APKDock Logo
Sampul Novel Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku

Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku

8.4 / 10.0
Dunia Flora runtuh saat Kevin meminta cerai demi cinta lamanya yang kembali. Tanpa air mata, Flora justru menuntut mobil mewah, vila megah, dan separuh harta bersama sebagai syarat perpisahan. Kevin terkejut, baru menyadari bahwa selama ini istrinya adalah otak genius di balik kesuksesan finansialnya. Setelah kehilangan sosok kunci dalam hidup dan bisnisnya, Kevin kini harus berjuang keras demi memenangkan kembali hati Flora yang telah dia lepaskan.

Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku Bab 1

Pada malam hari, ruang tamu yang luas bersinar di bawah lampu terang saat dua orang duduk berhadapan, surat perjanjian perceraian berada di antara mereka.

Kevin Suhada, yang berpakaian rapi dalam setelan jas, memancarkan aura dingin dan cuek. Wajahnya yang tajam tetap tidak terbaca, kehadirannya berwibawa dan mengintimidasi. Tatapan tajamnya tertuju pada wanita pendiam di seberangnya, matanya tak dapat dipahami.

"Kita akan bercerai pada hari Senin," ucapnya, suaranya tegas dan tanpa emosi. "Selain kompensasi dalam perjanjian, kamu dapat meminta apa pun yang kamu butuhkan."

"Kenapa begitu tiba-tiba?" tanya Flora Blasius, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Jawaban Kevin lugas. "Aisha sudah kembali."

Flora tahu persis siapa Aisha. Setelah jeda sebentar, dia menjawab, "Baiklah."

Kevin ragu-ragu, terkejut dengan penerimaan langsungnya.

Flora membuka surat perjanjian perceraian, pikirannya melayang ke masa lalu.

Dua tahun lalu, mereka bertemu di sebuah klub malam. Saat dia telah terbebani oleh berbagai kekhawatiran, Kevin telah merawat hatinya yang terluka. Setelah minum beberapa gelas, mereka menemukan hiburan dalam kebersamaan satu sama lain, mengobrol hingga larut malam.

Tidak ada hubungan sesaat yang impulsif—hanya perpisahan yang tenang setelahnya.

Tiga hari kemudian, pria itu kembali bersama asistennya untuk melamarnya. Dan dia setuju.

Setelah menikah, Kevin memperlakukannya dengan baik—memperhatikan kebutuhannya, mengeringkan rambutnya dengan tangan yang lembut, dan menyelesaikan masalahnya bahkan sebelum dia mengungkapkannya.

Hubungan mereka sempurna—sampai enam bulan lalu, ketika sebuah panggilan telepon mengubah segalanya.

Dalam semalam, pria itu menjadi dingin dan menjaga jarak, tidak lagi bersikap lembut.

Saat itulah dia mengetahui kebenaran: Kevin menikahinya karena dia sedikit mirip dengan cinta pertamanya yang hilang, Aisha Bustami.

Kenangan itu membuat Flora mengatupkan bibir sebelum bertanya dengan ringan, "Kamu bilang aku boleh meminta kompensasi, 'kan?"

"Ya," jawab Kevin dengan nada datar.

"Apa pun yang aku inginkan?" Flora mengangkat mata dan menatapnya, wajah cantiknya tidak lagi berseri seperti biasanya.

Untuk sesaat, rasa bersalah berkelebat di dada Kevin. "Ya."

Dia telah memutuskan untuk mengabulkan tuntutannya yang wajar.

Lagi pula, wanita ini selalu bersikap baik padanya.

Suara Flora tenang. "Kalau begitu, aku ingin mobil termahal di garasimu."

"Baiklah," ucap Kevin setuju.

"Sebuah vila di pinggiran kota," tambahnya.

"Boleh," ucapnya.

Flora tersenyum. "Dan setengah dari uang yang kamu hasilkan dalam dua tahun terakhir."

Untuk pertama kalinya, ketenangan Kevin retak. Matanya menyipit sedikit, seolah-olah bertanya apakah pendengarannya benar. "Apa katamu?"

Flora, tanpa gentar, mengulangi permintaannya. "Penghasilan kita selama perkawinan dihitung sebagai harta perkawinan, 'kan? Berdasarkan perhitunganku—tidak termasuk investasi—gaji dan dividenmu selama dua tahun terakhir berjumlah dua triliun. Aku tidak menginginkan banyak—hanya 40%."

Keheningan berat menyelimuti mereka.

Kemudian, dia menambahkan, seolah-olah menyebutkan cuaca dengan santai, "Tentu saja, kamu juga dipersilakan mengambil 40% dari penghasilanku."

Kesabaran Kevin akhirnya habis. "Flora!" Suaranya mengandung nada tidak percaya.

Apakah dia benar-benar merasa bersalah barusan? Bagaimana mungkin dia tidak pernah menyadari keserakahannya sebelumnya?

Flora membalas tatapannya dengan tatapan datar. "Apakah itu tidak dapat diterima?"

Sama sekali tidak.

Kevin langsung menepis gagasan itu.

"Kalau begitu lupakan saja." Flora meletakkan pulpennya. "Lain kali aku bertemu keluargamu, aku akan menyinggung soal perselingkuhan emosionalmu. Aku yakin mereka akan memihakku."

Ekspresi Kevin menjadi suram, tatapannya berubah dingin. Dia tidak mengantisipasi sisi dirinya yang ini—sekarang menyadari bahwa kepatuhannya di masa lalu hanyalah sebuah sandiwara.

"Apakah kamu benar-benar ingin bernegosiasi denganku seperti ini?" tanyanya.

"Ya." Flora menatapnya, tetap bergeming. Dia tahu pria itu membenci ancaman—tapi dia lebih membenci perselingkuhan.

"Baiklah." Mata Kevin berubah penuh badai, suaranya dingin. "Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi jika perceraian ini tidak berjalan dengan lancar, kamu akan menyesalinya."

Flora bersandar di kursinya, nada bicaranya setajam silet. "Kevin Suhada, apakah itu merupakan sebuah ancaman?"

Versi dirinya yang ini asing bagi Kevin. Selama dua tahun, Flora merupakan gambaran kepatuhan—lembut, akomodatif, tidak pernah menentang. Sekarang, wanita ini menghadapi kemarahannya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

"Tidak." Sambil menghitung tindakan balasan, dia berkata, "Kamu akan mendapatkan asetnya. Kita akan bercerai pada hari Senin."

Bulu mata Flora turun sebentar sebelum dia menambahkan, "Satu syarat lagi."

"Katakan." Kesabaran Kevin habis.

"Ajak aku berbelanja besok." Flora mengabaikan embun beku yang terpancar dari pria itu. "Setelah itu, kita akan menceritakan pada keluargamu bersama-sama bahwa aku telah mengakhiri semuanya."

"Setuju," ucap Kevin.

Setelah berkata demikian, dia melangkah ke arah pintu, tidak sanggup menahan sedetik pun berada di hadapannya.

Sebelumnya, dia bahkan mempertimbangkan untuk memberinya waktu tenggang untuk memproses perceraian.

Betapa menggelikannya. Wanita itu tidak sabar untuk mendapatkan harta gono-gini dan menyingkirkannya.

Kalau saja Flora bisa membaca pikirannya, dia pasti akan tertawa dan berkata, "Uang sebanyak itu? Apakah kamu benar-benar berpikir aku akan peduli?"

Kevin mencapai pintu dan berhenti. Tanpa berbalik, dia berkata, "Aku tidak akan kembali malam ini. Aku akan menjemputmu besok pagi pukul sembilan. Buatlah daftar toko yang ingin kamu kunjungi."

Suara Flora mengikutinya, tenang tetapi mengandung sesuatu yang tajam. "Apakah kamu akan menemui Aisha Bustami?"

Rahang Kevin menegang. "Itu bukan urusanmu."

Flora menghela napas pelan, seolah-olah dia sudah menduga jawaban itu. "Aku tidak menoleransi perselingkuhan," ucapnya dengan terus terang. "Jadi, sebelum perceraian ini selesai, sebaiknya kamu jangan berakhir tidur dengannya."

Kevin berbalik dan menjulang di atasnya.

Flora tidak mengedipkan mata. "Apa? Tidak dapat bertahan dua hari lagi?"

"Aku mengerti kepahitanmu," ucapnya dengan nada yang aneh, "tapi kata-kata ini tidak akan memengaruhiku. Ini perceraian, bukan perang."

Flora mengedipkan mata padanya. Untuk sesaat, dia kehilangan kata-kata. Pria ini benar-benar tidak tahu malu.

Kevin tidak menunggu jawaban. "Selamat malam." Dan dengan itu, dia berbalik dan pergi.

Pintu berbunyi klik dan tertutup di belakangnya.

Pandangan Flora beralih ke surat perjanjian perceraian yang masih tergeletak di atas meja. Dia berdiri di sana untuk waktu yang lama, tidak bergerak.

Mengatakan dia tidak merasakan apa-apa adalah suatu kebohongan. Dia tidak terbuat dari batu.

Saat dia menyadari bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar pengganti, rasa sakit telah tertanam dalam di tulang-tulangnya.

Kevin adalah cinta pertamanya. Selama dua puluh empat tahun, tidak ada seorang pun yang berhasil menembus pertahanannya. Sebelum pengkhianatan, pria itu sudah sempurna—penuh perhatian, tenang, membungkam setiap keraguan dengan pengabdiannya yang tenang.

Jadi ketika dia mengetahui tentang Aisha, dia menawarkan untuk pergi. Untuk membebaskannya. Namun, pria itu menolak.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Hijrah Cinta Sang Casanova
8.0
Bobby jatuh hati pada Claudia sejak pertemuan pertama, namun reputasinya sebagai casanova membuat Claudia enggan membuka hati. Meski Claudia bersikap baik karena Bobby pernah menolong menantunya, ia tetap merasa risi akan kehadiran pria itu. Sultan, mertua Claudia, justru mendukung Bobby demi mengakhiri masa janda menantunya yang sudah lama. Saat Claudia akhirnya luluh dan menerima lamaran, kejutan masa lalu serta sosok misterius muncul menguji pernikahan mereka.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu demi satu nyawa teman, keluarga, hingga mereka yang pernah menyakitiku terenggut secara brutal. Kematian tragis ini menyisakan kengerian mendalam karena sang pelaku sangat lihai menghapus jejak, membuat identitasnya mustahil terungkap. Di tengah kepungan teka-teki gelap yang penuh misteri, korban terus berjatuhan tanpa henti. Naasnya, aku yang menjadi tokoh utama dalam kisah kelam ini pun tak luput dari incaran maut yang mengintai dari balik bayangan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan