ternyata memiliki kaitan erat dengan keluarga Hakam. Akankah ia menemukan kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Mau apa dia ke sini, Bu?" tanya Shaka setengah berbisik kepadaku.

"Katanya dia perlu denganmu. Jangan-jangan dia mau minta tolong lagi sama kamu, Nak." Cebikku ke arah Bang Hakam.

Sedangkan Bang Hakam yang jadi bahan pusat pembicaraan kami, dia hanya cengar-cengir tak karuan saja. Sepertinya dia enggan untuk meninggalkan tempat ini. Benar-benar ada maunya ini orang.

"Ayah, ada perlu denganmu, Nak." Idih Bang Hakam ikut-ikutan segala manggil Shaka dengan sebutan 'Nak' sama seperti aku. Gayanya seperti orang lemah lembut saja, padahal dulu sewaktu Shaka masih kecil tabiatnya seperti Ayah tiri saja, sedikit-sedikit marah dan main pukul sama Shaka.

Shaka menghembuskan nafas kesalnya, dan akhirnya menatap malas ke arah wajah Bang Hakam.

"Ya, sudah Ayah duduk dulu saja." Tunjuk Shaka pada kursi kayu yang ada di beranda depan rumahku. Ya, meskipun di belakang dia menggebu-gebu membenci Bang Hakam, namun di depannya dia masih mempertahankan etika kesopanannya sebagai anak, mau memanggil Bang Hakam dengan sebutan 'Ayah'. Jika saja itu ada diposisi orang lain, mungkin Bang Hakam sudah diusir saat ini juga.

Bang Hakam tampak bahagia dan sumringah manakala mendapat respon yang baik dari Shaka. Dan berbeda balik dengan aku, rasanya hati ini kesal pada Shaka, bisa-bisanya dia memberi hati pada lelaki yang telah menelantarkannya itu.

Rupanya Shaka pun tahu dan mengerti, jika aku pasti akan kesal karena sikapnya yang terlalu baik itu. Dia mengedipkan matanya, lalu berbisik.

"Tenang saja, Bu, aku tidak akan sebaik yang Ibu pikirkan." Setelah berbisik padaku, lalu Shaka melangkah, dan dengan santainya dia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, seperti tak ada beban apapun.

Kemudian Bang Hakam pun menyusul Shaka, lalu duduk berseberangan dengannya.

"Nak, Ibu ke dapur dulu, takut ada orang yang kehausan," sindirku sambil mencebikkan bibir.

Bang Hakam sekilas menatapku, lalu memalingkan lagi wajahnya. Mungkin dia merasa tersindir dengan ucapanku barusan. Ya, seharusnya orang seperti dia jangan dibikin nyaman dikasih minum segala, biar dia tahu dan sadar jika aku tak mau lagi kedatangan dirinya.

Sedangkan Shaka hanya mengangguk singkat saja, dia mungkin tahu aku hanya sekedar basa-basi saja, biar tidak terlalu terlihat mantan dengan mantan saling bermusuhan.

Aku masuk ke dalam rumah dan menuju dapur untuk mengambil air minum. Sengaja aku menuangkan air putih ke dalam dua gelas, tentunya untuk Shaka dan mantan suamiku. Saat menuangkan air minum ke dalam gelas untuk Bang Hakam ingin rasanya aku menaruh racun dalam air tersebut, saking bencinya aku pada dia.

Tak lama kemudian aku pun kembali ke beranda depan sambil membawa air minum untuk Shaka dan Bang Hakam.

Aku menaruh gelas yang berisi air minum untuk Shaka secara lembut, namun untuk Bang Hakam sengaja aku menaruhnya dengan sedikit kasar, hingga air minum tersebut sedikit bercipratan ke meja. Dan Bang Hakam terlihat mendengus kesal, namun dia tidak berani berkata apapun selain memperhatikanku dengan tatapan kesalnya.

Setelah beberapa detik lamanya kami saling diam tak ada yang bersuara. Dan akhirnya aku pun berinisiatif untuk memulainya, agar Bang Hakam cepat mengutarakan apa maksud kedatangannya itu? Dan tentunya agar dia tidak berlama-lama ada di rumahku.

"Bang, katanya ada perlu dengan Shaka? Nah, sekarang ada orangnya. Cepat katakan! Ada perlu apa?" Tanpa basa-basi lagi aku bertanya pada intinya saja.

Terlihat Bang Hakam menatap ragu pada Shaka. Nampak benar di guratan wajahnya jika dia sedang susah. Tak seperti dulu yang selalu menatap tegak orang yang ada di hadapannya, sombong dan menganggap remeh orang lain.

"Ayah minta uang, sekarang Ayah tidak kerja lagi. Ayah sudah di PHK, belum dapat kerjaan lagi. Mana Mira mau melahirkan, Ayah benar-benar tidak punya uang. Lagipula kan kamu sudah bekerja dan tentunya banyak uang, tolonglah orang tua yang sedang kesusahan!" Lagi dan lagi itu yang diutarakan Bang Hakam, seperti permintaannya di saat acara wisuda Shaka.

Rasanya hati ini berdenyut nyeri ketika mendengar permintaan Bang Hakam barusan. Beraninya dia meminta uang pada Anak yang dulu dia telantarkan demi wanita yang bernama Mira itu. Ya, dia adalah wanita selingkuhan Bang Hakam yang kini sudah menjadi istrinya dan mengandung anaknya. Alih-alih sekarang dia minta tolong pada Shaka untuk membantu biaya lahiran Istrinya itu, apa dia tidak malu? Sungguh gila lelaki ini.

Aku sengaja diam saja menunggu Shaka bicara. Aku ingin mendengar apa yang akan dia katakan pada lelaki tak tahu diri itu.

"Sekarang Ayah di PHK bilang sama aku, tapi dulu waktu Ayah banyak uang tidak bilang apapun padaku. Malah Ayah asyik dengan istri baru dan anak tiri Ayah. Dan sudah aku katakan, aku tak banyak uang untuk menolong hidup kalian. Lagipula itu bukan urusanku," ucap Shaka mantap dan itu membuat aku senang. Rupanya Shaka pun tak sudi jika uang hasil keringatnya itu dimakan Ayahnya.

"Meskipun begitu aku tetap Ayahmu dan kamu tetap harus berbakti kepada orang tua. Berbakti pada seorang Ayah itu wajib hukumnya, Shaka," ujar Bang Hakam yang kata-katanya itu seperti orang benar dan bijak saja.

Aku dan Shaka hampir saja bersamaan menghembuskan nafas, demi mendengar kata-kata Bang Hakam yang sok benar itu.

"Berbakti? Apa kamu dulu merasa menafkahi anakmu tidak?" Sengaja aku memotong perkataan Bang Hakam. Rasanya rasa muakku pada Bang Hakam sudah ada di ubun-ubun kepalaku.

Bang Hakam melirik ke arahku dengan sorotan mata yang penuh dengan kebencian.

"Arini tidak seharusnya kamu bicara seperti itu. Ini pasti ajaranmu yang sudah menanamkan rasa benci pada Shaka. Harusnya anak itu diajarin yang baik-baik, diajarin hormat dan sayang pada Ayahnya, bukan sebaliknya diajarin membenci Ayahnya." Ya, Gusti Allah ingin rasanya aku menimpuk orang ini. Bukannya merasa bersalah sudah menelantarkan Shaka dari kecil sampai dewasa, ini malah menyalahkanku, benar-benar tidak tahu malu.

Untuk yang kesekian kalinya aku menghembuskan nafas beratku. Entah apa lagi yang harus aku katakan pada laki-laki yang ada di hadapanku ini. Bukannya malu malah semakin melunjak.

"Bang, harusnya kamu sadar diri dong, wajar saja Shaka tidak sayang padamu, lah kamu juga tidak sayang padanya. Sadar nggak sih dulu kamu menelantarkan Shaka? Sadar nggak?" Intonasi suaraku mulai meninggi. Kesabaranku sudah habis, tak bisa ditahan lagi.

Raut wajah Bang Hakam terlihat memerah, dan rahang kokohnya pun mengeras. Dia pun nampak ingin marah padaku, namun demi mengingat niatnya untuk meminta uang pada Shaka, maka mau tidak mau dia menahan amarahnya padaku.

"Shaka kan ada kamu, ya, kamu lah yang berkewajiban menanggung hidup Shaka. Sedangkan kewajibanku menanggung Istri dan keluargaku." Entah dari mana Bang Hakam punya paham seperti itu? Sungguh gila orang ini.

Mendengar seperti itu Shaka langsung menggelengkan kepalanya. Dia memijat keningnya dan memalingkan wajahnya. Sepertinya dia enggan untuk menyahuti perkataan Bang Hakam. Ya, memang jika diladeni rasanya otak ini menjadi mendidih. Jadi mungkin Shaka lebih baik diam saja, daripada dosa harus melawan.

"Lantas jika kamu tidak merasa punya kewajiban menanggung hidup Shaka, kenapa kamu sekarang minta tolong sama dia? Ya, sudah kesusahanmu itu berbagi saja dengan Istri dan keluargamu saja." Aku mendengus kesal. Sengaja aku memalingkan wajah, lebih memilih melihat wajah Shaka saja.

"Kalau tidak ada aku, ya, Shaka tidak akan ada. Tidak ada yang namanya mantan Ayah, ingat itu!" Perkataan Bang Hakam sudah ngelantur kemana-mana. Harusnya yang berkata seperti itu aku dan Shaka bukan dia.

Shaka yang mulanya diam saja, namun demi mendengar perkataan Bang Hakam yang semakin ngelantur kemana-mana, akhirnya dia angkat bicara juga. Membenarkan posisi duduknya, lalu menatap tajam ke arah wajah Bang Hakam.

"Maaf sudah aku katakan, aku tak punya uang. Ibuku lebih membutuhkannya daripada untuk lahiran Istri barumu itu." Kata-kata Shaka terdengar tajam. Terlihat benar dari raut wajahnya, jika dia sudah jengah mendengar perkataan Bang Hakam tersebut.

"Shaka kamu tega tidak mau memberi Ayah uang. Benar-benar Ibumu sudah mendidik kamu jadi anak yang tidak benar." Gila ini lelaki menyalahkan aku, demi sikap Shaka yang tak mau memberinya uang.

"Ya, Shaka tega karena kamu juga dulu tega sama dia, iya, kan?" selaku sambil mencebikkan bibir.

Brakkk ... Tiba-tiba Bang Hakam langsung menggebrak meja. Kedua matanya memerah, dengan sorot mata penuh amarah dan kebencian.

"Anak dan Ibu sama saja, sama-sama pelitnya," geram Bang Hakam dengan gemeretak giginya yang terdengar keras.

Sontak Shaka langsung berdiri, terlihat dadanya naik turun, demi menahan rasa marahnya pada Bang Hakam.

"Dengar! Ayah tak berhak memarahi Ibuku. Dia yang sudah berjuang mempertahankan hidupku dari kecil sampai aku dewasa seperti ini, jadi jangan pernah satu kata pun Ayah mengeluarkan kata-kata kotor pada Ibuku. Ingat itu, camkan baik-baik!" Tanpa permisi pada Bang Hakam, dia langsung meninggalkan tempat duduknya, dan bergegas melangkah cepat menuju ke dalam rumah.

Aku menghembuskan nafas berat, aku benar-benar sudah tidak tahan dengan kehadiran Bang Hakam di rumahku.

"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini! Kamu lihatkan Shaka marah dan tidak mau bertemu denganmu lagi! Pergilah!" Aku menunjuk ke arah depan dengan gerakan mataku, mengisyaratkan agar Bang Hakam cepat pergi dari sini.

Bang Hakam mendengus kesal dan terlihat merapikan bajunya yang sedikit kusut, menandakan dia akan bersiap-siap pergi dari sini, dan itu membuatku senang.

"Iya Shaka bersikap kurang ajar kepadaku, karena kamu yang mengajarinya. Kamu mengajarinya agar dia pelit padaku, bukan?" Sebelum dia bangkit dari duduknya, sempat-sempatnya dia bicara seperti itu. Dasar laki-laki tidak tahu diri. Bukannya dia yang pelit pada Shaka? Eh, sebaliknya dia yang berkata seperti itu.

Sambil marah-marah dia langsung melangkah dan membanting kasar pagar rumahku. Untung saja jantungku tidak copot mendengar suara bantingan keras itu.

"Dasar mantan tidak tahu malu, sudah minta, marah lagi," gumamku sambil mengusap kasar dadaku berkali-kali.

Tanpa mau ambil pusing lagi, aku langsung masuk ke dalam rumah. Dan klek, aku menutup pintu dengan rapat, ingin cepat-cepat menenangkan pikiran.

Baru saja aku melangkah beberapa langkah saja, terdengar pintu diketuk keras dari luar. Sejenak aku berpikir siapa orangnya yang bertamu padaku lagi?

"Arini, buka pintunya!" Deg, hatiku mulai panas dan dongkol lagi, karena aku tahu siapa pemilik suara itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Ruela sangat menjunjung tinggi kesetiaan, namun dikhianati oleh Frans, suaminya, yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih terpuruk, Ruela bangkit untuk membalas dendam. Tak disangka, takdir membawanya pada Felix, pemuda yang menghabiskan malam penuh gairah bersamanya. Di tengah kemelut hati dan ambisi untuk menghancurkan para pengkhianat, mampukah Ruela menuntaskan dendamnya? Sebuah kisah tentang luka, pembalasan, dan pertemuan yang tak terduga.
Sampul Novel Gairah Suamiku (Jangan Salahkan Aku Selingkuh)
8.4
Ayana tidak habis pikir mengapa Dindar, suaminya, kerap bersikap kasar dan ringan tangan hanya karena masalah sepele. Setiap kali Ayana tidak sengaja mendesah saat mereka berhubungan intim, Dindar akan langsung naik pitam dan menyakitinya secara fisik. Ayana merasa perlakuan tersebut sangat tidak wajar bagi pasangan suami istri. Namun, di balik keanehan gairah dan sikap temperamental suaminya itu, ternyata Dindar menyimpan sebuah rahasia besar yang tersembunyi.
Sampul Novel Gelora Asmara Ratu Berlian
8.6
Intan Malika, yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan, harus menelan pahitnya dikhianati oleh Zayn Alarik. Saat Intan hamil, Zayn menolak bertanggung jawab dan justru pergi ke luar negeri. Bertahun-tahun berlalu, Intan bangkit menjadi sosok sukses berjuluk Ratu Berlian. Kini ia kembali untuk membalas dendam pada keluarga Pradipta. Namun, kehadiran putra mereka yang merindukan sosok ayah membuat Intan bimbang antara dendam atau memaafkan masa lalu.
Sampul Novel Kamu Akan Miskin, Mas!
8.6
Kehidupan rumah tanggaku berubah drastis setelah momen persalinan. Sikapku kini menjadi sangat dingin terhadap suami sendiri akibat luka batin yang teramat dalam. Rasa sakit hati ini tidak akan pernah bisa sembuh begitu saja dalam waktu singkat. Aku sudah membulatkan tekad untuk menuntut keadilan. Mas, bersiaplah karena segala perbuatanmu akan kubalas dengan setimpal tanpa ampun. Kamu tidak akan pernah bisa lari dari konsekuensi ini.
Sampul Novel Mengejar Cinta Istri
9.4
Ditinggalkan saat menikah membuat Ayla Pramudita terluka, meski itu perjodohan bisnis. Enam bulan berlalu, ia dikejutkan kiriman uang misterius dari N.H Group. Saat sang adik, Ferdi, magang di sana, terungkap bahwa pemiliknya adalah Wibbi, suaminya sendiri. Ayla pergi ke Jakarta demi menuntut cerai, namun Wibbi justru menolak dan mulai mencintainya. Di tengah upaya Wibbi, hadir Abram, cinta pertama Ayla yang siap membantu melepaskannya dari jeratan sang suami.
Sampul Novel PERAWAN RASA JANDA
9.0
Mala sering dianggap janda karena mengasuh keponakan kembarnya, Ghana dan Ghara, demi amanah mendiang kakaknya. Di balik stigma tersebut, hidupnya berubah saat bertemu Gamal, bos arogan yang kerap berselisih paham dengannya. Namun, kedekatan mereka diuji oleh kehadiran Jason, teman lama berdarah Jerman yang terus mengejar cintanya. Mala terjebak dalam dilema hati antara sang atasan atau masa lalunya, sambil terus memikul beban status sosial yang keliru.