APKDock Logo
Sampul Novel Derita Seorang Gadis Desa

Derita Seorang Gadis Desa

9.4 / 10.0
Alya, gadis yatim piatu lulusan SMP, nekat merantau ke kota demi membiayai neneknya yang sakit. Nasib membawanya bekerja di kediaman Ibu Ratna yang baik hati. Namun, hidupnya hancur saat Arka, putra majikannya, pulang dan merenggut kehormatannya secara paksa. Bukannya bertanggung jawab, Arka justru menghina dan mengusir Alya dengan kejam. Di tengah luka batin yang mendalam, Alya harus berjuang bangkit menghadapi kenyataan pahit demi kelangsungan hidupnya.

Derita Seorang Gadis Desa Bab 1

Langit sore di desa kecil itu tampak merona jingga. Suara ayam berkokok bersahutan dengan lenguhan sapi yang baru saja ditarik pulang dari sawah. Di sebuah rumah panggung sederhana yang sudah mulai rapuh dimakan usia, seorang gadis muda duduk di beranda sambil menatap jauh ke arah jalan tanah yang berdebu.

Gadis itu bernama Alya. Usianya baru sembilan belas tahun, namun hidup sudah mengujinya terlalu keras sejak kecil. Wajahnya cantik, manis dengan mata bulat dan alis tegas, tetapi kesedihan yang lama bersemayam di hatinya membuat sorot itu sering terlihat sendu.

Sejak usia dua tahun, Alya sudah yatim piatu. Orang tuanya meninggal akibat kecelakaan di jalan raya ketika dalam perjalanan pulang dari pasar. Sejak saat itu, neneknyalah yang mengasuhnya. Sang nenek, yang kini sudah renta dan sering sakit-sakitan, hanya bisa menghidupi mereka berdua dari hasil menenun kain dan sedikit uang kiriman dari sanak saudara yang tidak seberapa.

Karena keterbatasan biaya, Alya hanya bisa sekolah sampai SMP. Setelah itu, ia membantu neneknya mengurus rumah, menenun, dan sesekali membantu tetangga. Namun Alya selalu punya keinginan besar: ingin keluar dari lingkaran kemiskinan, ingin mengubah nasib agar bisa memberikan kehidupan yang layak untuk neneknya.

Sore itu, Alya menggenggam selembar kertas lusuh-pengumuman lowongan pekerjaan di kota.

"Alya, kau masih menatap kertas itu lagi?" suara serak neneknya terdengar dari dalam rumah.

Alya menoleh. "Iya, Nek. Alya cuma... sedang berpikir. Apa sebaiknya Alya mencoba ke kota? Di sini pekerjaan tidak ada, sedangkan nenek semakin sering sakit. Kalau Alya hanya di desa, sampai kapan pun hidup kita akan begini-begini saja."

Nenek keluar dengan langkah pelan, tongkat kayu di tangannya terdengar mengetuk lantai papan. Wajahnya penuh keriput, tapi tatapan matanya lembut. Ia duduk di sebelah Alya, menatap cucunya yang selama ini menjadi alasan ia bertahan hidup.

"Nek tahu kau punya mimpi besar, Nak. Tapi kota itu tidak selalu seindah yang kau bayangkan. Banyak orang jahat di sana. Nenek takut kalau kau nanti malah disakiti," ucap nenek dengan suara lirih.

Alya menggenggam tangan neneknya. "Alya tahu, Nek. Tapi kalau Alya diam saja di sini, bagaimana kita bisa bertahan? Uang untuk beli obat nenek saja sering tidak cukup. Alya ingin coba, Nek. Mungkin dengan bekerja di kota, Alya bisa kirim uang lebih banyak. Bisa bawa nenek berobat ke rumah sakit yang lebih baik."

Nenek menghela napas panjang. Air mata hampir menetes di sudut matanya. Ia tahu cucunya benar, tapi hatinya tidak rela melepas Alya yang selama ini menjadi teman hidupnya.

"Kalau itu yang kau pilih, Nenek hanya bisa mendoakan. Pergilah dengan hati-hati, jangan mudah percaya pada orang. Dan jangan lupakan rumah ini, karena di sinilah tempatmu pulang."

Alya memeluk neneknya erat. "Alya janji, Nek. Alya akan baik-baik saja."

Keesokan harinya, Alya bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sudah mengemasi beberapa helai pakaian, menyimpannya dalam tas usang peninggalan almarhum ibunya. Dengan bekal seadanya, ia berangkat menuju kota. Perjalanan ditempuh dengan naik bus tua yang berderit setiap kali melewati jalan rusak.

Alya duduk di dekat jendela, menatap sawah-sawah yang perlahan berganti dengan bangunan-bangunan tinggi. Hatinya berdebar, antara takut dan bersemangat.

"Semoga ini jalan terbaik," gumamnya dalam hati.

Setibanya di terminal kota, suasana ramai membuatnya sedikit panik. Orang-orang berlalu lalang, sebagian menawarkan jasa angkut barang, sebagian lagi menjajakan dagangan. Alya menggenggam erat tasnya, takut akan copet yang sering ia dengar dari cerita orang.

Ia melangkah pelan, mencari alamat yang tertera di brosur lowongan kerja yang ia dapat. Tulisan itu menyebutkan bahwa ada seorang ibu bernama Ratna yang mencari asisten rumah tangga. Alamatnya berada di kawasan perumahan mewah yang cukup jauh dari terminal.

Alya pun memberanikan diri bertanya kepada tukang ojek pangkalan.

"Permisi, Bang. Apa tahu jalan ke perumahan Permata Indah?" tanyanya sopan.

Si tukang ojek mengangguk. "Tahu. Mau ke sana, Dek?"

"Iya, Bang. Berapa ongkosnya?"

"Tergantung, kalau masuk sampai ke dalam komplek, ya agak mahal. Dua puluh ribu, gimana?"

Alya menghitung uangnya yang terbatas, tapi ia sadar tidak ada pilihan lain. "Baik, Bang."

Sesampainya di perumahan mewah itu, Alya terpana. Rumah-rumahnya besar, pagar tinggi, dan halaman luas. Jauh berbeda dengan rumah panggungnya di desa. Ia merasa canggung, seolah dirinya tidak pantas berada di lingkungan ini.

Namun langkahnya terhenti di depan sebuah rumah bercat putih dengan pagar besi hitam elegan. Ia melihat papan kecil di depan gerbang bertuliskan Keluarga Ratna. Hatinya berdegup lebih kencang.

Dengan sedikit ragu, ia menekan bel.

Tak lama, seorang perempuan paruh baya keluar. Wajahnya teduh, berkerudung sederhana, namun berwibawa. Ia menatap Alya dari ujung kepala hingga kaki.

"Ya, ada perlu apa, Nak?" tanyanya ramah.

Alya menunduk sopan. "Permisi, Bu. Saya Alya. Saya membaca pengumuman lowongan kerja Ibu, untuk asisten rumah tangga. Kalau masih ada kesempatan, saya ingin melamar."

Wanita itu tersenyum tipis. "Masuklah dulu, Nak. Kita bicara di dalam."

Ruang tamu rumah itu begitu megah. Sofa empuk, karpet tebal, hiasan dinding yang mahal. Alya duduk kaku, sementara Ibu Ratna menatapnya penuh penilaian.

"Berapa usiamu, Nak?"

"Sebentar lagi sembilan belas, Bu."

"Orang tua?"

Alya menunduk, suaranya melemah. "Saya yatim piatu, Bu. Sejak kecil tinggal dengan nenek. Beliau sudah tua dan sering sakit. Itulah alasan saya ingin bekerja."

Tatapan Ibu Ratna melembut. "Kau terlihat jujur. Baiklah, kalau begitu, mulai besok kau bisa bekerja di sini. Pekerjaannya tidak sulit. Kau akan membantu mengurus rumah, memasak, dan menyiapkan kebutuhan sehari-hari. Gajimu akan saya bayar setiap bulan. Kau juga bisa tinggal di sini."

Mata Alya berbinar. "Terima kasih banyak, Bu. Saya janji akan bekerja sebaik-baiknya."

Ibu Ratna tersenyum. "Aku percaya kau akan melakukannya dengan baik."

Hari-hari pertama bekerja di rumah itu berjalan lancar. Alya belajar banyak hal baru, mulai dari memasak hidangan modern, membersihkan rumah besar, hingga melayani tamu. Meski lelah, ia selalu ingat wajah neneknya yang menunggu di desa. Setiap kali menerima gaji, ia langsung mengirim sebagian besar uangnya untuk biaya obat dan kebutuhan nenek.

Ibu Ratna memperlakukan Alya dengan baik, layaknya anak sendiri. Alya merasa hidupnya perlahan berubah lebih baik.

Namun, kebahagiaan itu hanya sementara.

Suatu sore, ketika Alya sedang menyapu halaman, sebuah mobil hitam mewah memasuki pekarangan rumah. Dari dalam keluar seorang pria muda tinggi tegap dengan wajah tampan namun tatapannya dingin. Ia mengenakan kemeja rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.

Ibu Ratna keluar menyambut dengan gembira. "Arka! Anakku, akhirnya kau pulang juga!"

Alya tertegun. Jadi inikah putra sulung Ibu Ratna? Namanya Arka.

Arka hanya tersenyum tipis lalu memeluk ibunya sebentar. Tatapannya kemudian jatuh pada Alya, yang berdiri kikuk sambil menunduk. Ada sorot aneh di matanya-seakan sedang menilai, sekaligus meremehkan.

"Siapa dia, Bu?" tanya Arka dengan nada datar.

"Oh, ini Alya. Dia yang membantu Ibu di rumah sejak beberapa bulan lalu. Anak baik, rajin, dan sopan."

Arka hanya mengangguk singkat, lalu masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara. Namun tatapan terakhirnya pada Alya membuat gadis itu merinding.

Hatinya tiba-tiba diliputi firasat buruk.

Malam itu, ketika semua orang sudah tidur, Alya duduk di ranjang kecil di kamar pelayan. Ia masih memikirkan tatapan Arka sore tadi. Ada sesuatu dalam sorot mata itu yang membuatnya tidak tenang.

"Apa mungkin cuma perasaanku saja?" gumamnya pelan.

Namun, jauh di lubuk hati, ia tahu kedatangan Arka akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Perubahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya-dan bukan perubahan yang ia harapkan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Derita Seorang Gadis Desa

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Mira Aditya terjebak dalam perjodohan orang tuanya dengan Rafiq Jaya. Alih-alih bahagia, ia justru menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya telah menikahi kekasih lamanya, Elena Faris, secara rahasia. Menjadi sosok yang terpinggirkan dalam rumah tangganya sendiri, Mira harus menanggung luka batin yang mendalam. Di tengah kehampaan dan rasa kecewa yang kian menggunung, Mira kini dihadapkan pada pilihan sulit antara terus bertahan atau pergi mencari kebebasan.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan