APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIANA, Istriku Cantik di Mata Pria Lain

DIANA, Istriku Cantik di Mata Pria Lain

Penyesalan mendalam menghantui hidupku setelah menyia-nyiakan Diana. Dulu aku memandang sebelah mata istriku yang tulus dan menjaga kehormatan itu, bahkan tega mengkhianati cintanya. Kini, setelah dia benar-benar pergi meninggalkan rumah dan tak pernah kembali, aku baru menyadari betapa berharganya sosoknya. Aku sadar telah bertindak bodoh karena kenaifanku sendiri. Diana layak mendapatkan kebahagiaan sejati bersama lelaki lain yang mampu lebih memuliakannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Di depanku tampak seperti slide demi slide potongan wajah Pak Taheer Atmadja. Pemilik perusahaan AXA Corp tempatku bekerja. Beliau orang yang sangat penting, jarang datang sebab perusahaannya bukan hanya satu, melainkan ada beberapa. 

"Kamu siapa?" tanyaku akhirnya. 

"Tidak perlu saya jelaskan sekarang. Percuma. Bawa istri Anda pulang, atau Anda akan sangat menyesal sudah berurusan dengan saya!" 

"Wah, jelaskan saja? Kenapa? Malu mengakui jika hanya tukang parkir?" ledekku.  Kutepis pikiranku tadi yang menyamakan wajah lelaki ini dengan Pak Taheer. Ah, tidak mungkin!

"Cih! Benar-benar buruk sekali attitude Anda. Cepat bawa istri Anda pulang. Atau--"

"Atau apa? Hahahahaha, berani sekali memberi perintah."

Kupotong cepat kalimatnya sambil menggelengkan kepala berkali-kali. Konyol saja jika aku menurut. Jelas pria kecil ini bukan siapa-siapa. Kalau pun kebetulan mirip dengan wajah Pak Taheer Atmadja, itu mungkin hanya dugaanku. Bukankah setiap orang ada kemiripan?

"Mas, sudahlah. Tolong." Diana merengek lagi. Kode matanya memberi perintah agar aku tak lagi bicara. Mana bisa? Gengsi dong. Pemuda di depanku ini bahkan terlihat seumuran dengan Diana. Tujuh tahun lebih muda di bawahku. So, aku yang harus dihormati di sini. 

Kulihat benda bulat bermerek galaxy di tangan. Dua belas juta adalah nilai saat aku membelinya. Tampak jarum jam  menunjukkan waktu hampir pukul sebelas malam. Bedebah mengurus Diana di sini. Susan tak bisa menunggu lebih lama lagi. 

"Sudahlah, kamu bisa pulang sendiri. Kalau perlu, minta antar pada lelaki ini untuk sampai depan. Pesan taxi online!" ucapku sambil melepas pegangan Diana. 

"Lho, kok? Mas--"

"Aku pergi!" 

"Mas! Mas!" 

Tanpa menoleh, kutinggalkan Diana bersama lelaki aneh tadi. Membawanya ke pesta, sungguh begitu sia-sia. Cukup ini yang pertama dan terakhir kali. Aku tak akan membawa Diana datang lagi. Kalau saja bisa, ingin kuenyahkan perempuan itu dari hidupku.

***  

- Pov Author - 

Merasa terbuang dan tercampakkan, Diana masih duduk sambil memegangi kaki yang sakit. Tak jauh dari tempatnya duduk, William pura-pura tak melihat bahwa Diana sedang menangis. Ia memilih untuk mendengarkan musik dari dalam earphone saja. Mode pesawat sudah ia aktifkan sejak tadi. Tak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk Papanya yang sedang menunggu di dalam gedung pesta. 

William menyandarkan punggung di bawah pohon akasia. Memejam barang sebentar. Merasai dinginnya udara malam yang membelai wajah. Tawaran untuk masuk ke perusahaan yang tadinya ia tolak, sepertinya akan ia terima. Sebab melihat sikap Wira barusan. Ingin sekali William tahu, menjabat sebagai apa lelaki sombong itu di perusahaan papanya. 

Menghela napas dalam. William membuka mata dan melirik pada Diana. Masih di tempat semula. Perempuan yang lebih tepat dipanggilnya dengan sebutan nama itu masih diam di tempat. Tampak bahunya berguncang. Diana menangis tanpa suara. 

"Bu, sudahlah, mari saya antar. Di sini gelap dan dingin," ujar William akhirnya setelah hampir setengah jam Diana masih tak beranjak. 

"Saya hanya berniat membantu. Jangan salah paham. Kalau Ibu mau, saya bisa antar ke depan. Seperti kata suami Ibu tadi. Silakan pesan taksi online. Anggap saja saya seorang tukang parkir. Mari saya antar." William berbicara lagi. Kali ini Diana menoleh. Rambut hitamnya tergerai jatuh di bahu. Dua bola matanya yang jernih, tampak berkaca-kaca tertimpa pendar lampu gantung di parkiran. 

William mengalihkan pandangan, sebab tanpa permisi hatinya berdentam sendiri. Diana masih muda, usianya bahkan masih di bawahnya. Naluri sebagai lelaki itu menyambangi hati. Duhai ... pesona setiap perempuan memang memiliki auranya tersendiri. 

"Bagaimana, Bu?" tanya William. Dipanggilnya Diana dengan sebutan 'Bu'. Berusaha untuk menyadarkan hati, bahwa perempuan di depannya ini sudah bersuami.  

"Sebentar, saya kesulitan berdiri."

"Saya bantu." 

"Jangan, maaf, saya merambat saja perlahan." 

Diana berdiri lalu berjalan merambat sambil memegangi sisi-sisi mobil. Tak ada pilihan lain. Tubuhnya mulai menggigil karena dingin, ditambah pakaian yang kurang bahan, membuatnya sangat tak nyaman. 

"Maaf sudah merepotkan. Terima kasih sudah membantu meski kita tidak saling kenal," ucap Diana begitu tiba di depan.  Hampir mendekati pintu utama parkiran. Susah payah ia berjalan tanpa alas kaki. Beruntung sebab ada William yang menyalakan senter dari gawai untuk melihat jalan yang Diana lewati. Hingga tak ada benda tajam atau duri yang melukai.

"Sama-sama," jawab William. 

Diana tersenyum tipis. Ia lalu mencoba memesan taxi online. Namun di luar dugaan, ternyata gawainya mati. Ah, gelisah. Bagaimana nasibnya setelah ini. Diana menoleh ke arah gedung tempat suaminya menghadiri pesta. Tak ada harapan. Entah pukul berapa Wira akan keluar. 

"Duh, gimana ini?" gumam Diana pelan. 

Dinyalakannya gawai yang mati, tapi sama sekali tak ada perubahan berarti. Layar tetaplah hitam. Gawai masih mati. 

"Saya antar saja."

Diana mengerutkan dahi. Tadinya ia juga berpikir bahwa William hanyalah seorang tukang parkir. Bukan menilai dari penampilannya, tapi karena sejak bertemu tadi, lelaki itu memang diam di tempat parkir. Menyendiri seperti sedang menjaga mobil-mobil yang berderet rapi. Padahal faktanya, William  sengaja menghindari orang-orang suruhan Pak Taheer, Papanya. 

"Bagaimana?" tanya William cepat. 

"Maaf, jangan. Tidak perlu. Saya di sini saja. Menunggu suami keluar." 

"Jangan keras kepala. Anda tahu, dia bahkan abai dengan luka di kaki Ibu!" 

"Biarkan saja." 

Diana menjawab singkat. Membuat William mengembus napas kasar. Jika bukan karena kasihan dan prihatin, ia sudah pergi meninggalkan Diana. 

"Ibu meragukan saya? Saya punya mobil, mari saya antar," ucap William lagi. 

"Bukan, bukan seperti itu. Maaf jika saya menyinggung, tapi, tidak mungkin saya berduaan di dalam mobil dengan Mas ini. Kalau pun driver taxi online, saya biasa langganan yang perempuan. Sudah ada khusus."  

"Oh, begitu ... baik." 

William tersenyum tipis. Diana dengan tampilannya yang terbuka, ternyata masih memahami batasan diri. Tanpa berbicara lagi, segera diaktifkannya mode gawai dari pesawat menjadi normal. Semua akses baik data maupun jaringan seluler kini menyala kembali. Beberapa detik setelah mode normal, gawai William bergetar hebat. Pesan dan notifikasi bertumpuk ia terima. 

Skip!

Skip!

Skip!

William fokus menghubungi satu kontak dengan nama Margareth. Kepala asisten di rumah Papanya. Ditekannya tombol panggilan berwarna hijau. Setelah terhubung, ia basa basi sebentar kemudian menyampaikan maksud penting. 

"Kirimkan saya supir perempuan, di gedung tempat pesta berlangsung. Saya tunggu secepatnya." 

Satu perintah sudah meluncur. Diana yang menyaksikan sikap William, menjadi penasaran. Keningnya berkerut, kedua alisnya bertaut. Ah, penasaran!

'Jangan-jangan ancaman pada Mas Wira tadi bukan candaan atau main-main?' 

"Ibu kenapa? Kepo, ya?" sergah William saat mendapati Diana sedang memperhatikannya. 

"Emm, rasanya tak pantas jika saya memanggil Ibu. Anda masih tampak sangat muda sekali," sambung William lagi. 

Diana menatap masih dengan kening berkerut. Memang penasaran, ingin bertanya, tapi .... 

William menarik sebuah garis di bibir. Dilihatnya ekspresi wajah Diana yang serius. Lucu sekali. Sengaja ia tak menjelaskan siapa jati dirinya. Karena William merasa, sepertinya ini bukan pertemuan yang terakhir. 

Tak lama, sebuah mobil berwarna merah cherry berhenti tepat di depan gerbang masuk. William melambai, membuat Diana seketika menoleh ke arah mobil. 

"Masuklah, itu teman saya. Supirnya perempuan sesuai permintaan. Jangan khawatir." 

"Tapi, anu, Mas, ini--"

"Apa perlu saya serahkan ktp saya sebagai jaminan bahwa mobil itu aman?" William cepat-cepat memotong ucapan Diana sebelum perempuan itu mengelak.

Hening menjeda. Diana diam tanpa kata. Dua bola matanya menelisik kejujuran di wajah William. Pria itu baik, bahkan sejak pertemuan awal tadi. 

"Anda baik sekali, padahal kita tidak saling kenal. Bahkan, pertemuan tiba-tiba ini ... ah, entahlah. Situasi yang aneh, tapi terima kasih banyak, terima kasih." 

Bibir Diana bergetar. Antara haru, dan sedih. 

"Tidak ada yang tiba-tiba. Semua sudah digariskan. Sudahlah. Silakan masuk mobil, udara semakin dingin. Saya ada urusan ke dalam."

Diana mengangguk. Ia berjalan masuk ke dalam mobil. Tak lama, mobil kemudian melaju, hilang dalam gelapnya malam. 

Tepat saat itu, gawai William memekik nyaring. Panggilan masuk dari Papa. Cepat ia menerima. 

"Kamu di mana, Willy? Ini sudah hampir tengah malam, ayo cepet masuk!"

Suara bernada tegas milik Pak Taher membuat William mau tak mau harus ke dalam. Ia pun sudah memutuskan. 

"Lima belas menit lagi, Pap. Tunggu, Willy akan ke dalam." 

"Oke. Jangan lama-lama. Pesta selesai jam satu. Papa tunggu di dalam." 

"Siap!" 

Panggilan segera diakhiri. William berjalan kembali masuk ke tempat parkir. Mengambil koper berisi pakaiannya di dalam mobil. Sudah saatnya untuk berganti kostum. Hati kecilnya masih berharap, pria bernama Wira harus diberi pelajaran malam ini juga. 

Bersambung ....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel Pengkhianatan Sang Pria, Kisah Cinta Tak Tergoyahkan Miliknya
8.5
Ulang tahun ke-22 menjadi mimpi buruk saat tabungan kuliahku di ITB dirampas dua kakak kandungku demi operasi plastik Vanya, adik angkat kami. Mereka mengusirku dan menuduhku egois, lalu asyik berlibur ke Bali tanpaku. Di tengah kehancuran, tawaran proyek medis rahasia selama 15 tahun datang sebagai pelarian sempurna. Aku pergi meninggalkan bukti kebohongan Vanya di meja, memutus ikatan keluarga demi masa depan baru tanpa menoleh ke belakang lagi.
Sampul Novel Cinta Berubah Menjadi Abu
8.6
Nicola Dixon dan Asher tumbuh bersama, terikat utang budi masa lalu yang menyakitkan. Sebagai putri keluarga mafia, Nicola yakin dialah prioritas Asher. Namun, kepulangan Asher dari Segitiga Emas membawa kejutan pahit: seorang wanita hamil yang mengenakan cincin miliknya. Di tengah ketegangan senjata yang mengancam nyawa wanita itu, Nicola memberi pilihan mutlak. Asher harus memilih antara tanggung jawab pada kekasih barunya atau tetap menjadi bagian dari keluarga Dixon.
Sampul Novel DIBUANG MANTAN, DIKEJAR CEO SULTAN
9.8
Demi menyelamatkan ayahnya dari ibu tiri, Aruna terpaksa menjadi pengasuh Maira, putri dari bosnya yang bernama Brahmana. Namun, pengabdian di kediaman sang CEO justru menjeratnya dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai tumbuh. Meski mencoba pergi, ketulusan Maira dan kejujuran Brahmana terus mengejarnya. Aruna kini terjebak dalam pilihan sulit: mempertahankan dendam demi sang ayah atau menyerah pada dekapan cinta sang sultan.
Sampul Novel Dilamar Mantan Depan Suami
8.0
Nisa terjebak dalam pernikahan penuh tekanan bersama Arman, suami yang sangat perhitungan dan keras. Meski Nisa berusaha menghormati mertua dan iparnya, Arman selalu merasa istrinya kurang berbakti. Kesedihan Nisa memuncak saat Arman membatasi asupan gizi putra mereka, Ahmad, dengan dalih penghematan. Nisa hanya bisa berdoa agar suaminya menepati janji untuk menerima sang anak sepenuhnya, di tengah tuntutan hidup dan perilaku kasar yang terus diterimanya.
Sampul Novel Dokter Milik Tuan Muda
8.2
Kimmy Jordan, seorang dokter berbakat, terjebak dalam dilema besar setelah menyetujui perjodohan dari orang tuanya. Di tengah komitmen itu, hatinya justru tertambat pada pemilik kafe langganannya. Sementara itu, Dokter Inggit harus menghadapi realita pernikahan paksa dengan pria kaku yang ia juluki beruang kutub. Ikuti perjuangan dua dokter cantik ini dalam menavigasi rumitnya komitmen, perasaan tulus, dan dinginnya sikap pasangan dalam hidup mereka.