APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DICERAI KARENA MANDUL

DICERAI KARENA MANDUL

Dunia Kala runtuh seketika saat ia dicerai dengan tuduhan mandul dan dikhianati pasangannya. Di tengah rasa rendah diri dan luka batin yang mendalam, ia mempertanyakan takdir hidupnya yang tragis. Namun, secercah harapan muncul lewat pertemuannya dengan Sheryl Amanta Versha, seorang bocah polos yang kehadirannya ditolak ibu kandungnya. Meski sempat menepis perasaan yang tumbuh, Kala terjebak dalam pusaran emosi baru yang menantang keberaniannya untuk bangkit.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kala duduk dengan mencoba tenang. Ada gelisah yang menyusup namun coba dihalau dengan senyum kecil yang ia punya. Di depannya duduk pria yang mengenakan Polo shirt hijau pupus, tampak membolak balik berkas yang ia kenali sebagai data dirinya.

“Kamu enggak sayang ijazah kamu?” tanya pria itu dengan sedikit bertopang dagu. Berkas itu sudah diletakkan kembali di meja.

Satu dari banyak hal yang membuat Kala bingung harus merespon seperti apa.

“Pengalaman kerja kamu apa?”

Terutama bagian ini, paling membuat Kala ketar ketir sebenarnya.

“Tidak ada.”

“Tidak punya pengalaman, tapi lulusan sarjana.” Daru bergumam pelan, mengusap ujung dagunya penuh pertimbangan. “Apa yang membuat kamu mau bekerja seperti ini? I mean, baby sitter?Oh, sorry. Maksudnya ... jadi pengasuh.”

“Saya butuh pekerjaan.” Kala menjawab dengan lugas.

Ia dengan jelas mendengar sang lawan bicara menghela napas panjang. “Butuh, ya.”

Walau hanya melihat dari sudut matanya, Kala yakin dengan sangat, kening pria itu berkerut. Mungkin pikirnya, tanpa pengalaman mana bisa dirinya diserahi anak untuk dijaga.

“Suka anak-anak?” tanya pria itu lagi.

Ada jeda beberapa detik sebelum Kala menjawab, “Suka.”

“Dalam skala 100, suka anak-anak nilainya berapa?” tanya Daru cepat.

“85, Pak.” Kala tak kalah cepat dalam menjawab.

“Bisa imbangi anak-anak kalau marah, emosional, egois, banyak mau, tidak bisa diatur?” Daru menatap lekat-lekat calon pengasuh anaknya ini.

Wanita berambut sebahu itu hanya mengangguk. Kala tidak tahu apa ini sebuah jawaban yang salah atau dirinya dalam screening tanpa kata.

“Jujur, Mbak ... Kala atau Ta—”

“Kala,” potong Kala segera.

“Oke, Mbak Kala. Jujur saja, anak saya ini sangat pemilih. Tingkat adaptasinya terhadap orang lain, rendah. Agak pemarah, egois, dan gampang merajuk. Tapi saya butuh bantuan untuk menjaga selama saya bekerja.” Pria itu, yang tadi memperkenalkan diri sebagai seorang Andaru Aria, masih belum menurunkan tatapan menelisik pada wanita yang ada di depannya itu.

Hening menemani mereka.

“Kamu kenalan sama anak saya dulu, deh. Biar saya bisa menilai kamu lebih jauh.”

Kala mengangguk pelan, bangkit dengan segera ketika pria itu berdiri. Melangkah meninggalkan ruangan yang memang disediakan untuk proses interview antara calon klien dengan mitra.

Saat keluar ruangan, sosok yang mungkin dimaksud sang pria itu duduk di sana. Memainkan gadgetnya dalam diam. Sesekali rambutnya diusap lembut oleh wanita paruh baya yang Kala menduga, nenek sang gadis kecil.

“Princess,” panggil Daru. Mereka berdua pun menoleh ke arah sumber suara. “Ini calon Mbak baru kamu. What do you think?’

Untuk pertama kalinya, mata mereka berdua mengudara. Bola mata secantik boneka itu memenuhi netra Kala dengan sempurna. Definisi cantik sedari kecil layak disemat pada gadis berponi itu. Kala yakin, dewasa kelak gadis kecil itu akan menjelma menjadi sosok yang demikian mengagumkan.

“Good,” katanya. Kala mengerjap pelan. Tatapan itu langsung dialihkan kembali dengan sempurna pada benda pipih yang dibawa sang gadis.

“Siapa nama kamu, Nak?” Kali ini wanita paruh baya yang menemani sang gadis yang bicara.

“Kala, Bu.”

“Ehm ... beliau ibu saya.”

Kala mana berani menoleh. Ia hanya menjawab dengan anggukan sopan.

“Silakan kamu coba berkenalan dengan anak saya. Saya beri ruang.”

Sejenak mata Kala memejam. Ia merasa dalam test yang dibuat oleh Daru cukup berat. Pengalaman Kala di belakang meja kantor saja, nol besar. Apalagi berhadapan dengan anak kecil. Namun, ia harap bisa melaluinya. Ia merapal satu kata, bismillah, sebelum melangkah. Merasa sudah diberi jarak oleh ayah sang anak, Kala berjalan mendekat dengan ragu yang besar. Ini pilihannya, tak boleh ada kata menyerah, kan?

“Hai,” sapa Kala ramah.

Gadis kecil itu hanya mendongak sesaat. Lalu mata seelok boneka langsung menatap layar tabletnya lagi. Tanpa respon apa-apa. Bahkan seringai kecil pun tak ada.

“Mbak mau kenalan, boleh?”

“Bukannya Mbak sudah kenal nama aku, ya? Kenapa harus kenalan lagi?”

Helaan kecil terembus sudah. “Nama Mbak, Kala. Nama Non?”

Atensinya mulai teralih, hanya sebuah tarikan kecil di sudut bibirnya yang Kala bisa lihat. “Kala? Nama Mbak aneh.”

“Kalau begitu, nama Non berarti bagus. Benar?”

“Iya. Nama aku Sheryl. Sheryl Amanta Versha.”

***

Dalam kesepakatan yang ada, Kala diharuskan untuk tinggal di rumah calon majikannya. Tak bisa ditolak oleh Kala. Jadi, dua hari sejak kedatangan mereka, Kala berakhir di sini. Di depan gerbang hitam rumah tingkat dua yang tampak asri dari luar.

Tadi pagi, Kala berpamitan pada keluarga Risa. Diiringi mata yang berkaca-kaca dari Risa, juga beberapa petuah dari ibunda Risa, pun peluk hangat dari anak sahabatnya yang berusia lima tahun. Abyan namanya.

Kala masih ingat bagaimana Risa memperingatinya, kalau-kalau di sana ada yang berbuat buruk, maka ia akan menjemput Kala secara paksa. Tak peduli kalau harus ia harus menanggung akibatnya. Kala terkekeh mendengar hal itu. Katanya, Risa terlalu mengada-ada. Walau sebenarnya, hati Kala mendadak ciut juga.

Belum lagi cerita Risa mengenai klien yang memutuskan memberi kesempatan pada Kala, betapa menyebalkan ketika klien itu menginginkan kriteria pengasuh untuk anaknya itu. Nyaris mendekati sempurna, kata Risa malam sebelum keberangkatan Kala. Wanita berambut sebahu itu hanya mengulum senyum, “Aku coba dulu, Sa. Enggak ada salahnya, kan? Toh, aku diberi kesempatan.”

Decak kesal diterima Kala dari Risa. “Aku kayak enggak rela aja gitu.”

“Ini cuma sekadar batu loncatan, kok. Aku bakalan apply pekerjaan yang sesuai juga.”

Semoga pilihannya tak salah. Semoga. Hanya itu yang bisa Kala gelung dalam hatinya, agar langkahnya tak lagi ragu. Biarpun ia harus menghadapi majikan yang sepertinya memang merepotkan. Bagaimana tidak. Sepanjang perjalanan Kala hingga tiba di sini, berulang kali Daru mengirimkannya pesan. Mulai dari; nomor plat taksi online, nama drivernya, alamat kediaman Daru dalam ejaan yang benar jangan sampai keliru, hingga pertanyaan sepele, “Sudah sampai di mana, Mbak? Tanya sama pak supirnya.”

Kala hanya mampu menghela napas panjang dengan rentetan pesan tersebut. Perjalanan hidupnya di Jakarta akan dimulai. Bel di ujung gerbang sudah Kala perhatikan sejak sekian menit lalu. Bismillah. Tak butuh waktu lama baginya, agar gerbang itu terbuka. Menampilkan sosok yang lebih muda darinya, tersenyum kelewat ramah menurut Kala.

“Pasti Mbak Kala, ya?

Wanita berambut sebahu itu hanya mengangguk canggung.

“Saya Nina, Mbak.” Gadis bernama Nina itu mengulurkan tangannya. “Semoga Mbak kerasan, ya, di sini.”

Disambutnya uluran tangan itu dengan hangat. Semoga, pilihannya kali ini tepat.

“Mari, Mbak. Sudah ditunggu Ibu.”

Kala mengimitasi langkah Nina. Beruntung baginya barang bawaannya hanya satu koper berukuran sedang dan tas yang bisa ia tenteng. Mulai memasuki rumah yang menurut Kala cukup mewah. Ketika pintu ukir kayu itu didorong pelan oleh Nina, aroma citrus menyapa Kala dengan lembut. Matanya disuguhkan dengan aneka furniture yang apik juga elegan.

“Bu, Mbak Kala sudah sampai,” kata Nina.

Wanita paruh baya yang dua hari lalu berkenalan dengannya, menyambut Kala dengan senyuman. “Ibu sudah khawatir takut kamu kesasar, Nak.”

Bibir Kala mengurva separuh, “Alhamdulillah enggak, Bu.”

“Ibu tunjukkan kamar kamu dulu, ya. Nanti Ibu ajak keliling rumah. Enggak keberatan, kan?”

Sekali lagi, Kala tersenyum menanggapi. “Enggak, Bu.” Kini langkah Kala mengikuti arah yang ditunjukkan oleh sang tuan rumah. Kala masih ingat namanya, Anna Susetyo. Ibu dari majikannya sekarang.

Mereka menyusuri lorong yang mengarah ke belakang rumah. Sepanjang mengikuti langkah seorang Anna, Kala memperhatikan sekeliling. Rumah ini besar, terkesan mewah tapi dibuat dengan nuansa asri. Banyak jendela besar yang terbuka, membuat siklus udara di setiap ruangan terasa nyaman.

“Nah, ini kamar kamu. Di sebelahnya, kamar Sari. Nanti kamu kenalan, ya. Kebetulan Sari lagi belanja.” Anna membuka satu pintu, mendorongnya pelan, lalu mempersilakan Kala untuk masuk.

Ruang yang akan menjadi kamar Kala cukup besar. Semua fasilitas di dalamnya tersedia; TV, kipas angin, single bad, juga satu meja yang sepertinya diperuntukkan untuk meja rias.

“Nak Kala beresin barangnya dulu. Nanti temui Ibu di ruang makan, ya. Sheryl belum makan. Akhir-akhir ini anak itu sulit sekali makan,” keluh Anna namun kembali tersenyum saat matanya menatap Kala. Besar harapnya agar nanti Kala mampu mengimbangi Sheryl.

“Iya, Bu. Nanti Kala segera ke sana.”

Dalam hati Kala berdoa, semoga segala sambut ramah ini akan terus terjaga. Semoga ia bisa bekerja dengan penuh tanggung jawab. Dan semoga apa yang menjadi misinya bisa terlaksana.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beetwen love and hate
9.2
Hendra hancur saat Luna memutuskan hubungan demi mengejar karier model dan pria lain. Di tengah keterpurukan, kecelakaan membawanya bertemu Nita yang tulus menyelamatkannya. Meski awalnya menutup diri, kelembutan Nita perlahan meluluhkan hati Hendra yang terluka. Namun, saat cinta baru mulai tumbuh, Luna kembali datang dan ingin merajut kasih lagi setelah merasa bosan. Kini Hendra terjebak dalam dilema antara masa lalu yang pahit atau masa depan yang hangat.
Sampul Novel Cinta di Daun Semanggi
8.4
Logika Sindi seolah lumpuh demi cinta butanya pada Ronald, pria yang sebenarnya telah berkeluarga. Selama tiga tahun mereka terjerat dalam asmara terlarang hingga akhirnya Sindi mengandung. Penyesalan kini tak lagi berguna bagi keduanya. Di tengah nestapa dan beban masa lalu akibat kehilangan orang-orang tercinta, mampukah Sindi bertahan menghadapi cobaan terberat ini sendirian? Sebuah kisah penuh dilema tentang konsekuensi hati yang salah memilih jalan.
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Dikhianati Callan karena dianggap mandul, Amy memilih bercerai dan menghabiskan malam panas bersama seorang gigolo sebelum mengasingkan diri. Enam tahun berlalu, ia kembali membawa kejutan: enam anak kembar yang menggemaskan. Namun, Amy terkejut saat mengetahui bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Di tengah perbedaan status, mampukah Amy menyembunyikan rahasia besar ini dari sang CEO berkuasa yang selama ini juga dikira tidak bisa memiliki keturunan?
Sampul Novel ISTRI YANG DIRINDUKAN
8.3
Setelah malam pertama yang menyakitkan, Nevan Wiliam Adiguna mencampakkan Anin karena sebuah kesalahpahaman yang belum terbukti. Dua setengah tahun berlalu, takdir mempertemukan Evan dengan Albanna, bocah laki-laki di sebuah desa yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri. Meski kini ia menyadari kesalahannya dan berusaha menjadi sosok ayah, mampukah Evan menebus luka masa lalu dan memenangkan kembali hati Anin yang pernah ia hancurkan begitu saja?
Sampul Novel Mahligai yang Ternodai
8.3
Kehidupan rumah tangga Nazwa yang semula terasa begitu sempurna mendadak hancur saat ia mengetahui perselingkuhan suaminya. Meski dikhianati, Nazwa memilih bersabar dan bertahan hanya demi ibadahnya kepada Allah. Namun, luka lama kembali terbuka ketika sang suami justru mengulangi kesalahan fatal yang sama. Di tengah rasa sakit yang mendalam, mampukah Nazwa tetap mempertahankan mahligai pernikahannya ataukah ia akhirnya menyerah pada keadaan?
Sampul Novel Menaklukan CEO Mesum
8.2
Bianca terjepit utang satu juta dolar akibat penggelapan dana ibunya. Demi membebaskan sang ibu dari penjara, ia menemui Steve Dvalton, CEO pusat di Singapura. Namun, negosiasi itu berubah menjadi tawaran gelap: Bianca harus menjadi pemuas nafsu Steve. Di tengah dilema antara kesetiaan pada kekasihnya dan keselamatan ibunya, Bianca terpaksa memulai hubungan panas yang penuh tipu daya. Steve merasa tertantang oleh kegilaan Bianca yang menggairahkan di ranjangnya.