APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIA

DIA

Kebangkitan sesosok mayat secara misterius memicu gelombang kepanikan luar biasa di tengah masyarakat. Fenomena horor yang melampaui logika ini tidak hanya membawa teror fisik bagi mereka yang menyaksikannya, tetapi juga perlahan menguak sebuah rahasia kelam yang selama ini terkubur rapat. Di balik kehebohan jenazah yang hidup kembali tersebut, tersimpan kebenaran terlarang yang siap mengguncang segalanya dalam balutan misteri yang sangat mencekam.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kalian di mana? Kenapa lama sekali?"

Semua terdiam mendengar suara Cahyo yang memecah kesunyian mobil itu. Semua berpandangan. Bekti nampak agak panik.

"Yo, kamu lewat mana? Bukankah kamu tadi keluar dari mobil bareng dengan aku. Kenapa kamu tiba-tiba menghilang?"

"Menghilang? Aku, kan sudah bilang aku mau lewat hutan. Dan ternyata memang lebih cepat lewat hutan, Mas Bekti. Nggak ada setengah jam aku sudah sampai di Arang Temu."

Bekti terdiam. Dia memandang berkeliling dengan wajah panik. Bekti menelan ludah.

"Lewat hutan?"

"Iya, Mas. Jalannya mudah, kok, Mas. Nanti ambil jalan setapak di samping kiri mobil, Mas. Pasti cepat sampai."

Napas Bekti terengah. Dia menoleh ke arah teman-temannya.

"Hujan, Mas," bisik Ranti. Bekti mengangguk.

"Cahyo, sekarang masih hujan. Kami menunggu hujan saja, ya. Telponnya jangan dimatikan dulu, ya?"

Hening. HP Bekti terlihat mati dan gelap. Seperti HP yang rusak. Padahal baru saja suara Cahyo terdengar sangat jelas dari HP itu. Beberapa orang beristighfar. Mereka berpandangan.

"Ya Allah, apa tadi itu bukan Cahyo? Bukan manusia?"

"Sepertinya iya."

"Bukankah tadi Mas Bekti bilang HPnya mati?"

Bekti diam saja. Dia memeriksa HPnya. HP itu memang terlihat begitu dingin dan mati. Jantung Bekti juga berdegup kencang. Mereka masih terdiam di dalam mobil di tepi jalan di hutan pinus di bawah derasnya hujan. Oh, ya, hujan masih begitu deras dan angin masih bertiup begitu kencang.

"Kita tunggu sampai hujannya reda dan kita segera mencoba jalan yang dilalui Cahyo," kata Bekti perlahan.

Orang-orang berseru terkejut.

"Aku tidak akan berjalan kaki di hutan dalam kondisi seperti ini!" teriak Ayuni.

Palupi memejamkan matanya. Ayuni memang paling modis di antara mereka semua, tak heran Ayuni tidak akan mau berjalan di tengah hutan dalam kondisi setelah hujan. Jangankan Ayuni, Palupi yang hobi mendaki gunung pun, sepertinya akan berpikir dua kali untuk berjalan di tengah hutan dalam kondisi yang tidak menentu seperti ini.

Bekti menoleh ke arah Ayuni.

"Bagus. Kamu menunggu di mobil sampai polisi itu datang, ya?" kata Bekti dengan agak sinis. Ayuni agak terkejut mendengar perkataan Bekti yang tidak seperti biasanya.

"Kita harus kompak, Mas. Mungkin memang kita harus menunggu polisi semua di sini, baru kita berangkat ke Arang Temu dari hutan Lor Kalong seperti yang diceritakan Cahyo tadi."

Semua menoleh ke arah Rara. Memang sebenarnya apa yang dikatakan Rara memang masuk akan juga, tetapi sepertinya Bekti tidak terima. Bekti mendengus.

"Terserah, lah! Yang pasti kalau hujan sudah reda aku akan berangkat sendiri ke sana. Kalau kalian mau melanjutkan perjalanan atau mau menunggu di sini, terserah saja. Aku tidak peduli!" seru Bekti dengan marah.

"Istighfar, Mas."

"Ck! Buat apa istighfar kalau kalian tidak mau kompak?"

Palupi tersenyum.

"Kurasa kita harus berbagi tugas, Mas. Benar kata Rara tadi. Ada yang menunggu di mobil ada yang melakukan perjalanan terlebih dahulu. Dan kita harus saling mengabari satu sama lain dengan apa yang terjadi, apa yang kita lihat atau apa yang akan kita lakukan, jadi kita bisa saling mengetahui apa yang terjadi," kata Palupi.

Semua terdiam. Bekti memandang ke arah Palupi dengan penuh kemarahan, tetapi sepertinya dia tidak punya pilihan lain. Dan Bekti akhirnya mengangguk dengan berat hati.

"Baiklah. Kamu yang memilih siapa saja yang akan ikut denganku dan siapa saja yang harus berjaga di dalam mobil," kata Bekti sambil membuang muka.

"Aku berjaga di sini, ya, Mbak," kata Ayuni. Palupi nyaris tertawa melihat ekspresi Ayuni yang ketakutan sekaligus penuh harap.

Palupi mengangguk.

"Baiklah, Ayuni di sini. Naira juga, ya? Apakah berdua saja tidak apa-apa?" tanya Palupi. Ayuni dan Naira berpandangan. Naira nampak menelan ludah.

"Kita, kan berenam, bagaimana kalau kita bagi dua dengan rata. Tiga orang ikut Mas Bekti, tiga orang tetap di sini," kata Naura.

"Bisa. Tetapi yang berada di mobil berarti orang yang paham dengan apa yang harus dilakukan, kan?" tanya Palupi.

Naira dan Ayuni mengangguk.

"Siap, Mbak. Insya Allah Ayuni, kan ratunya koordinasi," jawab Ayuni dengan senyum manjanya. Palupi tersenyum.

"Berarti kamu juga akan memilih Rara, kan?" tanya Palupi. Ayuni tertawa dan mengangguk, karena memang Rara adalah partner Ayuni ketika mencari berita dan artikel. Rara mengangguk dan wajahnya nampak begitu lega. Palupi akhirnya tertawa juga. Dia tahu sebenarnya semua orang ingin tetap berada di dalam mobil dalam cuaca seburuk ini.

"Baiklah. Berarti yang ikut denganku Palupi, Naura dan Ranti. Yakin kalian mampu?" tanya Bekti sambil melirik ke arah Ranti dengan bengis. Ranti menjengit. Dia takut dengan perubahan sikap Bekti yang begitu mendadak.

"Mas Bekti tidak boleh seperti itu," kata Palupi dengan tersenyum, "Mas Bekti harus menyetujui hasil musyawarah, kan?"

Bekti mengembuskan napas panjang dan mengangguk. Kemudian Bekti membuang muka, dia berpura melihat keluar jendela. Palupi tahu Bekti kecewa karena tidak semua orang mau ikut dengannya.

"Mas Bekti!"

Semua menoleh ke arah Naira yang menunjukkan HPnya yang berbunyi nyaring dengan penuh ketakutan. Mata Naira membulat dan wajahnya pucat.

"Cahyo! Cahyo nelpon aku!" seru Naira sambil setengah melemparkan HP itu ke arah Naura yang duduk di sebelahnya. Naura menjengit. Dia memegang HP Naura dengan hati berdebar.

"Kenapa, sih, Ra?"

Naira menggeleng. Wajahnya nampak ketakutan. Naura nampak agak heran, sedikit penasaran, tetapi juga takut. Akhirnya dengan agak gemetar Naura mengangkat panggilan Cahyo.

"Cahyo?"

"Hei! Bukain pintunya! Bukain jendelanya. Aku ada di luar mobil!"

Semua menjerit kaget. Terutama Palupi yang duduk di samping jendela.

"Aaahhh!" Palupi menjerit dan terlonjak kaget ketika di samping jendela mobil terlihat sosok samar membawa payung yang mengetuk-ngetuk kaca jendela itu dengan keras.

Semua orang membeku dan ketakutan, karena sejak tadi tidak ada yang mendengar orang mengetuk kaca jendela mobil yang mereka tumpangi.

"Woy! Buka, woy! Aku kedinginan!" teriak Cahyo.

Mereka berpandangan ketakutan. Palupi gemetar dan merasa sangat ragu. Bekti mendengus kesal. Dia membuka pintu bagian depan --bagian pengemudi-- dan keluar untuk menghampiri Cahyo. Palupi nyaris melarang Bekti keluar, tetapi dia terlambat, dalam sekejap terlihat dua bayangan di balik jendela mobil di samping Palupi. Dan kedua bayangan itu nampaknya saling berdebat.

"Mbak ... buka, Mbak," bisik Rara pada Palupi. Palupi menelan ludah, dia mengangguk perlahan. Palupi membuka jendela mobil itu perlahan dan seketika angin menyambut Palupi dan air hujan langsung membasahi Palupi lagi.

"Kamu ke mana tadi?"

"Aku kan sudah bilang pada Mas Bekti, aku mau lihat jalan di sebelah sana, Mas. Di sana ada jalan setapak!"

"Bukankah kamu tadi menelponku dan mengatakan bahwa kamu sudah sampai ke Arang Temu. Lalu kenapa hujan-hujan begini kamu kembali ke sini lagi?" tanya Bekti dengan marah.

Palupi melihat wajah Cahyo yang keheranan. Cahyo menghapus wajahnya yang basah terkena air hujan yang masih begitu deras.

"Aku sama sekali tidak menelpon Mas Bekti. Dari tadi aku menelpon Ranti dan Naira, tetapi tidak ada yang mengangkat telponku. Aku dari tadi tersesat di hutan pinus itu, Mas. Aku mau minta tolong, tetapi karena tidak ada yang mendengar panggilanku akhirnya aku mencoba berjalan lagi, hingga akhirnya aku bisa sampai ke sini, Mas," jawab Cahyo.

Bekti berdiri dengan tegar, tidak memedulikan air hujan yang membanjiri tubuhnya. Dia melihat ke arah Palupi.

"Suruh Naira dan Ranti memeriksa HPnya dan pastikan apakah benar tadi Cahyo menelpon mereka berdua atau tidak!" teriak Bekti dengan marah. Tanpa disuruh, Ranti dan Rara segera mematuhi perintah Bekti. Tak lama kemudian Ranti dan Naira berpandangan ketakutan. Palupi mulai khawatir.

"Bagaimana?" tanya Bekti tak sabar. Ranti membuka jendela mobil bagian depan. Bekti menoleh dan melihat Ranti menggeleng.

"Tidak ada data panggilan tak terjawab dari Cahyo, Mas."

****

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Escape
8.1
Emily Watson, model cantik yang terancam bahaya, berada dalam lindungan Ethan Davis, pemilik perusahaan keamanan elite di London. Dr. Watson menyewa jasa Ethan demi menjaga rahasia besar putrinya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Di tengah pelarian dan ancaman pembunuhan, Ethan dan Emily harus menghadapi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah cinta yang lahir dari kegelapan ini mampu menyelamatkan mereka dari intrik mematikan yang mengintai di setiap sudut kota?
Sampul Novel Kisah Cinta di Batukarut
8.6
Lihar dipercaya memimpin perusahaan pasir di Batukarut menggantikan Pak Ajat yang menyimpan dendam. Meski dibantu Dadun dan Om Joni, tantangan berat muncul dari kecurangan pekerja hingga teror gaib garam misterius yang memicu kecelakaan beruntun. Di tengah kemelut bisnis, hubungan asmara Lihar dengan Yeti terancam oleh kehadiran Erom hingga memicu keributan warga. Meski teguh menghadapi sabotase mistis, Lihar harus tegar saat kariernya stabil namun kisah cintanya justru hancur.
Sampul Novel Kutukan Selingkuhan
9.5
Rhino mengakhiri perselingkuhannya dengan Risa demi kembali ke pelukan sang istri. Namun, Risa yang murka melontarkan kutukan agar Rhino tewas dalam penderitaan. Tak lama, Rhino terserang berbagai penyakit misterius, mulai dari gangguan lambung hingga impotensi yang mengerikan. Di tengah keputusasaan, Rena sang istri mencoba menyelidiki latar belakang Risa. Ia justru menemukan fakta mengejutkan tentang sosok Risa yang sebenarnya jauh di luar nalar.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu demi satu nyawa teman, keluarga, hingga mereka yang pernah menyakitiku terenggut secara brutal. Kematian tragis ini menyisakan kengerian mendalam karena sang pelaku sangat lihai menghapus jejak, membuat identitasnya mustahil terungkap. Di tengah kepungan teka-teki gelap yang penuh misteri, korban terus berjatuhan tanpa henti. Naasnya, aku yang menjadi tokoh utama dalam kisah kelam ini pun tak luput dari incaran maut yang mengintai dari balik bayangan.
Sampul Novel PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA
8.5
Dewi tidak pernah menyangka bahwa kediamannya di rumah Pak Darma akan menyingkap tabir gelap. Di balik kemegahan hunian sang mertua, tersimpan berbagai rahasia kelam yang selama ini tersembunyi rapat. Satu demi satu misteri mulai terungkap, menyeret Dewi ke dalam pusaran kenyataan yang mengerikan. Puncaknya, ia harus menghadapi kebenaran mengejutkan mengenai jati diri aslinya yang berkaitan dengan kengerian di rumah tersebut.